Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 22 Cuma Mimpi?


__ADS_3

"Bagaimana Vin, apa Alana sudah pergi?" tanya Bu Rumana kepada sang Putra.


"Sudah Bu, tadi aku udah nyuruh dia buat pergi," jawab Melvin. Lantas ia menghempaskan badannya ke sofa ruang tamu.


"Ya syukurlah kalau dia sudah pergi. Tadi ibu sempat kewalahan menghadapi sikap keras kepalanya itu. Udah ibu bilang kalau chessy lagi tidur, malah nggak percaya. Tetap maksa buat masuk," ujar Bu Rumana.


"Ya, tapi syukurlah Chessy nggak kebangun tadi. Kalau sampai kebangun, Melvin yakin Chessy akan shock mengetahui kenyataan kalau ternyata Mamanya masih hidup. Padahal yang Cheesy tau, Mamanya sudah tiada," ucap melvin sembari memijit keningnya.


"Lagian, sudah bertahun-tahun ngilang nggak ada kabar, tiba-tiba nongol lagi. Terus kesini juga sendirian. Memangnya laki-laki yang dulu bawa kabur dia kemana Vin, kok nggak nemenin dia?"


"Kabur sama cewek lain Bu," sahut Melvin membuat Bu Rum kaget.


"Yaa, itulah karma yang pantas Alana terima Vin. Dulu dia ninggalin kamu dan Chessy demi laki-laki itu. Eh, sekarang laki-laki itu kabur juga ninggalin Alana demi wanita lain. Allah itu maha adil. Siapa yang menanam, dia pula yang akan menuai hasil perbuatannya." Bu Rum menatap langit-langit rumahnya mengingat kembali peristiwa dulu yang menimpa anak dan cucunya.


"Melvin bingung Bu, gimana cara ngomong sama Chessy tentang semua ini. Chessy pasti marah Bu sama aku karena sudah bohongi dia selama ini." Melvin mengutarakan kekhawatiran yang ia rasakan kepada sang Ibu.


"Kamu nggak usah khawatir Vin, ngomong saja terus terang kepada Chessy. Ngomong pelan-pelan, bilang jujur, kalau apa yang kamu lakuin itu semata-mata demi kebaikan dia juga. Agar dia tidak terlalu berharap dan kecewa jika nanti harapannya nggak sesuai kenyataan. Makanya, kamu sebagai Papanya terpaksa harus berbohong dengan mengatakan kalau mamanya sudah tiada," jawab Bu Rum mencoba memberi masukan kepada anaknya.


"Iya Bu, mudah-mudahan Chessy mau mengerti. Aku hanya nggak mau ia terbebani pikirannya Bu. Ia masih terlalu kecil untuk memikul beban yang berat seperti ini. Coba saja kalau Alana nggak balik lagi, pasti aku nggak akan segelisah sekarang," sungut melvin.


"Vin, Ibu mau tanya sama kamu. Seandainya Alana ngajakin kamu untuk kembali lagi padanya, apakah kamu akan menyetujui permintaanya itu?" tanya bu rum tiba-tiba.


"Ibu pasti sudah tahu jawaban Melvin," sahutnya.

__ADS_1


"Ibu hanya mau memastikan saja dan dengar langsung dari mulutmu." sahut bu rum menatap anaknya yang tengah rebahan di sofa panjang.


"Jelas nggak maulah Bu. Kesalahan dia tuh udah fatal banget, mana mungkin Melvin mau balikan lagi sama dia. Bagi Melvin, Alana itu hanyalah masa lalu dan tidak akan pernah jadi masa depan Melvin Bu. Lagipula hati aku juga udah dimiliki oleh orang lain, jadi nggak ada lagi ruang buat Alana." Melvin tersenyum simpul mengingat kejadian tadi di danau bersama Atina.


Mendengar pengakuan dari putranya itu membuat Bu Rum penasaran. Ia lantas menarik tangan Melvin yang lagi tiduran, seketika Melvin langsung terduduk.


"Bilang sama Ibu, siapa wanita yang sudah berhasil membuat anak Ibu ini jatuh cinta. Siapa wanita itu Vin, jujur sama Ibu." Bu Rum memegang tangan Melvin dengan raut wajah penasaran. Terlukis senyum dari sudut bibir Bu Rumana. Melihat Ibunya penasaran, membuat melvin jadi bingung sendiri. Akankah ia menceritakan tentang Atina sekarang kepada Ibunya atau justru malah akan merahasiakan itu semua sampai dengan waktu yang tak bisa ditentukan.


"Malah diam thoo Vin. Ayo jawab dong pertanyaan Ibu. Jangan bikin Ibu penasaran gini." Bu Rum terus mendesak Melvin supaya jujur tentang identitas wanita yang saat ini mampu membuatnya jatuh cinta.


"Hmm, Nanti sajalah Bu ngasih tahunya. Lagipula Melvin juga belum tau perasaan dia seperti apa sama Melvin. Dia nggak jawab apa-apa ketika melvin nyatain perasaan padanya. Kalau semua sudah jelas, nanti aku bakalan cerita sama ibu. Jadi, Ibu tahan dulu rasa penasaran ibu itu ya?"


"Ah ... Ibu yakin pasti dia juga punya perasaan yang sama ke kamu Vin. Mana ada wanita yang mau menolak laki-laki setampan anak Ibu ini." Ungkap Bu Rum membanggakan anak semata wayangnya itu sembari tangannya menepuk punggung Melvin.


"Amiin, tanpa kamu minta juga Ibu pasti selalu doain kamu tiap selesai sholat Vin. Kamu anak ibu satu-satunya. Jadi, Ibu selalu berharap kepada siapapun kamu berjodoh nanti, yang terpenting wanita itu bisa membuat hidupmu dan Chessy selalu bahagia. Dan dia bisa jadi pasanganmu yang setia dalam keadaan apapun kamu kelak."


"Terima kasih Bu, doa dari Ibulah yang membuat aku mampu melewati semua takdir yang Allah kasih." Melvin langsung berhambur memeluk ibunya.


Melvin merasa sangat beruntung memiliki ibu yang sangat pengertian dan selalu mendukung apapun yang ia lakukan, asalkan itu adalah sesuatu yang membawa kebaikan.


...***************...


Rebahan di kamar sambil membayangkan pertemuanku dengan Melvin tadi membuat hati seketika berbunga-bunga. Entah kenapa aku bisa sebahagia ini. Ingin rasanya menjerit berlompat-lompatan di ranjang meluapkan semua rasa bahagia yang baru beberapa jam lalu datang menyapa. Ku cubit pipi berkali-kali terasa sakit ternyata, berarti apa yang aku alami ini bukanlah mimpi. Aku bangkit dari ranjang menuju meja rias, kududukkan diri ini tepat di depan cermin. Kuamati wajahku sedetail mungkin. Kalau dibandingkan dengan mantan isteri mas melvin, jelas aku kalah satu kosong. Terus yang jadi pertanyaan dalam benakku. Apa yang Mas melvin sukai dari diriku? Mendadak di belakang tempatku duduk muncul bayangan Mas Melvin yang berdiri dengan tangan bersedekap di dada sembari tersenyum simpul menatap ke arahku.

__ADS_1


"Kamu mau tau kenapa aku bisa suka sama kamu Atina??" ucap bayangan yang menyerupai Mas Melvin itu. Gilanya, aku malah menganggukkan kepala mendengar pertanyaan itu. Loh ... itu 'kan cuma bayangan, kenapa juga harus aku respon. Waah ... sepertinya ada yang tidak beres dengan kepalaku nih.


"Kamu mau tau nggak kenapa?"lagi ... Bayangan Mas Melvin kembali bertanya.


"Apa coba!!" Akhirnya aku bisa juga menimpali ucapannya itu.


"Karena kamu itu...." Bayangan Mas Melvin menggantungkan ucapannya sambil tersenyum jahil. Membuat aku greget sendiri.


Satu menit, tiga menit, lima menit tak juga ada kelanjutan dari omongannya. Karena tak sabar, aku bangkit dari duduk. Lantas ku beranjak menghampiri Mas Melvin yang masih setia berdiri di pojok jendela kamarku.


Sejurus kemudian, tangan ini menjitak kepala Mas Melvin berkali-kali.


"Ayo ngomong sekarang, jangan bikin aku penasaran Mas.Buruan ngomong!!" bertubi-tubi kulayangkan jitakan di kepala Mas Melvin. Ia malah tertawa nyaring. Saking gemasnya, ku jewer kuping Mas Melvin dengan kekuatan penuh. Salah sendiri bikin anak orang penasaran.


"Ampun Atina ... sakit tau, panas banget ini kupingku." Mas Melvin mengaduh kesakitan. Karena terlanjur sebal, ku jewer terus kupingnya tanpa ampun. Tapi, kenapa suara Mas Melvin tiba-tiba kok berubah jadi suara wanita.


"Atinaa ... hentikan, kamu apa-apaan sih!"


Loh ... Suara itu tidak asing di telingaku, seperti suara ibuku.


Byuur ... tiba-tiba ada yang menyiram wajahku dengan air. Aku gelagapan, meraba sekeliling, ku buka mata perlahan. Deg ... Wajah Ibu tepat berada di hadapanku. Ibu menatapku dengan tajam.


"Gimana, seger 'kan Ibu siram pakai air. Makanya kalau dibangunin tuh langsung bangun, eh ... kamu malah main jewer-jewer kuping Ibu segala. Nih lihat kuping ibu jadi memerah karena ulah tanganmu itu!!" hardik Ibuku sambil memperlihatkan daun telinganya yang memerah seperti udang rebus.

__ADS_1


Ya Tuhan ... Jadi, tadi itu cuma mimpi. Itu artinya yang aku jewer barusan bukan Mas Melvin melainkan ibuku. Ya ampun .... ampuni anakmu yang khilaf ini Bu....


__ADS_2