Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 89


__ADS_3

Braaak.... Suara gebrakan meja yang nyaring seketika membuat Bu Yeni dan Atina refleks memegang dada karena kaget. Amarah terlihat jelas dari wajah Pak Roni ketika beliau baru saja mendengar sebuah pengakuan dari sang anak. Kejadian yang jelas membuat beliau sangat marah sekaligus kasihan kepada Atina. Tak disangka nasib putri satu-satunya yang selama ini ia jaga akan berakhir tragis seperti ini. Apa salah dan dosa sang anak sehingga dia harus menerima cobaan berat seperti ini. Pak Roni benar-benar tak bisa lagi membendung amarah yang kian membuncah dalam diri beliau.


"Apa kamu kenal dengan laki-laki brengsek itu, Tin?!" tanya beliau dengan wajah memerah. Atina sedih sekaligus takut melihat kemarahan di mata sang bapak. Ya, meskipun kemarahan itu bukan ditujukan padanya, tapi tetap saja Atina sedikit ketakutan.


"A-atina tidak kenal, Pak. Atina juga tidak tahu bagaimana bisa Atina sampai dibawa ke rumah terkutuk itu. Atina sama sekali tidak ingat apa-apa setelah sampai di rumah dimana Atina di kurung, Pak," sahutnya dengan terbata. Sementara sang Ibu hanya terlihat menangis tersedu, tak ada kata-kata yang keluar dari mulut beliau. Mungkin saking tak menyangka akan fakta yang telah menimpa sang anak selama beberapa hari tak ada kabar.


"Bapak akan laporkan ini ke polisi, Tin. Bapak mau, laki-laki yang sudah menghancurkan masa depanmu dihukum berat. Kalau perlu hukuman mati sekalian. Laki-laki seperti itu tak ubahnya seperti binatang yang sama sekali tak punya perasaan. Brengsek mereka semua!!" geram pak Roni kembali meluapkan emosi.


"Ja-jangan pak!!" teriak Atina. Sontak saja pak Roni dan Bu Yeni langsung menatap ke arah sang anak dengan muka terkejut.


"Apa maksud kamu, Tin? kamu tidak setuju kalau Bapak melaporkan perbuatan kriminal laki-laki asing itu sama kamu. Apa kamu sudah gila. Kamu tahu kan apa yang sudah mereka perbuat sama kamu?!" sambung pak Roni tak habis pikir dengan apa yang baru saja Atina katakan.


"Atina tahu, Pak. Atina juga tidak mungkin memaafkan apa yang sudah mereka perbuat sama Atina," sahutnya pelan dengan wajah agak menunduk.


"Lalu kenapa kamu menolak usulan bapak? Apa alasan kamu melarang Bapak untuk membawa kasus ini ke ranah hukum. Katakan sama Bapak!" Pak Roni kembali bertanya kepada Atina dengan nada keras. Atina terlihat menghela napas panjang berusaha mengumpulkan kembali kekuatan dalam dirinya agar ia mampu memberi alasan yang bisa membuat sang bapak mau memaklumi apa yang akan ia katakan nanti. Sebenarnya tak masalah kalau kejadian yang menimpanya di laporkan ke polisi. Tapi, ia belum siap kalau sampai semua orang tahu atas apa yang sudah menimpanya. Kejadian itu merupakan aib yang apabila di ketahui oleh khalayak ramai, rasa malu dan rendah diri pasti akan membayangi hidupnya ke depan. Apa mungkin ia akan kuat menghadapi itu semua?? tatapan iba dari orang-orang sekaligus mungkin saja tatapan jijik karena dirinya sudahlah bukan wanita suci seperti dulu. Tak mungkin itu semua mampu Atina hadapi saat ini.


"Atina belum siap kalau sampai semua orang tahu apa yang telah menimpa Atina, Pak. Lagi pula... iya, kalau setelah lapor polisi, penjahat itu dapat hukuman yang setimpal sih nggak masalah. Tapi kalau malah dibebaskan bagaimana, Pak. Bapak tahu sendiri kan hukum di negara kita ini bagaimana. Apalagi kalau ternyata laki-laki itu adalah orang berduit, pasti kita akan kalah, Pak," tutur Atina. Entah itu hanya alasannya saja atau mungkin memang ia punya rencana lain untuk membalas semua kejahatan yang sudah laki-laki asing itu lakukan kepadanya. Yang pasti, jelas Atina menolak usulan dari sang bapak.

__ADS_1


"Tapi kita tidak akan tahu kalau kita belum mencobanya, Tin. Bapak yakin, kamu pasti bisa melewati semua ini. Jangan malu kalau semua orang tahu, karena disini kamu itu korban, Nak. Bukan pelaku. Bapak harap kamu mau melaporkan ini semua ke polisi," imbuh pak Roni berusaha menyakinkan sang anak kalau semua ini akan baik-baik saja.


Atina terdiam. Ia benar-benar belum siap untuk melakukan apa yang sang bapaknya bilang. Entah kenapa, ia saat ini bingung harus berbuat apa. Rasa malu dan rendah diri masih terlalu dominan dalam dirinya.


"Apa yang bapak kamu bilang benar, Tin. Ibu juga geram dan marah sama orang itu. Ibu sangat yakin, kalau orang itu pasti suruhan seseorang yang dengan sengaja ingin merusak hidup kamu. Tapi Ibu juga tidak tahu pasti siapa dalang dibalik kejadian yang menimpa kamu ini. Biarkan semua ini ditangani sama pihak kepolisian, Tin. Karena mereka ahli nya. Kita serahkan semua sama polisi. Cepat atau lambat, pasti penjahat itu akan tertangkap," sambung bu Yeni. Beliau yang sedari tadi diam, kini mulai ikut memberikan saran agar sang anak yakin untuk membawa kasus ini ke pihak kepolisian.


"Atina akan pikirkan dulu, Pak, Bu," ucapnya lirih.


Tentu saja mendengar jawaban sang anak, membuat pak Roni menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Apalagi sih Tin yang harus kamu pikirkan. Bapak heran sama kamu. Kamu itu sudah jadi korban pemerkosaan. Kesucian kamu sudah di renggut sama laki-laki brengsek itu. Lantas kenapa kamu malah bersikap seperti ini, hah!!" emosi pak Roni kembali meluap. Beliau seakan tak habis pikir dengan sikap putri semata wayangnya itu.


*****


Tiing....


Bunyi notifikasi ponsel milik Melvin yang ia letakkan di atas meja. Bergegas Melvin meraih ponsel miliknya itu. Ia langsung mengeryitkan kening ketika melihat ada pesan video yang masuk ke whatsapp miliknya. Yang mana pesan itu dikirim dari nomor asing. Dalam hati ia bertanya-tanya, siapakah yang sudah mengirim pesan video itu ke nomor ponselnya ini. Tak mau dibuat penasaran, dengan segera ia pun membuka video itu. Beberapa detik kemudian, seketika Melvin langsung melotot melihat adegan dalam video itu. Wajahnya mendadak merah padam, tergambar jelas amarah dalam dirinya. Bagaimana tidak marah, ia dengan mata kepala sendiri menyaksikan video yang mana di dalamnya ada terlihat jelas bagaimana liar nya sang kekasih yang tengah memadu kasih dengan laki-laki yang entah siapa, Melvin sendiri tak mengenalnya. Seketika ponsel yang ia pegang langsung melayang diatas ranjang.

__ADS_1


"Brengsek!! Siapa yang berani kirim video seperti itu. Nggak, nggak mungkin itu Atina. Dia bukan wanita murahan seperti yang ada di video itu. Kurang ajar!!" umpat Melvin dengan nafas memburu menahan gejolak amarah yang kian menguasai dirinya. Diambil nya kembali ponsel yang ada di atas ranjang. Ia terlihat berusaha menghubungi seseorang.


"Ayo angkat. Jangan jadi pengecut. Berani-beraninya menfitnah Atina seperti itu. Aku yakin sekali kalau wanita yang ada di dalam video itu bukan Atina. Itu pasti hanya editan," gerutu Melvin. Ia sesekali menatap ponselnya. Berharap nomor yang barusan kirim video mau mengangkat telepon dari nya.


Kesal karena telepon darinya tak kunjung di angkat. Ia pun langsung chat ke nomor tersebut.


[Siapa kamu! Apa maksud kamu kirim video seperti itu? Kamu pikir aku akan terpancing dengan video editan itu. Maaf, anda salah!!]


Pesan itu langsung Melvin kirim detik itu juga. Tak sampai dua menit, ada balasan yang masuk ke ponsel Melvin.


[Editan kamu bilang? Jangan bodoh, bro. Itu video asli, kamu bisa tanya langsung ke ahlinya kalau kamu nggak percaya. Hebat juga ya permainan wanita itu, Hot, haha!!]


Emosi langsung menguasai diri Melvin ketika membaca balasan dari nomor yang tak tahu siapa pemiliknya itu. Balasan dari nomor asing itu seolah tengah menertawakan dirinya karena mempunyai kekasih yang tak lebih dari wanita murah*n, mengobral tubuh pada laki-laki lain. Tak di pungkiri, rasa sakit menghujam sampai ke ulu hati. Wanita yang selama ini ia cintai, wanita yang bahkan selalu terlihat menjaga diri dari sentuhan yang menjurus ke arah intim, nyatanya hanya seorang munafik belaka.


Tak mau terus-terusan emosi, Melvin memilih keluar kamar dengan ponsel tergeletak begitu saja diatas ranjang tempat tidurnya. Sepertinya ia butuh cairan untuk sedikit menyiram bara api kemarahan yang sudah mulai bercokol dalam dirinya saat ini.


Melvin menenggak habis air dingin yang baru diambilnya dari dalam lemari pendingin. Nihil, bahkan segelas besar air dingin itu seolah tak mampu sedikit memadamkan bara api kemarahan yang membara menguasai diri. Diletakkannya gelas kosong dengan kasar ke atas meja.

__ADS_1


"Aku harus ke rumah Atina sekarang juga!!" gumamnya sembari tergesa melangkah ke arah luar.


__ADS_2