Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 9 Guru Yang Tampan


__ADS_3

Sudah 2 hari Atina libur mengajar dikarenakan ia harus istirahat setelah insiden kecelakaan yang menimpanya. Rasa kangen kian menelusup ke dalam hati, suara celoteh anak-anak, tawa riang, bahkan tangis selalu mewarnai tiap bait langkah hidup atina, sesayang itu ia pada anak-anak didiknya. Sehingga pekerjaan sebagai seorang Guru ia lakukan dengan tanpa beban sama sekali.


Pagi ini, Atina mulai kembali mengajar. Ia mendengar kalau hari ini akan ada guru baru di sekolahan tempat ia mengajar. Atina nampak antusias menyambut guru baru tersebut, berarti dengan bertambahnya pendidik di sekolah bertambah pula teman seperjuangan. Dan itu artinya akan tambah ramai juga suasana di ruang khusus guru, begitu pikir Atina.


"Pagi Bu Fit, Assalamualaikum...." Atina menyapa Guru senior dengan penuh semangat.


"Waalaikumsalam, waah udah sembuh nih. Syukur Alhamdulillah kalau kamu udah kembali masuk lagi Tin. Nggak ada kamu, ni ruangan tampak sepi dan suram, sesuram isi dompet pas tanggal tua he-he."


"Eaaa ... keluar dah lebaynya. Oh ya, katanya akan ada Guru baru tuh beritanya beneran apa cuma hoak doang Bu Fit? ngomong-ngomong Guru barunya laki-laki apa perempuan?"


"Yo jelas benarlah Tin, bahkan ni ya ... Dengar-dengar, gurunya tu masih single, katanya juga ganteng Tin."


"Berarti bukan perempuan dong, kirain pikirku bakalan perempuan, eh nggak taunya laki-laki, Nggak bisa jadi bestie aku dong kalau gitu ceritanya," timpal Atina dengan nada kecewa.


"Waduh waduh, justru malah bagus dong kalau gurunya laki-laki tampan Tin, kali aja kamu bisa PDKT he-he."


"Huus ... jangan kenceng-kenceng ngomongnya nanti kedengeran Pak Kepsek kena tegur lhoo bu Fit."


Tiba-tiba ada seorang guru yang masuk ruangan.


"Bu Fit dan Bu Tina lagi ngomongin apa nih, kelihatanya seru banget, ukutan dong!!" seru seorang guru perempuan yang ternyata bernama Tia. Atina dan Bu Fit langsung menoleh secara bersamaan.


"Eh bu Tia, tumben jam segini baru dateng??" tanya Bu Fitri


Bu Tia meletakkan tas ke meja kerjanya lantas bergegas menghampiri Atina dan Bu Fitri.


"Iya nih, radi agak rempong banget di rumah jadi agak telat dikit datangnya. Dari tadi lagi ngomongin apaan sih. Kayaknya asik banget gitu?!" Bu Tia penasaran.


"Ini looh... lagi ngomongin tentang guru baru yang bakalan ngajar di sekolahan ini. Bu Tia udah tau juga 'kan beritanya," tanya bu fitri.


"Kalau soal itu, aku udah tau Bu Fit. Lagian, aku juga udah kenal sama orangnya." Jelas Bu Tia.


"Kok Bu Tia bisa kenal duluan," timpal atina penasaran.


"Iya, yang rekomendasiin dia juga aku Bu Tin.Jadi, ya kenal. Lagipula rumahnya juga nggak jauh dari kompleks tempat aku tinggal, hanya beda blok aja."


"Oo ... pantesan?!" jawab Bu Tina dan Bu Fit serentak.


Tak lama bel masuk berbunyi. Ketiganya mengakhiri obrolan mereka karena harus siap-siap dampingi para murid untuk berbaris sebelum pelajaran kelas dimulai.


Sesuai instruksi dari Pak Kepala Sekolah. Kalau hari ini, semua Guru di mohon mengikuti baris bersama dengan semua murid. Selain untuk doa pagi seperti biasa, rencananya akan ada perkenalan juga dengan Guru baru yang hari ini akan mulai mengajar di kelas 4 B. Setelah doa bersama selesai, Pak Kepala Sekolah mulai memberi kata sambutan dan pada sesi terakhir, beliau mulai memperkenalkan seorang guru baru kepada semua Guru dan murid yang hadir di situ.

__ADS_1


"Beliau ini adalah Guru baru yang akan mulai mengajar di kelas 4 B, beliau bernama Pak Putra. Untuk Pak Putra, silahkan maju ke depan memperkenalkan diri," ucap Pak Kepala Sekolah dibarengi dengan tepuk tangan meriah dari anak-anak murid.


Seorang laki-laki tampan dengan kulit putih bersih, badan tinggi menjulang, tubuh tegap berjalan ke depan.


"Assalamualaikum semuanya ... perkenalkan nama saya Putra Lesmana, panggil saja Pak Putra. Salam kenal dan mohon doanya supaya saya bisa mendedikasikan ilmu saya dengan sebaik mungkin di sekolah ini." Pak Putra memulai pembicaraan sekilas tentang pengalamannya di bidang pendidikan.


Semua nampak menyimak, tak terkecuali Bu Atina dan Bu Fitri.


"Gantengnyaa ... mirip artis korea siapa yaa ... aduh, lupa aku namanya," celetuk Bu Fitri sembari mengapit lengan Atina. Pandangan matanya tak lepas mengarah ke Pak Putra yang tengah memberi kata sambutan.


"Ish ... apaan sih Bu Fitri ini. Jangan keras-keras kalau ngomong. 'Kan malu kalau kedengeran yang lain," nampak Atina risih sendiri dengan perkataan Bu Fitri. Ya... walaupun tak dipungkiri, kalau apa yang Bu Fitri katakan itu benar adanya. Pak Putra emang tampan, bahkan tadi sempat membuat Atina terpesona untuk sesaat.


Beberapa saat kemudian setelah selesai doa pagi dan sesi perkenalan dengan Guru baru. Semua murid masuk ke kelas masing-masing. Para Guru juga kembali ke meja kerja khusus di ruang Guru.


Terlihat mereka bersalaman dengan Pak Putra mulai memperkenalkan diri satu per satu.


"Selamat bergabung di sekolah ini Pak Putra, saya Pak Indra, Guru kelas 5 A," seorang Guru laki-laki mulai memperkenalkan diri.


"Saya Bu Fitri Pak, salam kenal dan semoga betah mengajar di sekolah ini ya. Kalau ada sesuatu yang mau ditanyakan, nanti Bapak bisa tanya sama saya, jangan sungkan." Dengan PD-nya Bu Fitri memperkenalkan diri.Pak Putra menyambut uluran tangan Bu Fitri dengan senyum merekah.


"Saya Atina, wali kelas 4 A. Salam kenal Pak Putra dan selamat bergabung di sekolah ini," ucap Atina nampak canggung berhadapan langsung dengan putra.


Semua kembali ke meja kerja masing-masing setelah selesai perkenalan. Sebentar lagi kelas akan dimulai, sebagian Guru nampak sudah masuk ke kelas. Tersisa Atina dan Pak Putra yang terlihat sedang menyiapkan sesuatu.


"Bu Tina nggak masuk kelas?" tiba-tiba Putra yang hendak keluar ruangan menghentikan langkahnya sejenak menghampiri meja kerja Atina.


"Eh, i-iya, ini lagi nyari-nyari ponsel saya Pak, dari tadi nggak ketemu. Entah saya lupa bawa apa lupa naruhnya," jawabnya agak gugup.


"Apa mau saya bantu nyari Bu Tina?"


"Ah ... Eh, nggak ... nggak usah Pak, terima kasih. Pak Putra ke kelas saja, nanti anak-anak nungguin," tolak Atina.


"Ya sudah kalau gitu, saya duluan ya," pamit Pak Putra sembari melangkah keluar.


"Huuft...." Atina nampak menghela napas panjang menatap kepergian Putra.


"Kenapa harus gugup gitu sih tadi sama Pak Putra, memalukan saja!" gumam Atina.


Karena ponsel yang ia cari tidak juga ketemu, akhirnya, Atina memutuskan untuk buru-buru masuk kelas.


Mendekati kelas 4 A, Atina menghentikan langkahnya. Terdengar riuh gelak tawa anak-anak yang berasal dari kelas Pak Putra. Karena penasaran, Atina mengintip sejenak, matanya membulat, mulutnya menganga melihat apa yang tengah Pak Putra lakukan. Pak putra tengah memperagakan salam perkenalan dengan menirukan suara salah satu karakter kartun anak-anak Upin Ipin. Ekspresinya yang lucu dan menggemaskan tanpa sadar membuat senyum Atina merekah, tak mau ketahuan mengintip, membuat Atina bergegas pergi memasuki kelasnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum anak-anak, selamat pagi Semuanya...." Sapa Atina mengawali pertemuan dengan murid-murid di kelas.


"Waalaikumsalam ... Selamat pagi Bu Guru Atina." serentak Anak-anak menjawab salam dengan penuh semangat.


"Apakah PR yang kemaren sudah kalian kerjakan di rumah?" tanya Atina dengan pandangan menyoroti ke sekeliling ruangan.


"Sudah dong Bu!!" jawab anak-anak.


"Baguus, good job. Aldi ... tolong kumpulkan semua buku PR teman-teman kamu, setelah semua terkumpul, bawa kemari biar ibu periksa satu per satu," titah Atina kepada Aldi yang merupakan ketua kelas.


"Siap Bu!!" jawab Aldi singkat.


Setelah semua terkumpul, Atina mulai mengoreksi satu per satu. Sesekali wajahnya tergambar penuh senyum melihat hasil PR yang dikerjakan anak didiknya. Ia puas, karena rata-rata jawaban dari anak didiknya bagus semua. Mereka kebanyaksn mendapat nilai 7-8. Peningkatan yang cukup bagus dari nilai sebelumnya yang didapat semua murid. Itu menandakan anak-anak belajar dengan giat di rumah. Terakhir, ia lagi-lagi dibuat kagum dengan hasil nilai yang didapat Chessy, anak didiknya yang satu ini mendapat nilai tertinggi yaitu mencapai angka 9. Chessy memang anak yang pintar di kelasnya, tak heran kalau selama ini ia selalu mendapat nilai tertinggi di kelas.


"Alhamdulillah ... untuk PR kalian kali ini. Ibu cukup senang, karena semua hasilnya memuaskan, tidak seperti minggu kemaren. Kedepannya, kalian harus tetap semangat belajarnya ya anak-anak, agar nilai kalian tidak mengalami penurunan. Syukur-syukur kalau meningkat, itu malah lebih bagus lagi. Apa semua mengerti?" Atina mencoba memberi semangat dan motivasi untuk selalu belajar lebih giat.


"Mengerti Bu Guruu!!"


"Bagus, Ibu senang kalau kalian semangat belajarnya. Ibu doakan, kelak nanti kalian bisa menggapai cita-cita kalian ketika dewasa."


"Amiiin...." Anak-anak semangat mengaminkan doa dari Bu Guru Atina.


Tak terasa sudah berjam-jam kegiatan belajar mengajar, hingga bel tanda istirahat berbunyi. Atina menghentikan kegiatan mengajarnya lantas setelah mengucapkan salam penutup. Atina mempersilahkan anak-anak keluar untuk istirahat.


Atina berdiri, lantas melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar, sesampainya depan pintu.


BruukK ... Atina menabrak seseorang hingga beberapa buku yang ia pegang jatuh berserakan. Refleks pandangan matanya mengarah ke orang yang tadi ia tabrak.


Deg....


"Pak Putra!!" seru Atina.


"Bu Tina nggak apa-apa, saya minta maaf tadi buru-buru jalannya sampai nabrak Bu Tina gini," ucap Putra sembari berjongkok memunguti satu per satu buku Atina yang berserakan di lantai. Lantas Pak Putra kembali menyerahkan buku-buku itu ke Atina.


"Makasih, nggak apa-apa kok Pak Putra. Nggak perlu minta maaf gitu." Tangannya terulur menerima buku yang disodorkan Putra.


"Bu Tina mau kembali ke ruang guru 'kan? Yuk bareng sekalian, saya juga mau kesana."


Bu Atina hanya menganggukan kepala.


Keduanya jalan beriringan menuju arah ruang Guru.

__ADS_1


__ADS_2