
Triing ... triing ... Ponsel Atina berbunyi. Atina yang tengah rebahan sambil membaca buku langsung meraih ponsel yang ada di atas nakas.
"Hallo, Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam Tin." Sahut Putra dari seberang telepon.
"Iya Mas, ada apa, tumben telepon aku."
"Aku mau ngajakin kamu jalan Tin, kamu ada waktu nggak kira-kira?"
"Emangnya mau ngajakin kemana Mas. Aku sih lagi nggak ngapa-ngapain di rumah."
"Yaudah, aku kesitu sekarang ya. Kamu siap-siap dari sekarang. Udah dulu, aku matiin teleponya,"
"Tapi Mas...."Tut ...tut... Belum juga melanjutkan ucapannya, telepon keburu terputus.
"hadeh ... Mas Putra gimana sih, orang lagi mau ngomong, main matiin aja teleponnya. Lagian dia mau ngajakin aku kemana. Padahal, setelah kejadian malam itu, rasanya enggan untuk jalan berdua aja sama Mas Putra." Atina bergumam sendiri. Mau tak mau ia pun bersiap ganti baju sebelum Putra datang.
Tak lama, dari arah ruang tamu terdengar Ibu Atina tengah mengobrol dengan seseorang.
"Ibu lagi ngobrol sama siapa tuh, sepertinya lagi ada tamu. Tapi, siapa ya?" Atina bergumam sambil membenarkan letak hijabnya di depan cermin.
ketika ia mau membuka pintu kamar, bersamaan dengan itu pula Bu Yeni hendak mengetuk pintu kamar Atina.
"Astaghfirullah ...!!!" pekik Atina nampak kaget melihat Ibunya sudah berada di depan pintu kamar.
"Ibu!!ngagetin aja," sungutnya, sembari kedua tangan mengusap-usap dada.
"Biasa aja kali Tin. Lebay banget. Kamu kira ibu hantu, pakai nyebut segala,"protes Bu Yeni berkacak pinggang.
"habis, Ibu ngagetin aja, tiba-tiba nongol di depan pintu."
"Ibu tadi udah mau ketuk pintu, ehh, kamu keburu keluar. Itu di ruang tamu ada Nak Melvin. Katanya mau ketemu kamu. Sana gih di samperin. Ibu mau bikinin minum dulu ke belakang."
"haah ...Mas Melvin, mau ngapain??" Atina kaget.
"Lah, mana Ibu tau. Udah ah, Ibu ambil minum dulu buat Nak Melvin, kasian kalau nggak disuguhi minum." Bu Yeni melangkah ke dapur.
"Aduuh ... Gimana nih,"
Dengan langkah ragu, Atina beranjak ke ruang tamu. Terlihat Melvin mendongakkan wajah menatap kedatangan Atina.
__ADS_1
Perlahan Atina menghempaskan bokongnya ke sofa ruang tamu tepat di hadapan Melvin.
"M-Mas ... apa kabar?"Atina bingung mau memulai pembicaraan dari mana.
"Alhamdulillah baik. Kamu kok udah rapi Tin, mau pergi ya?" tanya Melvin, matanya menelisik penampilan Atina yang terlihat rapi.
"Mm ... A-aku ...."
"Assalamualaikum." Ucapan Atina terpotong karena kedatangan Putra.
"Waalaikum salam," jawab Melvin dan Atina serempak.
Tiba-tiba hening sesaat.... Ketiganya saling berpandangan satu sama lain.
"Nah ... Nak Melvin, Ibu bawakan minuman untuk ... Loh, ada Nak Putra juga, kok masih berdiri aja.Ayo sini duduk!" Bu Yeni datang membawa nampan berisi minuman.
"Tin, kamu gimana sih, Nak Putra kok dibiarin berdiri gitu aja." Tegur Bu Yeni membuat tenggorokan Atina tercekat, rasanya susah hanya untuk sekedar bicara sepatah kata.
"Ayo Nak Putra, silahkan duduk. Jangan berdiri aja." Perintah Bu Yeni. Akhirnya Putra memilih duduk bersebelahan dengan Melvin.
"Ini, Ibu bawakan minuman buat kalian semua. Silahkan diminum dulu. Oh ya, Nak Melvin, Nak Putra, Ibu tinggal dulu ke belakang ya." Melvin dan Putra hanya menganggukan kepala. Keduanya sama-sama diam tak bersuara.
Aduuh ... Kok bisa gini sih, kenapa juga keduanya harus kesini bersamaan. Terus, aku harus gimana ini???Batin Atina, Raut wajahnya tiba-tiba terlihat gelisah.
Atina benar-benar diposisi yang serba membingungkan. Namun dalam hati kecilnya, kalau disuruh memilih, pasti ia akan lebih memilih bersama Melvin. Tapi, karena sebelumnya Putra ngajakin pergi duluan. Mau tak mau ia harus memutuskan untuk lebih pergi bersama Putra.
"Kamu dan laki-laki ini sudah janjian mau pergi Tin??" Tanya Melvin seketika.
"Iya Mas," jawab Atina singkat.
"Ouh, ya sudah. Kalau begitu, aku pamit dulu. Tolong sampaikan sama Ibu kamu, kalau aku pamit duluan. Permisi...!!" Mendadak Melvin bangkit dari duduknya, lantas Ia pergi begitu saja. Tampak raut kecewa tergambar diwajahnya. Melihat hal itu, refleks Atina beranjak hendak mengejar Melvin.
"Mas Putra, tunggu sebentar ya, aku mau bicara dulu sama Mas Melvin." Tanpa menunggu jawaban Putra, Atina bergegas berlari mengejar Melvin yang belum jauh melangkah.
"Mas ... Mas Melvin, tunggu!!!" teriak Atina.
Melvin terus saja berjalan, seolah enggan menghiraukan panggilan Atina. Atina berlari tanpa menghiraukan jalan yang ia lalui, tanpa sadar Ia menginjak batu.
Bruuuk ... Atina terpeleset dan akhirnya tersungkur ke tanah.
"Akh ...!!
__ADS_1
Mendengar teriakan Atina, Melvin menghentikan langkahnya seketika. Ia menoleh ke belakang.
"Atina...."Melvin berlari menghampiri Atina.
"Atina, kamu nggak apa-apa." Melvin berjongkok memegang kedua bahu Atina.
"Kamu kenapa sih Mas, di panggil dari tadi bukannya berhenti malah makin kenceng jalannya. Gara-gara ngejar kamu nih, aku sampai terjatuh, sakit tau nggak!!" sungut Atina meringis menahan nyeri di kakinya.
"Siapa suruh ngejar-ngejar aku," timpal Melvin
Atina hanya mencebik, ia berusaha bangkit tapi gagal. Rasa sakit di kakinya tak tertahankan.
"Ayo, berdiri pelan-pelan. Pegang tanganku Tin, biar aku papah jalannya." Melvin mengulurkan kedua tangan merangkul Atina. Tak ada pilihan lain, Atina pun hanya menurut.
Ia berjalan perlahan menuju teras rumah.
Putra yang kala itu melihat Atina berjalan tertatih dalam pelukan Melvin mendadak maju menghampiri keduanya.
"Tin, jamu kenapa?" Tanya putra seketika.
"Hey bro, kamu apakan Atina sampai seperti ini jalannya?!" Dengan geram, Putra bertanya kepada Melvin dengan tatapan tajam.
"Biasa aja kali tanyanya, nggak perlu pake melotot gitu." Sergah Melvin.
"Tinggal jawab doang apa susahnya!!"
"M-Mas ... Aku nggak apa-apa, tadi cuma terpeleset karena nggak hati-hati jalannya. Dan Mas Melvin hanya nolongin aku. Udah ya, jangan ribut. Maaf juga Mas, sepertinya kita nggak jadi keluar nggak apa-apa kan? kakiku sakit banget, sepertinya keseleo deh ini."
"Iya, nggak apa-apa Tin. Yaudah biar aku bantuin kamu masuk ke dalam ya?"
"nggak perlu, biar Atina bersama saya. Kamu mending pulang aja sana!!" Sentak Melvin, Ia menghalangi Putra, membuat Putra terpancing Emosi.
"heh ... maksud anda apa ngusir-ngusir saya dari sini. Anda siapa, berani ngusir saya begitu?!"
"Stop ya, kalian kenapa sih, aku tuh lagi kesakitan gini, kalian malah ribut terus dari tadi. Udah ... kalian berdua mending pulang saja!!" Geram melihat sikap kedua laki-laki itu, membuat Atina emosi sendiri. Dengan langkah dipaksakan sembari menahan rasa nyeri di pergelangan kaki, ia berjalan tertatih masuk ke dalam rumah.
BraakK ... Pintu dibanting cukup keras dari dalam.
Melvin dan Putra terbengong melihat Atina se-marah itu.
"Kamu lihat, Atina jadi marah 'kan?semua gara-gara kamu!!" Bentak Putra, mengarahkan telunjuknya ke arah Melvin.
__ADS_1
"Lempar batu, sembunyi tangan, Dasar!!"sahut Melvin sambil berlalu meninggalkan Putra yang masih berdiri mematung.
"Sial ... semua rencana yang sudah aku susun gagal total gara-gara cecung*k itu!!" Umpat Putra terlihat geram sembari mengepalkan tangannya.