
"Tin, semalam kamu pulang jam berapa. Ibu nggak denger pas kamu pulang." Tanya Ibu Atina. Mereka tengah menikmati sarapan pagi bersama.
"Jam sepuluh kalau nggak salah Bu. Ibu udah tidur pulas, mana bisa dengar." Sahut Atina sembari menyuapkan sesendok nasi dan lauk ke mulutnya.
"Udah, teruskan dulu makannya. Jangan sambil ngobrol kalau lagi makan." Ucap Pak Roni memperingatkan. Seketika Atina dan Ibunya diam, tak ada yang berani berbicara lagi.
Selesai makan, Atina membantu ibunya membersihkan piring sisa makan mereka, lantas mencucinya.
Karena masa hukuman yang di berikan pihak sekolah kepadanya sisa 5 hari lagi, terpaksa Atina lagi-lagi hanya bisa berdiam diri di rumah.
"Bu, Atina bosan banget kalau lama-lama berdiam diri di rumah nggak ngapa-ngapain gini. Enaknya ngelakuin kegiatan apa ya bu, untuk mengisi kekosongan waktu biar nggak bosan." Atina bertanya kepada Bu Yeni, mereka tengah santai duduk di depan televisi.
"Aduh... Ibu juga nggak tau Tin. Apa coba jualan aja Tin. Tapi, bingung juga, kira-kira cocoknya jualan apa." Sahut Bu Yeni sama bingungnya dengan Atina.
Iseng, Atina bikin status whatsapp.
"Bingung... nggak ada kegiatan!!" Begitulah isi status whatsapp Atina. Lantas ia kembali fokus ke layar televisi. Tak lama, ponselnya berdering tanda ada pesan chat masuk. Dengan cepat Atina membuka pesan itu.
"Kamu bisa bantuin aku di kantor. Jadi asisten pribadi aku. Gimana? mau nggak?? Kalau mau, nanti biar aku suruh supir kantor buat jemput kamu sekarang, aku udah di kantor sekarang. Kamu tenang aja, kerjaannya nggak berat kok, hanya nyiapin semua kebutuhanku aja, dan kalau ada meeting di luar kantor, nanti kamu temenin aku." Isi pesan chat itu yang ternyata dari Melvin. Atina langsung membalas chat itu.
"Cuma 5 hari aja Mas. Masa iya boleh, kerja hanya 5 hari di kantor Mas. Kayak main-main doang dong kesannya." Atina langsung tekan tombol kirim. Centang biru. Menunggu sesaat, tiba-tiba balasan chat dari Melvin kembali masuk.
"Nggak apa-apa. Kamu tenang aja. Lagian, ini kantor punyaku, Jadi nggak akan ada yang protes. Gimana?? Anggap aja kamu nggak kerja, tapi cuma bantuin ngeringanin kerjaan aku aja Tin."
Atina terdiam sejenak sembari berpikir, mau mengiyakan ajakan Melvin atau menolaknya. Tapi, kalau mengiyakan, ia juga bingung karena belum pernah kerja kantoran seperti di tempat Melvin. Takutnya, bukannya membantu Melvin, justru malah membuat laki-laki itu repot dan terganggu dengan adanya dia di sana. Tapi kalau menolak, apa Melvin tidak akan tersinggung ya, itulah yang Atina pikirkan.
"Tin... kok ngelamun. Lagi mikirin apa??" tegur Bu Yeni yang sedari tadi menatap ke arah putrinya itu dengan pandangan heran.
"ah, e-enggak apa-apa kok Bu. Ini, barusan Mas Melvin WA, ia nawarin Atina untuk kerja di kantornya sebagai asisten pribadinya untuk sementara waktu. Tapi, Atina bingung mau jawab apa. Ibu 'kan tau sendiri, aku nggak punya pengalaman apa-apa kerja kantoran kayak gitu Bu." Jawab Atina menjelaskan apa yang tengah ia pikirkan.
"Kalau udah di tawarin gitu, nggak ada salahnya kamu mengiyakan ajakan dari Nak Melvin, Tin. Nanti kalau menolak, yang ada malah bikin ia kecewa." Usul Bu Yeni.
Belum sempat Atina menjawab ucapan Ibunya, tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi.
"Supirku udah OTW kesitu. Kamu siap-siap ya??" tertera chat dari Melvin, membuat mata Atina membulat seketika. Bagaimana bisa, Melvin langsung meminta supirnya menjemput dirinya di rumah, padahal ia sama sekali belum menjawab tawaran yang Melvin berikan tadi. Sesaat Atina hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Lantas ia beranjak bangkit untuk menuju ke kamar guna bersiap-siap sebelum orang suruhan Melvin sampai rumah.
__ADS_1
"Eh Tin, mau kemana kamu buru-buru gitu!" Tanya Bu Yeni heran, karena Atina tiba-tiba beranjak dari duduknya, dan dengan terburu-buru ia hendak masuk ke kamarnya.
"Atina mau ke kamar Bu. Siap-siap, sebentar lagi supir Mas Melvin mau datang untuk jemput Atina. Tuh orang kebiasaan deh. Atina belum ngasih jawaban apa-apa, main suruh supirnya buat jemput kesini." Cetus Atina, membuat Bu Yeni hanya bisa menggelengkan kepala.
Dengan tergesa Atina mengganti baju, tak lupa ia pakai make up natural, agar wajahnya terlihat lebih fres. Beruntungnya, tadi sebelum sarapan, Atina sudah mandi. Jadi, sekarang ia hanya tinggal mengganti baju yang rapi dan make up saja. Tak memerlukan waktu lama, akhirnya ia selesai juga. Lantas Atina keluar kamar dan menghampiri Ibunya yang tengah menonton televisi.
"Udah sampai mana supir nak Melvin Tin?"
"Nggak tau juga Bu. Mas Melvin nggak ada bilang apa-apa lagi soalnya."
"Ya, mudah-mudahan aja nggak nyasar tuh supir. Kasian kalau sampai nyasar." Ucap Bu Yeni. Atina hanya mengendikkan bahu.
Tok... tok... tok...
Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu rumah Atina. Bu Yeni langsung beranjak guna membukakan pintu diikuti oleh Atina dari belakang.
" Assalamu'alaikum Bu." Ucap seorang bapak-bapak yang tengah berdiri di depan pintu. "Apa benar ini rumah Mbak Atina Bu??" Tanya Bapak itu dengan sopan kepada Bu Yeni.
"Waalaikum salam. Iya benar Pak. Nih, sebelah saya Atina, Pak, Anak saya." Sahut Bu Yeni sembari Telunjuknya mengarah ke arah Atina yang kebetulan tengah berdiri di sampingnya.
"Iya Pak, tadi Mas Melvin juga udah ngasih tau saya Pak. Ya sudah, sekarang aja Pak, kita langsung berangkat, aku udah siap-siap, tinggal berangkat saja."
"Iya, baik Mbak Atina. Kalau begitu, saya pamit bawa Mbak Atina ya Bu." Ijin Pak Mamat kepada Bu Yeni, Bu Yeni menganggukkan kepala sembari tersenyum.
"Bu, Atina pamit dulu ya. Salam juga buat Bapak kalau nanti bapak pulang Bu." Pamit Atina kepada Ibunya. Setelah mencium tangan sang Ibu. Atina langsung masuk ke dalam mobil yang di kemudikan oleh Pak Mamat.
Mobil berjalan menyusuri jalanan menuju kantor Melvin.
"Apa kantor Mas Melvin jauh Pak. Kira-kira butuh berapa menit untuk sampai ke sana??" Tanya Atina membuka obrolan. Karena sedari tadi baik Atina ataupun Pak Mamat sama-sama saling diam.
"Nggak terlalu jauh kok Mbak. Nggak sampai satu jam kita udah sampai di kantor Pak Melvin Mbak." Jawab Pak Mamat sembari tetap fokus mengemudi.
"Owh, syukurlah Pak kalau nggak terlalu jauh. Jujur, ini baru pertama kali saya ke kantor Mas Melvin. Jadi, belum tau letak kantornya dimana. Sebelumnya terima kasih ya, Bapak udah mau jemput saya."
"Iya Mbak. Sama-sama. Lagian ini sudab tugas saya Mbak." Timpal Pak Mamat.
__ADS_1
Mendadak jantung Atina berdebar-debar hebat ketika mobil memasuki parkiran sebuah gedung perkantoran yang lumayan luas. Terlihat banyak sepeda motor dan beberapa mobil terparkir rapi di luar gedung. Mobil yang Pak Mamat kemudikan berhenti tepat tak jauh dari pintu masuk gedung itu.
"Alhamdulillah, udah sampai Mbak Atina. Bentar ya Mbak saya bukakan pintu mobilnya." Ucap Pak Mamat.
" Eh, Pak. Udah... Biar saya buka pintu sendiri. Bapak nggak perlu bukain segala. He-he." Sahut Atina membuat Pak Mamat hanya bisa menganggukkan kepala. Atina langsung turun dari mobil. Ia melangkah mengikuti ke mana Pak Mamat berjalan.
"Kenapa dari tadi ni jantung nggak bisa di ajak kompromi sih. Deg-degan terus ... tenang Atina... tenang." Batin Atina, sedari tadi ia terlihat gugup.
Memasuki kantor Melvin, terlihat wanita berdiri di bagian resepsionis. Pak Mamat berjalan menghampiri wanita tersebut.
"Sin, Pak Melvin ada di ruangannya 'kan?? Ini Mbak Atina, orang yang Pak Melvin tunggu. Tolong kamu antarkan mbak Atina ke ruangan Pak Melvin ya. Aku masih ada kerjaan lain soalnya." Ucap Pak Mamat tanpa canggung. Ia terlihat sudah cukup akrab dengan wanita itu.
"Oke, Beres!!" jawab wanita itu dengan mengacungkan kedua jempol nya.
"Mbak Atina. Saya tinggal dulu ya. Nanti Sinta yang akan nganter langsung Mbak Atina ke ruangan Pak Melvin." Setelah mengatakan itu, Pak Mamat berlalu dari hadapan Atina.
"Mari Mbak, ikut saya." Ucap wanita bernama Sinta ramah. Lantas keduanya berjalan menuju ke ruangan Melvin.
Hanya butuh beberapa detik saja, wanita bernama Sinta itu berhenti didepan ruangan dengan pintu berwarna hitam bertuliskan Ruang GM.
Tok... Tok...
"Siapa... !!" teriak seseorang dari dalam ruangan ketika Sinta mengetuk pintu.
"Saya Sinta Pak. Mau memberi tahu kalau Mbak Atina sudah datang. Kebetulan sekarang ada di samping saya Pak." Jawab Sinta, sementara Atina hanya terdiam. Ia terlihat sangat gugup.
"Baik, suruh masuk. Kamu boleh kembali ke tempat kerjamu lagi Sin." Setelah mendengar jawaban dari Bos nya itu, Sinta mempersilakan Atina untuk masuk. Sementara, Sinta beranjak dari situ untuk kembali ke meja resepsionis.
Atina masih terlihat ragu untuk membuka pintu ruangan Melvin. Sesekali ia menghirup udara dalam-dalam, lantas menghembuskannya perlahan. Padahal, baru juga semalam ia bertemu dengan laki-laki itu. Tapi, tetap saja hari ini membuat jantungnya deg-degan tak menentu ketika ia akan kembali bertatap muka dengan Melvin.
Dengan menguatkan diri dan menetralisir kegugupannya, Ia perlahan memberanikan diri membuka pintu itu.
Ceklek... Ketika pintu terbuka, jantung yang sedari tadi sudah lebih tenang, kini kembali berdetak tak karuan ketika pandangan mata Atina mengarah ke sosok laki-laki yang tengah duduk di kursi kebesarannya sembari tersenyum lebar.
"Ya ampun... kenapa Mas Melvin tampak ganteng maksimal gitu sih, itu Mas Melvin apa pangeran dari langit?? Tuh kan?? lutut ku jadi lemes gini gara-gara terpesona dengan Mas Melvin. Aduh... gimana dong. Aku nggak sanggup jalan nih. Apa aku pura-pura pingsan aja kali ya. Biar Mas Melvin nggak tau kalau aku lagi gugup banget gini."
__ADS_1