
"Pagi Bu Fitri." Sapa Atina ketika dirinya memasuki ruang kerjanya.
"Pagi juga Bu Atina."
Atina lantas meletakkan tas bawaanya di meja. Ketika itu, ia melihat seperti ada selembar undangan yang tergeletak di atas meja kerjanya. Ia raih undangan itu, lantas Atina mulai membuka dan membaca tulisan yang tertera dalam undangan.
"Hah!! Pak Putra mau menikah dengan Sandra!! Kok bisa. Bukankah mereka pernah batal tunangan. Eh, ini malah mau nikah." Teriak Atina, ia lupa kalau dirinya tengah berada di ruangan khusus Guru.
"Ya ampun Tin... Kamu bikin kaget saja. Ada apa??" Ucap Bu Fitri yang langsung menghampiri Atina ke meja kerjanya.
"Ini beneran Pak Putra mau nikah Bu Fit. Nikahnya sama wanita itu pula. Bu Fitri masih ingat 'kan dengan Sandra yang pernah aku ceritakan tempo hari itu di kantin??"
"Ya, aku masih ingat kok. Tadinya aku juga terkejut, Pas datang tiba-tiba ada undangan di atas Meja. Dan aku juga sangat terkejut ketika tahu itu undangan ternyata dari Pak Putra. Dia mau menikah dengan wanita Bar-bar itu. Nggak habis pikir aku Tin. Kenapa sampai Pak Putra mau menikah dengan wanita itu. Katamu mereka pernah putus pertunangan. Lah, ini malah Pak Putra akan menikahi mantan tunangannya itu. Gimana coba itu." Ujar Bu Fitri nampak heran.
"Aku juga nggak tau sih Bu Fit. Apa yang menyebabkan Pak Putra akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Sandra. Tapi, ya sudahlah. Itu urusan mereka juga. Kita nggak perlu tau. Kita doakan saja semoga pernikahan mereka membawa kebahagiaan."
"Amin. Iya betul apa yang kamu bilang. Nanti kalau mau datang, bareng aku ya Tin. Kita berangkat sama-sama ke acaranya Pak Putra."
"Beres Bu Fit."
Kelas sebentar lagi akan dimulai. Baik Bu Fitri, Atina dan Guru yang lain tengah bersiap mengajar ke kelas sesuai jadwal mereka.
Sampai di kelas, Atina menyapa semua anak muridnya dengan senyum mengembang. Seperti biasanya pula, semua murid tampak antusias menyambut kedatangan Guru mereka. Namun, diantara hiruk pikuk canda tawa anak-anak, satu murid terlihat hanya diam. Tak ada suara ataupun tawa yang keluar dari mulut siswi tersebut. Dialah Chessy. Sejak dari pertama kedatangan sang Guru ke dalam kelas, respon Chessy terlihat biasa saja. Bahkan ketika temannya mengajak dirinya bercanda, respon Chessy hanya cuek bahkan terkesan dingin.
Menyadari akan hal itu, lantas perlahan Atina menghampiri Chessy.
"Chessy. Ibu perhatiin dari tadi kamu kok diam saja. Ada apa? Kamu kenapa. Apa kamu sakit?" Atina terlihat cemas.
"Nggak. Chessy baik-baik aja kok Bu." Chessy berusaha menutup rapat apa yang tengah ia rasakan.
"Jangan bohong sama Ibu, Chessy. Kamu kenapa? Apa ada yang kamu pikirkan. Bilang sama Ibu." Desak Atina.
Chessy hanya menggelengkan kepala. Atina hanya menghela napas panjang. Kalau sudah seperti itu, ia tidak bisa memaksa Chessy untuk bicara terus terang. Akhirnya, Atina memutuskan untuk memulai pelajaran saja. Nanti jam istirahat, ia akan mencoba bertanya lagi sama gadis itu. Siapa tahu, Chessy sudah mau bicara dengannya.
"Anak-anak. Sekarang buka buku pelajaran kalian. Hari ini Ibu akan menjelaskan tentang sinonim atau persamaan kata. Ayo siapkan bukunya. Selama Bu Guru lagi menjelaskan, nggak ada yang boleh berbicara sendiri ya. Kalian harus memperhatikan apa yang saya terangkan supaya kalian semua paham.Oke anak-anak!!" Teriak Atina antusias memberi ultimatum kepada semua muridnya.
"Oke Bu Atina!!" Serentak semua anak menyahut.
Kegiatan belajar mengajar berjalan lancar tanpa kendala. Sesekali ada anak yang berani bertanya ketika ada yang tak mereka pahami. Atina pun menjelaskan dengan pelan agar apa yang ia jelaskan bisa langsung ditangkap oleh sang anak murid.
__ADS_1
Tak terasa hampir satu jam setengah mereka belajar pelajaran Bahasa Indonesia. Atina harus mengakhiri mengajarnya karena sebentar lagi akan ada pergantian mata pelajaran yang otomatis gurunya pun berganti sesuai Mata Pelajaran yang terjadwal.
"Anak-anak. Ibu akhiri dulu pelajaran kali ini ya. Inget, kalian harus terus mengulang pelajaran tadi dirumah agar kalian nggak mudah lupa. Ya sudah, Ibu pamit dulu. Kalian jangan pada keluar, tetap didalam kelas. Dan jangan ribut ya. Bentar lagi guru Mata Pelajaran selanjutnya pasti datang."
"Baik Bu Guru...!!" Anak-anak menjawab serentak.
Setelah mengucap salam, Atina berlalu keluar kelas. Ia langsung menuju ruang Guru karena setelah ini ia tidak ada jadwal mengajar di kelas lain.
Sampai di ruang Guru, ternyata hanya ada Bu Tia yang tengah duduk sembari tangannya terlihat tengah menekuni berkas-berkas yang tergeletak didepannya.
"Lagi apa Bu Tia. Kayaknya serius banget gitu??" Tanya Atina setelah ia mendudukan pantatnya ke kursi.
"Eh, kamu Bu Atina. Ini, aku lagi nyiapin beberapa soal buat ulangan lusa Tin. mumpung lagi kosong jam pelajaran. Aku sibukin aja bikin ini." Jawab Bu Tia tetap fokus membolak-balikkan kertas didepannya, hanya sesekali ia menoleh ke arah Atina.
"Owh gitu. Boleh tanya nggak. Tapi nanti nunggu Bu Tia kalau udah nggak terlalu sibuk aja."
"Mau tanya apa Tin. Bentar deh, ini tinggal tiga soal lagi, aku terusin bentar ya, nanggung juga ini." Sahut Bu Tia.
"Oke Bu Tia." Timpal Atina mengacungkan dua jempolnya.
Menunggu kurang lebih dua puluh menit, Bu Tia pun selesai dengan pekerjaannya.
"Kamu tadi mau tanya apa Tin?"
"Oh kalau itu aku kurang tau Bu Tin. Mungkin Pak Putra langsung kali ya. Soalnya aku dapat undangannya tadi dirumah. Ibunya Pak Putra langsung yang nganterin." Jelas Bu Tia, ia tak tahu menahu tentang siapa yang sudah meletakkan undangan pernikahan putra di mejanya dan tentunya di meja Guru yang lain.
"Owh. Kirain aku, Bu Tia yang tadi nganterin. Secara 'kan Bu Tia tetanggaan sama Pak Putra. oh ya, ini beneran, Pak Putra nikahnya sama Sandra Bu? Bukankah Sandra itu mantan tunangan Pak Putra ya Bu Tia? Sejak kapan mereka balikan lagi?" Rupanya Atina penasaran juga dengan pernikahan Putra. Sebenarnya entah kenapa, ia takut kalau kembalinya Putra sama Sandra ada hubungannya dengan insiden yang pernah menimpa dirinya karena ulah wanita itu. Apa mungkin Putra melakukan itu demi agar Sandra tidak mengganggu dirinya. Tapi, mana mungkin Putra melakukan itu semua. Atas dasar apa Putra sampai rela mengorbankan masa depannya hanya untuk melindungi dirinya. Semua pikiran itu langsung Atina tepis jauh-jauh. Ia tidak mau terlalu kepedean. Bisa saja 'kan Putra memutuskan untuk menikahi wanita itu karena ada alasan lain. Salah satunya mungkin karena Putra mencintai wanita itu.
"Untuk masalah itu aku juga kurang tau Tin. Sebenarnya aku juga penasaran sih. Tapi mau tanya langsung sama Ibu Pak Putra kok aku ngerasa nggak enak hati sendiri. Nanti dipikirnya aku terlalu kepo sama urusan pribadi keluarga mereka."
"Iya juga sih Bu Tia. Ya sudah, Ibu lanjutin lagi kerjaannya. Aku mau kembali ke meja kerjaku. Ada hal yang juga perlu aku selesaikan. Makasih nih untuk waktunya barusan."
"Ah, nggak masalah Tin. Ngapain pakai ngucapin makasih segala sih. Kayak aku baru ngasih apaan aja sama kamu." Tambah Bu Tia membuat Atina hanya tersenyum sambil berlalu ke meja kerjanya.
Mereka akhirnya terdiam melanjutkan pekerjaan masing-masing. Hingga tak lama bel istirahat berbunyi. Atina baru ingat bahwa ia harus menemui Chessy. Ia masih penasaran dengan gadis itu. Tidak biasanya Chessy nampak murung seperti tadi.
Bergegas Atina membereskan beberapa berkas di atas mejanya. setelah rapi, ia memutuskan untuk langsung mencafi Chessy di kelas. Mudah-mudahan saja anak itu masih ada di kelasnya. Jadi ia tidak perlu mencari kesana kemari.
"Bu Atina. Mau kemana? mau beli makan siang ya?" Tanya Bu Tia membuat Atina menghentikan langkahnya sejenak.
__ADS_1
"ah, ini. Aku mau ke kelas menemui salah satu murid Bu. Ada hal yang ingin aku tanyakan. Memangnya ada apa Bi Tia??" Atina balik tanya.
"Owh gitu. kirain mau beli makan siang. Aku mau nitip." Ucap Bu Tia.
"oh, gitu. Kalau mau. Setelah urusanku selesai nanti tak belikan gimana? Bu Tia mau nitip apaan??"
"Mmm... Nggak usah deh Tin. Nanti aku coba nitip Bu Fitri aja deh. Takutnya kalau kamu ngobrolnya lama, hehe. Maklum udah mulai keroncongan nih perut. Mau beli sendiri, tanggung banget kerjaan aku tinggal sedikit lagi selesai." Sahut Bu Tia kikuk sendiri di hadapan Atina.
"Owh gitu. Ya sudah, kalau gitu aku pergi duluan Bu Tia."
"Dit, kamu lihat Chessy nggak?" Atina bertanya kepada anak muridnya yang ia temui tak jauh dari ruang Guru.
"Lagi di kelas kayaknya Bu Atina," jawab siswa yang bernama Radit.
"Oh. Iya. Makasih ya."
"Iya, sama-sama Bu."
Dengan langkah tergesa, Atina menuju kelas dimana Chessy berada.
Sesampainya di depan kelas. Atina melihat Chessy tengah duduk sendirian di kelas dengan wajah masih murung seperti tadi pagi. Ia terlihat tengah mencoret-coret bukunya.
"Chessy Sayang. Kamu kok nggak istirahat bareng temen-temen kamu diluar?" perlahan Atina berjalan mendekati gadis itu.
Chessy menoleh, lantas ia hanya menggelenggkan kepalanya pelan.
"Kamu kenapa? Ngomong sama Ibu kalau kamu lagi ada masalah Sayang. Jangan diam saja seperti ini, Ibu jadi khawatir kalau kamu kayak gini. Ayo cerita sama Ibu ya. Siapa tahu Ibu bisa bantu kamu. Kamu mau ya, cerita sama Bu Guru??" Atina berusaha membujuk Chessy agar gadis itu mau terbuka.
Chessy tampak ragu sejenak. Hingga akhirnya ia pun mulai memberanikan diri berbicara langsung sama Atina.
"Apa Ibu beneran bisa bantuin Chessy??" Tanya Chessy untuk memastikan.
"Iya, kalau Ibu bisa, pasti Ibu akan bantuin kamu. Asal Chessy mau terus terang sama Ibu."
"Sebenarnya ini soal perkataan Papa kemaren Bu. Pas Papa bilang mau menikah sama Bu Atina."
Deg ... mendadak jantung Atina berdetak kencang mendengar jawaban dari Chessy. Ia tak tau apa yang tengah Chessy pikirkan tentang hal itu hingga membuatnya murung dari tadi.
"Papa kamu mungkin saja kemaren cuma bercanda aja Sayang. Jadi kamu nggak perlu masukin ke hati ya."
__ADS_1
"Nggak Bu. Papa tidak sedang bercanda. Pas sampai di rumah, Papa juga bilang sama Chessy. Malahan Papa sudah menjelaskan semuanya ke Chessy bahkan tentang hubungannya dengan Bu Atina selama ini. Papa bilang bahwa Papa akan menikahi Ibu dan menjadikan Bu Atina Mama Chessy. Tapi, Chessy 'kan sudah punya Mama Alana. Kenapa Papa malah mau nyari Mama lagi buat Chessy. Bu Atina, bukannya Chessy nggak mau Bu Atina jadi Mama Chessy. Tapi, Chessy cuma kasihan sama Mama Alana kalau misal Papa menikah sama Bu Atina. Nanti Mama Alana sama siapa? Chessy itu maunya, Papa dan Mama kembali bersama, Chessy pengen kayak teman-teman Chessy yang lain yang punya orang tua kandung lengkap Bu Atina. Tapi sepertinya Papa nggak mau nurutin apa mau Chessy. Papa bersikeras tetap mau nikah sama Bu Atina. Chessy nggak tau harus gimana Bu. Chessy mohon sama Ibu ya. Tolong bujuk Papa untuk mau membatalkan keinginan itu. Chessy minta maaf ya sama Bu Atina kalau Chessy harus jujur sama Ibu tentang apa yang Chessy rasakan. Chessy berharap, Bu Atina nggak akan marah sama Chessy."
Ada perasaan sakit didalam hati Atina mendengar kejujuran gadis didepannya itu. Itu artinya sangat jelas bahwa Chessy tidak menginginkan dirinya untuk bisa bersatu dengan Melvin yang merupakan Papa dari gadis itu. Ya Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi. Disaat dirinya mulai bisa mencintai seorang laki-laki, tapi sepertinya cintanya itu hanya akan bisa jadi sebuah kisah yang tak berlanjut.