
Ketika sudah sampai di dalam kamar. Atina langsung duduk di ranjang miliknya. Dengan tak sabaran ia langsung membuka kotak yang tadi di kasih oleh Bu Rumana. Betapa berbinarnya wajah Atina ketika melihat sebuah cincin yang sangat indah memancarkan kilauannya. Atina langsung mengambil cincin itu. Ia coba sematkan ke jari manisnya. Pas. Sangat cantik cincin itu berada di jari tangan Atina. Di dalam kotak itu juga terdapat selembar kertas yang kemungkinan itu adalah surat dari Melvin yang sengaja ia tulis untuknya.
"Sayang... ku harap setelah kamu baca surat ini, kamu terlebih dulu memakai cincin yang sudah aku persembahkan untukmu. Cincin itu adalah pengikat antara cintaku dan cintamu. Kau sekarang menjadi milikku satu-satunya dan tak boleh ada laki-laki lain yang merebut mu dariku. Aku harap pengikat ini mampu menjaga perasaan cintamu padaku. Aku sayang sama kamu, dan aku ingin secepatnya kamu menjadi pendamping hidupku. Kamu tau nggak, Chessy sudah setuju untuk menerima kamu menjadi ibu sambung nya. Apa kamu tau, hal itu merupakan hal yang paling membahagiakan ku. Restu dari anakku adalah jalan untuk kita bisa bersatu dalam ikatan pernikahan. Dan mudah-mudahan, jalan menuju ke arah sana selalu diberi kelancaran dan jangan pernah ada lagi hambatan yang melintang. Amiin...!!"
Setelah membaca surat dari Melvin. Atina lantas melipat kertas itu kembali. Di taruhnya surat dari Melvin tersebut ke laci meja rias.
Atina merasa bahagia. Setidaknya Chessy sudah mau membuka hati untuk dirinya. Menjadikan ia wanita yang kelak akan menjadi Ibu buat anak itu. Meskipun hanya ibu sambung. Atina yakin, ia akan bisa menyayangi dan mencintai Chessy seperti anak kandung nya sendiri.
Tapi sepertinya, untuk menuju ke arah pernikahan, Atina belum ada pandangan. Ia masih ingin mempersiapkan hati dan mental nya. Karena bagi Atina, pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan ia ingin merasakan itu sekali seumur hidup. Ia ingin membangun rumah tangga dengan suaminya kelak bukan hanya setahun dua tahun, tapi untuk selamanya sampai maut memisahkan mereka.
Setelah membaca surat dari Melvin. Atina lantas ganti baju dengan baju tidur. Rasanya malam ini ia akan bisa tidur dengan nyenyak karena suasana hatinya tengah bahagia. Ia pandangi terus jari tangan yang kini dihiasi oleh kilau nya cincin pemberian sang kekasih. Ia senyum-senyum sendiri, merasa lucu sendiri.
"Ternyata seperti ini rasanya di lamar oleh laki-laki yang sangat kita cintai. Nggak nyangka, dulu aku yang begitu benci sama Mas Melvin pada akhirnya bisa jatuh cinta sama dia bahkan menjalin asmara sejauh ini. Aku kira dulu nggak akan mungkin bisa menyukai laki-laki kaku macam dia. tqpi nyatanya, di balik sikap kaku nya itu, ia adalah laki-laki yang penuh dengan kehangatan. Perhatiannya, kasih sayangnya, perlindungannya mampu membuat aku tak kuasa untuk menjauh dari hidupnya. Ternyata jatuh cinta itu sangat menyenangkan ya dan rasanya sangatlah indah," gumam Atina sembari merebahkan diri di atas ranjang miliknya. Ia terus saja terbayang wajah sang kekasih hati.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain...
"Apa!! mas Melvin melamar wanita itu. Kamu tahu darimana berita ini. Kamu nggak lagi bercanda 'kan? Apa kamu menyaksikan sendiri??" tanya Alana dengan suara meninggi. Suaranya yang keras mampu membuat gendang telinga rusak seketika. Alana saat ini tengah berbicara dengan seseorang yang ia tugaskan untuk memata-matai semua kegiatan sang mantan suami.
"Berita ini valid Bos. Kami berada di TKP ketika Ibunya mas Melvin dan kedua saudaranya datang ke rumah wanita itu. Kami juga sudah berhasil merekam pembicaraan mereka secara diam-diam. Apa Bos mau mendengar langsung hasil rekaman kami??" tawar sang anak buah yang bernama Riko.
"Mana. Aku mau dengar langsung!!" sahut Alana, ia menengadahkan tangannya meminta bukti rekaman dari Riko. Riko langsung mengambil ponsel di saku celana nya. Ia mulai membuka ponsel itu, dia cari aplikasi rekaman di ponselnya. Tak lama, ia langsung menyodorkan ponselnya kepada Alana. Tanpa menunggu waktu lagi, Alana langsung menyambar ponsel itu. Lantas ia langsung memutar rekaman itu. Raut wajahnya berubah memerah, sepertinya emosi mulai menguasai diri wanita itu setelah tahu fakta bahwa sang mantan suami telah melamar wanita lain. Begitu selesai mendengar hasil rekaman itu. Dikembalikannya ponsel kepada Riko.
"Apa yang akan Bos lakukan untuk selanjutnya. Kami siap menjalankan perintah, apapun itu asal bayarannya cocok, akan kami lakukan dengan senang hati," tanya Miko ketika melihat respon sang majikan yang tampak penuh emosi.
Alana mencoba untuk menghubungi sang anak lewat panggilan telepon. Ia ingin tahu, kenapa Chessy memberikan izin sang Papa untuk melamar Atina. Panggilan tersambung, tapi belum ada tanggapan sampai panggilan terputus dengan sendirinya. Alana kembali mencoba untuk melakukan panggilan lagi, ia menunggu beberapa saat. Sampai akhirnya panggilannya mendapat respon.
"Halo, Chess! kamu dari mana saja. Dari tadi Mama telepon nggak kamu angkat-angkat."
__ADS_1
[Maaf Ma. Hp ada di kamar. Chessy tadi lagi ambil minum ke dapur. Ada apa Ma?]
"Mama mau tanya. Kenapa kamu ngasih izin Papa kamu untuk melamar Atina. Bukankah kamu menginginkan Papa dan Mama kembali bersatu? Lantas kenapa kamu malah ngasih izin Papa kamu untuk menikah dengan wanita itu. Kenapa Sayang? Apa kamu sudah tak menginginkan mama lagi??"
[Maaf Ma. Bukan seperti itu. Chessy hanya nggak mau melihat Papa sedih. Chessy lihat, Papa sangat bahagia ketika bersama Bu Atina. Chessy mikir, kasihan kalau sampai Chessy pisahin Papa dan Bu Atina, Ma. Chessy nggak mau melihat Papa sedih].
"Berarti Chessy nggak apa-apa kalau melihat Mama yang sedih. Iya, gitu maksud kamu, Chess. Kamu udah nggak Sayang ya sama Mama. Makanya kamu nggak menginginkan Mama bersatu kembali sama Papa kamu. Apa itu yang Chessy inginkan?"
[Mama 'kan tahu sendiri. Papa benci banget sama Mama. Bagaimana caranya Mama dan Papa bisa bersatu lagi. Chessy cuma nggak mau kalau Mama dan Papa bersatu lagi. Yang ada kalian akan terus bertengkar. Daripada seperti itu, mending keadaannya seperti ini saja. Seperti ini lebih baik menurut Chessy, Ma. Chessy harap Mama mau menerima semua ini dengan tangan terbuka. Mungkin dengan begini, lambat laun Papa akan bisa baikan sama Mama. Dan Papa nggak lagi membenci Mama. Chessy ingin kalian selalu baik-baik saja meskipun tidak bersama, Ma. Mama mau 'kan lakuin apa yang Chessy katakan ini. Chessy mohon banget, Ma].
Tuut... tuut...
Sambungan telepon mati begitu saja. Alana terpaksa memutus telepon secara sepihak karena ia merasa geram dengan ucapan sang anak yang justru meminta dirinya untuk menerima keputusan yang sang anak ambil yaitu menyatukan Melvin dan Atina. Sementara itu, sang anak justru meminta dirinya untuk dengan senang hati menerima keadaan ini. Bagaimana mungkin, putrinya berubah begitu cepat. Padahal kemaren ia yakin kalau Chessy terus-terusan ada di pihaknya, maka jalan untuk mendapatkan Melvin akan lebih mulus kedepannya. Ia bisa memanfaatkan sang anak untuk memulus'kan tujuannya itu. Tapi nyatanya sekarang justru keadaan berubah seratus delapan puluh derajat.
__ADS_1
"Arrgh!! Sial!! Kenapa Chessy harus berubah haluan gini sih. Kalau seperti ini aku akan lebih sulit untuk kembali bersatu dengan mas Melvin. Benar-benar sial hari ini. Apa yang harus aku lakukan. Bagaimana caranya agar mas Melvin tak menikahi wanita itu. Apa iya aku lenyapkan saja Atina dari dunia ini. Kalau wanita itu lenyap, nggak ada lagi yang akan menghalangi keinginan ku untuk kembali rujuk sama mas Melvin. Tapi ... Itu juga terlalu beresiko. Kalau sampai ketahuan orang lain. Yang ada aku bakalan masuk penjara. Ayo dong Alana, mikir. Rencana apa yang sekiranya aman dan sangat ampuh mengusir wanita itu dari kehidupan mas Melvin." Alana terus berbicara sendiri. Sepertinya wanita itu akan berbuat sesuatu yang akan membahayakan Atina. Entah apalagi yang akan ia rencanakan kali ini.