Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 35 Resmi Jadian


__ADS_3

"Kamu mau pesan apa Tin. Biar aku pesan'kan." Tanya Melvin. mereka kini tengah makan siang di kafe tak jauh dari kantor Melvin.


"Aku ngikut kamu aja Mas. Terserah kamu mau pesan apa Mas." Jawab Atina, menyerahkan pilihan menu makanan kepada Melvin. Melvin pun lantas memesan beberapa menu yang paling banyak diminati di kafe itu.


Menunggu pesanan datang, Melvin dan Atina terlihat asik mengobrol, entah apa yang mereka obrolkan sampai membuat Atina tertawa begitu lepas. Sesekali Melvin menggenggam tangan Atina sembari menatap lekat wajah Atina. Terlihat sorot penuh cinta yang tergambar jelas dari mata Melvin. Atina yang di perlakukan seperti itu oleh Melvin hanya bisa tersipu malu.


"Tin, apa kamu sudah punya jawaban dari hati kamu untuk aku?? Kalau sudah, kasih tau aku tentang perasaan kamu itu. Biar aku tau apa kamu juga memiliki perasaan cinta untukku atau nggak."


"Apa itu penting buat kamu Mas??"


"Tentu saja sangat penting, Tin. Makanya aku butuh jawaban dari kamu."


"Apa kamu tidak bisa merasakan dari semua sikap aku sama kamu Mas. Apa kamu tidak bisa mengartikan itu semua dari sikap aku selama ini sama kamu??"


"Aku nggak bisa nebak itu Tin. Aku takut kalau ternyata aku salah mengartikannya. Jadi, aku harap kamu ngasih aku kepastian lewat ucapan langsung dari mulut kamu."


"Sebenarnya a-aku... a-aku juga sayang sama kamu Mas, a-aku juga jatuh cinta sama kamu. Tapi aku hanya takut untuk jujur sama kamu. A-aku...." Tiba-tiba jari Melvin mengarah ke bibir Atina. Seketika itu, Atina pun tak bisa melanjutkan ucapannya itu.


"Udah, jangan bicara apa-apa lagi. Yang terpenting aku sudah tau tentang perasaan kamu sama aku Tin. Aku bahagia banget dengernya, ternyata kamu juga memiliki perasaan yang sama dengan yang aku rasakan sama kamu. Aku benar-benar bahagia." Mendadak Melvin berdiri, ia hendak memeluk Atina seketika itu juga.


"Stop!! Kamu mau apa Mas." Sontak Melvin terdiam sesaat, dengan kedua tangan terbentang, mengambang di udara.


"Mau peluk kamu sayang!" jawab Melvin enteng.


"Kamu jangan gila Mas. Ini 'kan di tempat umum. Udah, kamu duduk lagi. Jangan berbuat aneh-aneh ah. Malu nanti diliatin orang." Sergah Atina membuat Melvin hanya bisa manyun menelan kekecewaan karena gagal memeluk sang pujaan hati.


"Iya deh, aku manut sama kamu. Tapi nanti kalau udah sampai di ruang kerja Mas, boleh dong ya, Mas peluk kamu sepuasnya??" Tanya Melvin sangat antusias.


"Nggak boleh Mas. Kita bukan suami Istri lho, masa mau peluk-peluk segala."


"Ya sudah. Mas akan segera nikahin kamu biar Mas bebas ehem-ehem sama kamu sepuasnya." Ucap Melvin di sertai tawa yang begitu renyah.


"Apaan sih Mas. Ngomongnya ngaco kemana-mana gitu. Udah ya, jangan bercanda terus."

__ADS_1


"Siapa juga yang bercanda, Sayang. Mas serius kok. Kalau kamu udah siap, Mas akan langsung nikahin kamu. Kalau perlu hari ini juga, Mas siap!!"


"Aduh... Mas. Jangan ngomongin nikah dulu. Nikah itu butuh persiapan yang matang Mas. Nggak bisa kayak tahu bulat yang di proses dadakan." Ucap Atina memelototi Melvin. Sementara Melvin malah tertawa mendengar Atina menyebut tahu bulat.


"Kamu lucu sekali Tin, masa iya nyamain dengan tahu bulat segala. hahaha!!" seketika tawa Melvin meledak membuat orang-orang di sekitar mereka menoleh ke arah keduanya.


"Mas. Berhenti dong. Jangan ketawa mulu. Tuh, orang-orang pada ngeliatin kesini!" bisik Atina merasa malu karena jadi pusat perhatian pengunjung kafe. Menyadari hal itu, Melvin pun langsung menghentikan ketawanya.


"Maaf... Maaf. Mas kelepasan, nggak bisa ngontrol ketawa Mas. Gara-gara kamu juga sih, ngelawak nggak kira-kira."


"Siapa juga yang ngelawak. Aneh kamu Mas."


"Permisi... Ini pesanannya Mas dan Mbak." Tiba-tiba pelayan kafe menghampiri meja Atina dan Melvin dengan membawa beberapa makanan yang tadi mereka pesan.


"Ah, iya Mbak. Tumben lama mbak pesanan saya baru datang." Ucap Melvin.


"Iya Mas. Mohon maaf ya. Tadi ada kendala sedikit di belakang. Maaf kalau membuat Mas dan Mbak nya lama menunggu." Jawab pelayan itu ramah, senyum selalu terukir di wajah pelayan tersebut.


"Iya, sama-sama. Saya permisi dulu. Silahkan di nikmati makanannya." Ucap pelayan kafe. Ia lantas meninggalkan meja Melvin dan Atina.


"Kebiasaan deh kamu Mas. Kalau pesan makanan nggak kira-kira gini. Banyak banget. Padahal yang makan cuma kamu sama aku doang lhoo. Mubazir nanti kalau nggak kemakan semua." Sungut Atina memarahi Melvin.


"He-he. Tadi kamu bilang terserah Mas mau pesan apa. Ya sudah, Mas pesan aja semua menu terbaik di kafe ini. Biar kamu bisa ngerasain satu per satu makanannya."


"Ya, iya sih. Tapi nggak harus sebanyak itu juga kali Mas. Lain kali jangan kayak gini lagi ya. Kita pesan sesuatu seperlunya saja. Jangan berlebihan." Titah Atina mencoba menasehati laki-laki dihadapannya itu.


"Iya Sayangku, Cintaku. Mas nurut deh sama kamu. Nanti kalau makanan ini sisa banyak. Kita minta bungkus aja ya. Bisa kita makan lagi nanti di kantor. Oke!!" Atina hanya menganggukkan kepala. Lantas ia dan Melvin pun mulai makan dengan lahap.


"Berarti mulai hari ini kita udah resmi jadian ya." Ucap Melvin setelah ia menyelesaikan makan siangnya itu.


"Ckck... Apaan sih Mas. Kayak anak ABG aja bahasa kamu Mas. Inget, kita ini udah bukan ABG lho." sahut Atina merasa geli mendengar ucapan Melvin.


"Lah, terus?? Mas harus nyebutnya apa dong. Pacaran... gitu menurut kamu??"

__ADS_1


Seketika atina terkekeh mendengar kata pacaran yang keluar dari mulut Melvin.


"Loh, kamu kok malah ketawa sih Tin. Emangnya ada yang lucu??" Melvin merasa heran dengan respon Atina.


"Udah ya Mas. Terserah kamu mau nyebutnya apa hubungan kita ini. Senyaman nya kamu aja Mas."


"Ya, pokoknya sekarang kamu udah jadi milik aku Tin. Jadi, nggak boleh ada satu laki-laki pun yang deketin kamu. Dan kamu juga nggak boleh dekat dengan laki-laki lain selain aku. Terutama sama rekan kerja kamu itu, siapa tuh namanya, yang kata chessy Guru baru di sekolah tempat kamu mengajar??".


"Maksud Mas, Pak Putra!!"


"Nah, iya, Putra!! Kamu jangan terlalu dekat dengan laki-laki itu, Mas akan cemburu kalau sampai lihat kamu dekat dengannya."


"Mas itu aneh. Ya jelas pasti aku bakalan sering dekat dengan Pak Putra dong Mas. 'Kan kami kerja ditempat yang sama, bahkan di ruangan yang sama pula. Terus gimana coba caranya kalau aku harus jauh dari Pak Putra. Masa iya, aku harus pindah kerja sih Mas, 'kan nggak mungkin!!" Jelas Atina panjang lebar.


"Ya, nggak gitu juga Sayang. Pokoknya kamu dekat dengan Putra itu kalau urusan kerja aja. Diluar itu jangan terlalu dekat. Dan satu lagi, jangan mau kalau dia ngajakin kamu jalan berduaan diluar sekolah. Oke!!"


Atina hanya bisa menganggukkan kepala mendengar pesan dari sang kekasih. Atina sudah tidak heran dengan sikap posesif laki-laki itu, ia tau betul gimana sikap Melvin padanya. Belum jadi kekasih saja, Melvin sudah menunjukkan sikap posesifnya itu, apalagi sekarang ketika mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Mau tidak mau sebagai wanita, Atina berusaha memahami sikap dari kekasihnya itu selama masih dalam lingkup yang sewajarnya dan tidak berlebihan.


"Mas, kayaknya aku nggak usah lagi datang ke kantor kamu ya. Lagian buat apa juga aku ke kantor kamu kalau nggak ngapa-ngapain. Masa iya, aku hanya duduk-duduk saja nemenin kamu kerja tanpa berbuat apa-apa. Nggak enak 'kan sama karyawan kamu di sana Mas."


"Kenapa kamu harus merasa nggak enak sama mereka, Tin. Itu perusahaan 'kan punya Mas. Dan kamu sekarang udah jadi kekasih Mas, jadi nggak ada salahnya untuk beberapa hari kedepan, Kamu nemenin Mas kerja di kantor."


"Cukup hari ini aja Ya aku nemenin kamu kerja Mas. Besok-besok biar aku di rumah aja. Beneran deh Mas, aku nggak enak sama karyawan kamu. Lagian, aku justru malah akan bosan kalau nggak ngapa-ngapain di kantor kamu Mas. Mending aku di rumah bantuin Ibu beberes rumah, atau kalau nggak aku cari kesibukan lain.Misal buka les untuk anak-anak sekitar rumah mungkin, atau kesibukan apalah gitu biar nggak bosan."


"Mmm yaudah, terserah kamu aja enaknya gimana. Aku sih berharapnya kamu nemenin aku kerja aja selama 4 hari kedepan. Tapi, kalau kamu nggak mau, Mas juga nggak akan maksa."


"Maaf ya Mas. Lebih baik aku di rumah aja ya."


"Iya, nggak apa-apa kok. Sekarang kamu selesaikan makannya. Habis ini Mas masih ada kerjaan, jadi harus kembali ke kantor. Kalau kamu ingin pulang nanti biar pak Mamat anter kamu pulang. Nggak apa-apa 'kan dianter sama Pak Mamat dulu. Mas nggak bisa nganter soalnya??"


"Iya, nggak apa-apa kok Mas."


Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke kantor, Atina di antar pulang oleh supir yang tadi menjemputnya. Sementara Melvin melanjutkan pekerjaan yang masih menumpuk di kantor.

__ADS_1


__ADS_2