
"Ada apa ini, Bu. Kenapa kamu menangis. Dan siapa laki-laki ini??" tanya pak Roni ketika ia baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu. Sang istri langsung berdiri, dengan masih terisak, beliau menyuruh sang suami untuk duduk terlebih dahulu.
"Dia orang suruhan Melvin, Pak. Kesini karena di suruh ngasih kabar kalau sampai saat ini belum berhasil menemukan Atina. Nak Melvin sendiri tidak bisa kemari karena Bu Rumana tadi jatuh di kamar mandi. Jadi nak Melvin nyuruh Mas ini kesini untuk ngasih tahu kita, Pak. Dia juga sudah di tugaskan sama Melvin untuk terus mencari keberadaan Atina," jelas bu Yeni. Sementara orang suruhan Melvin hanya mengangguk sekilas ke arah pak Roni. "Terus Bapak sendiri bagaimana. Apa Bapak belum juga bertemu Atina di jalan?" tanya bu Yeni menatap sang suami. Beliau berharap akan ada kabar baik tentang keberadaan putri mereka.
"Belum, Bu. Bapak sudah muter-muter ke semua jalan yang biasa Atina lewati. Tapi Bapak sama sekali tidak menjumpai Atina di mana pun. Karena lelah, Bapak memutuskan untuk pulang sejenak sebelum nanti lanjut nyari lagi kalau sampai malam Atina belum juga pulang," ucap pak Roni dengan suara lemas. Mendengar itu, seketika bu Yeni kembali terisak.
"Sudah, Bu. Jangan menangis. Malu di lihat orang. Ibu yang sabar dulu. Nanti Bapak pasti akan mencari Atina lagi."
"Bapak, Ibu. Kalian jangan khawatir, saya juga akan ikut membantu untuk mencari keberadaan mbak Atina sampai ketemu. Maaf sebelumnya, saya harus pamit sekarang juga guna kembali melakukan pencarian," sela orang suruhan Melvin.
"Iya, Mas. Silahkan. Kami ucapkan terima kasih atas bantuan dari Mas nya." Pak Roni berdiri menyalami orang tersebut sebelum pergi.
"Sama-sama Pak. Ini sudah jadi tugas saya juga. Kalau begitu saya pamit Pak, Bu, mari, Assalamualaikum," ucapnya sembari beranjak keluar setelah salam nya mendapat sahutan dari sang tuan Rumah.
Pak Roni kembali mendekati istri nya yang tengah duduk sembari terus menyeka air mata yang sedari tadi tak mau berhenti mengalir.
"Sudah, Bu. Jangan menangis terus. Lebih baik kita berdoa, mudah-mudahan Atina cepat pulang. Mudah-mudahan saja saat ini dia lagi ke rumah temannya sebentar. Sehingga belum pulang juga. Kita harus berpikiran positif, Bu. sudahi air mata kamu, menangis tidak akan menyelesaikan masalah."
Mendengar perkataan sang suami, bu Yeni langsung menghentikan isakan nya.
Sementara itu di tempat lain.
Seorang wanita tergolek lemah di ranjang sebuah rumah yang jauh dari keramaian. Rumah antara satu dengan yang lain berjarak lumayan jauh.
"Apa wanita itu sudah sadar dari pingsannya?" tanya seorang laki-laki kepada temannya.
"Belum Bos. Sepertinya pukulan Bos terlalu kuat sehingga sampai saat ini wanita itu belum juga sadar. Bagaimana kalau dia sampai mati Bos. Bisa berabe nanti urusannya," sahut seorang laki-laki, sepertinya dia adalah anak buah dari rekannya yang ia panggil dengan sebutan Bos.
"Nggaklah!! Aku mukul dia bukan di tubuh yang vital. Jadi nggak mungkin dia sampai mati. Ya sudah, kamu jaga di sini. Aku mau menghubungi bu Bos dulu untuk melapor."
"Siap Bos!!"
Setelah mengatakan itu. Laki-laki yang di panggil bos tadi keluar ke teras. ia tampak tengah menghubungi seseorang. Terlihat beberapa kali ia menatap intens ke arah ponsel dalam genggamannya.
"Halo, Bos. Aku mau menginformasikan. Kalau tugas untuk menyekap wanita itu sudah aku laksanakan. Dia sekarang sedang pingsan di kamar. Terus apa yang harus aku perbuat dengan wanita itu, Bos??"
__ADS_1
terdengar laki-laki tadi mengobrol dengan seseorang lewat panggilan telepon.
[Bagus. Aku suka dengar berita ini. oh ya Ram, aksi kamu nggak sampai di ketahui orang lain 'kan? awas saja kalau sampai ada saksi mata yang lihat. Bisa kena masalah nanti kita!!]
"Tenang saja, Bos. Semua aman. Semua sudah aku cek kondisi TKP sebelum menjalankan aksi kami. Sekarang aku harus ngapain tuh cewek, Bos. Kalau boleh ... Itu Bos,"
[Apa! Ngomong yang jelas!!]
"Kayaknya oke juga nih kalau aku dan kawan-kawan bersenang-senang dengan wanita itu. Dia lumayan cantik dan tubuhnya juga sangat menggiurkan. Kayaknya enak kalau di ajak anu, Bos!!"
[Hmm. Bagaimana ya?? Aku sih nggak masalah kamu mau apain aja tuh wanita. Yang pasti kamu jangan sampai ketahuan. Atau kalau nggak, kamu kasih saja dia obat per*ngs*ng. Jadi bikin dia kepanasan. Sehingga ketika kamu ajak dia bersenang-senang tak ada penolakan dari nya. Dan jangan lupa, kamu video untuk jaga-jaga kalau dia sampai macam-macam nanti. Kamu bisa gunakan video itu untuk membungkam mulut wanita itu. Kamu ngerti 'kan maksud ku]
"Sip. Aku ngerti apa yang harus aku lakukan, Bos. Dengan senang hati aku akan melakukan itu semua. Tapi ingat, jangan lupa bayarannya, Bos."
[Oke. Kamu tenang saja. Nanti aku akan transfer sisa pembayaran ke nomor rekening kamu. Tapi tunggu sampai kalian membuat wanita itu tak berani lagi muncul di hadapan laki-laki yang aku cintai. Kamu paham]
"Baik Bos. Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Sudah nggak sabar mau merengguk kenikmatan bersama wanita itu. Kebetulan sudah lama aku nggak dapat jatah dari istri."
[Terserah kamu saja, Ram. Kamu dari dulu emang nggak pernah berubah ya. Masih liar seperti dulu]
[Ya... Ya... Aku ngerti. Ya sudah, sana gih, katanya mau bersenang-senang sama wanita itu. Sana, mumpung dia masih segel dan juga belum pernah tersentuh sama makhluk mana pun. Dan lagi, gratis pula. Ha-ha]
Sambungan telepon terputus. Laki-laki yang bernama Rama itu menyeringai menatap ke arah dalam rumah. Sepertinya dia sudah tak sabar untuk melakukan aksinya mengerjai wanita yang tengah ia sekap di dalam kamar.
"Jon. Kesini kamu!!" perintah Rama kepada anak buahnya yang tengah duduk di depan kamar yang mana di dalamnya ada wanita yang tengah mereka sekap.
"Ada apa Bos!" sahutnya ketika dirinya sudah berada di depan bos Rama.
"ini, nanti kamu kasih minuman ini ke wanita itu. Pastikan dia mau minum sampai habis. Entah bagaimana cara kamu membujuk nya. Yang pasti minuman ini harus dia minum sampai tak tersisa setetes pun. Kamu ngerti!!" perintah Rama dengan tegas sembari menyodorkan satu gelas minuman kepada anak buahnya.
Sang anak buah menatap minuman itu dengan penuh tanda tanya besar dalam benak nya. Kira-kira itu minuman apa. Dari tampilannya sih seperti air putih pada umumnya. Tapi mana mungkin juga sang bos memerintahkan dirinya untuk memberikan minuman itu pada wanita dalam kamar, bahkan harus memastikan wanita itu minum sampai habis. Pasti di dalam minuman itu ada sesuatu yang bos nya taruh. Mendadak dirinya sedikit gemetar, takut kalau dalam minuman itu ada racun mematikan yang akan membuat wanita didalam kamar meregang nyawa. Kalau sampai itu terjadi, dirinyalah yang akan jadi tersangka dalam hal ini. Karena dirinya yang sudah memberikan minuman itu kepada wanita di dalam kamar, ya... meskipun itu semua karena perintah dari bos nya. Tapi tetap saja dirinya ikut terlibat dalam pembunuhan itu.
"Heh. kenapa malah bengong!! Cepat bawa minuman itu ke dalam sekarang juga!!" bentak bos Rama membuat anak buahnya terlonjak kaget. Mendadak ia gugup dan tubuhnya agak bergetar saking takut nya.
"Ma-maaf Bos. Kalau boleh tahu, ini minuman apa. Bos nggak naruh racun dalam minuman ini 'kan?? Aku takut Bos kalau sampai wanita itu mati karena minum minuman ini. Aku nggak mau kalau sampai membunuh orang segala," lirihnya, dengan wajah penuh ketakutan, laki-laki itu memberanikan diri untuk langsung bertanya kepada bos Rama.
__ADS_1
Rama langsung tersenyum penuh misteri. Senyuman nya itu sangatlah membuat merinding bagi orang yang melihatnya.
"Kamu nggak usah khawatir. Itu minuman biasa, nggak akan bikin orang mati hanya karena meminum minuman itu. Sudah sana kamu taruh di dalam kamar wanita itu. Kalau wanita itu sudah sadar dan sudah minum minuman itu, kamu kasih tahu aku secepatnya. Aku akan ke depan dulu sebentar untuk memantau keadaan sekitar rumah ini."
"Ba-baik Bos. Aku akan lakukan perintah bos dengan baik."
"Bagus!!"
Tak lama Rama langsung beranjak keluar. Seperti yang ia katakan tadi di dalam. Saat ini ia tengah memantau keadaan sekitar rumah yang ia tempati. Aman, tidak ada yang mencurigakan. Dan keadaan sekitar juga lumayan sepi. Hanya ada beberapa orang yang hilir mudik sekedar lewat di depan rumahnya. Rumah-rumah yang jaraknya saling berjauhan membuat Rama dan anak buahnya bisa melakukan aksi mereka tanpa takut di ketahui warga sekitar.
****
"Arrgh!! Kepalaku... Kenapa sakit banget!!" rintih seorang wanita sembari kedua tangan memegang kepalanya. Matanya perlahan terbuka, dia tertegun sesaat menatap dirinya berada dalam ruangan yang sangat asing, sama sekali dia tidak tahu. Sedang berada di mana saat ini.
"Mbak. Mbak sudah sadar!!" tanya laki-laki yang juga berada di ruangan itu.
"Ka-kamu siapa!! Kenapa ada disini. Jangan macam-macam ya kamu!!" dengan muka panik dan kaget, wanita itu langsung melotot ke arah laki-laki tadi. Ia nampak ketakutan setengah mati berada dalam satu ruangan dengan laki-laki asing.
"Te-tenang Mbak. Aku bukan orang jahat. Aku malah yang sudah menolong mbak ketika pingsan di jalan. Mbak sekarang ada di rumah saya. Mbak jangan takut, aku nggak akan berbuat macam-macam sama Mbak. Mbak tenang saja. Percaya sama saya," ujar laki-laki itu mencoba menenangkan wanita tadi.
Wanita itu menatap lekat ke arah laki-laki di hadapan nya. Entah apakah dia harus mempercayai laki-laki itu atau tidak. Tapi kalau melihat dari raut wajah laki-laki di hadapan nya. Sepertinya dia memang lah orang baik. Dan dengan memantapkan hati, wanita itu pun mencoba untuk berpikiran positif.
"Kalau boleh tahu, Mbak namanya siapa? Mbak ingat nggak kenapa bisa sampai pingsan di pinggir jalan?"
"A-aku Atina, Mas. Tapi aku juga nggak ingat kenapa aku bisa pingsan. Aku nggak ingat sama sekali."
Mendengar jawaban itu, sekilas nampak senyum penuh misteri dari laki-laki itu. Entah apa arti senyuman itu. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.
"Aduh... Susah juga ya kalau Mbak nggak ingat. Tapi kalau alamat rumah kamu masih ingat'kan??" Atina mengangguk kecil.
"Ya sudah. Lebih baik kamu istirahat dulu di sini bentar. Setelah kamu mendingan, nanti aku akan antar kamu pulang. Sekarang, kamu minum dulu. Habis ini aku mau keluar sebentar buat cari makan. Nih, minum dulu air putih nya. Biar kamu lebih enakan," perintah laki-laki itu sembari menyodorkan segelas air putih kepada Atina. Dengan ragu Atina menerima minuman itu. Tapi ia hanya memegang gelas itu tanpa ada niatan untuk meminum nya.
"Kenapa? Kok nggak di minum? Apa kamu takut aku kasih sesuatu ke minuman itu. Apa kamu masih nggak percaya kalau aku ini bukan orang jahat. Ya sudah, kemarikan minumannya. Biar aku minum di hadapan kamu langsung. Dan kamu akan lihat sendiri bahwa aku tetap baik-baik saja setelah minum minuman itu. Sini kemarikan gelasnya!!" tegas laki-laki itu dengan wajah serius sembari mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil kembali gelas berisi minuman yang Atina pegang. Merasa tak enak hati, Atina langsung menjauhkan minuman itu dari jangkauan laki-laki tadi.
"Maaf. Aku akan minum. Mas tak perlu sampai berbuat sejauh itu. Maaf sekali lagi kalau aku sudah berprasangka buruk sama kamu. Aku minum sekarang ya airnya," ucap Atina ia perlahan hendak mendekatkan gelas berisi minuman itu ke mulutnya.
__ADS_1