
Cukup kaget ketika Atina melihat ada banyak panggilan masuk di ponselnya dari Melvin. Ia tidak tahu kalau laki-laki itu tadi menghubungi dirinya lantaran Atina tengah berada di perjalanan pulang sehabis makan bakso di tempat langganannya.
"Mas Melvin dari tadi telepon banyak banget. Apa aku telepon balik aja ya. Tapi ... Ah sudahlah, nanti saja." Gumam Atina.
Tak lama, Atina memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Mendadak ponsel yang baru saja ia letakkan diatas nakas berdenting, tanda ada pesan chat masuk.
"Makasih ya Tin, tadi udah mau nemenin aku makan." isi chat yang ternyata dari Putra.
[iya, sama-sama Mas]
"Kapan-kapan kalau ada waktu, aku mau traktir kamu makan bakso di bang somad lagi. Kamu mau 'kan, Tin??"
[Mm... boleh, asal pas aku lagi nggak sibuk. Mas, aku boleh tanya sesuatu nggak?]
"Tanya apa??"
[Kemaren-kemaren kenapa sikap kamu beda banget. Mas kelihatan kayak lagi ada masalah. Kenapa, kalau boleh tau ada masalah apa? Apa itu berhubungan dengan sikap nggak ngenakin dariku ketika Mas ke rumahku sepekan yang lalu?]
"Nggak. Aku nggak lagi ada masalah apa- apa kok, Tin. Dan semua nggak ada kaitannya dengan sikap kamu ke aku."
[Beneran?? Kamu nggak lagi bohong 'kan, Mas?].
"Iya, beneran. Ngapain juga aku bohong sama kamu."
[Ya syukurlah kalau gitu. Aku minta maaf kalau seandainya ada sikap aku yang mungkin bikin kamu merasa nggak nyaman].
"Ya, kamu tenang saja. Seperti apapun sikap kamu ke aku, aku pasti nggak akan bisa marah sama kamu, Tin."
[Ah... Yang bener, masa sih?? Terus kenapa kemaren sikapnya dingin ke aku. Kayak orang yang lagi marah. Disapa respon Mas nggak ngenakin banget. Dingin kayak es batu. He-he!!]
"Masa sih. Aku nggak ngerasa gitu kok Tin. Mungkin perasaan kamu aja kali. Aku sikapnya biasa sih, lagian mana mungkin juga aku marah sama kamu. 'Kan kamu nggak punya salah apa-apa sama aku."
[Bukan cuma aku aja lho yang bilang. Guru yang lain juga berpendapat sama denganku. Mereka malah bilang, kalau kamu udah beberapa hari sikapnya aneh].
"He-he... Beneran sampe kayak gitu. Padahal aku ngerasa bersikap biasa aja lho, Tin. Nggak ada yang berubah."
[Hmmm... Ya mungkin kamu kurang senyum sama yang lain kali Mas].
"Owh... Jadi ceritanya mereka semua kangen gitu sama senyum aku, termasuk kamu juga, Tin."
[He-he...]
Hanya balasan singkat yang Atina kirim. Setelah itu ia memutuskan untuk menghentikan berbalas chat dengan putra.
"Lagi apa Bu??" tanya Atina kepada sang ibu yang tengah fokus meracik sesuatu di atas meja makan.
"Ini... Ibu pengen bikin kue bawang. Nggak tau kenapa, tiba-tiba ibu pengen makan kue bawang." Jawab sang Ibu.
"Jangan-jangan ..." seru Atina sengaja menggantung ucapannya.
__ADS_1
"Jangan-jangan apa ah!!" sergah sang Ibu.
"Apa mungkin ibu lagi ngisi. Makanya mendadak ngidam kue bawang segala!!" Sahut Atina, membuat Bu Yeni memelototkan matanya ke arah sang anak.
"Ngisi?? Maksud kamu hamil?!" teriak Bu yeni, Atina mengangguk cepat.
"Ha-ha... Ada-ada aja kamu Tin. Ibu ini sudah tua. Masa iya hamil lagi, mana mungkin. Kamu tuh kadang-kadang suka ngaco kalau ngomong." Ucap Bu Yeni sembari menggelengkan kepala.
"Loh, nggak ada yang nggak mungkin Bu di dunia ini. Siapa tau aja bener tebakanku Bu." Ucap Atina tak mau kalah.
"Udah, ah. Ngaco kamu. Nih, mending bantuin ibu melintirin kue bawangnya. Nanti biar tinggal goreng aja."
"Oke, Bu. Ngomong-ngomong kenapa nggak beli aja sih Bu. Di warung 'kan banyak yang jual. Ngapain milih repot-repot bikin sendiri gini??"
"Iya... emang banyak yang jual. Tapi belum tentu rasanya sesuai di lidah, Tin. Pernah Ibu beli juga sih, tapi pas di gigit, ya ampun... Keras banget, nggak renyah seperti ketika Ibu buat sendiri. Dan pula rasanya juga nggak terlalu enak. Makanya Ibu lebih sreg kalau bikin, rasa bisa disesuaikan dengan selera lidah, dan juga yang pasti bisa puas makannya."
"Hmmm... iya deh, gimana enaknya Ibu aja. Ini nanti jangan Atina ya Bu yang goreng. Ibu saja yang goreng. Atina bagian icip-icip aja." Ucap Atina sambil senyum-senyum ke arah Bu Yeni.
"Iya, tenang saja. Biar semua Ibu yang goreng."
Sore harinya....
Tok... Tok... Tok
Terdengar pintu rumah Atina diketuk oleh seseorang. Bu Yeni yang tengah asik menonton televisi langsung menoleh ke sumber suara.
"Kayaknya ada yang ketuk pintu deh. Siapa ya kira-kira yang datang??" Gumam Bu Yeni. Lantas ia berjalan ke arah pintu. Ketika pintu terbuka, nampak sosok laki-laki berpakaian rapi tersenyum kepada beliau.
"Waalaikum salam. Nak Melvin. Ayo-ayo, silahkan masuk Nak." Ajak Bu Yeni mempersilahkan Melvin masuk kerumah beliau.
Melvin berjalan agak menunduk ke dalam, ia lantas menghempaskan bokongy diatas sofa.
"Nak Melvin tumben sore-sore gini mampir kesini."
"lya Bu, tadi dari kantor langsung kesini karena ada perlu sama Atina Bu. Atina ada di rumah nggak Bu??"
"Ada kok. Bentar ya, Ibu panggilkan Atina dulu. Ia tadi lagi di kamarnya."
Melvin hanya mengangguk. Sementara Bu Yeni langsung beranjak menuju kamar anaknya.
"Tin... Atina. Buka pintunya. Di luar ada Nak Melvin Tin." Panggil Bu Yeni sembari mengetuk pintu kamar Atina yang dikunci dari dalam.
Tak lama, Atina muncul dari balik pintu.
"Ada apa Bu??"
"Itu, diluar ada Nak Melvin datang. Katanya mau ketemu sama kamu, ada perlu. Sana buruan, kamu temui dia. Biar Ibu ambilkan minum ke belakang."
"Iya Bu."
__ADS_1
Setelah mengenakan hijabnya. Atina langsung menemui Melvin di ruang tamu.
"Mas Melvin."
Melvin tersenyum melihat kedatangan Atina.
"Tin. Kenapa dari tadi siang Mas telepon nggak kamu angkat? Mas khawatir sama kamu. Makanya, dari kantor Mas langsung mampir kesini."
"Maaf Mas. Atina nggak tau kalau Mas telepon. Berarti Mas belum pulang ke rumah dong kalau langsung kesini?" Tanya Atina yang langsung dijawab Melvin dengan anggukan kepala.
"Mas mau minta maaf sama kamu tentang kejadian tadi siang di sekolah. Apa yang kamu lihat nggak seperti itu, Alana tiba-tiba memeluk aku Tin. Dan kebetulan waktu itu kamu datang. Aku sama sekali nggak balas pelukan dia. Aku harap kamu nggak salah paham sama aku, Tin. Tadi siang, setelah jemput chessy, Mas mampir ke kafe dulu. Alana memaksa untuk bicara dengan chessy disana. Maaf kalau karena itu aku jadi lupa hubungin kamu untuk ngasih kabar. Kamu jangan narah sama Mas ya, Tin." Ungkap Melvin menjabarkan apa yang terjadi tadi sehingga membuat ia terkesan mengabaikan Atina. Mendengar itu, Atina menghela napas panjang.
"Nggak apa-apa Mas. Aku nggak marah kok sama kamu. Aku maklum, biar bagaimana pun wanita itu adalah Mama kandung chessy. Aku nggak akan mungkin marah kalau ia hadir lagi untuk dekat dengan anaknya dan tentunya kamu, Mas." Sahut Atina berusaha menahan diri untuk tidak menunjukkan kekecewaannya kepada Melvin.
"Aku sebenarnya sudah melarang Alana untuk menemui chessy tanpa persetujuan dariku. Tapi, wanita itu sangat keras kepala. Ia sama sekali nggak mengindahkan omongan dariku. Dan akhirnya apa, chessy sampai saat ini terus menangis. Bahkan ketika aku memutuskan balik lagi ke kantor, ia mengunci dirinya di kamar. Aku terpaksa pergi lagi ke kantor karena ada hal penting yang perlu aku selesaikan. Aku hanya menyuruh Ibu untuk menjaga chessy di rumah. Andai Alana nggak hadir lagi dalam kehidupan chessy, mungkin itu akan jauh lebih baik buat chessy, Tin." Dengan wajah murung, Melvin mencurahkan semua yang ia rasakan. Atina merasa kasihan melihat wajah kekasihnya itu mendung. Ia jadi merasa bersalah, tak seharusnya tadi ia salah paham dengan laki-laki itu.
"Kamu yang sabar ya Mas. Aku yakin, lambat laun chessy pasti akan bisa nerima semua ini. Nanti aku juga akan coba bicara dengan dia di kelas Mas. Agar dia nggak larut dalam kesedihan. Kamu tenang saja ya." Atina berusaha menghibur Melvin.
"Makasih ya Sayang atas perhatian kamu. Mas bersyukur ada kamu dalam hidup Mas." Ucap Melvin menatap Atina dengan penuh cinta. Untuk sesaat, mereka saling menatap dalam dan sarat akan pancaran kehangatan yang memancar dalam tiap tatapan mereka.
"Permisi Nak Melvin.... Ini Ibu bawakan minum dan cemilan. Kebetulan tadi Ibu bikin kue bawang. Ayo silahkan di cicipi." Kedatangan Bu Yeni mendadak membuat Melvin dan Atina jadi salah tingkah, mereka terlihat terkejut. Nampak dari raut wajah keduanya seperti orang yang tengah kepergok melakukan kesalahan. Lucu sekali.
"I-iya Bu. Jadi bikin repot Ibu nih." Ucap Melvin gugup.
"Nggak kok. Ibu nggak ngerasa repot sama sekali Nak Melvin. Ya sudah, jangan lupa di cicipi. Ibu tinggal lagi ke belakang ya. Kalian lanjutin ngobrolnya." Melvin dan Atina hanya mengangguk pelan melihat Bu Yeni meninggalkan keduanya di ruang tamu.
"Ayo Mas. Diminum dulu tehnya. Sekalian di makan juga camilan dari Ibu." Tawar Atina.
"Iya Sayang." Sahut Melvin dengan penuh semangat.
"Sstt... Jangan keras-keras kalau manggil dengan sebutan Sayang. Nanti kedengeran Ibu dan Bapak aku, Mas!!" Protes Atina sembari menempelkan jari telunjuknya di bibir.
"Lah... emang kenapa kalau mereka dengar. 'Kan malah bagus, Tin. Mereka jadi tau kalau kita pacaran. He-he!!"
"Apaan sih. Pacaran-Pacaran... Kayak ABG aja!!" Sungut Atina merasa nggak sreg mendengar Melvin menyebut hubungan mereka dengan sebutan pacaran.
"Loh, terus Mas harus bilangnya apa dong. Kita 'kan emang udah jadian, ya berarti sama juga dong dengan pacaran."
"Tau ah. Terserah Mas aja." Atina mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban dari Melvin.
"Jangan gitu dong mukanya. Apalagi bibir kamu mengerucut gitu. 'Kan bikin Mas jadi pengeeen...." Melvin menggantungkan ucapannya membuat Atina sontak melotot ke arahnya.
"Pengen apa!! Nggak usah berpikiran aneh-aneh deh Mas!!" Kesal Atina, sementara Melvin hanya terkekeh melihat ekspresi wajah kekasihnya itu.
"Ha-ha... Gitu amat responnya. Bikin gemes Mas aja. Lagian, siapa juga yang berpikiran aneh-aneh. Apa jangan-jangan justru kamu kali yang pikirannya travelling kemana-mana. Hayo, ngaku!!"
Plak.... Seketika Atina menimpuk lengan Melvin.
"Apaan sih. Kok jadi malah aku. Aneh kamu Mas!".
__ADS_1
Mereka berdua pun tertawa bersama.