Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 57 Tak Sesuai Rencana Awal


__ADS_3

Sore itu wanita yang ku sayangi menelepon. Dia meminta ku untuk menemani dirinya pergi ke acara resepsi pernikahan rekan kerja sesama Guru. Tapi karena aku sudah terlanjur janji untuk menemani Chessy ke acara ulang tahun temannya. Terpaksa aku menolak permintaan Atina. Mudah-mudahan ia tidak kecewa dengan penolakan ku ini.


Malam hari ketika aku tengah menunggu Chessy bersiap-siap untuk pergi ke acara ulang tahun temannya, tiba-tiba terdengar pintu luar di ketuk seseorang. Siapa yang bertamu, tumben banget. Apa mungkin teman Ibu. Deretan pertanyaan itu memutari pikiran ini. Tak mau menebak-nebak, ku langkahkan kaki ke arah pintu.


Ceklek...


Betapa terkejutnya aku saat itu juga. Seorang wanita dengan pakaian rapi dan dandanan cantik tersenyum sumringah ke arah ku. Ku akui ia memanglah menawan dengan berpenampilan seperti itu. Tapi, aku sedikit pun tidak tertarik kepadanya. Bahkan bertatap muka dengannya saja rasanya malas sekali. Tapi tunggu ... Kenapa ia ada disini? bahkan penampilannya itu seperti mau pergi ke acara pesta saja.


"Mau apa kamu kemari??" tanyaku langsung tanpa berbasa-basi.


"Aku nggak disuruh masuk dulu Mas. Masa iya tamu dibiarkan berdiri di depan pintu kayak gini. Nggak sopan tau!!" Sahut wanita itu dengan suara di buat manja. Aku yang mendengarnya merasa ilfill, sok cantik banget.


"Jawab dulu pertanyaan ku. Ada urusan apa kamu kesini malam-malam. Terus itu, penampilan kamu kenapa seperti itu. kalau mau pesta bukan disini tempatnya. Anda salah tempat." Berbicara dengannya hanya bikin bad mood saja.


"Oke, oke. Aku jawab sekarang. Aku kesini karena sudah janjian sama Chessy buat ngajakin dia ke acara resepsi pernikahan teman SMA ku dulu, namanya Sandra. Dan Chessy juga sudah meng-iyakan ajakan dariku Mas. Makanya sekarang aku mau jemput dia Mas. Sekarang, apa boleh aku masuk Mas. Izinkan aku menunggu Chessy di dalam. Bisa pegal kaki ku kalau harus nunggu Chessy sambil berdiri kayak gini," terangnya dengan penuh drama.


"Nggak usah ngarang cerita kamu, Ana. Chessy itu malam ini mau pergi sama aku ke acara ulang tahun temannya. Jadi, mana mau ia ikut pergi denganmu. Jangan ngaco kalau ngomong." Sergahku tak mau begitu saja percaya dengan omongannya barusan. Alana bukannya takut malah ia tersenyum sendiri. Benar-benar tidak waras. Apanya yang lucu coba sampai membuatnya senyam senyum seperti itu. Dasar wanita aneh.


"Kalau Mas nggak percaya. Kenapa Mas nggak tanyakan langsung saja sama Chessy. Sana gih panggil Chessy sekarang juga. Lalu kamu tanyakan sendiri kepadanya. Kita lihat dan dengarkan apa jawaban anak kita nanti, Mas." Jawaban Alana tentu membuat aku sedikit curiga. Apa jangan-jangan semua ini adalah rencana wanita itu. Tak mau terus-terusan berasumsi sendiri. Akhirnya ku panggil Cheesy ke kamarnya. Ku biarkan Alana tetap berdiri di depan Pintu.


"Tok... Tok... Tok...

__ADS_1


Ku ketuk pintu beberapa kali, terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah pintu.


Kreekk...


"Papa, ada apa Pa. Kok nyamperin Chessy kesini. Aku bentar lagi selesai kok Pa."


"Di luar ada Mama kamu. Chessy... apa benar Mama ngajakin kamu pergi ke acara nikah'an temannya? Jawab jujur y Sayang?" Aku bertanya dengan nada lembut agar Chessy tidak merasa bersalah lantas takut untuk berbicara sejujurnya kepadaku.


"Duh Pa. Maaf banget Pa. Chessy lupa bilang. Kalau Chessy nggak jadi ke acara ulang tahun temen Pa. Chessy mau ikut Mama saja. Katanya Mama mau ngajakin Chessy ke acara nikahan temannya yang bernama tante Sandra. Maaf ya Pa. Chessy lupa bilang. Tapi Chessy mau Papa juga ikut. Chessy pengen ngerasain pergi sama Mama dan Papa. Mau ya Pa??" dengan wajah memelas, Chessy menangkupkan kedua telapak tangan dihadapan sang Papa, ia begitu berharap kalau Papanya mau ikut serta.


Melvin tampak sangat kesal, ia bahkan rela menolak Atina hanya demi untuk menemani sang anak. Kalau tahu dari awal Chessy mau pergi dengan Alana, mungkin lebih baik mereka berdua yang pergi. Sementara dirinya lebih baik menemani Atina.


"Padahal dari dulu Chessy selalu berharap bisa punya keluarga yang lengkap. Ada Papa, ada Mama juga. Bisa pergi bertiga seperti teman-teman yang lain Pa. Tapi, sepertinya keinginan Chessy itu hanya sebuah mimpi saja. Tak akan bisa terwujud meskipun hanya sekali," Ungkap Chessy dengan nada agak bergetar menahan tangis. Melihat hal itu, tentu saja membuat hati Melvin tak tega. Tapi ia juga bingung, ia sama sekali sangat tak berselera untuk berdekatan lagi dengan Alana. Benar-benar keputusan yang membingungkan.


"Baiklah, untuk kali ini saja, Papa mau ikut. Tapi lain waktu, Chessy nggak boleh lagi meminta ini pada Papa. Chessy tau 'kan, Papa dan Mama sudah pisah. Jadi nggak mungkin kalau keadaannya akan kembali seperti dulu. Papa harap Chessy mau mengerti." wajah yang tadi terlihat murung, tiba-tiba berubah berbinar-binar. Chessy mengangguk dengan senyum yang mengembang.


Keduanya pun keluar menuju pintu depan. Ternyata wanita bernama Alana itu tengah duduk manis di ruang tamu. Benar-benar nggak punya Etika. Jelas-jelas tadi Melvin melarang dirinya untuk masuk, tapi lihatlah sekarang, Alana justru dengan santainya duduk diatas sofa tanpa malu. Melvin menatap ke arah Alana dengan pandangan tak suka. Sementara yang dipandang justru tersenyum yang entah apa arti dari senyumannya itu.


"Mama. Maaf ya Ma, Chessy agak lama tadi. oh ya, Papa nanti ikut juga lho Ma. Mama nggak keberatan 'kan Chessy ngajak Papa??"


"Tentu saja tidak dong Sayang. Mama malah seneng Papa kamu mau ikut. kita bisa bersenang-senang bertiga. Iya 'kan Mas??" Alana seperti tengah mengejek Melvin, karena biar bagaimanapun, wanita itu sudah berhasil membuat seorang Melvin akhirnya memutuskan untuk ikut pergi bersama mereka. Itu artinya, selama beberapa menit ke depan, mereka akan saling berdekatan satu sama lain. Apalagi dengan adanya Chessy, ibaratnya Chessy adalah jembatan yang akan menghubungkan antara Melvin dan juga Alana.

__ADS_1


"Aku bahagia banget Mas bisa jalan bertiga seperti ini," ucap Alana. Saat ini mereka tengah berada dalam mobil menuju ke acara pernikahan Sandra yang ternyata merupakan teman SMA alana.


"Aku ada disini karena permintaan Chessy. Kalau bukan dia yang minta, mana mau aku ada disini!!" Sahut Melvin tegas. pandanga matanya mengarah ke depan. Ia sama sekali tidak menoleh ke arah Alana yang kebetulan tengah duduk disamping Melvin.


"Iya, aku tau kok. Meskipun begitu aku tetap merasa bahagia keluarga kecil kita bisa kembali berkumpul kayak gini."


"Huh... Apa tadi kamu bilang, keluarga kecil kita. Maaf ya Ana, apa kamu lupa, kalau kamu dan aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi tolong jangan bicara hal konyol denganku." Bisik Melvin dengan nada penuh penekanan. Sesekali matanya melirik ke bangku belakang kemudi untuk memastikan kalau Chessy tidak mendengar perkataan yang baru saja ia lontarkan kepada Alana.


"Aku tau itu Mas. Tapi, apa salah kalau aku masih berharap bahwa kelak kita akan bisa menjadi keluarga yang utuh seperti dulu. Bahkan sampai saat ini pun, rasa sayangku sama kamu masih tetap ada Mas." Ungkap Alana dengan pandangan mata penuh harap. Sedangkan Melvin, ia tetap fokus menatap ke arah depan. Jangan harap bahwa Melvin akan luluh dengan semua perkataan Alana. Yang ada dia semakin lama semakin muak dengan wanita itu. Kalau saja bukan karena Chessy, mana mungkin ia mau kembali jalan sama mantan istrinya itu.


"Tentu saja harapan kamu itu salah. Karena aku sama sekali tidak mengharapkan itu terjadi. Apalagi kamu juga sudah tau bukan, kalau hatiku ini sudah ada yang memiliki. Dan yang memiliki hatiku adalah seorang wanita yang sangat spesial. Kalau dibandingkan dengan kamu, tentu dia jauh lebih baik." Ucapan Melvin berhasil membuat harga diri Alana jatuh. Bagaimana mungkin dirinya dibanding-bandingkan dengan wanita itu. Wanita yang menurut Alana sangat tidak level jika di sejajarkan dengan dirinya. Dari segi kecantikan, jelas dirinya lebih unggul. Dari segi apa saja, wanita itu tidak akan bisa lebih unggul dari seorang Alana.


Alana hanya bisa terdiam setelah kena skak mat dari Melvin.


Tak berapa lama, mobil yang mereka kendarai berhenti ditempat diadakannya acara resepsi pernikahan Sandra dan Putra.


ketika memasuki tempat acara, Melvin sempat membaca papan nama yang dihias begitu indah di pintu masuk menuju acara. Di situ tertulis dengan jelas nama mempelai pengantin wanita dan juga pengantin Laki-laki.


Melvin tidak menyadari atau mungkin tidak tahu bahwa yang ia hadiri saat ini adalah pernikahan rekan kerja Atina. Itu berarti, saat ini bisa saja Melvin bertemu dengan Atina di dalam. Namun karena Melvin tidak tahu, ia tetap melangkah ke dalam tanpa ada perasaan was-was di hatinya.


Alana yang berjalan di belakang Melvin diam-diam tersenyum secara misterius. Entah apa arti dari senyumannya itu. Hanya Mbak Author dan Tuhan yang tahu. He-he.

__ADS_1


__ADS_2