
Setelah sempat berbicara dengan sang Mama. Chessy tampak murung. Ia terlihat bingung sekarang. Bagaimana kalau gara-gara masalah ini ia tak akan lagi bertemu dengan Mama kandung nya. Ia tahu pasti Mamanya marah karena ia memutuskan untuk mendukung hubungan antara papa nya dengan bu Atina. Chessy melakukan itu karena dirinya tak tega membuat sang Papa bersedih. Dia tahu kalau sang papa sangat mencintai bu Atina. Sudah pasti beliau akan sedih jika seandainya hubungan dengan bu Atina harus berakhir.
"Chessy... Kamu kenapa, Nak? Wajah kamu kok murung begitu? Kamu sedang memikirkan apa??" bu Rumana tiba-tiba duduk di sebelah Chessy yang saat ini tengah duduk di sofa ruang keluarga.
"Nggak apa-apa kok, Nek. Chessy baik-baik saja," jawabnya enggan untuk memberi tahu sang nenek apa yang tengah ia rasakan saat ini.
"Jangan bohong. Pasti kamu sedang ada masalah 'kan?? Tidak mungkin kalau tidak ada masalah kamu tampak murung seperti ini. Katakan pada Nenek, kamu sedang ada masalah apa. Siapa tahu Nenek bisa bantu kamu, Nak," bujuk bu Rumana kepada cucunya.
Chessy terdiam sesaat seperti tengah menimbang-nimbang sesuatu, akankah dia cerita semua kepada neneknya, ataukah lebih baik cukup disimpan saja dalam hati. Hati Chessy ragu akan langkah apa yang sebaiknya ia ambil. Dan akhirnya dia memilih untuk tidaj menceritakan apapun kepada neneknya. Chessy tidak mau kalau sampai sang nenek tahu, yang ada beliau akan balik marah sama mama kandung nya.
"Beneran kok, Nek. Chessy nggak lagi mikirin sesuatu. Lagi pula kalau Chessy ada masalah, pasti akan langsung bilang sama Nenek kok," bohong Chessy, lantas ia pun memilih untuk masuk ke kamar agar sang nenek tidak terus bertanya-tanya.
"Sepertinya tuh anak lagi ada masalah. Tapi apa? Tidak biasanya Chessy selalu diam kalau ada masalah. Pasti dia selalu cerita. Tapi kenapa kali ini sepertinya dia menutupi sesuatu. Buktinya ketika aku tanya, dia malah memilih pergi ke kamar. Anak itu, bikin orang tua kepikiran saja." Gumam bu Rumana menatap kepergian Chessy. Beliau tidak bisa menebak apa gerangan yang tengah Chessy pikirkan.
"Assalamu'alaikum... " terdengar seseorang mengucapkan salam. Dari suaranya, sepertinya yang datang adalah seorang wanita. Seketika itu juga, bu Rumana langsung bergegas menuju ke pintu utama untuk melihat siapa gerangan yang bertamu.
"Waalaikum salam," jawab bu Rumana membuka pintu. Terpampanglah di hadapan beliau seorang wanita cantik mengenakan hijab senada dengan gamis yang ia kenakan.
"Bu Rumana, apa kabar??" tanya wanita itu dengan suara lembut.
"Atina!! kamu sama siapa kesini. Mau kesini nggak ngasih kabar dulu. Ayo masuk, Sayang," sambut bu Rumana ramah. Beliau tampak senang kedatangan Atina ke rumahnya.
"Maaf ya, Bu. Kesini mendadak nggak ngasih kabar sama Ibu. Tadi Atina lagi ada urusan sama temen. Terus balik nya lewat sini. Yaudah sekalian Atina mampir bentar kesini, Bu. Ibu nggak lagi sibuk 'kan??" tanya Atina
"Nggak. Ibu dari tadi lagi santai, Tin. Nggak sibuk kok. Ibu senang kamu mau mampir kesini. Sering-sering main kesini dong, Tin. Ibu seneng lho kalau ada kamu disini. Jadi Ibu ada temen buat ngobrol, nggak kesepian kalau di rumah," ujar bu Rumana.
__ADS_1
"Iya, Bu. Insya Allah Atina akan sering-sering kesini kalau pas lagi nggak sibuk. oh ya... Chessy mana Bu. Nggak kelihatan dari tadi?"
"Chessy lagi di kamar nya, Tin. Bentar ya Ibu bikinin kamu minum dulu ke belakang," pamit bu Rumana.
"Nggak usah repot-repot, Bu. Atina tadi sudah minum di rumah temen. Ibu disini saja, nggak usah ngambilin minum buat Atina." Tolak Atina mencoba mencegah Bu Rumana yang hendak berdiri dari duduknya.
"Beneran?? masa iya tamu nggak Ibu kasih minum tho??"
"Beneran Bu. Nggak usah. Nanti misal Atina haus, Atina akan ambil sendiri. Ibu nggak perlu ngambilin. Boleh kan Bu kalau Atina nanti ambil sendiri??"
"Tentu saja boleh dong, Sayang. Rumah Ibu 'kan nantinya akan jadi rumah kamu juga kalau kamu dan Melvin sudah menikah nanti," sahut bu Rumana membuat Atina tersipu.
Keduanya lantas berbincang-bincang, hingga akhirnya bu Rumana menceritakan tentang keadaan Chessy yang tampak murung, seperti tengah menyimpan suatu masalah, hanya saja anak itu tidak mau terbuka kepada neneknya. Bu Rumana pun meminta Atina untuk membujuk Chessy agar dia mau terbuka. Siapa tahu kalau Atina yang berbicara langsung, anak itu mau jujur.
"Iya Bu. Atina akan coba ngomong sama Chessy. Ibu tenang saja, Ya."
"Iya, Bu. Ya sudah, Atina izin ke sana dulu ya."
Setelah mendapat izin dari bu Rumana. Perlahan ia pun melangkah menuju ke kamar Chessy.
Sesampainya di depan kamar Chessy, Atina langsung mengetuk pintu kamar beberapa kali. Tak lama pintu pun terbuka. nampak muncul Chessy dari balik pintu.
"Bu Atina!! Ibu kok ada disini. Kapan datang. Aku kira tadi yang ketuk pintu kamar itu nenek. Nggak tahu nya Bu Atina yang datang," ucap Chessy dengan raut wajah terkejut. Atina hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Boleh nggak Ibu masuk ke kamar kamu??" tanya Atina meminta izin.
__ADS_1
"Boleh, Bu. Ayo masuk saja, Bu Atina," ajak Chessy. Ia sama sekali tidak keberatan. "Maaf ya, Bu. Kamar Chessy berantakan gini," ucapnya merasa tak enak.
"Ah, nggak kok. Kamar kamu rapi. Malah kalau dibandingkan dengan kamar Ibu, kamar kamu jauh lebih rapi lho,"
"Masa sih, Bu?"
"Beneran?? Kamu sih, nggak pernah lihat kamar Ibu. Kalau lihat, pasti kamu akan shock berat!!" Canda Atina membuat Chessy seketika tertawa melihat ekspresi lucu dari wajah calon ibu sambung nya itu.
Atina memilih duduk di kursi yang tepat berada di sisi kiri ranjang. Sementara Chessy duduk di atas ranjang sejajar dengan Atina duduk.
"Kamu dari tadi lagi ngapain, Chess?" tanya Atina sembari melihat seluruh sudut ruang kamar anak didik nya itu.
"Biasa, Bu. Lagi baca buku cerita. Ibu kapan datang dan kesini sama siapa? Terus Nenek Chessy mana Bu? Kok nggak ikut kemari sama Ibu??"
Atina geleng-geleng kepala sembari tersenyum mendapat banyak pertanyaan beruntun dari Chessy.
"Ibu kenapa? Kok senyum-senyum gitu??" tanya Chessy yang merasa heran melihat Atina mendadak tersenyum sendiri. Padahal menurutnya tidak ada yang lucu sama sekali.
"Ibu tersenyum karena mendengar pertanyaan dari kamu yang udah mirip kayak wartawan. panjang banget melebihi panjangnya kereta api," ujar Atina membuat Chessy malu sendiri. Ia baru menyadari apa yang tadi ia tanyakan kepada Atina. Sembari nyengir kuda, refleks gadis itu garuk-garuk kepala yang sama sekali tidaklah gatal.
"He-he... Maaf Bu. Chessy hanya nggak sabar pengen tahu aja. Kenapa Ibu masuk ke kamar Chessy hanya sendirian tanpa nenek, gitu..."
"Iya, lagian Ibu juga nggak keberatan. Kamu mau tanya sebanyak apapun pasti ibu akan jawab. Tapi ada syaratnya..."
"Syarat?? Syarat apaan Bu??"
__ADS_1
"Syaratnya, kamu juga harus menjawab dengan jujur misal Ibu tanya sesuatu sama kamu, oke!!"
"Oke Bu!!"