Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 84


__ADS_3

Kini Atina sudah berada di apartemen milik Putra. Ketika memasuki apartemen itu, Putra langsung menyuruh Atina untuk duduk. Sesaat tak ada satu orang pun yang memulai pembicaraan. Hening, keduanya sama-sama diam.


"Mulai saat ini. Kamu bisa tinggal di sini kapan pun kamu mau. Aku sama sekali nggak keberatan,"ucap Putra memulai pembicaraan. Atina masih terdiam. Wajahnya tampak tambah kacau akibat sedari tadi tak berhenti menangis. Sebenarnya ia sangat malu karena harus minta tolong sama Putra. Ia tahu, tak seharusnya ia merepotkan laki-laki itu. Tapi keadaan yang justru membuat dirinya bertemu dengan Putra hingga akhirnya dia harus berada di tempat ini, apartemen milik Putra. "Sekarang kamu lepaskan saja selimut itu dari tubuh kamu, Tin. Apa kamu nggak gerah dari tadi nutupin hampir seluruh tubuh kamu pakai selimut tebal itu?" tanya Putra. Ia tidak tahu saja alasan sebenarnya kenapa Atina sampai memakai selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya itu. Kalau sampai Putra tahu. Entah apa yang akan ia pikirkan selanjutnya.


Mendapat pertanyaan seperti itu tentu saja membuat Atina bingung. Ia sangat malu untuk menjawab alasan dirinya memakai selimut. Tapi ia juga tak ingin ada satu orang pun yang tahu tentang apa yang ia alami selama berada di rumah terkutuk tadi.


"Atina. Kok kamu malah diam?" Putra bertanya lagi ketika Atina sama sekali tak merespon pertanyaan dari dirinya.


"Ma-maaf Mas. Aku nggak bisa ngasih tahu kamu alasan kenapa aku bisa pakai selimut tebal ini. Aku cuma mau bilang, aku sama sekali nggak punya pakaian ganti untuk hari ini dan seterusnya, Mas," akhirnya dengan bernafas lega, Atina mampu menjawab dengan alasan yang tepat pula.


"Oh. Itu, kamu nggak usah khawatir ya. Biar aku belikan semua pakaian untuk kamu. Kamu nggak perlu khawatir."


Tak lama setelah itu, mendadak ponsel Putra berdering. Cepat-cepat ia membuka ponselnya. Tertera nama Sandra dari balik layar ponsel miliknya itu. Untuk sesaat, Putra hanya menatap ponsel yang ia pegang. Dan hal tak terduga, ia memilih menolak panggilan itu. Lantas kembali ia meletakkan ponsel miliknya ke atas meja tepat di hadapan dia dan Atina.


Baru juga lima detik, kembali ponsel milik putra berdering. Karena tak ada respon dari si pemilik ponsel itu. Atina pun sedikit penasaran, ia mencoba melirik ke arah meja di mana ponsel itu di letakkan. Karena jarak yang cukup dekat. Ia bisa melihat nama yang tertera di layar ponsel itu.


Deg ... Seketika jantungnya seakan berhenti berdetak. Dengan mata kepala sendiri, ia melihat nama orang yang sejak tadi menelepon Putra. Sandra... Ya ampun. Kenapa juga Atina baru ingat kalau laki-laki yang saat ini bersamanya adalah laki-laki beristri., Atina baru menyadari akan hal itu. Seketika ia merasa tak enak hati karena telah merepotkan orang yang sudah punya istri. Kenapa juga harus Putra yang menolongnya saat ini. Kenapa bukan Melvin saja yang merupakan kekasih sekaligus calon suaminya itu. Mengingat Melvin. Rasa rindu kian memupuk tinggi. Bagaimana kabar kekasihnya itu. Apakah saat ini dia juga tengah bingung mencari keberadaannya. Entah apa arti dari semua ini. Di saat dirinya sangat membutuhkan pertolongan, yang Allah kirimkan justru Putra yang menjadi perantara untuk menolong dirinya saat ini. Ada apa dengan semua kejadian ini. Ia sangat yakin betul. Bahwa tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua yang terjadi sudah Allah garis kan untuk semua makhluk di muka bumi ini.


Ponsel yang sedari tadi berdering kini mulai hilang dengan sendirinya. Sesaat ponsel itu kembali hening.


"Ma-maaf, Mas! Kenapa tidak kamu angkat telepon dari Sandra." Dengan hati-hati Atina pun memberanikan diri menanyakan akan hal itu. Putra langsung mendongak ke arah Atina. Ia tatap Atina sejenak sebelum pandangan mata itu mengarah ke ponsel yang tergeletak di atas meja.

__ADS_1


"Nggak apa-apa. Aku sudah tahu kenapa dia telepon, Tin. Pasti dia hanya akan tanya kapan aku pulang. Jadi, buat apa juga aku angkat. Toh hanya itu yang akan ia tanyakan ketika aku berada di luar rumah," jawab Putra. Ia tampak santai dan sedikit cuek menanggapi pertanyaan yang Atina lontarkan. Seketika Atina pun langsung di buat heran. Kenapa sikap Putra sedingin itu kepada istrinya sendiri. Bukankah wajar kalau seorang istri menanyakan kapan kepulangan sang suami, itu bentuk perhatian istri kepada suami. Seharusnya Putra senang di perhatikan sedemikian rupa oleh sang istri. Tapi melihat tanggapan Putra, sepertinya laki-laki ini justru malah bersikap sebaliknya. Apakah ini semua karena keberadaan dirinya saat ini. Hingga membuat Putra tak enak hati lantas memilih mengabaikan sang istri.


"Maaf, Mas. Apa karena ada aku sehingga kamu mengabaikan panggilan dari Sandra?" lirih Atina. Putra langsung menggelengkan kepala beberapa kali.


"Kamu tak perlu berpikiran seperti itu, Tin. Ya sudah. Aku akan pulang sekarang. Nanti aku akan belikan kamu beberapa baju untuk ganti di toko milik teman ku. Sekarang kamu sebaiknya istirahat. Aku akan pulang dulu. Nanti malam atau nggak besok, aku kesini lagi," pamit nya seketika.


"I-iya, Mas! terima kasih karena Mas sudah mau menolong aku. Aku nggak tahu kalau nggak Mas tolong. Mungkin saat ini aku...."


"Sudahlah. Kamu nggak perlu membahas yang telah terjadi. Aku senang bisa membantu kamu. Kalau kamu mau berterima kasih, terima kasih lah sama Allah. Karena Dia yang menuntun aku hingga bisa bertemu dengan mu di saat yang tepat." Usai mengatakan itu, Putra langsung pamit keluar.


Kini, didalam apartemen itu Atina hanya bisa berdiam diri. Ia mulai memperhatikan tiap sudut bangunan itu. Meskipun tak terlalu mewah, tapi semua barang tertata dengan sangat apik sehingga terlihat sangat elegan dan enak di pandang mata. Merasa lama-lama tak nyaman dengan kain yang ia gunakan sebagai penutup badan. Atina pun perlahan memasuki kamar yang tadi sempat Putra tunjukkan untuk dirinya istirahat. Pertama kali memasuki kamar itu, ia merasa takjub dengan penataan barang di dalam kamar tersebut. Sangat simpel tapi menarik untuk selalu di amati. Bahkan kamar pribadinya di rumah masih kalah jauh dengan kamar yang sekarang akan ia tempati.


Melihat ada sebuah lemari besar, ia pun maju beberapa langkah menuju ke arah lemari itu. Di bukanya pintu lemari perlahan. Ia sangat berharap akan ada pakaian yang bisa ia kenakan untuk ia pakai sementara waktu sehingga ia tak perlu lagi melilitkan kain selimut yang sangat pengap itu ke tubuhnya.


Ternyata bukan hanya tempat berteduh yang Putra sediakan untuk kenyamanan Atina. Bahkan beberapa saat yang lalu datang seorang kurir wanita membawa banyak sekali pakaian untuknya. Ternyata wanita itu adalah karyawan salah satu toko pakaian yang pemiliknya merupakan teman Putra sewaktu kuliah dulu.


"Ini benar dengan Mbak Atina?" tanya wanita itu ketika Atina baru saja membukakan pintu.


"Iya, benar Mbak. Saya Atina."


"Ini Mbak. Aku ditugaskan sama pak bos untuk mengantar pakaian ini kesini. Katanya ini semua untuk Mbak Atina. mohon diterima ya."

__ADS_1


"Oh, iya Mbak. Apakah ini pesanan dari Mas Putra buat aku ya, Mbak?" tanya Atina memastikan.


"Mm... sepertinya gitu Mbak. Maaf aku kurang tau siapa yang pesan semua pakaian ini. Aku hanya di suruh sama bos aku untuk mengantar barang ini buat Mbak Atina. Itu saja," sahut wanita itu dengan nada sopan.


Atina pun langsung menerima bungkusan plastik dari tangan wanita di hadapan nya. Setelah wanita itu berpamitan dan pergi. Atina kembali menutup pintu. Bergegas ia duduk di sofa dan membuka bungkusan yang lumayan berat itu. Matanya langsung membulat sempurna. Tak menyangka, Putra akan membelikan pakaian sebanyak itu. Dan yang tak kalah membuatnya terkejut, di situ juga ada pakaian dalam untuk dirinya, lengkap pakaian dalam atasan dan bawahan. Beberapa lembar gamis set hijab dan juga ada piyama serta itu tadi, pakaian dalam. Semua komplit sesuai yang ia butuhkan saat ini. Atina benar-benar merasa bersyukur karena ada orang yang mau berbaik hati menolong dirinya di saat hidupnya saat ini sudah di ambang kehancuran.


Masih dengan wajah penuh keterkejutan akan semua yang Putra belikan untuknya. Mendadak ia pun di buat terkejut dengan adanya suara ketukan pintu untuk beberapa kali.


"Permisi!!" teriak seseorang dari balik pintu. Kalau dari suaranya sudah jelas itu suara seorang laki-laki. Tapi siapa yang datang. Mendadak Atina sedikit was-was. Ia takut karena saat ini dirinya hanya sendirian di dalam apartemen itu.


Untuk memastikan siapa yang datang, Atina pun berusaha bertanya terlebih dahulu sebelum ia memutuskan untuk membuka pintu.


"Iya, ada siapa di luar. Maaf tolong jawab dulu!!" teriak Atina dengan wajah tegang. Mukanya mendadak berubah merah, jantung sejak tadi dag dig dug tak karuan.


"Maaf, Mbak. Saya kurir yang mau mengantarkan makanan pesanan atas nama Mas Putra. Apa benar ini apartemen milik Mas Putra?" tanya laki-laki dari balik pintu.


Seketika Atina merasa lega. Ternyata laki-laki yang berada di luar saat ini adalah kurir yang akan mengantar makanan. Tak butuh waktu lama, Atina pun langsung membukakan pintu itu. Sosok laki-laki tinggi berkulit sawo matang tengah tersenyum menatap ke arah Atina.


"Iya, ini benar apartemen milik Mas Putra, Mas."


"Syukurlah. Berarti aku tidak salah tempat. Ini Mbak makanannya. Tolong di terima," laki-laki itu langsung menyodorkan plastik putih ke arah Atina.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas!!


__ADS_2