Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 14 Makan Malam


__ADS_3

"Loh, Kamu mau kemana Tin. Kok jam segini udah rapi?" tanya Bu Yeni ketika anaknya baru muncul dari kamar.


"Atina mau pergi makan di luar Bu, diajakin teman kerja," sahut atina sembari menghempaskan bokongnya di sofa ruang tamu.


"Pasti teman laki-laki 'kan?" tebak Bu Yeni sambil tersenyum jahil.


"Ibu kayak cenayang deh, serba tau gitu!" seru atina lumayan kaget karena bu yeni bisa menebak.


"Ibu gitu loh ... He-he. Tapi ingat, pulangnya jangan terlalu larut. Nggak baik anak perawan pulang malem sama laki-laki." Bu Yeni mewanti-wanti.


"Nggaklah Bu, paling makan doang nggak akan lama," sahut atina.


Tiba-tiba ponsel atina berbunyi, tertera nama Putra di layar ponselnya.


"Waalaikumsalam, iya Pak Putra. Owh itu ... Pak Putra lurus aja dikit lagi. Rumahku depan Warung Hijau Pak. Seberang jalan. Iya ... ni aku juga udah siap-siap. Oke-oke, Waalaikumsalam." Atina mengakhiri panggilan teleponnya.


"Telepon dari temen kamu yang mau ngajakin makan Tin?" tanya Bu Yeni.


"Iya Bu, orangnya bentar lagi sampai. Ya sudah, aku nunggu di teras bentar ya Bu, biar temenku nggak bingung nyari rumah ini." Atina lantas bergegas keluar setelah Bu Yeni menganggukkan kepala tanda menyetujui.


Tak berselang lama, ada mobil berwarna putih berhenti tak jauh dari rumah Atina.


Sontak atina berdiri untuk memastikan apakah mobil itu punya putra atau bukan. Pintu kaca mobil terbuka, nampak wajah putra tersenyum dan melambaikan tangan ke arah atina. Setelah tau pasti bahwa itu betul rumah Atina, Putra lantas turun dari mobil.


"Akhirnya sampai juga, syukurlah Pak Putra nggak sampai nyasar." Atina tersenyum menyambut kedatangan Putra.


"Iya syukur Alhamdulillah, untungnya rumah kamu letaknya nggak masuk gang-gang kecil. Jadi, mudah dicari. Kamu dah nungguin dari tadi ya?" ada perasaan lega tergambar di wajah putra.


"Nggak juga kok. Oh ya, masuk dulu yuk Pak Putra, jebetulan tadi Ibuku lagi duduk di ruang tamu," ajak atina.

__ADS_1


Keduanya lantas masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum...." ucap mereka.


Bu Yeni langsung beranjak dari tempat duduk.


"Waalaikumsalam, eh ada tamu. Ayo-ayo ... silahkan duduk," ujar Bu Yeni ramah.


"Bu, perkenalkan ini temen Atina, namanya Pak Putra." Atina membuka obrolan.


Pak putra menyalami bu atina sembari memperkenalkan diri.


"Saya Putra Bu, teman atina di sekolah,"


"Oh iya, saya Bu Yeni, Ibu Atina. Salam kenal Nak Putra." jawab Bu Teni ramah.


"Begini Bu, malam ini saya mau minta ijin untuk ngajak Atina makan di luar, apa Ibu mengijinkan?"


"Iya boleh Nak Putra nggak apa-apa, asal pulangnya jangan terlalu malam," pesan Bu Yeni.


"Ya sudah, mending kita berangkat sekarang aja Pak Putra, biar nggak kemalaman." ujar Atina menginterupsi.


Pak putra dan atina lantas bersalaman sama bu yeni. Tak lama mobil yang mereka tumpangi melaju membelah jalanan.


Pak putra mengajak Atina ke sebuah restoran yang menyajikan makanan laut sebagai menu utamanya. Restoran nampak terlihat ramai pengunjung, terlihat ada meja kosong di dekat jendela kaca deretan nomor 5 dari pintu masuk.


"Nah, itu di sana masih ada yang kosong. Yuk kesana sekarang Tin," ajak pak putra dengan memanggil atina tanpa embel-embel 'Bu'.Putra langsung menggandeng tangan Atina begitu saja. Sementara atina kaget dengan perlakuan putra yang tiba-tiba main gandeng tangan.


"Pak Putra, maaf ... saya bisa jalan sendiri. Jadi, tidak perlu digandeng kayak gini." Atina berbisik ke telinga Pak Putra. Wajah pak putra sontak memperhatikan ke arah tangannya. Seketika ia melepaskan tangan Atina dari genggamannya.

__ADS_1


"Ma-maaf Tin, aku nggak sengaja tadi. Nggak nyadar dah gandeng tangan kamu. Refleks aja gitu ... He-he." Putra menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, salah tingkah mendapati dirinya ditatap sedemikian rupa oleh Atina.


Berbagai menu makanan sudah tersaji di meja makan. Ikan Bakar, Cumi Goreng Tepung, Udang Saus Padang dan beberapa macam sambal telah tertata rapi.


"Pak Putra pesan banyak banget. Emang habis kalau yang makan cuma kita berdua aja Pak?" Atina membulatkan mata melihat semua hidangan yang banyak di depan mata.


"Udah, nggak apa-apa, kalau nggak habis nanti bisa minta dibungkus. Oh ya, kalau di luar jam kerja panggil Mas aja ya Tin, jangan Pak. Kesannya tua banget aku, hmm." Atina tergelak mendengar keluhan Putra.


"Iya-iya, tapi 'kan emang udah tua, he-he," ledek Atina


"Ish ... ngeledek! Udah ah, ayo dimakan, nanti keburu dingin," titah putra mulai mengambil nasi terlebih dulu.


"Owh, jadi ni perempuan yang bikin kamu tiba-tiba mutusin aku Mas!!!" Sentak seorang perempuan berdiri didekat meja Putra dan Atina sambil berkacak pinggang dan mata menatap tajam.


Atina dan putra menoleh bersamaan.


"Sandra ... ngapain kamu ada disini. Jangan buat keributan, ini tempat umum," ucap putra


"Kenapa? kamu malu kalau ketahuan jalan sama selingkuhan kamu haah!! Jadi,ini alasan kamu tiba-tiba memutuskan pertunangan kita karena jal*ng ini!!!" perempuan itu tampak geram sembari telunjuknya ia arahkan pada Atina.


Merasa tak terima dituduh dengan keji, Atina bangkit dari duduknya dengan wajah penuh amarah.


"Kalau ngomong dijaga ya, seenaknya ngatain saya jal*ng hah. Maksud kamu apa, datang-datang sambil marah-marah nggak jelas, kenal juga nggak!!!" hardik Atina merasa tak terima dengan penghinaan yang perempuan itu lontarkan.


"Kenapa kalau gue bilang jal*ng, nyatanya sebutan itu emang pantas buat loe. Dasar perempuan nggak punya malu. Kamu tau, Putra itu tunangan gue. Tapi, tanpa sebab tiba-tiba ia mutusin pertunangan kami gitu aja. Pasti ini semua gara-gara loe 'kan. Wajah aja sok lugu tapi kelakuan samp*h!!!"


"Sandraaaa ... Stop!!!berhenti ngatain Atina. Dia bukan wanita seperti yang kamu tuduhkan. Mending kamu pergi, jangan bikin gaduh di tempat umum, memalukan. Kelakuan kamu benar-benar memalukan!!!" Wajah Putra memerah, emosinya memuncak ketika mendengar Atina dituduh dengan keji oleh mantan tunangannya.


Prok ... prok ... prok

__ADS_1


Perempuan bernama Sandra itu tiba-tiba tepuk tangan dengan senyum seringai.


"Hebat ... hebat, belain aja selingkuhanmu Mas, belain teruus. heh jal*ng ... loe senang 'kan dapet pembelaan dari Putra. Tapi, loe jangan merasa bangga dulu, gue tidak akan tinggal diam. Tunggu aja, akan gue bales perbuatan kalian ke gue!!!" perempuan bernama sandra itu lantas mendorong atina cukup kuat, sehingga badan Atina terhuyung ke belakang dan belum sempat terjatuh, ada sebuah tangan kekar menahan tubuh Atina dari belakang sehingga Atina bisa terselamatkan dari kesialan yang mungkin saja akan membuatnya malu. Seketika Atina menoleh ke belakang, tangan Atina membungkam mulut nya ketika tahu siapa pemilik tangan kekar yang sudah menyelamatkan harga dirinya di khalayak umum.


__ADS_2