Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 46 Desakan Alana


__ADS_3

"Mas!!"


"Papa!!"


Teriak Atina dan Chessy bersamaan memanggil Melvin. Sontak Melvin langsung menoleh ke belakang, begitupula dengan Alana, wanita itu menatap ke arah sumber suara.


"Atina, Chessy. Kalian sudah selesai. Kenapa lama sekali??" Tanya Melvin langsung berjalan menghampiri mereka. Chessy terdiam, pandangan matanya mengarah ke Alana. Ditatapnya Mama kandung nya itu dengan lekat.


"Chessy, Sayang!!" Seru Alana, ia masih tetap berdiri ditempatnya semula. Masih ragu untuk mendekat ke arah putrinya yang berjarak hanya tiga langkah dari tempatnya berdiri.


"Ngapain Mama ada disini?" Tanya Chessy. Entah dia sadar atau tidak telah memanggil Alana dengan panggilan Mama. Alana tentu sangat senang mendengar Chessy memanggil dirinya dengan sebutan Mama.


Sementara itu, Melvin cukup terkejut. Ia tak menyangka kalau Chessy ternyata mau memanggil Alana Mama. Padahal beberapa hari yang lalu, putrinya itu enggan merespon kalau dirinya membahas tentang Alana di depannya.


Mendengar sebutan Mama dari mulut Chessy membuat Alana memberanikan diri menghampiri Putrinya itu. Ia secara spontan langsung berlari dan memeluk Chessy.


"Mama senang banget Nak, akhirnya kamu mau manggil dengan sebutan itu. Mama bahagia sekali Sayang. Mama sangat terharu. Chessy mau 'kan maafin kesalahan Mama dulu, dan mau mengakui Mama sebagai orang tua yang sudah melahirkan Chessy ke dunia ini." Dengan terisak, Alana memeluk Chessy. Ia luapkan semua rasa rindunya kepada sang anak. Chessy hanya terdiam, gadis itu merasa bingung, apa yang harus ia perbuat. Jujur dalam lubuk hatinya, inilah momen yang sangat ia rindukan selama hidupnya. Dipeluk dan di sayang oleh Mama kandungnya. Hal yang selama ini tidak pernah ia dapatkan. Entah, Chessy sendiri bingung harus bereaksi seperti apa ketika dihadapkan dengan situasi ini.


Melvin dan Atina hanya terdiam melihat interaksi antara Alana dan Chessy. Sebenarnya Melvin sangat tidak suka dengan situasi ini. Dia mengajak Atina dan Chessy kesini untuk bersenang-senang, bukan malah seperti ini. Kehadiran Alana membuat semuanya jadi berantakan. Kenapa juga wanita itu harus muncul disini, di saat yang tidak tepat seperti sekarang.


"Alana. Udah lepaskan Chessy. Kami kesini mau bersenang-senang, bukan untuk drama tangis menangis. Udah ya, biarkan kami lanjutkan apa yang udah kami rencanakan." Interupsi dari Melvin seketika membuat Alana menghentikan tangisannya. Perlahan wanita itupun melepaskan pelukannya kepada sang anak.


"Mas. Izinkan aku ikut kalian Mas. Aku masih pengen deket sama anak kita Mas. Jadi, aku mohon ya sama kamu Mas. Biarkan aku pergi bersama kalian." Ucap Alana, ia sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Atina disitu.


"Nggak. Aku nggak izinkan!!" Tegas Melvin menolak permintaan Alana.


"Chessy Sayang. Boleh 'kan Mama nemenin kamu Nak. Kamu mau beli apa? Biar Mama yang belikan. Kamu mau 'kan pergi jalan-jalan di Mall ini sama Mama juga." Mendapat penolakan dari Melvin tak membuat Alana pantang menyerah. Ia mencoba merayu anaknya agar mau memberikan izin untuk dirinya ikut serta.


Chessy masih terdiam, ia terlihat bingung mau menjawab apa. Sebenarnya gadis kecil itu juga menginginkan dirinya bisa merasakan pergi jalan-jalan sama Mamanya. Tapi melihat Papanya yang tadi menolak permintaan sang Mama, membuat Chessy agak takut juga kalau mengizinkan Mamanya ikut.


"Maaf Ma. Tapi Papa nggak ngizinin Mama ikut. Lagipula Chessy juga udah ditemani sama Bu Atina kok Ma." Akhirnya hanya itu yang bisa Chessy katakan.


Seketika Alana langsung menatap ke arah Atina dengan pandangan tak suka.


"Tapi Sayang. Dia 'kan cuma orang lain, bukan siapa-siapa kamu. Sementara aku ini Mama kandung kamu. Masa iya kamu malah memilih orang lain dibanding Mama kamu sendiri sih Sayang??" Lagi-lagi Alana berusaha membujuk sang anak.

__ADS_1


"Cukup Alana. Kamu nggak bisa maksa Chessy seperti itu. Lagipula Atina bukan orang lain disini. Dia itu ca...."


"Mas... udah!! Jangan berdebat di tempat umum gini. Nggak enak dilihat orang." Tegur Atina, membuat Melvin tak bisa melanjutkan omongannya.


"Maaf Sayang. Tapi Alana sudah kelewatan." Sahut Melvin dengan suara pelan. Tapi hal itu mampu Alana dengar.


"Apa aku nggak salah dengar? Mas Melvin manggil wanita itu dengan sebutan Sayang. Ada hubungan apa Mas Melvin dengan wanita itu. Kalau nggak salah bukankah wanita ini Guru Chessy di sekolah. Ya, nggak salah lagi. Aku pernah bertemu dengannya ketika menemui Chessy di sekolahnya." Batin Alana.


Atina lantas agak membungkuk tepat dihadapan Chessy.


"Chessy. Apa Chessy mau ditemani Mama Chessy juga. Kalau iya, nanti biar Bu Atina yang minta izin sama Papa kamu agar Mama kamu di izinkan ikut bareng sama kita. Gimana Sayang??" Mendengar pertanyaan dari Atina membuat Chessy hanya mengangguk pelan. Itu artinya, ia menginginkan Mamanya ikut bersama mereka.


"Mas, biarkanlah mbak Alana ikut. Chessy sepertinya juga menginginkan untuk bisa ditemani Mamanya." Ucap Atina dihadapan sang kekasih.


"Tapi Tin, aku kesini tujuannya untuk ngajakin kamu bersenang-senang, bukan ngajakin wanita itu." Sahut Melvin agak kesal dengan semua ini.


"Mas, aku minta kali ini. Biarkan Chessy bisa dekat dengan Mamanya. Aku tau banget apa yang Chessy rasakan selama ini. Jadi, selama dia bahagia, nggak ada salahnya kamu sebagai Papanya ikut mendukung. Kamu ngerti 'kan maksud aku Mas. Lagi pula, aku juga nggak keberatan kok Mas." Kalau Atina sudah berkata seperti itu, Melvin pun tak punya pilihan lain selain mengiyakan apa yang Atina pinta.


Melvin pun akhirnya menyetujui Alana ikut bersama mereka.


Ya, Alana kesitu sebenarnya sudah janjian sama beberapa temannya untuk belanja bareng. Tapi siapa sangka justru dirinya bertemu tanpa sengaja dengan sang mantan suami bersama putrinya, Chessy. Tentu hal ini tidak mungkin Alana sia-siakan begitu saja. Ia harus berhasil membuat Chessy mau dekat dengan dirinya sehingga dengan begitu, ia berpikir akan mudah juga untuk bisa dekat dengan Melvin. Dan untuk masalah wanita yang bernama Atina itu, akan ia pikirkan nanti.


"Ya sudah. Ayo kita jalan sekarang. Chessy, kamu mau beli apa duluan??" Tanpa Melvin menatap putrinya.


"Mau beli komik dulu Pa."


"Oke. Kita ke toko buku dulu."


"Yuk Sayang, biar Mama gandeng Chessy." Seru Alana, ia langsung menggenggam tangan anaknya. Sementara Chessy hanya diam tanpa protes dengan apa yang dilakukan Mamanya itu.


Mereka pun berjalan menyusuri Mall menuju ke toko buku yang dimaksud.


"Mas. Biarkan aku temani Chessy ke dalam ya. Kamu dan Mbak Alana tunggu saja disini." Ucap Atina ketika mereka baru saja tiba di dekat toko buku.


"Nggak usah. Chessy biar aku yang temani. Aku ini Mamanya!!" Sambar Alana dengan nada agak ketus kepada Atina.

__ADS_1


Tentu hal itu membuat Atina jadi merasa tidak nyaman. Ia bisa membaca dari gestur tubuh Alana, kalau wanita itu sepertinya kurang suka terhadap dirinya. Sejak tadi sikapnya itu kurang mengenakkan.


"Owh, ya silahkan kalau gitu. Biar saya dan Mas Melvin tunggu di sini, berduaan!!" Balas Atina menekankan kata berduaan pada wanita itu. Walaupun tidak suka mendengar apa yang Atina katakan, Ia berusaha bersikap biasa saja. Walaupun sebenarnya hatinya tidak terima kalau Melvin berdekatan dengan wanita bernama Atina itu


"Chessy. Apa kamu nggak apa-apa kalau Papa dan Bu Atina tunggu disini saja??" Ucap melvin menunjuk ke kursi melingkar di bagian pojok toko buku tersebut.


"Iya, nggak apa-apa Pa."


Melvin langsung menggandeng tangan Atina menuju tempat duduk.


"Apaan sih maksudnya. Pakai pegang tangan segala. Mau pamer kemesraan gitu sama aku?? huuft... mereka benar-benar menyebalkan." Rutuk Alana dalam hati.


"Mama masih mau diam saja di sini??"


"Ah, eh... Ya nggak dong Sayang. Mama disini 'kan buat nemenin kamu keliling toko ini mencari buku yang kamu inginkan. Yaudah, yuk kita cari sekarang."


"Iya Ma."


"Kamu tau nggak Sayang. Ada hubungan apa Papa kamu sama wanita yang bernama Atina itu??" Sembari mencari buku, Alana bertanya kepada anaknya tentang Atina dan Melvin. Sepertinya ia berusaha mengorek informasi dari putrinya itu.


"Nggak ada hubungan apa-apa kok Ma. Bu Atina cuma guru aku di sekolah. Papa kenal Bu Atina juga karena sering nganterin aku kesekolah Ma. Emangnya kenapa Mama tanya gitu??" Jawab Chessy.


"Kamu yakin hanya sebatas itu Chees?? Ya... Mama sih cuma pengen tau aja Sayang." Sahut Alana beralasan.


"Ya, bener kok Ma."


"Kalau mereka nggak ada hubungan apa-apa sih justru Mama senang Chess. Itu artinya Mama bisa kembali bersatu lagi sama Papa kamu. Kita bisa bersama lagi seperti dulu. Apa Chessy mau kalau Papa dan Mama kembali bersama lagi Sayang??"


"Mmm ... Chessy nggak tau Ma." Sontak jawaban dari Chessy membuat raut wajah Alana tampak kecewa berat. Ia kira ketika dirinya bertanya seperti itu. Chessy akan menyambutnya dengan antusias dan tentu saja anak itu akan dengan senang hati menerimanya kembali untuk bisa bersatu dengan Papanya. Tapi, ternyata harapan itu seketika langsung dipatahkan oleh ucapan Chessy barusan. Sepertinya anak itu belum benar-benar bisa menerima dirinya kembali. Itu artinya Alana harus lebih keras lagi dalam mendekatkan dirinya dengan Putri satu-satunya itu.


"Oke Sayang. Ya sudah, kamu mau beli yang mana bukunya. Biar Mama yang belikan. Pilih aja yang banyak buku yang kamu suka Nak."


"Ini aja Ma. Tiga buku aja yang mau Chessy beli."


" Yaudah. Ayo kita bayar dulu."

__ADS_1


Setelah menemukan buku yang chessy inginkan. Alana mengajak putrinya itu ke kasir guna untuk membayar terlebih dahulu.


__ADS_2