
setelah memikirkan matang-matang, akhirnya Atina memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia bertekad akan menceritakan semua kejadian memilukan yang ia alami beberapa hari ini sebelum akhirnya di tolong oleh Putra.
Pagi sekitar jam 7, Atina memesan ojek online lewat hp yang di kasih Putra dua hari yang lalu. Terpaksa ia memakai hp itu karena hp miliknya entah hilang kemana. Mungkin juga tertinggal di rumah si penjahat yang pernah menodai dirinya.
perjalanan dari apartemen Putra ke rumah Atina membutuhkan waktu kurang lebih enam puluh menit. Atina membonceng sang driver ojek online dengan perasaan hampa dan juga bingung. Bagaimana nanti respon kedua orang tuanya ketika melihat dia pulang dalam keadaan menyedihkan seperti ini. Sudah pasti kedua orang tuanya akan sangat sedih. Tengah terdiam dalam lamunan panjangnya, mendadak ponsel Atina berdering. Sontak saja itu membuat Atina langsung terhenyak, ia kaget, cepat-cepat ia meraih ponsel untuk melihat siapakah gerangan yang menelepon ke ponsel miliknya. Atina melihat nama Putra tertera di sana. bergegas ia pun langsung klik tombol hijau.
"Hallo Mas, Assa ...."
[Atina! Kamu dimana sekarang? Kenapa nggak ada di apartemen? Kamu dimana? Bilang sekarang sama aku?!] terdengar teriakan Putra dari seberang telepon. Dari suaranya, Putra terdengar panik mendapati Atina tak ada di apartemen miliknya. Bahkan saking panik nya, Atina belum juga selesai mengucapkan salam, langsung di potong oleh pertanyaan dari Putra barusan.
"Maaf, Mas. Aku belum sempet pamit sama kamu. Aku lagi di jalan Mas. Rencananya aku mau pulang ke rumah. Aku nggak bisa terus-terusan bersembunyi dan menyimpan semua luka yang aku alami ini sendirian. Aku butuh dukungan kedua orang tua ku, Mas. Maka dari itu, hari ini aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Maaf kalau aku nggak ngabarin kamu dulu." Atina menghela napas panjang.
[Kamu nggak bohong kan sama aku, Tin. Kamu beneran mau pulang ke rumah kamu kan??]
"Iya. Aku nggak bohong, Mas."
[Oke. Kalau itu keputusan kamu. Aku nggak masalah. Yang terpenting aku tahu kemana tujuan kamu sekarang. Aku nggak mau kalau kamu sampai pergi menjauh ke tempat yang tidak aku ketahui. Kamu harus janji sama aku ya, jangan pernah menghilang dariku. Kalau kamu butuh teman curhat, kamu bisa hubungi aku kapanpun kamu butuh, Tin. Aku akan dengan senang hati membantu kamu dan mendengarkan semua keluh kesah kamu. Pokoknya jangan sampai kamu melakukan sesuatu yang akan membuat aku merasa bersalah seumur hidup ku]
Mendengar semua perkataan Putra di sambungan telepon, membuat Atina merasa heran sekaligus cukup terkejut. Kenapa Putra bisa sebegitu khawatirnya dengan kaeadaan yang ia alami. Padahal sudah terlalu lama mereka sama sekali tak bertemu muka, bahkan komunikasi lewat sambungan telepon pun tak pernah. Tapi sekali bertemu, dan momen pertemuan itu sangatlah tak di duga, seketika perhatian Putra dan juga kekhawatiran Putra jelas sangatlah besar kepada dirinya. Sebenarnya kenapa? Ada apa dengan laki-laki itu. Apakah sikapnya itu hanya karena kasihan kepada nasib yang menimpa dirinya, ataukah ada hal lain yang Atina sendiri tak mampu menebak nya.
[halo, Atina! Apa kamu masih di sana?]
__ADS_1
"Ah, I-iya Mas. Aku masih di sini kok. Maaf ya,"
[Maaf untuk apa. Tadi kamu dengar semua kan apa yang aku katakan?]
"Iya. Aku dengar kok. Maaf kalau selama beberapa hari ini aku udah ngerepotin kamu. Sekali lagi terima kasih. Karena kamu, aku bisa terbebas dari laki-laki bajingan itu."
[Nggak. Aku sama sekali nggak merasa di repotin. Justru aku sangat senang bisa membantu kamu di masa tersulit kamu. Tapi kamu masih hutang satu hal sama aku, Tin. Lain waktu aku akan tagih hutang itu]
"Hutang? Hutang apa maksud kamu, Mas. Ah, iya. Soal pakaian yang udah kamu belikan ya. Nanti aku akan ganti semua biaya untuk pakaian itu sekaligus biaya makan aku selama tinggal di apartemen kamu, mas."
[Bukan. Aku nggak butuh itu semua. Apa yang aku kasih ke kamu, aku ikhlas. Dan tak akan minta ganti itu semua]
[Kamu hutang cerita sama aku. Kemaren kamu udah bilang kalau sampai di apartemen, kamu akan menceritakan semua yang udah kamu alami di rumah laki-laki yang kamu sebut bajingan itu. Aku mau tahu, Tin. sebenarnya apa yang sudah kamu alami di sana sebelum aku berhasil menolong kamu]
"Soal itu ... Mm, baiklah Mas. Kalau aku sudah siap. Nanti aku akan cerita sama kamu, mas."
[Baiklah kalau gitu. Aku tunggu kabar dari kamu, Tin. Ya sudah. Aku tutup dulu teleponnya. Kamu hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai dan kalau nggak keberatan, tolong kabari aku]
"Iya. Baiklah Mas."
Setelah mematikan sambungan telepon dengan Putra. Atina kembali menatap ke depan. Tak lama lagi ia akan sampai di gang menuju rumahnya yang selama beberapa hari tak ia tempati karena insiden penyekapan yang ia alami beberapa waktu yang lalu. Insiden yang membuat dia harus kehilangan keperawanan nya hanya dalam hitungan menit. Benar-benar miris hidup yang harus ia alami kedepannya. Bagaimana nanti kalau sampai sang kekasih tahu atas apa yang menimpanya. Ia sudah pasrah dan tak mau lagi terlalu berharap kelanjutan hubungannya dengan Melvin. Biarlah semua keputusan akan ia serahkan sepenuhnya kepada laki-laki itu.
__ADS_1
"Mbak. Gang nya yang di kiri jalan itu kan?" tanya sang driver ojek online.
"Iya, Mas. Masuk gang itu, dari gang nggak terlalu jauh masuknya," sahut Atina sembari tangannya menunjuk ke arah gang di depannya.
Motor perlahan masuk ke gang itu. Semakin dekat dengan rumah, semakin membuat jantung Atina berdebar dengan kuat. Keringat dingin mulai menetes, rasa gugup dan was-was mulai singgah. sebisa mungkin ia berusaha bersikap tenang. Menahan tangis sekaligus sesak dalam dada. Harus pulang dalam keadaan yang berbeda dan tentunya perbedaan itulah yang akan membuat orang tua Atina merasa terpukul, sudah pasti itu akan terjadi.
"Ini ya mbak rumahnya??" si mas ojek balik tanya lagi.
"Iya. Mas. Berhenti di sini saja. Tak perlu masuk ke pekarangan," ujar Atina. Setelah itu, ia pun turun dari motor. Di serahkannya helm milik sang ojek. Tak lupa sebelum pergi, Atina mengucapkan terima kasih kepada sang driver.
Langkah kaki yang teramat berat ia paksakan. Bukan berat karena ia tak rindu kedua orang tua, melainkan berat karena ia tahu kepulangannya hanya akan menambah luka di hati bapak dan sang Ibu. Rasa sakit menahan tangis ia biarkan begitu saja. Ia tak kuat kalau harus memikul beban berat ini sendirian. Kedua orang tuanyalah tempat pertama dan terakhir yang ia butuhkan saat ini.
Tok... tok...
Dengan tangan gemetar, Atina memaksakan diri untuk mengetuk pintu rumahnya. Tak butuh waktu lama. Terdengar langkah kaki mendekat ke arah pintu.
"Siapa ya?" teriak seseorang dari dalam. Atina sama sekali tak mampu untuk menjawab. Mendengar suara lembut sang Ibu, seketika air mata yang sedari tadi ia tahan mengucur deras membasahi kedua pipi.
Pintu seketika terbuka. Muncullah sesosok wanitayang sangat Atina kenali. Wanita yang sudah mengandung dirinya selama sembilan bulan, wanita yang selalu jadi tempat dirinya untuk berkeluh kesah, bermanja dan juga saling membagi kasih sayang.
"A-Atina!!!" teriak wanita itu yang merupakan ibu dari Atina. Beliau tampak kaget dengan mata yang agak melotot ketika melihat Atina tengah berdiri tepat di hadapan nya. Beliau membeku seketika. Tak mampu untuk melangkahkan kaki mendekati sang anak yang selama beberapa hari bahkan minggu tak juga di ketahui rimba nya.
__ADS_1