Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 17 Mencari Tahu


__ADS_3

"Tadi bilang katanya mau ngomong sama aku, giliran ditungguin, nggak juga ngomong. Sebenarnya maunya apa sih tu orang. Buang-buang waktu aja kalau kayak gini. Dan lagi, sempet-sempetnya ia mengejek Pak Putra. Maksudnya apa coba ngelakuin itu semua." Atina bergumam dengan ekspresi kesal.


Sebentar lagi kelas akan di mulai, ia lantas masuk ke ruang Guru untuk meletakkan tas dan langsung menuju kelas untuk mengajar.


Tak berselang, bel istirahat berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas. Ada yang menghampiri penjual jajanan, ada pula yang lebih memilih ke perpustakaan dan sebagian nampak beberapa anak yang tetap ada di ruang kelas, bermain di dalam kelas. Sementara, Atina sudah terlihat duduk di meja kerjanya.


"Kamu kenapa Tin, kusut banget wajahnya. Lagi ada masalah atau karena lagi bokek?" tanya Bu Fitri sembari ketawa renyah meledek rekan kerja nya itu.


Sementara Atina memelototi Bu Fitri.


"Wuih ... serem, biasa aja kali Tin, pakai melotot gitu sampai mau keluar tu biji mata kamu," sahut bu fitri bergidik ngeri di pelototi oleh atina.


Atina hanya berdecak kesal.


"Bu fitri, nanti mau ke kantin nggak, nitip dong. Pengen makan bakso yang super pedas tapi malas mau ke sana," tiba-tiba atina bersuara.


"Hmm,owh ... Kamu tampak kusut gitu karena kelaparan tho? bilang dong dari tadi. Yaudah sini uangnya,nanti tak belikan. Kebetulan aku juga mau ke kantin beli makan siang ," ujar Bu Fitri menengadahkan tangan ke Atina. Atina lantas memberikan selembar uang berwarna biru ke tangan Bu Fitri.


Dan kini, setelah menunggu tak terlalu lama. Atina menyantap bakso yang Bu Fitri berikan di meja kerjanya. Rasa pedas seketika menjalar lidah. Tapi, Atina terlihat menikmati dan seperti tidak masalah dengan level kepedasan bakso yang ia makan. Keringat mulai bercucuran di kening. Hanya dalam hitungan detik, semangkok bakso tandas tanpa tersisa. Melihat itu, Bu Fitri hanya geleng-geleng kepala. Pikirnya, kok ada, orang makan makanan yang super pedas tapi ekspresinya biasa saja, tidak heboh seperti dirinya kalau sudah bertemu dengan makanan pedas.


Dari arah luar, terlihat Pak Putra memasuki ruang Guru, lantas ia menuju meja kerjanya.


"Baru istirahat Pak, tumben telat," tanya Bu Fitri ketika Pak Putra baru duduk.

__ADS_1


"Iya nih Bu Fit. Tadi ngoreksi tugas anak-anak dulu di kelas," jawab Pak Putra, lantas pandangan mata nya mengarah pada Atina.


"aduh ... aduuh," mendadak Bu Fitri mengaduh seraya tangannya memegangi perut.


"Kenapa Bu Fit, kok kayak kesakitan gitu?" tanya atina seketika langsung berjalan cepat menghampiri Bu Fitri.


"Tau nih Tin, mendadak perut melilit. Yaudah Tin, aku ke toilet dulu ya," Bu Fiitri langsung berlari keluar . Atina tergelak melihat tingkah konyol rekan kerjanya itu.


Sementara itu, Pak Putra tersenyum simpul melihat Atina tertawa lepas seperti itu. Cukup lama ia memandang Atina hingga detik kemudian, ia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain ketika Atina hendak kembali duduk. Di dalam ruangan tinggallah Atina dan Pak Putra. Sementara, Guru yang lain tengah makan siang di kantin.


"Pak Putra nggak makan siang?"


"Enggak Tin, belum lapar. Nanti aja sekalian pulang ngajar."


Hati Putra berdesir mendapatkan perhatian kecil dari wanita yang ia sayangi secara diam-diam. Walaupun terlihat sepele, namun sangat bermakna buat Putra.


"Makasih dah ngingetin. Tapi, beneran kok emang aku belum ngerasa laper. Mungkin karena sarapannya 2 piring kali ya, kenyangnya tahan lama," celetuk Putra bercanda, membuat Atina hanya bisa menghela napas.


"Oh ya,Pak Putra. Maaf ya, soal kejadian tadi. Saya minta maaf, kalau ucapan Mas Melvin tadi menyinggung perasaan Pak Putra," ucap Atina membuka obrolan.


"Kamu nggak salah kenapa harus minta maaf Tin. Yang harus minta maaf ya laki-laki itu, siapa tadi ... Oh ya, Melvin. Kamu sepertinya dekat banget sama dia. Ada hubungan apa kamu sama Papanya Chessy Tin?" tanya Putra to the point. Ia nampak serius, tak ada senyum sedikitpun di wajahnya.


Gleg ... Atina menelan ludah mendapat tatapan tajam dari Putra. Entah kenapa ada rasa ngeri menghampiri. Tapi, Atina berusaha bersikap biasa saja.

__ADS_1


"Ah Pak Putra, pertanyaannya gitu banget.Ya ... nggak ada hubungan apa-apalah, sekedar saling kenal saja.'Kan Pak Putra tahu sendiri Melvin itu Papa Chessy, anak murid aku," jawab Atina sekenanya dengan senyum yang dipaksakan.


"Yakin, nggak ada hubungan apa-apa. Tapi, aku lihat sepertinya Melvin ada rasa sama kamu. Apa kamu nggak bisa merasakan itu Tin?"


"Ha-ha-ha ... ah, Pak Putra ngaco kalau ngomong. Mana mungkin Mas Melvin suka sama aku Pak, nggak mungkinlah. Pak Putra sok tau banget." Atina tergelak menanggapi ocehan putra yang menurutnya mengada-ada.


"Aku juga laki-laki Tin. Jadi, setidaknya bisa menilai mana laki-laki yang suka dan mana yang nggak suka. Semua dapat dilihat dari perlakuan dia sama kamu dan dari sorot matanya ketika berbicara denganmu." Putra tetap kekeh dengan asumsinya.


"Sudahlah Pak Putra, nggak usah membahas yang belum pasti." Atina tampak pasrah tidak mau lagi berdebat dengan Putra, apalagi yang di perdebatkan sesuatu yang tidak jelas, hanya sia-sia.


"Tapi, kalau beneran Melvin suka sama kamu gimana? apa kamu mau terima perasaan darinya Tin?" Putra masih tak mau menyerah, ia sangat penasaran dengan jawaban Atina. Karena jawaban dari Atina sangatlah penting untuk didengar langsung. Sebab, itu menyangkut perasaannya sendiri terhadap Atina.


Mendengar pertanyaan dari Putra, Atina tertegun. Ia diam sesaat, bingung mau menjawab apa.Ia sendiri tidak tahu pasti akan perasaan yang ia rasakan pada Melvin.


"Udah ya, Pak Putra, nggak usah bahas masalah ini lagi, oke!!" hanya itu yang bisa Atina katakan kepada Putra.


Mendengar itu, Putra hanya bisa menghela napas. Penasaran ... itulah yang Putra rasakan saat ini. Ingin rasanya ia mendesak Atina untuk jujur. Tapi, tentu saja ia tidak bisa melakukan itu. Bukannya menjawab, yang ada malah Atina akan marah, karena, itu sama artinya memaksa sesuatu yang bersifat pribadi.


"Apa benar Mas Melvin suka sama aku seperti yang Pak Putra katakan barusan. Tapi, masa iya sih, kayaknya nggak mungkin deh. Tapi, kalau emang beneran suka gimana ya? aku harus ngapain, apa harus nerima dia. ih ... lucu juga kalau misal beneran dia suka sama aku, hihihi" batin Atina, ia tampak senyam senyum sendiri.


Putra mengernyitkan dahi, menatap heran ke arah Atina yang tengah senyum-senyum tak jelas.


"Tin, ngapain kamu senyum-senyum sendiri. Ada yang lucu?" rasa penasaran menghinggapi benak Putra.

__ADS_1


"Haaah, eh ... e-enggak Pak Putra. Ba-barusan aku lagi inget kejadian lucu sama Bu Fitri. Makanya, aku senyum-senyum sendiri, he-he," dengan gugup Atina menjawab asal, mengarang cerita agar Putra tak curiga kalau dia dari tadi tengah memikirkan omongan laki-laki itu tentang Melvin yang suka padanya. Atina hanya bisa garuk-garuk kepala dan kikuk dengan tatapan Pak Putra yang penuh selidik.


__ADS_2