
"Assalamu' alaikum Anak-anak...." Seru Atina ketika ia mulai menapakan kaki di kelas tempat ia mengajar.
"Wa'alaikum salam. Bu Atinaaa... Bu Atinaa...!!" Semua anak berteriak histeris melihat Atina tiba-tiba masuk kelas. Dengan mata berbinar mereka serentak berlari dan langsung memeluk Atina yang tengah berdiri tak jauh dari pintu masuk kelas. Melihat sambutan dari anak didiknya yang sedemikian hebohnya, membuat hati Atina bergetar. Ia sangat terharu sekaligus senang. Perlakuan anak didiknya yang seperti ini menandakan betapa mereka sangat menyayangi dirinya selama ini. Atina bisa melihat dari binar mata mereka.
Hari ini masa hukuman Atina sudah selesai, ia kembali bisa mengajar seperti sedia kala. Seminggu bukanlah waktu yang sebentar buat Atina, selama itu pula, Rasa kangen akan tempat kerjanya, rekan kerja serta murid-murid yang sangat ia cintai sudah menumpuk dalam hatinya. Ketika semua bisa ia lalui, ia luapkan semua rasa kangen itu dengan langsung menyapa anak-anak didiknya dengan senyum merekah, tak ada kebahagiaan saat ini yang Atina rasakan kecuali berjumpa dengan mereka, orang-orang yang sudah menjadi bagian dari hidupnya selama ini.
"Bu Atina kemana saja. Kenapa udah lama nggak ngajar di kelas ini lagi. Kami kira, Ibu nggak akan balik lagi kesini, ternyata kami salah kira. Kami sangat senang hari ini bisa kembali melihat Bu Atina lagi. Tetaplah jadi Guru kami Bu Atina, kami sangat menyayangi Ibu. Selama seminggu ini, nggak ada Ibu rasanya kami tak semangat untuk belajar. Jangan pergi-pergi lagi Bu Tina." Seru salah satu murid dengan tatapan penuh harap.
"Iya Bu Tina... kami mau Bu Atina selalu mengajar di kelas ini ya... Setuju 'kan teman-teman!!!" Semua anak lantang menyerukan dukungan untuk Guru mereka.Terlihat jelas betapa mereka sangat mengharapkan kehadiran Atina di kelas. Bahkan terlihat, ada beberapa murid perempuan menangis sesenggukan saking terharunya melihat guru idola mereka bisa kembali lagi.
Bu Atina nampak terharu sekaligus senang. Di peluknya satu per satu anak didiknya itu. Atina juga mulai menenangkan siswi yang menangis, dipeluknya siswi tersebut dalam dekapannya. Tak lama, semua keadaan kembali kondusif. Anak-anak sudah mulai duduk di tempat duduknya masing-masing.
"Baiklah anak-anak. Sebelumnya Ibu minta maaf ya. Selama sepekan kemarin, Ibu ada urusan penting di luar sekolah yang mengharuskan Ibu harus libur mengajar guna menyelesaikan urusan Ibu itu. Jadi, dengan terpaksa Ibu nggak ngajar kalian selama sepekan kemaren. Tapi, mulai hari ini, Ibu sudah kembali lagi ke kelas ini. Ibu rindu sama kalian semua lhoo, apa kalian juga rindu sama Ibu juga??" Tanya Atina menatap satu per satu anak didiknya yang tengah menatap Atina dengan serius.
"Tentu saja kami juga Rindu sama Bu Atina...!!" Teriak hampir semua murid secara bersamaan.
"Alhamdulillah, Ibu senang dengarnya. Ya sudah. Kangen-kangenannya udahan dulu ya anak-anak. Kita harus kembali belajar. Nggak lama lagi 'kan kalian akan menghadapi semester dua, artinya sebentar lagi kalian akan naik kelas. Jadi, Ibu harap... Kalian harus selalu rajin belajarnya agar nilai kalian nanti bisa memuaskan. Apa semua setuju!!" Teriak Atina memberi semangat untuk anak didiknya.
"Iya Bu Atina. Kami akan belajar dengan giat seperti yang Ibu suruh." Teriak anak-anak serentak. Atina sangat senang, anak didiknya termasuk anak yang penurut, hampir tidak ada yang bandel melebihi batas. Semua bisa Atina arahkan. Tanpa ada drama pemberontakan dan lain sebagainya.
__ADS_1
...****************...
"Kami semua senang, kamu sudah kembali mengajar Tin. Suasana kantor ini akan jadi lebih hidup kalau ada kamu." Ucap Bu Fitri ketika mereka tengah istirahat di ruang Guru.
"Ya Bu Fit. Aku juga senang banget hari ini. Kangen tau nggak sama kalian. Terutama sama celotehan Bu Fitri yang bisa bikin mood kembali baik. He-he!!" Sahut Atina disertai tawa yang renyah.
Tak lama, Pak Putra masuk ke ruangan dimana Atina dan beberapa rekan kerjanya tengah asik mengobrol.
"Siang, Pak Putra." Sapa Atina ketika melihat Putra menghampiri meja kerjanya. Putra hanya mengangguk kecil lantas langsung duduk begitu saja tanpa berbasa basi dengan Atina dan yang lain. Melihat respon Putra yang begitu dingin membuat Atina bertanya-tanya, kenapa sikap Putra jadi seperti itu kepadanya, apakah ia melakukan kesalahan ataukah karena Putra lagi ada masalah sehingga ia enggan bersapa hangat dengan rekan sesama Guru disitu. Ketika Atina tengah terdiam memikirkan perubahan sikap Putra yang tak biasa, tiba-tiba Bu Fitri menyenggol lengan Atina.
"Ayo kita mending cari makan diluar. Nanti aku akan cerita sesuatu sama kamu, Tin. Ayo Bu Tia, mau ikut kami juga nggak makan diluar??" Tak lupa selain mengajak Atina, Bu Fitri juga mengajak Bu Tia untuk gabung dengan mereka.
"Owh gitu. Ya sudah, Kami tinggal dulu ya Bu Tia." Pamit Atina, lantas ia dan Bu Fitri meninggalkan ruang Guru menuju kantin sekolah untuk makan siang.
"Bu Fitri tau nggak kenapa Pak Putra sikapnya dingin gitu. Tadi Bu Fitri lihat sendiri 'kan gimana responnya sewaktu aku menyapa beliau??" Tanya Atina ketika mereka tengah duduk di kantin sembari menunggu makanan yang mereka pesan datang.
"Iya, aku tadi lihat kok gimana respon Pak Putra sama kamu. Kamu tau nggak Tin, sikap Pak Putra beberapa hari ini emang agak berubah nggak seperti biasanya. Kalau nggak salah sih semenjak sehari setelah kamu diliburkan oleh Pak Kepala Sekolah. Awalnya aku juga bingung kenapa Pak Putra jadi pendiam dan jarang ngobrol seperti awal-awal beliau ngajar di sekolah ini. Tapi, kalau mau bertanya kepada yang bersangkutan, aku merasa nggak enak juga Tin. Ya sudah, aku dan guru yang lain hanya mencoba memaklumi sikap beliau. Kita mikirnya, mungkin beliau emang lagi pengen sendiri gitu. Sekarang juga aku dan guru lain ngobrol sama Pak Putra hanya seperlunya saja." Ungkap Bu Fitri, membuat Atina termenung sesaat.
Apa mungkin perubahan sikap Pak Putra itu ada kaitannya dengan sikapnya waktu itu di rumahnya. Memang tak dipungkiri, Atina merasa tidak enak karena waktu itu ia menyuruh Putra pergi begitu saja hanya karena dirinya sedang malas untuk bertemu dengan laki-laki itu.
__ADS_1
"Tin. Kok kamu malah melamun sih. Lagi mikirin apa??" Tiba-tiba Bu Fitri menegur Atina.
"Ah, nggak kok Bu Fit. Aku hanya lagi mikir aja, apa mungkin sikap Pak Putra seperti itu karena ia marah sama aku ya?" Ucap Atina membuat Bu Fitri hanya mengerutkan kening.
"Maksud kamu Tin. Apa hubungannya dengan kamu. Aku nggak ngerti deh."
Akhirnya, Atina menceritakan semua kejadian dimana Putra yang waktu itu datang ke rumahnya untuk minta maaf, tapi malah ia usir begitu saja. Ia juga menceritakan tentang Sandra, mantan tunangan Putra yang menjadi dalang dari semua kiriman bunga berisi fitnah yang wanita itu kirimkan ke sekolah tepat seminggu yang lalu.
"Hah!! Jadi semua itu perbuatan mantan tunangan Putra. Kok bisa begitu sih Tin. Kenapa kamu yang jadi sasaran wanita itu. Kamu dan Pak Putra 'kan nggak ada hubungan apa-apa, bener nggak tebakanku ini. Kamu nggak ada hubungan spesial dengan Pak Putra 'kan Tin selain hubungan rekan kerja aja." Dengan semangat Bu Fitri mencecar Atina dengan pertanyaan.
"Aku nggak ada hubungan apa-apa kok Bu Fit. Kami cuma sebatas teman aja, nggak lebih."
"Terus, apa coba yang memicu wanita itu melakukan hal diluar batas seperti tempo hari itu. Nggak mungkin 'kan, wanita itu melakukan sesuatu tanpa ada sebab yang melatarbelakanginya. Apa mungkin kamu pernah melakukan suatu kesalahan sama dia hingga membuat dia bertindak nekat gitu??" Tanya Bu Fitri dengan mimik wajah yang serius.
"Sandra itu hanya salah paham sama aku Bu Fit. Jadi, waktu itu Pak Putra ngajak aku makan malam di sebuah restoran seafood gitu 'kan. Nah, ternyata Sandra kebetulan juga ada disitu. Melihat Putra tengah makan malam berdua denganku, si Sandra ini tiba-tiba menghampiri meja kami. Tanpa permisi, ia langsung menuding aku sebagai pelakor, bahkan dengan kejamnya ia menyebutku jal*ng nggak tau diri. Gila 'kan?? aku jelas nggak terima dong dikata-katain gitu. Aku balaslah dia, aku peringatkan wanita itu agar tidak bicara sembarangan tanpa bukti. Eh, dia nggak terima dan ngamuk-ngamuk sampai mendorong aku dengan kencang. Hampir aja aku rubuh ke belakang kursi, tapi alhamdulillahnya tepat disaat itu ada seseorang yang menahan tubuhku dari belakang hingga aku nggak sampai jatuh tersungkur. Aku bersyukur, laki-laki yang menolongku datang diwaktu yang tepat." Terang Atina, Bu Fitri nampak serius mendengarkan apa yang Atina ceritakan barusan.
"Owh jadi seperti itu ceritanya. Pantas aja si Sandra itu marah besar sama kamu, Tin. Mungkin ia mengira, Kamulah penyebab Putra mutusin hubungannya dengan Sandra. Jadi deh, ia ngelakuin kekacauan di sekolah karena ingin balas dendam sama kamu."
"Iya, benar apa yang Bu Fitri katakan. Padahal Pak Putra sudah menjelaskan semuanya. Kalau aku nggak ada hubungannya dengan kandasnya pertunangan mereka. Tapi ternyata Sandra nggak percaya. Ia justru malah semakin nekat. Tapi, kalau sampai ia kembali mengusik hidupku lagi ya Bu Fit, aku nggak akan tinggal diam. Aku akan bikin perhitungan pada wanita itu. Biar dia berpikir dua kali kalau mau ngelakuin hal yang dapat merugikan hidupku."
__ADS_1
"Iya, aku setuju sama kamu Tin. Orang seperti itu emang nggak bisa dibiarin, kita harus berani melawan agar dia nggak semakin berbuat seenaknya." Timpal Bu Fitri menguatkan argumen Atina.