Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 20 Mengungkapkan Perasaan


__ADS_3

Atinaa ... Atinaa," Melvin terus meneriakkan memanggil nama Atina. Keringat bercucuran nampak mengalir di kening. Ia memutuskan untuk duduk sebentar di rerumputan, wajahnya mulai kusut.


Sementara, Atina merasa kasihan melihat Melvin yang kelimpungan mencari keberadaan dirinya. Ia pun memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya. Posisi Melvin membelakangi Atina, jarak antara dirinya dan Melvin hanya beberapa langkah.


"Atina ... kamu dimana, tolong jangan bikin Mas takut, Jangan ngerjain Mas kayak gini, ini sama sekali nggak lucu. Ayo kita pulang, katanya kamu mau pulang, ayo pulang sekarang, aku turuti kemauan kamu, tapi tolong muncullah. Jangan bikin aku panik Atina. Kamu tega banget pergi gitu aja. Apa kamu nggak mikir, kalau sesuatu terjadi sama kamu gimana, kamu mikir nggak sampai kesitu." Melvin berbicara sendiri, sudah lebih hampir setengah jam tapi keberadaan Atina belum juga ia ketahui. Bahkan ia sudah mencari ke semua penjuru. Setelah lama duduk sendirian, Melvin bangkit dan berencana kembali ke dekat danau dimana mobilnya terparkir. Ia akan kembali mengitari wilayah itu dengan mengendarai mobil. Ketika baru beberapa langkah, Atina memanggil dirinya.


"Mas Melvin!!" teriak Atina.


Melvin yang mendengar namanya disebut, secepat kilat menoleh kebelakang.


Deg ... Atina berdiri tak jauh dari hadapannya.


Dengan mata berkaca-kaca dan wajah yang kusut, Melvin melangkah perlahan mendekati Atina, kian dekat ... dan seketika itu Melvin langsung menarik tubuh Atina ke dalam dekapannya. Dipeluknya tubuh itu dengan erat.


Atina diam membisu, ia kaget karena tiba-tiba Melvin memeluknya. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan selama ini, dipeluk laki-laki yang tidak ada hubungan keluarga dengannya. Atina tidak tahu, apakah ia harus berdiam diri seperti sekarang ataukah memberontak saja. Ingin rasanya atina melepaskan pelukan Melvin secara paksa. Tapi, reaksi tubuhnya seakan berkata lain. Rasa nyaman yang tersalur membuat Atina seolah terhipnotis, apalagi ketika indera penciumannya menangkap bau khas maskulin dari tubuh laki-laki itu, rasanya ingin selalu dalam posisi seperti ini.


"Atina, jamu kemana saja dari tadi. Aku khawatir tau nggak? kamu kenapa nekat pergi gitu aja. Kamu tau, aku sampai hampir gila nyariin kamu dari tadi. Kamu kenapa sih selalu membuat pikiranku kacau. Apa kamu nggak tau betapa khawatirnya aku sama kamu, apa kamu tau betapa takutnya aku kehilangan kamu, apa kamu tau betapa sayang dan cintanya aku sama kamu sehingga sedikitpun aku nggak bisa lihat kamu terluka. Tolong jangan lakukan ini lagi sama aku Atina,apa kamu ngerti!!!"


Jedder ... Atina kaget mendengar serentetan pengakuan yang baru saja terucap dari mulut Melvin.

__ADS_1


Apa tadi yang melvin bilang, apa Atina tidak salah dengar. Melvin bilang kalau ia sangat mencintai dirinya. Ini mimpi atau kah nyata. Kenapa rasanya Atina sulit sekali mempercayai apa yang barusan ia dengar.


"Mas ... a-apa yang barusan Mas katakan?" tanya atina masih tak percaya dengan semua ini.


"Iya Atina, aku mau jujur, sebenarnya selama ini aku jatuh cinta sama kamu, aku sayang sama kamu Tin. Aku nggak tau pasti, kapan rasa ini tumbuh dalam hati, yang aku tau setiap ada di dekatmu, aku merasa nyaman. Pikiran ini setiap saat selalu tertuju sama kamu. Aku sudah berusaha menepis semua ini, tapi justru itu malah membuat perasaanku ke kamu semakin kuat." Melvin mulai melepaskan pelukannya.Ia menangkup kedua pipi Atina, sembari menatap matanya dalam.


"Apa yang aku katakan jujur dari dalam hati Tin. Semua perasaan yang aku rasakan sama kamu benar ini adanya, kamu nggak harus jawab perasaanku saat ini juga. Yang terpenting adalah kamu sudah tau apa yang aku rasakan, itu sudah lebih dari cukup buatkuu. Jadi, kamu nggak perlu terbebani oleh pengakuan dariku,"


"M-mas ... a-aku...." Telunjuk melvin ia letakkan di bibir atina sebagai tanda agar atina tidak melanjutkan ucapannya.


"Ya sudah, sekarang kita pulang ya. Sudah mau sore juga. Aku akan anter kamu sampai rumah," ucap melvin, melepaskan kedua tangannya dari wajah Atina. Lantas ia menyuruh Atina jalan duluan menuju mobil Melvin yang terparkir tak jauh dari danau. Ada perasaan lega dalam diri Melvin karena akhirnya dia bisa mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam, rasa cinta yang baru tumbuh, yang semakin hari semakin tumbuh besar serta yang bikin hari-harinya dikerubuti kegelisahan. Kini, seakan beban dalam pundaknya telah terurai satu per satu. Meskipun Melvin sendiri belum tahu, apakah Atina juga memiliki perasaan yang sama atau tidak, tapi itu tak jadi soal buat Melvin.


Setelah keduanya naik, hening ... tak ada percakapan apapun. Baik Atina maupun Melvin sama-sama diam dengan pikirannya masing-masing. Atina masih tidak menyangka kalau ada seorang laki-laki yang bisa jatuh cinta padanya. Rasanya seperti tengah mimpi indah, dan dia tidak mau mimpi indah itu pergi begitu saja.


"Mas, nanti nganterinya sampai gang saja ya, nggak usah sampai depan rumah aku," pinta Atina membuat melvin mengerutkan kening heran.


"Emangnya kenapa kalau sampai rumah kamu Tin?"


"Tolong turuti saja ya Mas...." Ucap atina tegas.

__ADS_1


"iya,baiklah...."


Setelah sampai depan gang rumah Atina, ia langsung turun ketika mobil sudah berhenti.


"Terima kasih Mas, sudah mau nganterin aku, aku masuk dulu, Mas hati-hati di jalan, Assalamualaikum...." Setelah mengucapkan salam,tanpa menunggu jawaban Melvin, Atina berlalu begitu saja. Membuat melvin diam terpaku dengan pandangan mata menyorot ke arah Atina yang berjalan semakin jauh.


"Mas harap, kamu juga mempunyai perasaan yang sama sepertiku Tin. Jika masa itu telah tiba, pasti aku akan jadi orang yang paling bahagia di dunia ini," gumam Melvin tersenyum simpul.


Setelah itu Melvin memilih untuk langsung pulang ke rumah.


Sementara, Atina sudah sampai depan rumah, lantas la langsung masuk.


"Kok baru pulang Tin, kamu dari mana?" Bu Yeni bertanya penuh selidik.


"Tadi Atina mampir dulu ke toko buku Bu, untuk membeli buku yang Atina perlukan,"


"Ouh gitu, ya sudah, Ibu mau ke depan dulu Tin,"


"Iya Bu, Atina masuk kamar dulu." Lantas Atina masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Ia merebahkan diri di ranjang, menerawang jauh mengingat apa yang baru saja ia alami, ketika melvin memeluk dirinya dengan erat. Bahkan seakan-akan aroma tubuh laki-laki itu seolah menyatu dengan dirinya. Ia lantas mengingat kata demi kata yang membuat jantungnya berdebar dengan begitu hebat. Akankah dirinya membalas semua perasaan Melvin. Tapi, Atina sendiri tidak tau apakah ia benar-benar mempunyai perasaan yang sama juga dengan Melvin. Antara bahagia dan gelisah kini seolah merasuk dalam hati dan pikiran, Atina tidak tahu akan seperti apa respon selanjutnya untuk seorang Melvin.


__ADS_2