Berjodoh Dengan Duda Anak 1

Berjodoh Dengan Duda Anak 1
Bab 37 Alana Datang Ke Sekolah Chessy


__ADS_3

"Kamu chessy 'kan?" Tanya Alana kepada seorang gadis kecil yang baru keluar dari kelasnya.


"Iya, Tante siapa ya. Kenapa bisa tau nama Aku??" sahut chessy dengan pandangan heran ke arah wanita itu.


Mendadak Alana langsung memeluk chessy.


"Chessy, Anakku!! Nggak nyangka kamu sudah sebesar ini Nak. Aku Mama kamu chessy, orang yang sudah ngelahirin kamu ke dunia ini Sayang. Mama kangen banget sama kamu Nak."


Mendengar pengakuan dari wanita yang sama sekali asing buat chessy, membuat gadis itu terdiam beberapa saat. Ia mulai mencerna ucapan wanita yang sudah mengaku sebagai Mama kandungnya itu. Padahal jelas-jelas papanya pernah bilang kalau Mama chessy sudah meninggal dunia. Bagaimana mungkin tiba-tiba ada seseorang yang mengaku sebagai Mama kandungnya. Kalau benar seperti itu, berarti Papa sudah membohongi dirinya selama ini. Tapi kenapa? Apa alasan Papa melakukan semua ini pada dirinya.


"Maaf Tante. Mungkin Tante salah Orang. Mama Chessy udah meninggal. Jadi, mana Mungkin Tante ini Mama kandung Chessy." Ucap chessy berusaha melepaskan pelukan Alana.


"Nggak Sayang. Itu tidak benar. Mama masih hidup sampai saat ini. Papa kamu udah bohongin kamu chessy. Ini beneran Mama Nak, orang yang udah ngelahirin kamu." Elak Alana berusaha meyakinkan putrinya.


"Nggak. Chessy nggak percaya sama Tante. Tante pasti yang bohong 'kan?? kalau Tante Mama kandung aku, kenapa baru sekarang tante datang nemuin aku. Kenapa nggak dari dulu-dulu saja. Mendingan Tante pergi dari sini. Aku nggak akan percaya sama Tante kecuali kalau Papa sendiri yang bilang sama Chessy."


"Mama nggak bohong Nak. Ini beneran Mama kandung kamu." Alana terus memaksa chessy.


Chessy lalu menangis menolak untuk di peluk wanita itu lagi.


"Ada apa ini. Chessy, kenapa kamu menangis??" Tiba-tiba Atina menghampiri mereka. Melihat chessy menangis, tentu saja Atina merasa heran, ditambah adanya kehadiran wanita yang belum Atina kenal tengah berusaha memeluk Chessy sedari tadi.


"Bu Atina...!!!" Melihat kedatangan Gurunya, chessy langsung menghambur memeluk Atina. Anak itu langsung menangis kencang. Untuk sesaat Atina membiarkan chessy meluapkan emosinya sesaat. Dan ketika tangis Chessy mulai reda, Atina berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat dirinya menangis seperti itu.


"Sekarang bilang sama Bu Guru. Chessy kenapa menangis gini. Ada apa? Terus siapa wanita ini Ches. Apa chessy kenal??" Dengan lembut, Atina berusaha mencari tahu.


Sementara itu, Alana sedari tadi hanya terisak, merasakan sakit hati karena mendapat penolakan dari anaknya sendiri.


"Tante ini bilang kalau dia Mama kandung chessy Bu Atina. Tentu saja Chessy nggak percaya. Karena Papa pernah bilang, kalau Mama chessy itu udah meninggal. Tapi Tante ini terus memaksa Chessy untuk percaya ucapannya. Chessy nggak mau Bu Guru. Chessy nggak kenal Tante ini, chessy takut Bu Atina, hu..hu...!!" Chessy kembali menangis, lagi-lagi Atina langsung memeluk anak itu.


Sembari memeluk Chessy, Atina langsung merogoh ponselnya yang ada di saku bajunya. Ia lantas menelepon Papa Chessy.


"Halo Mas, kamu lagi dimana??"


"Halo Sayang, tumben kamu telpon jam segini, ada apa?? Kangen ya sama Mas?" Jawab Melvin dengan candaan.


"Apaan sih Mas, bukan itu kok alasanku telepon kamu. Ini chessy lagi Nangis Mas."


"Chessy nangis. Kenapa? Kok bisa sampe nangis, apa ada yang jahilin chessy di kelas?? Ibuku apa belum jemput chessy sekolah Tin??"

__ADS_1


"Belum Mas. Bu Rumana belum datang. Mas bisa kesini sekarang Nggak. Ada wanita yang ngaku sebagai mama kandung chessy disini. Itulah yang menyebabkan Chessy nangis seperti ini, Mas. Kamu kemari ya Mas. Kasian chessy dari tadi nggak mau berhenti menangis."


"Apa!!! Alana ada disitu? Oke... Oke, aku akan kesitu sekarang juga. Tolong kamu tenangin Chessy dulu ya sayang, Aku akan segera kesitu."


"Baik Mas. Kamu hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut-ngebut. Chessy aman bersama aku, Mas."


"Iya, Sayang. Mas pasti hati-hati kok. Ya sudah, Mas tutup dulu ya teleponnya."


Terlihat amarah tercetak jelas dari raut wajah Melvin ketika ia tahu, mantan istrinya membuat gara-gara dengan mendatangi Chessy ke sekolahan.


"Kurang Ajar kamu Alana. Bukankah kemaren aku sudah bilang, jangan pernah temuin Chessy sendirian tanpa ijin dulu sama aku. Tapi kamu malah nekat. Kamu benar-benar membuat aku marah. Dasar wanita keras kepala. Dari dulu kamu nggak pernah berubah ya. Maunya menang sendiri." Gerutu Melvin meluapkan kekesalannya.


Bergegas ia keluar dari ruang kerjanya, Melvin menghampiri meja sekretarisnya.


"Git, aku mau keluar sebentar,ada keperluan mendesak. Kamu tolong urus pekerjaan saya dulu ya. Kalau ada hal penting, langsung hubungi saya." Pesan Melvin kepada sang sekretaris.


"Baik Pak, tapi nanti sore jam 3 ada meeting dengan perusahaan Trisaka, apa perlu saya cancel dulu Pak??" Tanya sekretaris Melvin yang bernama Gita.


"Nggak, nggak perlu. Nanti aku akan hadir dalam meeting itu. Begitu urusanku selesai, aku akan langsung balik ke kantor lagi. Ya sudah, aku pergi dulu!!" Melvin langsung meninggalkan meja kerja sang sekretaris, ia tampak berlari menuju tempat di mana mobilnya diparkirkan.


Mobil melaju lumayan kencang, Hati Melvin begitu mencemaskan keadaan Chessy. Sembari menyetir, Melvin menyempatkan menelepon Ibunya.


"Waalaikum salam Vin. Ada apa. Tumben telepon Ibu??"


"Ibu sekarang ada dimana?"


"Ibu lagi siap-siap mau jemput Chessy Vin. Ini lagi mau naik ke mobil Vin. Ada apa, kenapa kamu tanya gitu?"


"Bu, hari ini Ibu nggak usah jemput Chessy ya. Biar Melvin aja yang jemput. Ini Melvin lagi perjalanan menuju ke sekolah Chessy Bu."


"Owh gitu, ya sudah kalau gitu nggak apa-apa. Untung Ibu belum jalan Vin."


"Ya sudah. Melvin cuma mau ngasih tau itu saja Bu. Melvin tutup dulu ya teleponnya. Assalamu'alaikum Bu."


"Waaalaikumsalam."


Beberapa menit kemudian, Mobil Melvin sudah sampai di depan gerbang sekolah Putrinya. Dengan tergesa, ia berlari mencari keberadaan sang anak. Mobil Melvin sengaja ia parkirkan diluar gerbang, agar lebih mudah dan tidak terlalu memakan banyak waktu.


Tak lama, Melvin melihat Chessy dalam pelukan kekasihnya sekaligus Guru dari anaknya itu. Dan tak jauh dari mereka, nampak Alana tengah duduk sambil sesekali menyeka kedua matanya yang sedari tadi tak berhenti mengeluarkan air mata.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan disini Alana!!" Teriak Melvin penuh amarah, melihat kedatangan Melvin, Chessy langsung berlari memeluk Papanya.


"Papa... Hu.hu.hu!" Apa benar Pa, Tante ini Mama kandung Chessy Pa." Sambil menangis, Chessy langsung bertanya kepada Papanya tentang apa yang dikatakan Alana tadi.


"Sayang, kamu tenang dulu ya. Udah jangan menangis gini, malu tuh diliatin temen kamu. Chessy 'kan sudah besar, jangan nangis lagi ya." Melvin berusaha menenangkan sang Anak.


Ketika Chessy mulai bisa menenangkan diri, lantas Melvin melepaskan pelukan dari Chessy.


"Tin, tolong jaga Chessy sebentar ya. Mas mau ngomong dulu sama Alana. Kamu nggak keberatan 'kan Tin??" Pinta Melvin, Ia berharap Atina tidak keberatan.


"Iya Mas. Tentu saja aku nggak keberatan. Yuk, chessy, sama Bu Guru dulu. Biarkan Papa kamu bicara dulu sama Tante ini Ya." Chessy hanya mengangukkan kepala.


"Alana, ikut aku sekarang juga!!" Lantang Melvin, Alana hanya mengekor dibelakang Melvin. Ada sedikit perasaan ngeri dalam hati Alana melihat kemarahan dari mantan suaminya itu. Tapi ia bertekad akan berusaha melawan apapun yang akan Melvin lakukan kepadanya.


Sesampainya mereka di dekat mobil Melvin, amarah yang Melvin pendam ia muntahkan begitu saja dihadapan Alana.


"Kamu mau cari gara-gara sama aku, Ana. Kemaren aku sudah memperingatkan kamu bukan, agar jangan menemui chessy tanpa ijin dariku. Tapi apa!! Kamu malah nekat kesini diam-diam ketemu sama chessy. Dan yang lebih membuat aku marah, kenapa juga kamu harus ngaku sama chessy kalau kamu Mama kandungnya, kenapa hah!! Aku sudah bilang sama kamu, sabar! Tunggu aku yang ngasih penjelasan ini pada chessy. Tapi kamu dengan lancangnya ngasih tahu duluan. Apa kamu tidak lihat tadi gimana reaksi Chessy hah, apa kamu buta!! Lihat, karena kelakuan kamu, Chessy jadi seperti itu. Untung ada Atina, kalau nggak, entah jadinya apa. Kamu benar-benar memancing emosiku ya!!" Hardik Melvin dengan amarah.


"Salahku apa Mas. Aku emang Mama kandung Chessy, jadi aku berhak ngasih tau anak itu, siapa aku sebenarnya. Salah kamu sendiri Mas, aku udah ngalah ngasih kamu waktu untuk bicara pelan-pelan sama Chessy, tapi apa. Udah berminggu-minggu kamu nggak ada kabar juga. Ketika aku telepon kamu lagi, kamu hanya nyuruh aku sabar dan sabar terus. Maaf Mas, aku udah nggak bisa sabar lagi tau nggak. Terpaksa hari ini aku sengaja kesini buat ketemu langsung sama Chessy dan kasih tau semua kenyataannya kepada anak kita. Aku rasa, semua yang aku lakukan nggak salah. Justru disini yang salah itu kamu Mas, karena terlalu mengulur-ulur waktu."


"Kamu benar-benar wanita yang nggak tau diri Alana. Masih untung, aku mau berusaha buat nemuin kamu sama chessy, tapi karena ketidaksabaranmu itu, sepertinya aku harus berpikir ulang untuk mengijinkan kamu ketemu sama Chessy. Wanita egois seperti kamu nggak pantas mengaku sebagai Mama Chessy, yahh... Walaupun kenyataannya kamu emang Mama kandung Chessy sih."


"Apa maksud kamu bicara seperti itu. Kamu mau misahin aku sama anakku sendiri, Mas??"


"Apa!! aku yang misahin kamu dengan Chessy. Bukankah kamu sendiri yang membuang anak kamu ketika masih bayi. Kamu sendiri 'kan yang ninggalin anak kamu dulu, itu artinya apa coba, kamu sendiri yang memilih untuk berpisah dengan anak kamu. Terus kalau sekarang aku ngelarang kamu ketemu sama Chessy, apa masalahnya. Bukankah itu sama saja dengan apa yang sudah kamu lakukan dulu. Kenapa juga sekarang kamu protes. Kalau aku disuruh memilih, lebih baik kamu itu mati saja, daripada hidup hanya membuat chessy sedih seperti itu. Kenapa kamu harus muncul lagi di kehidupanku dan chessy, kenapa kamu nggak menghilang saja dari dunia ini. Agar hidupku dan chessy jadi tenang." Ucapan Melvin seolah pisau tajam yang menancap hati Alana. Rasa sakitnya sungguh tak terkira. Laki-laki yang dulu sangat ia cintai, mampu mengucapkan kata-kata yang begitu tajam kepadanya.


"Kenapa kamu bicara seperti itu Mas, apa kata maaf dariku belum cukup untuk membuat kamu melupakan semua kesalahan ku di masa lalu. Aku kembali karena aku ingin memperbaiki kesalahan ku dulu sama kamu Mas. Tolong jangan seperti ini. Aku ingin, kita bisa kembali bersatu seperti dulu Mas. Aku, kamu dan juga Chessy. Aku ingin keluarga kita bisa kembali jadi satu seperti dulu Mas. Aku mau menebus semua kesalahanku dulu sama kamu dan Chessy Mas." Refleks, Alana langsung memeluk Melvin.


"Alana, apa yang kamu lakukan. Lepas Alana, kamu nggak Malu diliatin orang. Ini ditempat umum tau nggak!!" Hardik Melvin berusaha melepaskan pelukan wanita itu.


"M-Mas Melvin!" Tiba-tiba Atina dan chessy sudah ada di hadapan Mereka. Sontak Melvin kaget, ia langsung melepaskan pelukan Alana secepat kilat.


"A-Atina, ka-kamu jangan salah paham sama Mas. Ini nggak seperti apa yang kamu lihat. A-aku...."


"Udah Mas. Kamu nggak perlu jelasin apa-apa sama aku. Maaf kalau aku ganggu kalian. Aku kesini karena dari tadi chessy yang maksa. Sekarang aku antar Chessy kesini. Aku harus pulang sekarang karena ibu barusan telepon meminta aku untuk segera pulang." Nampak raut muka cemburu dari wajah Atina, melihat orang yang ia cintai tengah berpelukan dengan mantan istrinya. Apa mereka tidak punya malu, sampai-sampai berpelukan seperti itu ditempat umum, bahkan disaksikan oleh beberapa anak muridnya yang kebetulan ada yang belum pulang.


"Biar Mas antar kamu pulang ya, Tin."


"Nggak usah Mas. Aku bawa motor. Kalian selesaikan saja dulu urusan kalian. Tapi aku minta satu hal. Kalau mau berpelukan jangan disini, ini sekolah, masing banyak anak-anak yang belum pulang. Aku nggak mau anak-anak melihat apa yang kalian lakukan disini. Jadi, aku harap, carilah tempat lain, jangan disini." Ucap Atina tajam, membuat Melvin merasa bersalah pada kekasihnya itu. Ia paham betul, Pasti Atina merasa Cemburu melihat dirinya tengah berpelukan dengan Alana, Ya... walaupun itu juga bukan keinginan Melvin sendiri.

__ADS_1


Tanpa berucap apapun lagi, Atina langsung pergi dari hadapan Melvin dan yang lainnya. Melvin hanya bisa menatap kepergian Atina dengan perasaan bersalah.


__ADS_2