
Setelah menurunkan Atina di seberang jalan rumahnya. Ponselku berbunyi, muncul notifikasi pesan WhatsApp. Aku menyempatkan membuka pesan wahatsapp sebentar, baru saja membaca pesan itu. Aku dikagetkan dengan suara yang sangat keras. Sontak pandangan ku arahkan ke depan dan ke sekeliling mobil tempatku berada. Deg ... Jantungku berdetak kencang ketika aku menatap wanita yang tergeletak ditepi jalan tak jauh dari mobilku. Astaghfirullah ... Atina. Iya, itu Atina, mataku tidak salah lihat. Apa yang terjadi dengannya. Rasa khawatir menguasai pikiranku, gegas kubuka pintu mobil berlari menghampiri tubuh Atina yang tergeletak. Ku goyang-goyangkan tubuhnya. Tapi nihil, ia tak merespon sedikitpun. Ya Allah jangan sampai terjadi sesuatu yang fatal padanya. Ku edarkan pandangan ke sekitar, ternyata tak jauh dari tempat ku, ada sosok laki-laki yang tengah di kerumuni warga, ternyata laki-laki pesepeda motor itulah yang sudah menabrak Atina. Aku shock dan bingung, lantas aku berinisiatif membawa tubuh atina ke rumah sakit. Ya ... Aku harus segera menyelamatkan dia. Ketika aku hendak mengangkat tubuh Atina, tiba-tiba ada seorang Ibu menghampiri. Ternyata ia tetangga Atina, ia berpesan agar aku menemani Atina dulu, karena si Ibu itu mau mengabarkan ke orang tua Atina. Tapi, karena aku tidak mau mengambil resiko, aku memutuskan langsung membawa Atina ke rumah sakit saja. Sebelum itu, aku bilang ke salah satu warga yang dari tadi berdiri disitu untuk menyampaikan kalau Atina akan saya bawa ke rumah sakit ,tak lupa aku menitipkan nomor ponselku ke warga untuk disampaikan ke orang tua Atina. Aku mengangkat tubuh atina masuk kedalam mobil. Ku pacu mobil dengan kecepatan tinggi, umpatan dari pengendara lain karena aku terus-terusan membunyikan klakson mobilku tak kuhiraukan sama sekali. Di pikiran hanya bagaimana supaya cepat sampai rumah sakit.
Tak berselang lama tibalah kami di rumah sakit sentosa.
"Sus ... suster, tolong Sus!!!" aku berteriak kencang memanggil petugas kesehatan.
Mereka muncul membawa ranjang dorong menghampiri kami.
"Ibunya kenapa Pak?" tanya salah satu petugas medis
"Tadi ditabrak motor sus, tolong segera ditangani, takut terjadi apa-apa!"
"Baik Pak, kami bawa dulu Ibunya ke IGD, ayo Pak, mari ikuti kami."
Aku berjalan mengikuti mereka ke ruang IGD, sampai di ruang IGD, aku disuruh menunggu di luar. Menunggu dengan perasaan khawatir, takut dan gelisah.
Tidak berselang lama, pintu terbuka. Muncul dokter yang tadi memeriksa atina.
"Gimana Dok kondisi Atina, apa yang terjadi, ia baik-baik saja 'kan?" tanyaku gugup karena panik
"Tenang Pak, Ibu Alhamdulillah nggak apa-apa, tidak ada luka serius. Hanya luka kecil saja Pak. Tadi sudah saya obati luka lecet di beberapa bagian tubuhnya," jawab pak dokter.
"Ya syukurlah, apa dia sudah siuman Dok?"
"Belum Pak, tunggu beberapa menit lagi mungkin Ibu akan sadar. Kalau begitu saya permisi dulu ya. Kalau ada apa-apa bisa hubungi saya lagi, Silahkan Bapak boleh masuk kalau mau menunggui istrinya didalam, saya permisi dulu...." pamit pak Dokter berlalu dari hadapan melvin yang tertegun sejenak mendengar kata-kata terakhir dokter tadi.
"Istri ... Dok, Dok. sok tau banget, kapan saya nikahi wanita itu," gumam melvin sembari geleng-geleng kepala. Melvin melangkah masuk ke ruangan, terlihat atina tengah terlelap di ranjang rumah sakit. Melvin mendekat, duduk di kursi dekat ranjang, pandangan matanya lekat menatap atina.
"Kamu kenapa sampai ketabrak motor sih tadi, apa kamu nggak tengok kiri kanan dulu sebelum nyebrang tadi, dasar ceroboh," batin melvin
Karena harus menolong atina, melvin terpaksa membatalkan meeting dengan beberapa klien nya. Sampai beberapa saat ketika melvin tengah asik bermain ponsel, tiba-tiba atina siuman.
"Dimana aku, aduuh ... Kepalaku kenapa pusing sekali," seru Atina memegang kepala dengan kedua tangan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Deg....
"Mas Melvin!" teriak atina kaget mendapati melvin ada bersamanya dalam satu ruangan.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga."
__ADS_1
"Apa yang terjadi denganku. Mas kok ada disini?Mas yang bawa saya kesini?"
"Yups betul, aku yang bawa kamu kesini. Apa kamu nggak ingat, tadi kamu ketabrak motor tak lama setelah kamu turun dari mobilku dan kejadiannya tepat di seberang rumahmu. Tadi sempat ada tetanggamu yang mencoba memanggil kedua orang tuamu. Tapi, karena aku langsung bawa kamu ke rumah sakit. Jadi, aku nggak tau apa orang tuamu sudah dikasih tahu tentang kecelakaan yang menimpa kamu atau belum" ucap Melvin.
"Orang tuaku nggak ada di rumah Mas. Tadi pagi mereka sudah ngabarin kalau mau pergi ke rumah nenekku yang sedang sakit, mungkin baru pulang besok pagi."
"Apa perlu aku hubungi mereka, ngabarin kalau kamu ada di rumah sakit?" tanya Melvin.
"Nggak usah Mas, biarin aja dulu. Aku nggak mau mereka khawatir."
"Apa kamu lapar, biar aku belikan makanan di luar, kamu mau makan apa?"
"Aku nggak lapar Mas, makasih untuk tawarannya," hening sesaat tanpa percakapan. Baik atina maupun melvin terdiam beberapa saat.
"*Ternyata kamu bisa baik dan perhatian juga. k*irain orang datar sepertimu selamanya akan cuek sama orang,ternyata aku salah menilaimu. Maaf ya,kalau aku suka kesal sama sikapmu." batin Atina
"Mas, kalau kamu mau pulang, pulang aja nggak apa-apa," seru Atina.
"Terus, kamu nanti siapa yang nemenin kalau aku pulang?"
"Nggak, aku akan tetap disini dulu. Nggak mungkin aku biarin kamu sendirian. Biar bagaimanapun aku harus bertanggung jawab, karena terakhir kamu perginya sama aku." Mendengar jawaban Melvin, hati Atina berdesir, perasaan aneh seketika menerobos masuk kedalam hatinya. Ia nampak tersenyum kecil. Tidak menyangka akan dapat perhatian dari orang yang selama ini selalu bikin kesal dirinya.
Krucuuk ... krucuuk ... terdengar bunyi dari perut Atina, sontak wajah Atina memerah, malu luar biasa.
"Aduuh ni perut nggak liat situasi banget sih, main bunyi segala. Mana ada mas melvin lagi, bikin malu aja," batin Atina memalingkan wajahnya ke segala arah, malu mendapat tatapan dari melvin. Sementara itu, Melvin senyum-senyum mendengar perut Atina minta diisi.
"Kamu lapar, kalau lapar kenapa tadi nggak jujur aja, tuh perutmu pada demo 'kan. Dasar ... ya sudah, aku keluar dulu cari makanan. Kamu mau makan apa?"
"Mmm ... a-apa aja Mas. Makasih, dan maaf kalau aku ngerepotin kamu terus," sahut Atina tidak berani menatap langsung ke arah Melvin. Ketika melvin sudah keluar dari ruangan, Atina bisa bernafas lega, ia benar-benar merasa malu atas insiden barusan. Mau ditaruh dimana ni muka kalau nanti Melvin kembali lagi kesini.
Sementara itu melvin menuju kantin rumah sakit, ia memesan beberapa makanan untuk atina dan juga dirinya, tak lupa ia juga beli camilan dan kopi. Setelah semua selesai, Melvin lantas bergegas kembali ke ruangan dimana atina di rawat. ceklek ... pintu dibuka,Atina yang tengah rebahan lantas beranjak duduk bersandar bantal, ia menatap ke arah Melvin, dilihatnya tentengan plastik yang lumayan besar. Melvin langsung duduk di dekat ranjang Atina, mengeluarkan beberapa makanan yang tadi ia beli.
"Nih,vkamu makan dulu. Aku belikan kamu bubur ayam dan camilan juga. Saya taruh di meja ya?" tangannya mengarah ke meja dekat ranjang atina, meletakkan bungkusan yang berisi camilan di atas meja.
"Kamu bisa makan sendiri atau mau aku suapi?" tanya melvin ketika melihat Atina nampak kesusahan buka bungkus makanan karena infus melekat di tangan kanan atina. Tanpa menunggu jawaban, melvin lantas mengambil makanan atina, ia membukakan bungkus makanan itu.
"Sini,biar aku suapi saja."
__ADS_1
"Eh ... ng-nggak usah Mas. Aku akan makan sendiri aja," Melvin tak menghiraukan ucapan atina, ia lantas menyodorkan sendok yg berisi makanan ke arah mulut atina, Mau tidak mau atina membuka mulutnya menerima suapan dari melvin.
Dag ... dig ... dug, jantung Atina berdebar kuat ketika berada sangat dekat dengan Melvin. Atina nampak salah tingkah mendapatkan perlakuan manis dari Melvin, sementara Melvin nampak biasa, ia terus sabar menyuapi Atina. Tak butuh waktu lama, makanan itu tandas berpindah ke dalam perut atina.
Hari semakin Sore, jam menunjukkan tepat diangka 5 Sore.
Melvin menghubungi ibunya di rumah, mengabarkan kalau ia malam ini tidak akan pulang ke rumah karena sedang menemani Atina di rumah sakit akibat kecelakaan. Sang ibu nampak shock mendengar penjelasan dari anaknya, ia lantas nitip salam sama Atina dan minta maaf tidak bisa menjenguk Sekarang. Bu Rum juga bilang akan menyiapkan baju ganti untuk Melvin, biar sopir rumah yang mengantarkan ke rumah sakit. Melvin mengakhiri obrolan dengan ibunya, berjalan mendekat ke ranjang Atina.
"Tadi ibu nitip salam sama kamu, beliau juga bilang maaf karena belum bisa menjenguk kamu disini," ucap Melvin.
"Waalaikumsalam ... Ia Mas nggak apa-apa. Kamu sebaiknya pulang dulu saja Mas, pasti kamu capek 'kan seharian nungguin aku disini. Aku beneran kok nggak apa-apa sendirian."
"Beneran, kamu nggak takut sendirian disini. Kamu tau nggak, ruangan ini nggak jauh lho dari ruang kamar mayat." Melvin mencoba menakuti atina. Ide jahil itu tiba-tiba saja terlintas di benaknya. Melvin pengen tau bagaimana reaksi atina ketika ia bilang seperti ini. Mendengar perkataan Melvin, sontak membuat Atina merinding, nampak raut ketakutan terlihat di wajahnya, mukanya terlihat cemas. Melihat reaksi atina seperti itu membuat Melvin tiba-tiba tertawa nyaring.
"Hahahahaha ... baru dengar gitu aja udah ketakutan duluan. Tenang aja, tadi aku cuma bercanda kok, serius amat nanggepinnya." Ucap melvin seketika membuat atina kesal
"Ikh ... Kebangetan banget sih Mas. Maksudnya apa coba ngelakuin itu!!" raut wajah kesal jelas terlihat di wajah Atina. Melvin nampak kegirangan karena berhasil ngerjain atina.
"Makanya jangan sok berani, baru dengar gitu aja dah ketakutan. Udah, mendingan kamu istirahat. Aku mau keluar dulu nungguin sopirku bawain baju ganti. Nanti aku kesini lagi. Tenang aja, nggak akan lama kok," suruh Melvin lantas beranjak ke luar ruangan.
Dengan wajah cemberut Atina lantas rebahan, karena perkataan melvin tadi atina merasa merinding berada sendirian di ruangan itu. Meskipun apa yang tadi melvin katakan hanya bercanda, Tapi, tetap saja membuat rasa takut tiba-tiba menghampiri Atina. Bagaimana kalau tiba-tiba ada penampakan hantu, bisa-bisa ia pingsan seketika. Mencoba memejamkan mata tapi tak bisa. Atina nampak gelisah karena sudah setengah jam, Melvin belum juga nampak, apesnya lagi ia sama sekali tidak bisa tidur karena sedikit ketakutan. Efek dari perkataan Melvin tadi yang membahas tentang kamar mayat. Ternyata, Atina termasuk seorang penakut. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan hal-hal ghaib.
Tak lama terdengar pintu ruangan dibuka, terlihat Melvin berjalan masuk. Atina bernafas lega akhirnya melvin kembali juga.
"Loh ... kok belum tidur. 'kan tadi sudah aku suruh buat istirahat. Hmm ... nungguin aku yaa?" ledek melvin membuat Atina melotot.
"Ng-nggaklah, ngapain juga nungguin kamu. Aku tuh dari tadi nggak bisa tidur. Udah tak paksain merem, tapi tetap aja nggak bisa tidur." Jawaban atina yang sedikit gugup membuat Melvin senyum-senyum sendiri.
"Ngapain senyum-senyum, emang ada yang lucu, aneh banget," sungut Atina dengan bibir mengerucut.
"Ya, nggak apa-apa dong, aku senyum. Senyum 'kan ibadah, termasuk bagian dari bersedekah,"
"Terserahlah ... iya'in aja biar cepat kelar," sahut atina pasrah.
"Ya sudah kamu coba buat tidur lagi. Nggak usah takut ada hantu. Lagian hantunya justru malah takut sama kamu, he-he," yang di ledek hanya cemberut tanpa membalas apapun ucapan Melvin.
Tak lama Atina memejamkan mata, lantas terlelap. Sementara Melvin merebahkan badannya di sofa setelah sebelumnya terlebih dahulu berganti pakaian yang tadi dibawakan oleh supir suruhan ibunya.
__ADS_1