
Sudah dua hari Aditya menjalankan tugas yang diberikan oleh Sandra. Dalam dua hari itu pula, ia sudah mendapatkan informasi mengenai mantan tunangan sandra yang bernama Putra. Hari ini tepat hari Minggu, ia berencana menemui Sandra di rumahnya.
"Loe di rumah nggak??"Isi pesan chat yang Adit kirimkan ke Sandra.
Triing ... Notifikasi pesan balasan dari Sandra
"Ya, gue di rumah aja, gimana?ada info apa mengenai Putra??"
"Oke, nanti gue langsung kesitu aja. Ada info bagus buat loe. Bentar lagi gue kesitu. Paling nggak nyampe setengah jam, gue udah nyampe." Setelah membaca pesan chat terakhir, Sandra langsung ke dapur.
"Mbak, tolong siapin jus buah sama kue atau cemilan gitu ya. Bentar lagi temenku mau main kemari. Nanti kalau sudah datang, tolong sajikan di ruang tamu. Aku mau mandi bentar."Perintahnya kepada Asisten Rumah Tangga di rumahnya.
"Baik Non. Nanti saya siapkan." Jawab sang ART sedikit menundukkan kepala.
"Yaudah, aku mau mandi dulu. Nanti sekalian bukain pintunya ketika temenku udah nyampe." Ujar Sandra lantas berlalu menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Kebetulan Papa dan Mama Sandra tengah berlibur ke luar kota. Jadi, di rumah hanya ada dirinya dan asisten rumah tangga yang tadi ia mintai tolong.
Tak berselang lama, bel berbunyi. ART Sandra berlari menuju pintu.
Krek ... kriet ...
"Hallo, mbak. Sandranya ada??"tanya Aditya ketika seorang wanita membukakan pintu.
"Mas temannya Non Sandra yang udah janjian mau kesini ya??" Art itu balik bertanya untuk memastikan.
"Iya mbak, tadi udah ngasih tau Sandra kalau mau kesini." Aditnya menjawab dengan santai.
"Owh, iya Mas. Yaudah silahkan masuk. Tadi Non Sandra bilang mau mandi bentar. Mungkin sekarang udah selesai. Mas silahkan duduk dulu, biar saya panggil'kan Non Sandra nya." Art itu mempersilakan Aditya duduk di ruang tamu. Lantas ia berlalu ke dalam selain menyiapkan apa yang tadi Sandra suruh, iaa juga berencana ke atas memanggil sang majikan.
Tok ... Tok ...tok
__ADS_1
"Non Sandra ... buka pintunya Non." Sang Art mengetuk pintu kamar perlahan.
ceklek ... Pintu terbuka,muncul Sandra dengan tubuh terbalut handuk, sementara rambutnya terlihat masih basah.
"Ada apa mbak. Aku baru selesai mandi ini," sahut Sandra.
"Itu Non, dibawah ada temen Non yang lagi nungguin di ruang tamu."
"Owh, ia mbak. Nanti bentar lagi aku kesana. Mbak siapkan aja apa yang tadi aku suruh ya."
"Baik Non." Setelah Art itu pergi. Sandra bersiap-siap untuk turun ke bawah menemui Aditya.
...****************...
"Gimana Dit, ada info penting apa nih tentang Putra. Gue udah nggak sabar dengerinnya," tanya Sandra ketika ia sudah berada di ruang tamu bersama Aditya.
"Nih ... Loe liat dulu foto-foto di handphone gue." Perintah Aditya sembari menyerahkan ponsel miliknya kepada Sandra.
"Apa rumah yang Putra datangi milik wanita ini Dit?" tanya Sandra sembari mengarahkan ponsel yang ia pegang ke hadapan Aditya.
"Iya, loe bener. Dia namanya Atina. Dan loe tau nggak, ternyata wanita ini seorang guru SD juga seperti mantan tunangan loe itu." sahut Adit.
"Berarti Atina dan Putra mengajar di sekolah yang sama??" imbuh Sandra membuat Adit menganggukkan kepala beberapa kali.
Sandra sangat senang dengan info yang diberikan temannya itu. Ia jadi lebih mudah untuk membalas'kan rasa sakit yang ia terima atas pembatalan pertunangan yang dilakukan Putra kepadanya.
"Terus, rencana loe apa selanjutnya?" tanya Adit, tangannya meraih potongan buah yang tersaji di atas meja.
"Nanti gue pikirin dulu kalau untuk masalah itu. Yang penting, gue udah tau siapa wanita yang ikut membuat hidupku menderita. Nanti kalau gue butuh bantuan loe, gue akan hubungi loe lagi."
"Oke, nggak masalah. Kapanpun loe butuh, gue siap bantuin."Cetus Putra tersenyum.
__ADS_1
"Nih, sisa bayaran buat loe. Makasih, karena info yang loe kasih sangat berguna buat gue. Jangan kapok kalau gue bakalan sering repot'in loe lagi!!" Ucap Sandra memberikan amplop coklat berisi sejumlah uang. Adit menerima amplop itu dengan senyum lebar. Ia mengintip sesaat amplop itu, lalu melipat dan memasukkan ke kantong jaketnya.
"Oke, thank's San!! Kalau gitu, gue cabut dulu ya. Masih ada urusan lain, Loe tinggal hubungi gue aja kapanpun loe butuh." Ucap Adit.
"Di makan dulu Dit, baru boleh pulang. ART gue dah nyiapin semua ini spesial buat loe. Nanti kalau nggak loe habiskan, bisa ngambek dia." Canda Sandra, membuat Adit urung berdiri dari duduknya.
"Kalau gue bungkus aja ni makanan boleh nggak San? lumayan 'kan buat bekal di rumah, he-he." Pinta Adit sambil garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
"Boleh ... bawa aja semuanya. Asal jangan sama tempatnya. Cukup makanannya saja!" Kelakar Sandra, membuat Adit hanya tersenyum.
Akhirnya Sandra memanggil ART nya untuk membungkus'kan semua makanan itu.
Aditya pulang dengan menenteng kantong kresek berisi berbagai macam camilan dan buah. Ia berjalan ke mobil sambil bersiul-siul. Tak lama mobil itu pun melaju menjauh.
"Non, ada telepon dari Mama Non Sandra." ART Sandra yang bernama Mbak Kakyah, mendadak menghampiri Sandra yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
"Owh, iya mbak." Lantas Sadra berlalu ke tempat telepon yang berada di ruang tengah.
"Halo, Ma. Ada apa??" Tanya Sandra, tangannya memegang telepon.
"Halo, San. Aduh, kamu darimana saja sih. Mama telepon ke ponsel kamu nggak diangkat-angkat juga."Terdengar suara Mama Sandra dari sambungan telepon.
"Maaf, Ma. Ponsel Sandra ada di kamar. Nggak denger kalau ada telepon masuk Ma."
"Owh, ya sudah. Mama cuma mau ngabarin kalau Mama dan Papa akan menginap selama tiga hari disini. Kamu di rumah jangan keluyuran tidak jelas. Kalau tidak ada yang penting, mending di rumah saja. Ingat pesan Mama ini." Ucap Mama Sandra.
"Ya ampun Ma, kirain mau ngomongin apaan. Lagian, Sandra ini bukan anak kecil lagi lho Ma, ngapain sih Mama segitunya membatasi ruang gerak Sandra. Yang terpenting 'kan Sandra nggak macem-macem di luar rumah." Protes Sandra.
"Udah... nurut aja sama apa yang Mama bilang. Ini juga semua demi kebaikan kamu sendiri. Yaudah ya San, Mama tutup dulu. Inget pesan Mama barusan."Klik... Sambungan telepon terputus.
Sandra hanya bisa menghembuskan napas kasar.Jadi anak tunggal, menurutnya tidaklah menyenangkan. Selain kesepian, kadang ketika sedang menghadapi masalah. Semua harus dihadapi sendiri. Tidak ada tempat berbagi ketika berada dalam rumah. Mau berbagi kesedihan kepada orang tua juga tidak mungkin se-leluasa ketika berbagi sama saudara kandung.
__ADS_1