
Ketiga orang geng pembantu telah siap di teras penginapan pagi-pagi untuk pergi ke pulau Bidadari di Kepulauan Seribu. Menunggu mobil sedan merah menyala yang akan mengirim mereka ke sana.
"Mbak, aku ke pos satpam dulu ya. Ada sesuatu yang ingin aku pesan ke dia." Ossa berbicara pada Nola dan Murni yang sibuk menyisir rambut untuk ke sekian kalinya.
"Oh, kamu mau nitip paket-paketmu ke pak satpam kah, Oss? Ide yang bagus itu, kenapa nggak mikir dari semalam yaa,,?" ucap Murni sambil manggut-manggut pada Ossa. Seolah tebakannya sudah sangat tepat sekali.
"Iya, mbak. Aku juga nyesel kenapa nggak kepikiran ini dari semalam." Ossa membenarkan tebakan Murni yang memang sangat tepat.
Gadis cantik dengan celana jins semata kaki itu berjalan cepat menuju ke arah pos jaga. Ingin membicarakan masalah paket miliknya yang akan diantar oleh kurir hari ini. Ossa akan menitipkan sejumlah uang kepada security untuk membayar paket Cash On Delivery atau sistem paket belanja CODnya.
Mobil sedan merah menyala telah berhenti menunggu saat Ossa selesai berpesan pada pak satpam dan berbalik. Bergegas menghampiri mobil, lalu duduk di belakang paling tepi. Ada Nola dan Murni di sebelahnya. Kini merasa lapang dan gembira untuk menikmati liburan mereka ke pulau Bidadari yang indah
🕸🕸🕸
Dari Dermaga Marina Ancol, mereka diangkut menggunakan speedboat kurang lebih selama lima belas menit menuju pulau Bidadari. Dengan seorang guide yang ternyata telah dibookingkan oleh Zoan untuk mendampingi mereka berwisata seharian. Guide itu telah menyambut mereka sejak dari dermaga Marina Ancol.
Guide mengajak mereka berkeliling pulau Bidadari yang dimulai dari sisi pantai Jodoh, dan menuju ke dalamnya.
Menikmati berbagai petilasan sejarah peninggalan pemerintahan kolonial Belanda. Salah satunya puing benteng pengawasan serta bekas rumah sakit penderita kusta dan lepra pada masa lampau. Sebab rumah sakit terisolasi inilah, pulau Bidadari sempat mendapat sebutan sebagai pulau Sakit.
Lelah mengelilingi dalam pulau yang penuh dengan petilasan dan jejak sejarah. Guide mengarahkan mereka menghampiri resort pulau Bidadari guna mengisi perut sejenak. Kemudian singgah di Mushola untuk menunaikan shalat dzuhur. Serta sempat membeli beberapa souvenir dan cindera mata serta baju pantai.
Guide kembali membawa mereka menuju pinggir pulau. Di pantai jodoh lagilah mereka berada. Menikmati hamparan pasir pantai yang putih dan bersih. Dengan ombak kecil yang berlarian menghampiri bibir pantai.
__ADS_1
Ossa, Nola dan Murni begitu gembira bermain pasir dan membangun istana. Namun, ombak yang tiba-tiba datang, telah menghancurkan istana megah mereka. Meski rasanya kecewa, mereka tetap saja tertawa-tawa bergembira.
Guide menghampiri, mengingatkan jika hari telah sore dan mendekati waktu senja. Boss Zoan telah menelepon dan meminta guide untuk menghantar kembali mereka ke dermaga Marina Ancol. Rupanya, ombak yang datang menyapu istana, adalah pertanda jika hari akan senja. Air di pantai perlahan akan naik dan pasang. Saat itulah peringatan bagi pengunjung di pantai untuk menjauhi kawasan pantai Jodoh di pulau Bidadari.
Mobil sedan merah menyala telah menunggu mereka di kawasan parkir di Dermaga Marina Ancol. Mereka melaju pulang setelah sopir Zoan dan guide sukses melakukan serah terima dan tranksaksi. Dan sang sopir membawa geng itu pulang meluncur dengan rasa yang puas dan gembira.
🕸🕸
Pak Security yang mantan seorang purnawirawan tentara negara itu telah menunggu Ossa yang berjalan ke arahnya. Bersiap memberikan suatu kabar berita pada Ossa.
"Neng Ossa. Beberapa paketan kamu sudah bapak terima sepanjang hari ini. Tapi, boss Zoan telah mengambil dan membawanya. Kamu diminta menemui boss Zoan di dalam. Bapak mohon maaf ya, neng,," ucap pak Satpam dengan cukup sopan dan lembut. Mengulur uang kembalian, namun Ossa menolak. Mengingatkan Ossa pada ayahnya yang selalu terbayang di pelupuk mata.
"Iya, pak. Nggak apa apa. Terimakasih, ya pak. Marii,," ucap Ossa tak kalah sopan dan lembut. Berandai sedang berbicara kepada sang ayah yang tentu sedang ada di rumah.
Tok,,!! Tok!! Tok,,!!
Ossa menunggu, tidak ada respon sahutan, maka diulangi sekali lagi.
Tok,,!! Tok!! Tok,,!!
Ossa menunggu lagi. Sedikit berdebar. Meski sudah bertahun ditinggali, tapi sangat sunyi dan sendiri,,, Ossa merasa tipis nyali. Keinginaan untuk berbalik pergi dan menuju kamarnya di belakang diurungkan.
Ceklerk,,!
__ADS_1
Boss Zoan nampak membuka pintu dari dalam di kamar pribadinya. Bukan pintu ruang kerja yang telah Ossa ketuk-ketuk ulang kali.
"Kalian sudah pulang?" sapa Zoan dengan wajah yang tanpa senyum seperti biasanya.
"Sudah. Maaf, saya hanya ingin mengambil paketan dari security di depan. Bapak itu kata, boss Zoan mengambilnya?" tanya Ossa dengan sesopan mungkin. Ingatan tentang sifat Zoan yang playboy serta rumah sedang lengang, membuat Ossa cukup berjaga diri dan waspada. Zoan diam memandang saja. Tidak mengangguk atau juga menggelengkan kepalanya. Ossa tidak mendapat apapun jawaban.
"Boss Zoan?" ulang Ossa menegurnya.
"Masuklah sebentar, aku ingin bicara dengan kamu," ucap Zoan dengan lirih. Ossa terkejut, berusaha berfikir sejenak.
"Untuk apa?" Ossa terlihat jelas sedang gugup.
"Hanya untuk berbicara. Kamu pikir untuk apa, Ossa?" tanya Zoan dengan nada terkesan agak dingin.
"Aku,,,,, apakah ada kekasih anda di dalam?" tanya Ossa berusaha untuk tenang.
"Siapa? Luna? Dia sudah diantar sopirku kembali ke Jakarta. Kenapa?" tanya Zoan beruntun. Merasa tidak sabar pada Ossa yang terlihat mengulur waktu.
"Apa yang ingin dibicarakan? Bagaimana kalau di luar saja, boss Zoan?" tawar Ossa dengan nada selalu sopan.
"Tidak. Kecuali jika kamu tidak butuh untuk melihat paketan belanja online kamu," ucap tegas boss Zoan.
Ossa cukup terkejut. Tidak menyangka jika dirinya bisa ada di situasi sulit seperti ini. Terlebih,, atas kesulitan yang diciptakan serta dikehendaki sendiri oleh Zoan padanya.
__ADS_1