
Arzaki telah direbahkan total oleh Zoan. Tidak lagi bersandar bantal di punggung. Pria tampan itu telah menguasai diri dengan tenang. Memandang Zoan yang gusar dan nampak kian pucat.
Arzaki menyesal dengan sedihnya yang kalap barusan. Merasa menjadi lelaki egois terhadap adiknya. Sang adik yang sangat perhatian dan rela berkorban segalanya untuknya.
"Zoan, maafkan aku," ucap Arzaki lirih dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Zoan telah menarik kursi dan duduk dekat di samping ranjang. Mulutnya mengatup rapat dan matanya nampak cekung. Zoan sangatlah kurang tidur. Sebagian waktunya dihabiskan untuk duduk berjaga dan berdiri.
"Bukan salah Oqtissa. Dia tidak akan berfikir sejauh itu. Minta maaflah, Zoan," ucap Arzaki menyambung bicaranya.
Zoan merenung lelah wajah Arzaki yang sedang sama pucat dengan dirinya. Bahkan bibir Arzaki nampak kering dan ada parit belah pecahnya. Rasanya sangat sedih. Tidak ada yang lebih tepat untuk dia lakukan selain menuruti kata-kata Arzaki. Agar kakak lelakinya bersemangat.
Dan tidak munafik, Zoan pun merasa bersalah pada Oqtissa yang nampak sedih dan takut saat terbirit meninggalkan ruang kamar Arzaki.
🕸
Rasanya sakit sekali. Lelaki itu telah membentak dirinya untuk pergi dari kamar Arzaki dengan keras dan,,, mungkin juga kasar.
Lelaki yang selama ini sangat baik, memperlakukannya dengan hangat, bahkan Ossa merasa percaya dan nyaman. Telah juga menjelma sebagai dewa penolong, yang Ossa telah juga menaruh harapan akan perasaan lebih dari lelaki itu. Namun, lelaki itu baru saja menyentak kasar padanya. Tanpa Ossa tahu apa salahnya. Rasanya sakit, terhina dan kecewa..
Mungkin lain rasa dan respon jika Zoan selalu memperlakukannya tidak baik sebelum ini. Atau Zoan dengan sikap arrogantnya seperti dulu, Ossa akan terbiasa dan terima. Tapi, selama ini Zoan selalu baik. Bahkan terlalu baik. Perlakuan Zoan barusan, sangat membuatnya kaget.
Bukan salah Ossa yang lalu jadi sensitif dan cengeng. Yang bahkan membuatnya menangis,, rasanya seperti pekerja tidak berguna lagi bagi Zoan. Gadis itu semakin menangis terisak dan ditahan.
Ceklerk,,!!
Suara pintu kamar yang mengejutkan, membuat kepala Ossa terangkat. Memandang lurus ke pintu dengan rasa yang kembali resah berdebar. Dan nafasnya pun jadi tertahan di dada. Rasa was-was dan takut. Zoan sedang berjalan masuk ke dalam kamar.
Tangis Ossa seketika berhenti sebab rasa yang cemas. Khawatir jika Zoan tidak hanya akan menghardiknya saja, bisa jadi lelaki yang sedang marah itu akan kasar fisik padanya.
"Ossa,," panggil Zoan lirih. Ossa memandang dan menyimak diam padanya.
"Maaf Ossa. Kamu sakit hati? Kamu takut?" tanya Zoan lirih dan pelan di tempat berdirinya. Lelaki itu sedang di titik yang lelah. Wajahnya sangat pucat, matanya begitu cekung.
"Apa salah saya,,?" tanya Ossa serak dan sendat.
Mata itu kembali menangis. Becampur baur rasa di dadanya. Sebagian rasa sakit dan kecewanya, telah berubah jadi iba dan khawatir pada Zoan begitu saja. Lelaki itu terlihat sedang sakit. Sakit Zoan mungkin datang lagi sebab lelah yang sangat.
"Sebenarnya kamu tidak salah, Ossa. Aku hanya kurang bijak. Aku sempat merasa kecewa yang sangat padamu."Zoan berbicara dengan ekspresi yang lelah.
__ADS_1
"Kecewa padaku? Kenapa?" tanya Ossa, masih heran belum paham.
"Aku sudah berusaha keras agar mas Arzaki tidak memegang benda ini, Ossa. Tapi dengan mudah dia mendapatnya darimu. Aku khilaf. Itu adalah salahku, tidak memberi tahu kamu." Zoan menjelaskan sambil mengulur ponsel milik Ossa yang baru dipinjam Arzaki. Ossa mulai paham penyebab Zoan jadi marah padanya.
"Pak Arzaki melihat foto-foto keluarga di media sosial,,?" tanya Ossa hati-hati. Juga merasa bersalah pada Zoan.
"Iya, Ossa. Mas Zaki membuka akun milik kakak ipar. Dan seperti tadilah dampaknya. Tentu saja aku terkejut," jelas Zoan perlahan. Bahkan terdengar cukup lembut.
"Di foto-foto sebelum kejadian, menumpuk komentar dari teman-teman yang mengucapkan bela sungkawa. Itu pasti sakit bagi kakakku. Dan aku tidak kuat melihat reaksi mas Zaki. Maafkan aku, Ossa. Sebenarnya aku sangat lemah," Zoan kembali menyambung bicara dengan raut menyesal pada Ossa. Suaranya kian lirih dan dalam.
Hati yang sudah tergaris untuk mudah terbolak balik, berlaku juga pada Ossa. Zoan yang kembali bersikap lembut padanya, seperti meluluh leburkan rasa sakit dan kecewa jiwanya. Yang ada, hanya rasa iba belaka pada Zoan. Rasa terhina dan kecewa, entah melayang terbang ke mana.
"Sama-sama, boss Zoan. Saya juga minta maaf padamu.." terang Ossa tersendat. Merasakan haru yang sangat.
"Oqtisaa,,," sebut Zoan sangat lirih dan serak. Ossa kian mendongak menatap.
"Iya, boss Zoan,," sambut Ossa bertanya.
"Tubuhku rasanya lemah dan tidak nyaman. Rasanya aku akan demam lagi," ucap Zoan. Suara khas lelakinya terdengar mulai gemetar. Ossa percaya jika Zoan sangat benar dan tidak akan curang bicara padanya.
Pandangan Zoan sayu meredup tak bermaya. Menatap Ossa seakan ada harap dan maksud dari hatinya. Ossa telah paham apa yang dimau lelaki itu saat sakit.
"Ossa, kemarilah. Peluk aku sebentar saja. Aku tidak ingin sakit yang berlarut. Osssaaa,,," bujuk Zoan mengiba. Ossa begitu lega, merasa tawarannya tersambut.
Ossa tidak ingin lagi menyahut. Memilih bergerak mendekat, dengan cepat merapati Zoan dan melingkarkan tangan ke punggang lebarnya.
"Terimakasih, Ossa,," bisik Zoan di kepalanya.
Zoan menyambut hangat, membalas pelukan Ossa dengan lengan kekarnya yang terasa amat panas. Hawa panas yang bahkan dirasa menembus hingga pinggang dan punggungnya. Mereka saling memeluk cukup lama. Hingga Ossa merasa cukup pegal.
"Boss Zoan, aku cepak berdiri. Bagaimana jika merebah saja?" tanya Ossa dengan lembut. Memposisikan diri sebagai perawat belaka. Zoan mengangguk, melepas pelukannya sejenak. Melangkah menuju pembaringan.
Tapi berhenti, tak jadi menghampiri ranjang di pojok kamar. Berbalik dan memandang Ossa dengan tatap masih sayu.
"Ossa, lebih baik tidak usah. Aku tidak ingin ketiduran. Temani makan saja. Apa makanan yang kuinginkan ada?" tanya Zoan dengan cepat. Ingat pada makanan yang dipesan, membuatnya bersemangat kembali.
"Ada, boss Zoan. Mari, biar kutemani," sambut Ossa. Wajahnya telah kembali tersenyum dengan cerah. Gadis itu benar-benar sudah rela akan sikap Zoan yang sempat marah padanya.
__ADS_1
"Boss Zoan. Apa pak Arzaki sudah tidur?" tanya Ossa sambil membuka kotak makan yang dibelinya di kantin. Zoan nampak memandang suram ke arah kamar Arzaki.
"Dokter menitip obat penenang padaku. Terpaksa tadi kuminumkan. Mungking obat itu sudah bekerja maksimal ditubuhnya sekarang," jelas Zoan tanpa senyum. Mulutnya terasa kaku untuk mencoba melebar.
Mereka pun hening terdiam. Menjadi begitu sibuk mengunyah makanan dan nampak meresapi. Meski sedang demam tinggi, Zoan merasa tongseng kambing yang dibelikan Ossa itu sangatlah enak sekali.
"Setelah kondisi pak Arzaki lebih baik lagi, apakah di izinkan pulang?" tanya Ossa di sela makannya. Zoan mengangkat wajah pada Ossa.
"Kamu bosan? Kamu ingin pulang?" tanya Zoan justru bertanya . Lelaki itu masih menatap Ossa yang nampak kebingungan menjawab.
"Saya,,, saya ya tidak masalah. Kan tetap saja, kerjaku pada orang yang sama," jawab Ossa menghempas rasa bingungnya. Tentu saja berada di rumah sakit terasa membosankan. Mungkin saja Zoan sedang merasakan hal yang sama dengannya.
"Kamupun juga lelah,," gumam Zoan tiba-tiba. Menghentikan makan dan menyandar di kursi.
"Eh, tidak. Lelahku tidak sama denganmu, boss Zoan. Bahkan sangat jauh jika dibandingkan. Ibaratnya aku tidak punya beban. Hanya fokus bekerja padamu, pada pak Arzaki. Aku tidak merasa lelah." Ossa buru-buru menjelaskan. Tidak ingin menambahkan masalah pada Zoan.
"Nanti akan kutanya pada dokter yang datang, kapan bisa pulang," jawab Zoan sambil maju ke depan. Zoan kembali lanjut makan.
"Jika diizinkan pulang, pak Arzaki pulang ke mana?" tanya Ossa ingin tahu.
Zoan terdiam. Tangannya berhenti menyendok. Memandang Ossa dengan ekspresi yang bimbang.
"Ke rumah penginapannya di Kepulauan Seribu," jawab Zoan kemudian. Namun dengan wajah yang nampak mengeras. Zoan pun sebenarnya tidak yakin. Ossa pun terdiam, memahami kegalauan yag sedang dirasakan sang tuan.
"Boss Zoan, ini sari belutnya. Kata apoteker, sehari di minum dua kali, pagi dan malam. Tapi hanya tiga hari di awal minum. Setelahnya, cukup satu kali sehari saja."
Ossa menjelaskan. Mengulur sebuah botol kecil pada Zoan. Juga ada beberapa suplemen yang diberi oleh pihak rumah sakit setelah Zoan melakukan transfusi darah hari itu di meja.
"Jika kuminum sehari tiga kali, kenapa?" tanya Zoan. Ossa memandang bingung, namun sedikit tersenyum kemudian.
"Mungkin boss Zoan akan kelebihan darah. Kemudian hipertensi, lalu sukanya marah-marah,," jelas Ossa tersenyum.
Ossa berkata dengan maksud bercanda. Agak tegang dengan reaksi lelaki itu.
Zoan memandang datar, tapi kemudian tersenyum lebar tiba-tiba. Ossa merasa sangat lega, lelaki muram itu tidak tersinggung, tapi akhirnya justru tersenyum. Dunia pun seakan juga sedang ikut tersenyum.
"Tidak, Ossa. Aku tidak perlu menunggu hipertensi dulu untuk marah. Aku sudah pintar marah sejak bayi,," timpal Zoan yang masih tersenyum. Ossa menyimak lelaki itu dengan takjub. Benar, bayi baru lahir menangis, mungkin merasa marah sebab kenyamanannya terusik.
__ADS_1
Kali ini Ossalah yang ganti menahan tawa sebab ucapan Zoan yang bercanda. Mereka tersenyum lebar dengan saling memandang. Zoan merasa terhibur sesaat dengan sahut canda yang diumpankan Ossa padanya. Sejenak lupa pada batu beban yang mengganjal di kepala dan di dada.
🕸🕸🕸🕸