
Ossa menuju ke kamar Arzaki meski tidak ada bunyi bell yang terdengar. Sudah menjadi rutinitas saat siang, dirinya pergi istirahat setelah meletak semua keperluan lunch Arzaki saat siang. Dan akan mengemasi piring dan gelas kosong itu sekembalinya dari istirahat.
"Ada apa, Ossa?" tanya Arzaki saat Ossa berdiri tepat di samping ranjang. Tidak langsung mengemas piring kosong seperti biasa tiap hari.
"Maaf, pak. Ingin menyampaikan pesan dari mbak Nola. Nanti petang, dia ingin menemui bapak untuk mengatakan hal penting. Ingin membincangkan masalahnya dengan anda dan juga boss Zoan." Ossa menerangkan sesuai pesan Nola siang tadi.
"Tentang apa, Ossa?" tanya Arzaki sambil mengerutkan dahinya.
"Mbak Nola kata amat penting. Maaf, pak, biar mbak Nola saja yang menjelaskan sore nanti. Agar lebih terang dan bukan sekedar prasangka," ucap Ossa menegaskan.
Arzaki nampak mengangguk dengan memandang pada Ossa. Setuju untuk menahan rasa ingin tahunya hingga sore nanti. Itu adalah perkara mudah yang berurusan dengan sabar. Arzaki telah kenyang dengan hal yang berbau kesabaran.
"Apa Zoan sudah kamu beritahu, Ossa?" tanya Arzaki memandang Ossa.
"Belum, pak. Sehabis ini," jawab Ossa. Bergeser ke meja untuk mengangkat piring dan gelas yang kosong.
"Beritahulah Zoan. Sepertinya dia sedang sakit. Dia tidak mengaku sakit apa. Apa kamu tahu?" tanya Arzaki menyelidik pada Ossa.
Yang ditanya diam saja. Menumpuki piring dengan gelas dan sendok. Mengambil mangkok kosong yang ada sisa lauk. Bersiap untuk pergi keluar membawanya.
"Ossa, kamu tidak dengar pertanyaanku?" tanya Arzaki mengulang.
Ossa meletak tumpukan pecah belah itu di meja kembali. Lalu sedikit mendekat di ranjang Arzaki.
"Pak Arzaki, maaf, bukan saya mengabaikan anda. Tapi bagaimana jika nanti sore, bapak coba tanya pada pak Zoan saja?" Ossa tidak bisa berbohong.
"Jadi, kamu sudah tahu?" tanya Arzaki dengan mata memicing.
"Maaf, pak. Posisi saya di sini hanya seperti batu pembatas, diam di tengah. Jujur saya serba salah. Saya harap anda memahami," ucap Ossa dengan raut segan pada Arzaki.
Arzaki terus memandangnya. Picingan mata Arzaki berubah menjadi pandangan yang tajam. Penuh maksud pada Ossa agar jujur tentang Zoan padanya.
"Katakan saja sekarang padaku, Ossa. Meski lumpuh, tapi aku adalah orang yang paling wajib menanggung jika ada apa-apa pada adikku," tegas Arzaki meski dengan nada kecewanya. Ossa merasa serba salah. Tapi luluh juga akhirnya.
🕸
Keluar dari kamar Arzaki, Murni kembali menyongsong. Menyampaikan bahwa Zoan memberi pesan untuk Ossa lagi, meminta diantar makan siang ke dalam kamar.
Kini Ossa telah di depan pintu dengan debar kencang di dada. Setiap akan menjumpai Zoan di dalam kamar, Ossa sudah memikirkan hal mesum yang bisa jadi lelaki itu akan mengulangi kembali. Ossa merasa jika Zoan sudah mencemari isi kepala serta rasa raganya secara perlahan. Lelaki itu sudah menebar racun jiwa raga padanya.
Zoan telah berdiri di kamar dan memegang daun pintu. Mengenakan sarung dengan kemeja panjang tanpa peci. Nampak sangat tampan dan gagah sekali. Lelaki itu meski menyimpan sengat beracun, ibadah shalatnya bagus sekali.
"Boss Zoan, ini makan siangmu. Bukan bubur, tapi nasi tim wortel dan ikan," terang Ossa sambil mengulurkan baki dari tangannya pada Zoan.
"Bawakan masuk," sahut Zoan santai namun tegas.
Memperlebar sedikit ruang pintu. Ingin agar Ossa cepat masuk untuk ditutupnya kembali.
Ossa membawa masuk juga dengan ragu. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya pada Zoan.
"Ossa, semalam pukul berapa kamu pergi?" tanya Zoan tiba-tiba. Ossa sangat terkejut, Zoan sudah berada dekat di belakangnya.
__ADS_1
"Pukul satu lebih," sahut Ossa. Melangkahkan kaki mundur ke belakang. Zoan mengangguk pada jawabannya.
"Boss Zoan. Nanti habis ashar, pak Arzaki memintamu untuk ke kamarnya. Ada hal penting yang ingin dibincangkan," ucap Ossa cepat-cepat. Zoan juga melangkah maju mengikutinya. Dada Ossa terus berdebar kian kencang.
"Kamu lupa janjimu semalam? Panggil aku mas, Ossa," ucap Zoan lembut meminta.
"Iyyaa, saya lupa. Sakarang makanlah dulu. Apa sudah minum obat?" tanya Ossa dengan gugup dan kaku. Berusaha untuk tidak mengucap sebutan apapun pada Zoan.
"Tentu saja belum. Aku menunggu makan siang yang kamu antar," ucap Zoan. Menunjuk makanan yang diletak Ossa di meja.
"Sekarang, silahkan makan," ucap Ossa sambil bergeser lagi dan maju. Ingin keluar kamar untuk membantu Murni di dapur. Tapi Zoan juga bergeser menghadang. Mereka hampir saja saling bentur.
"Jangan seperti ini. Aku buru-buru, aku bisa menabrak lukamu," ucap Ossa dengan jengah.
"Kenapa buru-buru? Apa aku sudah tidak pantas lagi kalian layani,,?" ucap Zoan sendu.
Entah sungguh-sungguh atau sekedar asal berkata. Tapi lelaki itu kemudian melangkah pergi, meninggalkan Ossa dan duduk di kursi dengan pelan.
Zoan mengambil piring, mengisinya dengan nasi tim wortel serta ikan pepes. Ada juga telur bebek di kukus, tapi Zoan tidak mengambil.
Ossa merasa trenyuh melihatnya. Zoan pun juga sebatang kara di dunia. Sama halnya dengan Arzaki, kakaknya. Bahkan Arzaki masih memiliki seorang anak yang tersisa. Dia sempat merasakan kebahagiaan berkeluarga. Meski semua telah raib darinya tiba-tiba. Tapi tidak dengan Zoan, lelaki itu hanya pura-pura bahagia dengan banyak haremnya, hakikatnya dia sedang merana sendirian.
"Boss Zoan, apa ingin kutemani makan?" tanya Ossa dengan rasa ibanya. Zoan tidak menjawab. Hanya memandang dengan tatapan tajam sepintas. Lalu berpaling lagi dan makan.
"Aku sangat suka telur bebek, rasanya gurih sekali. Mas Zoan, apa tidak ingin? Aku kupasin kulitnya mau tidak?" tanya Ossa dengan lembut. Kembali bertanya dengan sebutan yang seperti Zoan minta. Barangkali lelaki itu akan tergoda menanggapinya.
"Duduklah sini. Bukakan dua saja untukku," ucap Zoan tanpa menolehkan kepalanya.
Ossa duduk di sofa seberang Zoan. Segera diambilnya dua butir telur, dikupas dengan cepat dan diletak di atas mangkuk nasi.
"Sudah. Makanlah," ucap Ossa tersenyum. Zoan memandang dengan menaikkan sebelah alis hitam tebalnya sambil terus mengunyah.
"Makanlah, Ossa. Kamu kan suka,," ucap Zoan tersenyum. Ossa menggeleng kepala dengan cepat.
"Tidak, aku akan jerawatan dan bahkan juga kadang muncul bisul setelah makan telur," sahut Ossa mengelak. Nampak keberatan di wajahnya.
"Kamu sudah berani bohong padaku? Kamu bilang suka makan telur?" tanya Zoan menjebak. Tapi wajah tampan itu tersenyum.
Zoan membelah dua telur dan menyisihkan yang kuning. Mengambil putih telur saja untuk diletakkan di piringnya.
"Makanlah yang kuning itu, Ossa. Kamu akan lebih cantik jika muncul bisul. Aku ambil yang putih saja, ini bagus untuk lukaku." Zoan menerangkan sambil menyendok lagi isi piring. Memandang Ossa yang masih enggan dan ragu.
"Tidak apa-apa,, tidak akan bisulan jika kamu cukup tidur, tidak begadang dan cukup makan sayur serta buah." Zoan meyakinkan dengan pelan.
"Memang iya,," sahut Ossa tersenyum. Apa yang dibilang Zoan memang benar. Ossa segera menemani Zoan dengan makan kuning telur. Mereka saling bisu sejenak saat makan.
"Ossa, habis makan, aku akan menemui dokter. Memeriksakan lukaku, juga ingin mencari seorang terapis untuk mas Zaki. Apa kamu mau menemani?" tanya Zoan tiba-tiba.
"Tidak. Aku tidak bisa ikut. Pak Arzaki bisa memerlukankun kapanpun. Kasihan jika aku tidak ada," ucap Ossa menolak dengan cepat.
Zoan memandang sekilas dengan tatapan kecewa. Tapi juga paham dengan kebijakan Ossa menolak ajakannya.
__ADS_1
"Mas Zoan, sebenarnya,, pak Arzaki sudah tahu dengan lukamu. Dia bertanya padaku, dan aku tidak tega membohonginya. Maaf,,, apa aku salah? Mas Zoan, kamu marah?" tanya Ossa dengan wajah khawatir. Risau jika Zoan akan marah dan bisa jadi membentaknya.
Zoan memang nampak terkejut. Lelaki itu meletak sendoknya di piring yang kosong.
"Kenapa kamu bilang padanya, Ossa? Dia suamimu?" tanya Zoan dengan pelan. Zoan meletak piringnya di meja. Wajahnya tak berpaling dari Ossa.
"Bukan sebab itu. Tapi, pak Arzaki bilang jika ada apa-apa denganmu, dia yang akan menanggung, dia harus tahu," terang Ossa pada Zoan yang terus memandangnya. Zoan tidak menanggapi lagi. Bibir dan mulutnya membungkam.
"Sekali lagi, maaf. Aku akan keluar." Ossa berkata sambil mengemas meja dan segala perkakas di baki. Ossa berdiri dan akan dibawanya baki kembali ke dapur.
"Ossa,," panggil Zoan lirih di belakangnya. Ossa tidak jadi membuka pintu.
"Ada apa?" tanya Ossa tanpa berbalik memandang Zoan di belakang.
"Peluk,,, satu menit,," ucap Zoan berbisik. Ossa tahu jika lelaki itu sudah di belakang punggungnya. Merasa kembali resah berdebar.
"Aku keberatan. Aku tidak mau,," sahut Ossa menolak. Segera diraihnya gagang pintu, ingin segera keluar dari kamar.
"Sebentar,," ucap Zoan bersama gerak tangan yang melingkar cepat di atas dadanya. Tidak erat, juga tidak merapat. Namun Zoan meletak wajah di pundak Ossa yang ramping. Lelaki itu menjaga diri agar perut terlukanya tidak sampai tersentuh punggung Ossa.
Ossa berdiri tegak kaku dengan tangan mencengkeram erat pegangan nampan. Merasa geli dan tegang saat Zoan menyentuhkan hidung mancungnya di leher.
"Sudah,, stop, boss Zoan.Kita ini selingkuh, aku takut,," rengek Ossa dengan was-was. Berusaha melepaskan diri dengan pelan. Tidak ingin luka Zoan di perut kembali berdarah. Ossa tidak sanggup membayangkan. Tapi lelaki itu selalu nekat dan memaksa.
Zoan telah melepas pelukan dengan cepat. Memandang leher indah itu dengan raut kecewa.
"Kamu merasa sudah punya suami? Merasa sudah menikah? Kamu merasa ini selingkuh?" tanya Zoan bertubi.
"Keluarlah, Ossa,," ucap Zoan lagi sambil membukakan pintu kamar.
Ossa merasa diusir, rasanya sedih sekali. Memang berkata ingin pergi dan keluar. Tapi mendapat sambutan dari Zoan seperti itu, justru kecewa yang dirasanya. Ah, kecil sekali hati ini...
🕸🕸
Zoan yang baru kembali dari berjumpa dokter, langsung menuju ke dalam kamar Arzaki saat sore. Sudah ada Ossa dan juga Nola di sana. Arzaki nampak bersih dan sudah bertukar pakaian. Sang kakak sudah dibersihkan oleh istri barunya.
Dan Nola, terlihat sedang menyeka matanya. Wanita itu menangis. Zoan tidak paham kenapa Nola juga ada di dalam kamar Arzaki.
Zoan meminta penjelasan ulang dari Ossa atau juga Nola tentang pembicaraan mereka yang ternyata sudah hampir selesai. Hingga membuat Nola jadi menangis dan nampak begitu bersedih. Yang akhirnya, Nola sendirilah yang dengan tegar menerangkan.
"Benarkah, Nola,,??!" ucap Zoan menyambut berseru. Rasanya sangat terkejut.
"Benar, pak boss. Saya tidak menipu. Saya sangat ingat di mana tempat tinggal rahasianya. Pasti dia sedang bersembunyi di sana," ucap Nola. Meyakinkan Zoan dengan suara bergetar dan mata yang sembab. Zoan menatapnya serasa tak percaya.
"Jadi Haru Masako adalah ayah calon bayimu?" tanya Zoan dengan wajah menyelidik tak habis pikir. Tapi wanita berkasus itu telah mengangguk membenarkan.
"Iya, pak Zoan. Lelaki itulah yang sudah menghamili saya, hik..." ucap Nola.
Wanita cantik itu embali menangis untuk kesekian kali setelah selesai menjelaskan. Merasa lega luar biasa meski dengan hati yang sangat tersakiti.
🕸🕸🕸🕸
__ADS_1