
Tidur bersama gadis yang sedang diinginkan dengan sangat rapat bahkan juga memeluknya, membuat susah payah meredam hasrat. Zoan berusaha mengendalikan diri dengan hebat. Ini adalah godaan berat yang cukup lama tidak lagi dibuat.
Sebelumnya, tidak ada cerita menahan nafsu bagi Zoan. Para kekasih setianya, selalu ada kapan saja. Siaga menempeli Zoan ke mana saja perginya.
Pada Ossa, tentu saja Zoan tidak berdaya memaksa. Untuk bergerak saja, rasanya sangat ngilu. Apalagi mengerah tenaga untuk memenuhi kehendaknya pada Ossa, Zoan tidak mampu. Juga, Ossa pasti akan ketakutan padanya. Dan Zoan pun merasa jika luka di perut, adalah penghempas alami untuk keinginannya yang liar.
"Ossa,," panggil Zoan. Yakin jika pemilik tangan yang halus itu belum tidur. Zoan begitu mudah merasakan ketegangannya. Merasa jika dirinya pun belum mengantuk.
"Iya,,boss Zoan. Kenapa?" tanya Ossa kemudian.
Hembus nafas Ossa yang hangat, menembusi baju di lengan Zoan. Darah lelakinya kembali berdesir.
"Belum tidur?" tanya Zoan. Menoleh Ossa yang tidak terlau nampak wajahnya.
"Belum, pak Zoan," sahut Ossa dengan cepat.
"Jangan panggil aku dengan sebutan pak, Ossa," ucap Zoan meminta. Ossa mendongak memandangnya.
"Boss Zoan,,?" tanya Ossa tersenyum. Gadis itu sudah terlihat agak santai.
"Juga jangan panggil boss, Ossa," ralat Zoan keberatan. Gadis yang terus memeluk itu terdiam berpikir.
"Zoan,,, Zoan saja,,??" tanya Ossa kemudian.
"Itu tidak sopan, Ossa,," tegur Zoan tanpa senyum.
"Maaf, lalu siapa? Paman, tuan atau Om saja?" tanya Ossa bercanda. Suaranya sangat jelas di malam-malam yang lengang.
"Bukan di antara itu semua. Mas, panggil padaku mas," sahut Zoan dengan tegas.
__ADS_1
"Berapa umurmu, Ossa?" tanya Zoan.
"Dua puluh tiga tahun," jawab Ossa terdengar ragu.
"Kita hanya terpaut enam tahun. Panggil mas. Juga jangan menyebut kata anda dan saya. Sebut kamu dan aku," terang Zoan menegaskan.
"Tidak mau. Mbak Nola dan mbak Murni memanggilmu pak boss. Saya tidak mau memanggilmu mas. Segan," sahut Ossa menerangkan.
Zoan memandang Ossa yang masih mendongak padanya. Merasa jika gadis pesisir itu terkadang bersikap manis, dan terkadang juga keras kepala.
"Kamu tidak mau semua? Bagaimana jika kucium sedikit saja? Mau?" tanya Zoan. Tiba-tiba memajukan wajahnya. Ossa sigap melarikan wajah dan tidak lagi mendongak.
Meski hanya kepala saja yang terlihat. Zoan tetap saja mendekat. Rambut dan kepala Ossa sajalah yang sedang diciumnya berulang kali. Aromanya segar dan wangi, merasa jika itu juga sangatlah menyenangkan. Terlebih saat tangan Ossa mencengkeram kuat kemeja dan dada, lebih asyik lagi rasanya.
"Sudah, hentikan. Aku ingin tidur di luar," tegur Ossa. Namun tidak menarik pelukannya. Dadanya berdebar kencang. Seperti mimpi dan sangat tidak disangka. Bahwa Ossa sedang memeluk, bahkan diciumi kepalanya oleh boss penginapan malam ini.
"Jangan pergi. Hanya seperti ini. Sampai kita tertidur," ucap Zoan di kepala Ossa. Tangan yang sebelah telah menahan agar kepala itu tidak bergerak menjauh. Zoan kembali menenggelamkan hidung dan bibirnya sangat lama di sana.
"Panggil aku mas, Ossa. Dan jangan sebut saya dan anda. Tapi aku dan kamu," ucap Zoan menegaskan kembali. Ossa pun mengangguk juga kemudian. Ruang kamar terasa sunyi tanpa percakapan sepatah kata pun lagi.
Kian mengawang saja rasanya, kini tangan Zoan telah mengusapi kepala. Hal yang yang begitu lama tidak lagi dirasanya. Orang tuanya sangat sibuk dengan tambak dan akan lelah setelahnya.
Ossa merasa semakin tegang dan kaku dalam rebah. Hingga tangan itu terdiam di kepalanya. Zoan telah tidur. Mungkin obat yang diminum sedang bereaksi dan bekerja. Ossa perlahan menjauhkan diri meski rasanya sangat enggan.
🕸🕸
Pagi di saat pergantian shift, pegawai shift malam dan shift pagi akan bersembang. Zoan telah meminta pada Rama untuk mengumpulkan mereka semua di kamar Arzaki. Zoan meminta Arzaki memimpin briefing untuk memanjat doa bersama.
Inti dari doa bersama adalah, Arzaki meminta kepada seluruh pegawai hotel untuk berdoa serentak. Mendoakan agar penginapan semakin maju dan langgeng. Serta, berharap agar Haru Masako segera dapat ditemukan dan ditangkap. Agar nama baik penginapan segera dapat dibersihkan dan tidak tercoreng berterusan.
__ADS_1
Dan yang paling utama, Arzaki meminta dengan kerendahan hati kepada seluruh pegawai penginapan, untuk tulus mendoakan dirinya. Agar segera pulih dan bisa berjalan kembali seperti sedia kala. Juga doa untuk keluarganya yang telah berpulang, agar mendapat ketenangan di alam sana.
Doa khusyuk bersamaan itu berjalan lancar dan singkat. Semua pegawai melakukannya dengan tulus dan khidmat. Merasa sudah nyaman bekerja mengabdi di penginapan Arzaki. Juga merasa berduka dengan musibah di keluarga Arzaki.
Sang asisten, Rama, sangat baik dalam memimpin sebagai asisten sekaligus manager penginapan. Dan semua sikap baik Rama juga tak lepas dari kebijakan Arzaki atau juga Zoan yang bagus.
🕸🕸
Ossa dan Murni diminta Nola untuk menunggunya di kamar belakang saat jam istirahat siang hari. Mereka telah berkumpul dan berbincang hampir tiga puluh menit lamanya. Sesuai dengan waktu istirahat siang mereka bertiga.
Meski Ossa masih juga tidak punya tugas khusus, tapi cukup tahu diri dengan membantu tugas Nola dan Murni. Ossa juga ikut mengambil istirahat pagi, siang, sore dengan total istirahat satu jam dalam sehari.
"Baik sekali keputusanmu, mbak. Aku sangat setuju. Benar nggak, mak??" tanya Ossa dengan pandangan pada Murni. Nola baru saja mengungkap hal yang mencengangkan pada mereka berdua siang ini.
"Iya, betul sekali, Os," ucap Murni mengangguk pada Ossa. Lalu wanita itu memandang Nola dengan trenyuh.
"Sudah, Nol. Jangan nangis lagi. Kudukung putusan kamu. Aku sema sekali nggak nyangka. Ternyata seperti itu. Semoga hidupmu akan bahagia kelak. Relakanlah, berkorban untuk kebaikan lebih baik. Daripada kamu mengejar bahagiamu sendiri yang belum tentu akan benar," bujuk Murni. Nola masih sesenggukan menangis.
"Iya, mbak. Nanti sore pukul lima, mbak Nola kuantar menemui pak Arzaki di kamarnya. Katakan semua padanya. Pasti dia sangat terkejut sekaligus senang sekali," ucap Ossa menyemangati.
Nola mengangguk dan mengusap mata cetarnya dengan tisu pelan-pelan. Tidak ingin matanya berkurang sempurna indahnya. Nola akan memasang bulu mata palsu saat bertugas di lobi. Ibu hamil itu ingin selalu tampil totalitas, mempesona dan cantik. Penampilan penyambut tamu yang rapi dan bagus, akan memberi kegembiraan tersendiri bagi para pengunjung di penginapan Arzaki.
"Panggil pak Zoan juga, Ossa. Kasihan, dia bahkan kena tembak. Haru Masako memang gagah dan tampan, pantas jika pak Zoan dikira Haru..." Nola hampir menangis lagi. Kembali diusap matanya dengan tisu perlahan. Tidak melihat saat Ossa juga mengangguk padanya.
Tiba-tiba bunyi alarm di kamar Murni telah berbunyi. Pertanda pertemuan geng pembantu di base camp harus segera diakhiri. Mereka akan bertugas kembali ke tempatnya masing-masing.
Nola pun segera mengakhiri tangisannya. Keputusan besarnya sudah bulat. Bahkan sudah bocor kepada kedua teman dekat. Dan itu membuat Nola tidak mungkin menarik lagi ucapannya untuk berkhianat. Kebaikan penginapan bisa jadi sedang ada di tangannya sebagai penyelamat.
🕸🕸🕸
__ADS_1
Terimakasih Votemu ya, kak..
Yang belum, Vote doong...