
Kabar ditangkapnya seorang residivis narkoba, Haru Masako telah menyebar ke seluruh pelosok negeri melalui siaran digital televisi dan berbagai media sosial. Wajah tampannya acapkali menghiasi layar kaca dengan berita pengiring yang cukup menyesakkan.
Malam itu, setelah Nola membuat kesaksian penting terbaru, polisi langsung memburu Haru Masako di tempat yang seperti Nola sebutkan. Haru tinggal di sebuah rumah kecil yang tersempil di antara rumah-rumah lainnya di pulau Kelapa Dua. Pulau indah yang terpencil di kepulauan seribu, sebagai tempat penangkaran penyu-penyu.
Penangkapan berlangsung lancar dan bahkan tidak ada adegan tembak-menembak. Saat terciduk, Haru Masako tengah memandikan seekor kura-kura miliknya di belakang rumah dengan santai.
Nola memang mengatakan pada polisi jika Haru memiliki hewan peliharaan seekor kura-kura yang dirawat sedari kecil. Pengedar itu sering memandikan sambil bercengkerama dengan pet kesayangannya itu saat malam.
🕸🕸
Beberapa minggu kemudian..
Surat izin operasi penginapan telah berhasil dimiliki. Kondisi operasional penginapan telah berjalan damai dan kondusif. Dengan tamu yang semakin banyak dan mengalir. Bahkan, Arzaki meminta Rama untuk membuka beberapa kamar lagi untuk berjaga-jaga saat urgent.
Arzaki juga baru saja menggelar acara amal syukur sekaligus mengirim doa. Panjat doa bersama untuk almarhum istri dan kedua anak yang telah berangkat mendahuluinya. Dan acara kirim doa ini mampu membuat Arzaki merasa lebih tenang untuk merelakan kepergian mereka ke surga. Mengikhlaskan orang-orang terkasih untuk lebih dulu menghadap sang pencipta
Pemilik penginapan pun telah melewati masa sulitnya saat mendapat serangkaian terapi dari perawat lelaki barunya yang sangat sabar, telaten dan berkompeten. Namun Ossa masih diinginkan untuk menemani melakukan berbagai kegiatan. Diantaranya saat menerima tamu, terapi berjalan dan juga saat makan.
__ADS_1
Ossa tidak lagi memiliki tugas membersihkan tubuh Arzaki. Lelaki itu telah mampu pergi ke kamar mandi satu minggu belakangan sendiri. Ossa begitu lega dan sangat bersyukur dengan kemajuan yang dicapai oleh Arzaki.
Seperti biasa, Zoan telah pergi dan menghilang tiba-tiba. Ossa melihat terakhir, saat berangkat menuju ke kantor polisi bersama Nola dan Rama petang itu. Zoan langsung kembali ke Semarang, sedang Rama dan Nola pulang ke penginapan dengan taksi.
Rasanya sangat kecewa dan sedih sekali lagi. Lelaki itu tidak mengatakan apapun sebelum pergi. Tiba-tiba tidak pernah terlihat dan tidak muncul di penginapan kembali. Ossa hanya meredam rasa hampa jiwanya dalam hati. Mungkin bagi Zoan, dirinya memang perempuan yang tidak memiliki arti. Apalagi statusnya saat ini sudah sebagai istri Arzaki.
Entah kapan Arzaki akan membebaskan dirinya. Ossa tidak berani untuk meminta sendiri, risau jika akan menyinggung dan mengecewakan. Arzaki nampak sedang sangat bersemangat mengejar kesembuhan totalitas dirinya. Gadis sedih itu hanya terus berharap dan menunggu kabar talak dari sang suami setiap harinya.
🕸
Murni nampak sibuk di dapur membuat kopi sehabis waktu ashar. Ossa baru saja istirahat sore lima belas menit yang lalu. Kini melangkah ke dalam dapur, membantu Murni menyiapkan makan malam untuk Arzaki.
"Banyak sekali porsi masak sore ini, mak?" tanya Ossa pada Murni. Gadis tapi istri orang itu tengah hilir mudik menata makanan dari dapur ke meja.
"Iya, pak Arzaki bilang, ada tamu mendadak sore ini. Sekaligus akan ikut makan malam di sini," terang Murni. Tangannya sambil sibuk mengairi kopi dari teko yang airnya baru saja terdengar mendidih.
"Banyak ya mak, tamunya?" tanya Ossa. Sedang mengelap sondok dan piring dengan tisu khusus untuk mengelapi barang pecah belah.
__ADS_1
"Banyak, Ossa. Pak Arzaki kata para boss-boss. Tadi dia nyariin kamu, tapi kamunya masih sholat," terang Murni sambil mengaduk banyak gelas berisi racik kopi di baki.
"Dia bilang apa, mak?" tanya Ossa dengan piring di tangannya.
"Kamu disuruh nganter kopi ini jika sudah siap. Mereka di teras depan," jawab Murni. Adukan sendoknya tengah mencapai di cangkir yang terakhir.
"Tamu pak Arzaki, tuwir-tuwir apa mudi-mudi, mak?" tanya Ossa tersenyum.
Merasa aman sebab sempat bermake up kilat setelah salat ashar. Merasa diri sedang layak untuk tampil di depan panggung.
"Ya pastinya campur tho, Os. Ada yang tuwa dan ada yang muda. Itu cangkirnya ada tujuh. Mereka ada lima orang tamu. Soale yang dua itu pak Arzaki sama pak Rama." Murni menjelaskan dengan mengulur baki kopi pada Ossa.
"Mak, aku nggak amburadul kan?" tanya Ossa pada Murni sebelum berlalu.
"Enak tenan kamu ini dilihat wess.. Ayo sana dianter ke teras depan kopinya,," sahut Murni membujuk. Menyemangati Ossa untuk segera mengantar.
Gadis dengan rambut yang mulai panjang dan kini sudah tidak berponi, berjalan pelan membawa baki hati-hati. Menuju teras rumah dengan hati yang tiba-tiba berdebar. Detak jantung di dada kali ini, lebih kencang dari biasa saat menemani Arzaki menerima tamunya. Merasa penasaran dengan para tamu Arzaki sore ini.
__ADS_1
Suara khas para lelaki di teras begitu jelas saat Ossa hampir melewati pintu utama. Jantungnya serasa ingin meloncat saja rasanya. Suara lelaki yang sedang berbicara itu sangat khas milik siapa. Tapi rasanya tidak mungkin. Untuk apa boss pengganti harus disebut juga sebagai tamu. Ah, tidak mungkin..
🕸🕸