
Kedua mobil milik boss pengganti di penginapan itu beriringan masuk ke garasi di rumah penginapan. Ossa nampak turun tergesa, menerobos hujan, dan berjalan cepat menuju teras rumah. Tidak lagi menunggu atau menoleh ke arah mobil Zoan yang empunya tidak juga nampak keluar dari mobil warna merahnya.
"Eh, Ossa,, ini sudah hampir Isya,,! Kenapa lambat sekali?" tanya Murni sambil menyongsong Ossa yang berjalan tergesa melewati dapur.
"Mobil mogok, mak..!" Ossa berseru sambil berlalu dengan cepat. Gadis itu menuju kamar tercinta di belakang untuk membersihkan dirinya.
Murni memandang Ossa yang nampak kusut dengan baju dan rambut yang agak basah. Murni menduga jika Ossa baru saja kehujanan. Hujan cukup deras di luar. Sedang dari garasi menuju teras rumah, tidak ada atap yang melindungi dari hujan.
🕸
Zoan dan Ossa hampir bersamaan tiba di ruang makan. Mungkin mereka sama-sama berniat untuk menuju ke dalam kamar Arzaki.
Namun, langkah keduanya tertahan sejenak sebab panggilan Murni yang setengah memaksa. Murni telah menyiapkan dua cangkir teh jahe dan madu hangat kesukaan pak boss Zoan. Ossa pun ikut mendapat bagian.
"Boss Zoan, apa sudah bertemu pak Arzaki?" tanya Ossa pada Zoan yang duduk di depannya.
"Aku baru membersihkan diriku. Setelah ini akan kutemui mas Zaki di kamarnya," terang Zoan. Lelaki itu nampak kian cerah dan tampan. Sepertinya Zoan pun juga sempat kehujanan. Rambut tebalnya nampak basah.
"Marni..! Tolong buatkan bubur nasi untukku,,!" seru Zoan saat Murni melewati meja makan.
"Loh, boss Zoan juga jadi suka makan bubur? Itu sudah ada, pak Arzaki juga selalu makan bubur,," terang Murni dengan raut gembiranya.
Ossa memandang Zoan dengan rasa semakin ingin tahu. Kenapa lelaki itu meminta bubur? Bukankah makan bubur nasi cenderung dan identik pada orang yang terganggu kesehatannya, terutama di bagian saluran cerna..? Sakitkah, Zoan?
"Marni, mas Arzaki juga makan bubur? Selalu?" tanya Zoan pada Murni. Matanya juga menyorot tajam pada Ossa. Gadis itu buru-buru menunduk menyeruput teh jahe madu di cangkirnya. Murni pun tergesa berlalu, pura-pura tidak tahu.
♩♩♩♩♩
Bunyi musik dari sebuah bell yang terpasang di ruang makan, cukup menyita perhatian Zoan. Dipandangnya Ossa dengan penuh tanda tanya.
"Bell darimana ini, Ossa?" tanya Zoan pada Ossa. Sambil meletak cangkir kosongnya di meja.
"Ini,,, ini bell dari kamar pak Arzaki,," jawab Ossa dengan ragu. Zoan pasti akan langsung merasa heran dan curiga.
"Mas Zaki menggunakan bell?" tanya Zoan dengan ekspresi sangat heran. Ossa mengangguk padanya.
"Apa maksud bell ini?" tanya Zoan lagi.
__ADS_1
"Pak Arzaki memanggil saya," sahut Ossa lirih. Gadis itu perlahan berdiri. Berniat akan memenuhi panggilan Arzaki.
Tapi Zoan telah berdiri dengan cepat. Wajahnya nampak tegang dan sedikit meringis. Zoan seperti sedang kesakitan.
"Boss Zoan, kamu kenapa?" tanya Ossa dengan cemas.
Zoan tidak menjawab. Tapi kemudian berjalan perlahan menuju kamar Arzaki. Merasa sangat heran dan tidak paham, kenapa Arzaki memanggil Ossa menggunakan bell..
Ossa tidak mengikuti Zoan masuk ke dalam kamar Arzaki. Namun pergi ke kamar mandi di dapur. Mengambil peralatan mandi seka Arzaki yang selalu dipakai dan dicuci.
"Ossa, pak Zoan mana?" tanya Murni pada Ossa. Nampak membawa mangkuk berisi bubur yang masih berkebul.
"Pas ada bell tadi, masuk ke kamar pak Arzaki,," terang Ossa. Lalu duduk di kursi dapur. Merasa ragu untuk masuk ke dalam kamar. Tapi Arzaki juga waktunya pembersihan. Bahkan, sudah sangat terlambat.
"Walah, pak Zoan pasti kaget jika tahu kondisi pak Arzaki yang lumpuh, Oss. Apa sebaiknya kamu menyusul masuk?" tanya Murni menyarankan. Wanitu itu meletak bubur di meja dapur dan lalu ditutup dengan tudung saji.
"Tentu saja dia akan kaget, mak. Itulah, aku berat masuk ke dalam. Nggak sanggup melihat adegan sedih mereka. Pasti mereka sedang mega mendung sekarang," keluh Ossa dengan sebak.
"Kasihan sekali mereka berdua. Sudah sedih-sedih seperti ini, masih juga ada tambahan masalah dari razia polisi kemarin. Ngga tuntas-tuntas lagi,," ucap Murni mengeluh. Merasa sangat tidak bersemangat.
"Iya weslah, Ossa. Itu cobaan buat mereka, orang kaya. Cobaan kita ya kayak gini ini. Capek,,, pontang panting,, dan dikejar-kejar waktu." Murni berkata sambil menuju wastafel.
"Iya, mak. Aamiin. Semoga kita nggak akan dikasih cobaan seperti keluarga Arzaki,," timpal Ossa dengan menghembus kuat nafasnya. Merasa jika dirinya juga terseret pada musibah di keluarga Arzaki. Ataukah dirinya pun sudah menjadi keluarga Arzaki. Ah,, Ossa merasa tidak paham dengan semua ini..
♩♩♩♩♩
Bunyi bell membuyarkan lamunannya. Ossa segera bangkit berdiri. Merasa jika benar-benar sudah tiba gilirannya untuk ikut berlakon di antara mereka.
Segera disambarnya baskom mandi dan peralatan antiseptik lainnya. Ossa berjalan cepat menuju kamar Arzaki. Pergantian popok itu sudah mundur hampir tiga jam lamanya. Ossa biasa membersihkan setelah ashar saat sore.
Ossa mendapati Zoan sedang menyandar dinding di sebelah ranjang Arzaki. Mata lelaki itu nampak berair dengan hidung memerah. Sepertinya Zoan baru saja menangis. Rasanya tentu shock melihat kondisi sang kakak. Tubuh Arzaki yang disangkanya sudah pulih dan membaik, justru sedang terpuruk dalam keadaan lumpuh kakinya.
"Pak, maaf terlambat. Tadi mobilnya mogok lama sekali. Bersyukur pak Zoan lewat dan membantu," terang Ossa sambil menyeret kursi untuk meletak baskomnya.
"Iya, Ossa. Zoan memang pakar otomotif." Arzaki berkata sambil mendongak Zoan yang berdiri di sampingnya.
"Permisi, ya pak. Saya akan membersihkan badan anda," ucap Ossa dengan suara terdengar kikuk dan gugup.
__ADS_1
"Iya, Ossa. Aku sangat gerah. Risih,," ucap Arzaki sesungguhnya.
Ossa merasa kian gugup dan salah tingkah. Rasanya serba salah. Antara tugas yang harus cepat selesai, dengan segan adanya Zoan yang sedang mengawasi. Ossa begitu malu dan sedih.
"Ossa,,,!! Apa yang akan kamu lakukan,,??!" seru Zoan menghardik tiba-tiba. Lelaki itu berdiri tegak dan bergeser mendekat.
Ossa terkejut dan hampir meloncat jatuh jantungnya. Selimut Arzaki yang sedang disingkap, terlepas cepat dari pegangannya.
Namun keterkejutannya sebentar saja, rasa sedih dan malu, telah berubah menjadi kesal dan kecewa. Dipandangnya Zoan dengan tatap amarah.
"Saya sedang merawat pak Arzaki. Ini sudah menjadi tugasku setiap hari, dua kali dalam satu hari. Kenapa?!" jelas Ossa dengan pandangan berkabut. Sebisa mungkin ditahan tangisnya.
"Pak Arzaki hanya ingin anda, atau saya yang merawatnya. Tapi, di mana anda selama ini? Dihubungi saja tidak bisa, kenapa dengan ponselmu,,??" tanya Ossa menggebu.
Zoan terkedu,, menatap wajah cantik memerah itu lekat-lekat. Ossa begitu kecewakah? Jadi gadis itu mengungkit terlambat datangnya sebab sang kakak terkena musibah? Bukan sebab mengharap bertemu, dan bukan sebab rindu dirinya,,?? Ah..
"Maafkan aku, Ossa. Sini, biar aku yang membersihkan kakak lelakiku. Kamu keluarlah dulu, Ossa. Bagaimanpun, kamu seorang perempuan."
Zoan ingin dirinya saja yang membersihkan Arzaki, berharap Ossa menepi dari kamar sebentar. Merasa sangat bersalah dan kasihan pada gadis polos itu. Tidak habis pikir, bagaimana Arzaki justru menolak perawat laki-laki yang pernah ditawarkannya dulu..
"Zoan, tidak apa-apa. Biar Ossa saja yang mengurusiku sementara. Kamu nampak pucat dan lelah. Istirahatlah saja, Zoan," ucap Arzaki menyela tiba-tiba. Zoan pun segera menolehnya terheran.
"Mas, kasihan jika Ossa harus merawatmu sedetail ini. Dia belum pernah menikah. Dia tidak berpengalaman. Yang kemarin-kemarin,, okelah, sudah terlanjur. Tapi sekarang sudah ada aku. Tidak etis rasanya, mas," ucap Zoan pelan namun bernada tegas pada Arzaki.
Arzaki nampak menarik nafas dan menghembusnya dengan panjang.
"Ossa tidak salah merawatku, Zoan. Aku sudah sah menikahinya. Hanya untuk merawat selama aku sakit saja. Maaf, jika sampai detik ini kamu tidak tahu," ucap Arzaki dengan suara yang berat. Seolah terasa susah mengatakannya.
"Apa, mas,,?! Kalian menikah,,?!" tanya Zoan terkejut. Bibirnya terkatup, tak mampu lagi berkata-kata. Tak ada yang pantas dia salahkan...
Ossa menunduk, gadis itu sedang meremas kuat handuk kecil di tangannya. Bingung sendiri harus begaimana.
"Ossa, aku sudah sangat lapar,," tegur Arzaki pada Ossa. Gadis itu tersadar, bukan hanya soal membersihkan, tapi Arzaki juga sangat terlambat makan. Dan lelaki itu juga harus segera meminum obat rutin secepatnya.
Ossa mencoba abai pada apapun. Mulai menyambung lanjut tugasnya. Hanya merasa sangat kikuk dan kaku. Zoan terus mengawasi pergerakan tangannya. Rasa malu menyerang hebat saat Ossa mulai melepasi perekat diapers yang membalut aset vital Arzaki.
🕸🕸
__ADS_1