Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
28. Sama-sama Pergi


__ADS_3

Sehabis subuh, pada salah satu kamar tamu di rumah penginapan Azril, di kota Semarang..


Sebab semalam pulang lebih larut daripada kepulangan biasanya di pertemuan biru, Ossa langsung tertidur dengan mata sembab yang basah. Jadi, baru pagi ini mengemasi barangnya yang tidak seberapa. Tapi, dengan oleh-oleh untuk keluarga di rumahlah yang banyak. Semalam rasanya tidak kuat dan Ossa langsung tumbang tak berdaya.


Tadi malam, Zoan tidak langsung meluncurkan mobilnya kembali ke penginapan. Namun, membawa Ossa mendatangi sebuah toserba pusat oleh-oleh dan cindera mata di kota akbar Semarang.


Zoan memilihkan dan membelikan oleh-oleh sangat banyak dari sana. Sebagai kenangan terakhir pada Ossa sebelum benar-benar pulang kampung dan tidak pernah kembali untuk saling bertemu.


Ossa sama sekali tidak bersemangat membeli belah. Sehingga, Zoanlah yang memilihkan demikian banyak oleh-oleh yang akan dibawa Ossa besok pagi. Zoan menganggap jika Ossa hanya segan jika berbelanja dengannya. Apalagi mendapat belanja gratis darinya.


Tok..Tok..Tok...Tok..Tok...


Lamunan Ossa pecah sebab bunyi ketukan beruntun di pintu kamarnya. Bergegas dihampiri pintu dengan yakin bahwa Zoanlah yang sedang berdiri di luar kamarnya. Ossa berfikir jika taksi bisa jadi sudah menunggunya di lobi.


Ossa merasa salah sangka sempat berfikir jika Zoan sedang berbaju koko dan berpeci sehabis subuh sebagaimana di penginapan. Zoan akan terlihat tampan dan cerah.


Namun, ternyata tidak. Zoan telah sangat rapi berjas dan berdasi resmi sangat gagah dan tampan. Berdiri memandang Ossa tanpa senyum sedikit pun. Ekspresi datar, kaku, bahkan juga tegang.


"Sudah siap?" tanya Zoan tanpa ekspresi.


"Maaf, belum. Saya lambat bangun. Dan sedang berkemas. Apa taksi sudah datang?" tanya Ossa nampak panik.


"Sudah. Berkemas saja dengan tenang. Jangan sampai ada yang terlupa. Aku yang akan membayar taksi itu seberapa lama pun," ucap Zoan. Menahan pintu yang baru dilepas Ossa setelah sempat mengangguk padanya.


Zoan mengikuti Ossa masuk ke dalam kamar. Mengikuti setiap gerak Ossa saat berkemas dengan kedua bola matanya.


"Kamu sudah mandi, Ossa?" tanya Zoan yang berdiri tepat di belakang Ossa.


"Sudah, boss Zoan. Bangun tidur saat subuh tadi," jelas Ossa dengan terus berkemas.


Ossa telah selesai berkemas dan berbalik. Rambutnya berantakan tergerai dan tidak diikat. Namun tidak mengurangi pesona alami wajahnya.


"Saya sudah siap, boss. Maaf, membuatmu menunggu." ucap Ossa tersenyum. Zoan mendapati mata itu kian lebih sembab dari semalam.


"Ossa, ayahmu baik-baik saja?" tanya Zoan menyelidik. Ossa cepat mengangguk.


"Ossa, gaji dan bonusmu sudah kutransfer sendiri ke rekeningmu." Sahut Zoan. Tangannya menyambar bungkusan besar dari tangan Ossa yang nampak keberatan.

__ADS_1


"Tapi semalam anda sudah memberiku," ucap Ossa segan. Namun membiarkan Zoan membawakan barangnya yang berat.


"Berikan untuk orang tuamu. Kuharap sakit ayahmu cepat sembuh. Dan kamu bekerjalah lagi denganku," ucap Zoan kembali mengungkit. Namun, Ossa tidak ingin membahasnya kembali.


"Terimakasih sekali, boss Zoan." Ossa merasa kian segan. Zoan telah berjalan di depannya menuju lobi. Lelaki itu tidak menyahut ucapan Ossa.


Ternyata, taksi yang menyandar di latar lobi bukanlah satu unit saja. Melainkan dua unit taksi yang nampak terpajang gagah di sana. Dengan sopir masing-masing yang keduanya nampak sedang sama-sama merokok. Dan mereka pun buru-buru memutus isap rokoknya saat paham jika penumpang yang ditunggu telah datang.


"Pak, lanjut saja merokoknya. Kami akan berbicara sebentar,,!!" seru Zoan pada kedua kang taksi yang nampak mengangguk kemudian.


Zoan dan Ossa berdiri di teras lobi yang masih lengang pagi itu. Mereka berdiri agak dekat dan saling berhadapan.


"Boss Zoan, apakah jadi ke Surabaya? Sepagi ini?" tanya Ossa sedikit mendongak pada Zoan yang terus menatapnya.


"Iya, Ossa. Aku akan naik pesawat saja. Terlalu lama jika dengan taksi. Sebetulnya rencanaku adalah membawamu," keluh Zoan dengan suara yang dalam. Mungkin hawa pagi ini terasa sangat dingin baginya.


"Apa akan menginap? Berapa hari?" tanya Ossa dengan terus mendongak.


"Rencanaku juga menginap. Tapi jika kamu ikut. Ternyata kamu memberi kejutan padaku, Ossa. Jadi, aku akan terbang pulang begitu urusanku selesai." Zoan mengatakan jawaban jujurnya pada Ossa dengan kepala menunduk.


"Boss Zoan, siapa harem yang menemanimu kali ini?" tanya Ossa tiba-tiba. Zoan menaikkan alis dan menghela nafas memandangnya.


"Apa para haremmu sibuk semua?" tanya Ossa kembali. Zoan menatap Ossa dengan picingan matanya.


"Aku sudah tidak ingin memakai harem lagi. Membawa harem selainmu, membuatku tidak selamat. Bisa jadi aku akan kembali seperti dulu." Zoan berbicara dengan lirih. Tidak suka jika dua akang taksi itu ikut mendengar percakapannya dengam Ossa.


"Seperti dulu?" ulang Ossa bertanya. Zoan pun tersenyum tiba-tiba. Membuatnya terlihat lebih tampan berlipat-lipat.


"Iya, Ossa. Seperti dulu. Gemar sekali bercinta," ucap Zoan sangat vulgar. Mungkin, hawa pagi yang dingin membuat kepalanya sedikit mendapat gangguan.


Meski terkejut dan malu sendiri, tapi Ossa berusaha mengabaikan. Justru merasa sedih, mengingat setelah ini, Zoan tidak akan pernah lagi dilihatnya.


"Bagaimana jika di sana nanti, boss Zoan dikeroyok oleh harem-harem komersil itu?" tanya Ossa terdengar sedihnya.


"Entahlah, Ossa," jawab Zoan nampak tidak bersemangat kembali.


"Kenapa pertemuan bisnismu selalu ada kemesuman? Kenapa tidak ditempat terbuka saja?" cecar Ossa dengan pertanyaan terpendam yang ditahannya selama ini.

__ADS_1


"Mereka hampir semuanya sudah menikah. Entah apa yang mereka pikirkan. Apa mereka bosan dengan istri di rumah,,, aku pun tidak paham. Aku sebagai yang paling muda, hanya akur dan mengimbangi. Tapi akhirnya juga meniru keburukan itu," jawab Zoan mengeluh lirih dan seperti bergumam.


"Boss Zoan. Kuharap kamu tidak akan tergoda dengan harem-harem komersil di sana," pungkas Ossa sungguh-sungguh dengan terus mendongakkan wajahnya.


Zoan mengangguk sedikit tersenyum.


"Kamu akan bekerja lagi denganku?" tanya Zoan kembali mengungkit hal itu. Dan justru membuat wajah cantik Ossa kembali mendung mendadak.


"Maaf, boss Zoan. Saya tidak bisa bekerja lagi denganmu." Ossa menjawab dengan berusaha menegaskan dirinya.


"Kenapa, Ossa. Selain permintaan ayahmu yang sedang sakit. Apa ada alasanmu yang lain?"


"Bagaimana jika kubantu berbicara pada ayahmu agar kamu dibolehkan untuk bekerja lagi denganku, jika ayahmu sudah sehat?" tanya Zoan. Kali ini membuat Ossa sangat terkejut mendengarnya.


"Tidak perlu. Boss Zoan tidak perlu membantuku seperti itu. Karena,,,," ucap Ossa tiba-tiba. Dan sepertinya sedang keceplosan berkata.


"Karena apa, Ossa? Katakan yang jujur padaku sekarang. Karena apa?" Zoan bertanya dengan nada dan suara sangat lembut. Seperti sedang menghipnotis Ossa lagi agar berbicara terus terang. Ossa menatap dengan ragu-ragu sejenak.


"Karenaa,,,,, saya,, saya akan menikah. Calon suamiku tidak membolehkanku untuk bekerja jauh-jauh. Maafkan saya, boss Zoan," ucap Ossa penuh sesal. Ossa menunduk dalam-dalam sekarang. Ada gentar saat memandang respon Zoan pada penjelasannya.


"Apa, Ossaaa,,,,,,?!" desis Zoan berseru. Hanya sesaat terkejut. Wajah tampannya mendatar pelan saat sadar jika Ossa nampak resah dan mungkin juga takut.


"Apa kamu dipaksa menikah? Kamu dijodohkan?" tanya Zoan beruntun. Ossa cepat-cepat menggeleng.


"Tidak. Sama sekali tidak." Ossa menjawab dengan tegas.


"Kamu masih sangat muda, Ossa. Kenapa buru-buru menikah? Kenapa begitu mendadak?" desak Zoan seperti tidak ada puasnya.


"Ini adalah pilihanku, boss Zoan. Tolong jangan meroastingku,," keluh Ossa memohon. Rasanya ingin kembali menangis namun selalu ditahannya. Zoan nampak kecewa dengan jawaban Ossa yang pelit.


"Baiklah, Ossa. Sebab aku juga kehabisan waktu, sebentar lagi aku terbang. Jika sudah sampai, kabari aku. Aku masih ingin mendengar ceritamu yang sesungguhnya." Zoan bersiap pergi menuju taksi.


"Ayolah. Yang itu taksimu. Sudah lunas hingga di kotamu. Hati-hati, Ossa,,!" pesan Zoan pada Ossa yang memandangnya


"Boss Zoan.!! Berhati-hatilah juga,,!" balas Ossa. Zoan pun mengangguk.


Mereka saling melambai tanpa sadar. Dan berbalik menuju taksi masing-masing, bersiaga membawa mereka kepada destinasi yang saling berlainan.

__ADS_1


🕸🕸🕸🕸🕸🕸


🕸🕸🕸🕸🕸🕸


__ADS_2