
Ossa berjalan melingkar menuju ke depan mobil. Mendekati Aldi yang masih membungkuk dengan tangan bergerak-gerak menyervis. Yang sesekali juga diam dan termangu berfikir.
Senter di kepala sebagai penerang, nampak meredup dan mungkin sebentar lagi akan mati. Kehabisan daya sebab terlalu lama dipakai. Aldi nampak sangat fokus dan tidak menyadari datangnya Ossa disampingnya menemani.
"Busyet,, senter bentar lagi meninggoy..! Mana susah banget, nggak pas-pas ini, ah..!" gerutu Aldi sambil terus membungkuk.
"Mas, lalu gimana,,??"
"Aarrgghhh..!!" Aldi melompat mundur sambil menjerit. Matanya terbelalak pada sosok di sampingnya. Lelaki itu sedang terkejut bukan main.
"Astaghfirullah, mas! Ini aku, Ossa,,!!" seru Ossa sambil menunjuk pada wajahnya sendiri. Aldi nampak bernafas sangat lega. Ternyata memang Ossa.
"Yaelah, Ossa..! Ngapain kamu turun??" seru Aldi bertanya. Kembali akan membungkuk di mesin.
"Nggak betah lah, mas. Sumpek..!!" seru Ossa pada Aldi, lelaki itu telah fokus lagi ke mesin.
"Kamu balik ke dalam gih,,! Kamu perempuan. Di luar kayak gini, gadis sepertimu, bisa mengundang kejahatan,," ucap Aldi di sela sibuk menyervis. Tapi gadis itu tetap stay di sebelahnya.
"Ini lagi magrib, Ossa. Kamu tahu kan, kita di mana,,??" bisik Aldi agak lirih. Jika mungkin, ingin diangkatnya saja Ossa untuk dimasukkan lagi ke dalam mobil.
Ossa sangat paham maksud Aldi. Merasakan efek bisikan Aldi cukup seram. Merasa hal itu benar dan jadi meresahkan. Hutan disekeliling mereka cukup lebat dan panjang. Ossa bergidik.
"Ya udah kalo nggak butuh teman. Aku tidur santai di dalam,,"pamit Ossa sebelum berjingkat pergi dan ingin kembali ke dalam mobil.
Namun langkah kakinya terhenti bersama sorot lampu yang nampak terang dari jauh. Merasa itu adalah kendaraan yang pasti akan melewati mereka dan menuju ke arah kepulauan.
__ADS_1
"Mas, ada mobil lewat...!" seru Ossa pada Aldi.
Bimbang menyambut satu-satunya kendaraan yang datang. Sedari tadi, belum ada satu kendaraan pun yang lewat. Galau sekali, apa membiarkan berlalu atau menumpang saja sebentar. Jarak hutan perbatasan dengan rumah penginapan tidaklah jauh sangat. Kurang lebih hanya berjarak tiga kilometer saja jauhnya.
Aldi berdiri dan bergeser ke kanan, melihat kedatangan kendaraan lain untuk yang pertama kalinya. Meski juga bimbang bagaimana, Aldi merasa benar-benar simalakama. Beginilah susahnya jika pergi dengan perempuan. Keselamatan jadi terasa lebih dipertaruhkan.
"Ossa kita stop saja mobil itu!" seru Aldi berkeputusan. Wajah lelaki hitam manis itu nampak tegang dan serius. Tidak ada lagi kesan canda di matanya.
"Untuk apa?" tanya Ossa. Gadis itu sudah berdiri lagi di sampingnya.
"Menumpang," ucap Aldi memutuskan. Memandang jauh ke arah mobil yang maju mendekat.
"Mobilnya ditinggal? Kalo hilang?!" seru Ossa khawatir. Wajah cantik itu juga tak kalah tegangnya. Aldi menggaruk-nggaruk kepala yang terasa blank tiba-tiba.
"Ya kamu saja yang menumpang. Aku akan mencari bantuan," sahut Aldi kemudian. Memandang pada gadis yang nampak menggemaskan itu di depannya.
"Ya sudah, masuklah ke mobil. Aku nelpon mas Rama saja, biar ngambil kamu. Sama nelpon bengkel terdekat dari sini. Aku dah nyerah, mobil ini ngambeknya kelamaan. Sok-sok an, sungguh terlalu,,!" gerutu Aldi sambil menepi. Tidak jadi menghentikan kendaraan yang terlihat kian dekat. Ossa pun menepi mengikuti. Mereka berniat masuk kembali ke mobil.
Tin..! Tin...!
Ossa dan Aldi yang hampir membuka pintu mobil di sisi berlainan, urung menarik dan sama-sama menoleh. Kendaraan yang mereka bicarakan tadilah yang membunyikan klakson dan telah berhenti tepat di depan mereka.
Yang lebih mengejutkan, mobil yang berhenti itu terlihat samar warnanya. Sedan merah menyala. Ossa memicing mata dengan dada berdegub sangat kencang. Berharap siapa yang berada di dalamnya adalah nama yang seringkali dia sebut dalam hati.
Zoan..??! Ini benar-benar kejutan baginya. Ya, itu pastilah dia. Pria setengah baya nampak keluar dari pintu sopir. Dan Ossa sangat mengenalinya. Dia adalah sopir taksi yang beberapa kali dibawa boss pengganti.
__ADS_1
Ah, Zoan,,,, adakah kamu di dalam juga? Ossa merasa berdebar yang sangat. Tidak melihat lelaki itu hampir dua minggu, seperti sewindu tak bertemu saja rasanya.
Tapi hingga Ossa dan sopir itu saling mendekat dan berdiri berhadapan, Zoan tidak nampak keluar juga.
"Mbak Ossa??" sapa pria itu saat mengenali Ossa dari dekat.
"Pak Idris,,!" sapa Ossa kembali. Tak menyangka di saat gundah seperti ini, mereka datang menghampiri. Ossa mengucap syukur tak bertepi dalam hati.
Sopir Idris berbincang sejenak dengan Ossa dan juga Aldi. Rupanya mereka berdua sudah pernah saling mengenal. Pernah bekerja di bawah bendera perusahaan taksi online yang sama. Yang akhirnya, Aldi mengambil tawaran Zoan untuk bekerja pribadi padanya. Namun, tidak untuk Idris, sopir setengah baya itu tidak ditawari untuk bekerja tetap pada Zoan.
"Jadi, gimana,,??" tanya Aldi pada Idris.
Idris sempat berkata ingin mencoba melihat mesin mobil yang mogok pada Aldi.
"Aku bilang ke boss kamu dulu,," ucap Idris pada Aldi. Lelaki itu berbalik dan menuju mobil merah. Boss yang dimaksud tentu saja adalah Zoan.
Ossa mengikuti gerak sopir Idris dengan hati berdebar. Kenapa Zoan tidak turun,, sombong sekali.. Ossa menggerutuinya dalam hati.
Idris nampak berbalik dan mengangguk padaAldi. Lalu berdiri mendekat pada Ossa.
"Mbak Ossa, kamu disuruh masuk mobil sama mas Zoan." Idris berbicara pada Ossa.
Ossa sedikit kaget namun mengangguk. Segera berbalik dan menghampiri mobil yang mogok.
"Eh, mbak Ossa! Mobilnya mas Zoan. Bukan yang ini,,!" seru Idris tersenyum. Aldi nampak tersenyum-senyum juga pada Ossa.
__ADS_1
Ossa merasa salah tingkah saat berjalan mendekati mobil merah. Bahkan, Aldi sempat berdehem meledek sambil memainkan kedua alisnya naik turun. Idris tidak peduli dan langsung membungkuk di mesin.
Ossa melewati kedua sopir itu dengan hati yang berdentum dan bertalu..