
Mereka membatasi diri hingga pukul delapan malam untuk berada dalam rumah induk. Setelahnya akan bergeser ke belakang menempati kamar pribadi khusus bagi geng pembantu yang lengang dan sunyi. Namun kegusaran datang tatkala ingat jika di gerbang sana tidak ada security.
"Ayo kita rebahan di ruang keluarga saja." Murni yang mendatangi Nola dan Ossa di kamarnya mengusulkan. Mereka bertiga telah duduk bersama di bangku teras kamar.
"Bukankah boss baru punya nomor telepon kita itu, mak.. Nanti kalo nyampek, biarlah dia telepon, kayak pagi tadi.." Nola mengusulkan untuk tinggal saja dalam kamar.
"Nol, kita tadi kan sudah disindir. Masak diulang lagi?" protes Murni akan keberatan Nola untuk berjaga di depan.
"Menurut kamu bagaimana, Ossa?" Murni memandang Ossa yang masih saja menyimak. Paham jika gadis muda itu sering menghasilkan pikiran yang bijak.
"Ini memang waktu istirahat kita, mak. Tapi bagaimana kalo kita mengalah dulu kali ini? Kita makhlumi, keadaan belum stabil. Kita kan sudah bersedia pada pak Arzaki untuk membantu adiknya.. Nanti kita bicarakan saja masalah istirahat kita ini pada boss pengganti itu, bagaimana?" tanya Ossa. Memandang Nola dan Murniati yang menyimak bicaranya.
"Iya, Oss. Aku setuju. Meski boss baru agak songong, kita perlu mendampingi. Ini semua demi keluarga pak Arzaki." Murniati menganggukkan kepalanya. Diikuti Nola yang juga mengangguk.
"Iya lah dah. Aku ikut.." Nola pun akur.
"Boss pengganti bukannya songong, mak. Lebih tepatnya sombong. Arrogant banget. Angkuh, senyum saja tidak pernah. Kita nggak level mungkin,,," ralat Ossa sambil tersenyum memandang Murniati.
"Iyalah, apa sajalah, Ossa. Yang jelas kelakuannya mengesalkan. Jangan-jangan dia itu palsu, bukan adik kandungnya pak Arzaki..." Murniati bersungut dan berandai. Ossa dan Nola saling pandang dan tersenyum.
"Pak boss pengganti itu jelas-jelas adiknya pak Arzaki, mak. Nama akhiran mereka sama. Sama-sama pakai Azril keduanya, kaan?" Ossa mengingatkan tentang fakta yang nyata benarnya.
"Eh, iya juga, Ossa. Nama di kartu a te em dia ada Azrilnya. He,,,he,,,he,,," ucap Murni sambil tertawa. Ingat pada kartu bank milik boss baru yang sempat disimak dengan mata dan kepalanya sendiri.
"Yo wes. Ayo kita cepet-cepet ke depan. Dia datang, kita nggak ada, bisa disembur-sembur lagi kita,,!" ucap Murni. Sambil buru-buru masuk kembali ke dalam kamar. Mengambil ponselnya.
Sama persis yang juga dilakukan oleh Nola dan Ossa. Keduanya berlarian masuk ke dalam kamar sebentar. Keluar lagi dengan membawa sebungkus snack dan ponsel masing-masing di tangan. Berjalan terburu mengikuti Murniati yang telah turun dari teras ke halaman dan akan menuju masuk di dapur.
Ketiganya telah duduk melantai di karpet tebal yang lembut. Mereka saling berpandangan dengan tatap penuh arti, seperti saling paham dengan perasaan masing-masing.
__ADS_1
"Mak, jangan nonton horor ya, please,," ucap Ossa dengan pandangan merayu pada Murniati. Nola pun menatapnya dengan tegang. Murni pun mengangguk memahami.
"Enggak, Os, aku juga sedang miskin nyali," sahut Murniati sadar diri.
"Kalo nggak ada keluarga Arzaki, serem banget ya rumah sebesar ini," keluh Nola. Mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Hussh, jangan diungkapkan. Simpan di hati, Nol. Bikin merinding saja," gerutu Murniati. Tidak sadar jika ucapannya semakin memperkeruh suasana dan rasa.
"Sudah, lihat tivi sajalah ya, kita," ucap Ossa. Berdiri mendekati televisi dan menyalakan dengan suara yang kecil.
Nola dan Murni hanya diam dengan mata mengikuti gerakan Ossa. Kini tiga geng pembantu telah hanyut pada acara dan tontonan televisi.
Acaranya cukup asyik. Membuat ketiganya seringkali terkikik-kikik. Adalah acara family seratus dengan pembawa acara mas Irfan Hakim yang cerdas plus kocak itulah yang sedang mereka ikuti. Ossa sengaja memilih acara itu demi pencair suasana tegang yang ampuh.
"Aaarrrgghh,,!! Ossa,,!! Tukar, Ossa,,!!" jerit Murniati. Nola segera menutup wajah dengan bantalan sofa yang tadi dipeluknya. Wajah Ossa merah padam dengan tegang, bercampur kesal sebab merasa terjebak.
🎶🎶 Nang🎶 Ning 🎶Nang 🎶Ning🎶🎶 🎶🎶 Nang🎶Ning 🎶Nang 🎶Ning🎶🎶
"Aargghh..!!!!" bukan hanya Murniati saja yang menjerit. Tapi, ketiganya telah kompak memekik.
Meski hafal dengan bell sebelah mana yang berbunyi. Mereka sangat terkejut sekali. Bunyi bell dari pintu depan yang tiba-tiba terdengar, menciutkan nyali mereka sesaat.
🎶🎶 Nang🎶 Ning 🎶Nang 🎶Ning🎶🎶 🎶🎶 Nang🎶Ning 🎶Nang 🎶Ning🎶🎶
Bell dari pintu depan kembali bernyanyi. Menuntut kepada Murni agar segera dibuka.
"Ayo kita buka bareng-bareng. Benar kan apa yang kubilang. Boss baru berharap agar kita senantiasa bersiaga di tempat ini." Murniati berucap. Segera berdiri dan diikuti oleh kedua kroco cantiknya.
"Kalo yang diluar itu bukan boss pengganti yang kita kenal tadi, bagaimana?!" kali ini, Ossa lah yang sengaja menakuti.
__ADS_1
Murniati berhenti berjalan sejenak. Berusaha abai dengan ucapan Ossa barusan. Baginya, membuat boss tidak semakin marah adalah prioritasnya.
"Ayo kita buka sama-sama, nak. Cepat!" perintah Murniati seperti seorang jenderal saja lagaknya.
Ketiga geng pembantu segera meluncur menuju pintu ruang tamu. Murniati tengah mencengkeram kusen pintu yang sebentar lagi pasti akan dibukanya. Nola dan Ossa mengangguk mengisyaratkan.
Ceklerk,,!!
Nampak boss pengganti dengan wajah yang sama saat datang tadi, berdiri tegak menjulang di hadapan geng pembantu.
Seperti biasa, wajah tampan luar biasanya selalu tiada senyum sedikitpun. Dan..
Seorang wanita dengan pakaian seksi menyusul datang dari belakang dan langsung memeluk pinggak pak boss baru dengan rapat.
"Apa kamar tamu yang sebelah lagi sudah bersih dan bisa dipakai?" tanya pak boss begitu saja. Tanpa sapa dan salam sebagaimana layaknya seorang boss yang mengayomi bawahannya. Seperti pak Arzaki..
"Sudah sangat bersih, pak boss. Benar-benar siap digunakan," ucap Vinola yang menyela tiba-tiba. Bukan lagi Murniati yang menjawab. Sebab, Vinola memang bersih-bersih kamar itu siang tadi. Jadi sangat hafal dengan keadaan setiap kamar di dalam rumah megah itu.
"Ayo, Rani. Kuantar ke kamar kamu sendiri." Boss baru menyambar tangan sang wanita. Dibawanya masuk ke dalam vila dan menuju kamar tamu yang dimaksudkannya bersama Nola barusan.
Wanita bernama Rani berhenti di depan pintu kamar tamu dan berbalik badan pada pak boss. Mengalungkan tangan dengan mesra dan rapat. Berjinjit dan seperti akan mencium bibir pak boss. Namun dihindari dengan cepat oleh si boss.
Mereka mengobrol sangat lirih dan seperti sangat penting. Dan berakhir dengan elusan lembut di rambut si wanita oleh pak boss.
Wanita itu telah masuk ke dalam kamar dengan aman. Kini pak boss sedang berjalan cepat menghampiri.
"Kalian kembalilah ke belakang. Hanya malam ini saja tak ada tugas malam. Kumpulkan tenaga untuk esok. Sebab, mungkin saja mulai besok, kalian akan jauh lebih sibuk dari hari-hari sebelumnya." Boss memberikan wejangan dan instruksi.
Murni tidak menjawab, namun bergerak pergi diikuti olah kedua rekannya yang lain. Pergi meninggalkan area rumah induk menuju kamar pribadi mereka di belakang. Meski terlihat sepi, lengang dan sederhana. Tapi petak kamar tidur mereka, adalah satu-satunya bagian bangunan dalam area rumah yang nyaman, ibarat berada di istana.
__ADS_1