
Sebab Arzaki buru-buru, Ossa mengikuti hingga ke kamar tanpa diminta. Pria itu tengah tenggelam dalam kamar mandi saat Ossa membuka almari untuk menyiapkan baju ganti.
Ossa telah terbiasa dengan pekerjaan ini semenjak menikah dengan Arzaki saat lumpuh dulu. Tapi menyiapkan baju, telah lama dilupakan semenjak Arzaki sudah mulai bisa berjalan waktu lalu. Pria itu menolak saat Ossa tetap ingin membantu prepare baju.
Set kemeja, celana dan baju dalam, telah juga Ossa ambilkan. Bagi gadis itu, pekerjaan ini sudah terasa biasa saja. Dalam benaknya, Arzaki seperti seorang ayah atau juga sang paman nun jauh di pesisir.
🕸
Gadis yang tengah membantu Murni di dapur, beranjak pergi meninggalkannya sekali lagi. Sebab, Arzaki telah memanggilnya agar kembali ditemani. Ratu dapur sendirian lagi tanpa teman. Ingin meminta tambahan seorang saja rekan, tapi segan menyampaikan...
"Sedang apa di dapur?" tanya Arzaki sambil cepat berjalan. Kaki panjang kokohnya telah benar-benar berfungsi sempurna kembali.
"Mbantu mbak Murni, pak. Kalo siang teramat sibuk. Kasihan sekali jika terus-terusan satu orang," jawab Ossa berharap. Bermaksud agar Arzaki peka merasa dan mencarikan seorang pawang dapur lagi untuk mengawani Murniati.
"Betul juga. Kenapa saat malam di kafe justru dua orang?" tanya Arzaki bergumam.
Mereka telah meninggalkan teras rumah, melewati teras lobi dan sebentar lagi sampai di lobi.
"Yun,,??!!" seru Arzaki saat kakinya melangkahi pintu lobi.
Matanya sungguh awas dengan siapa yang sedang duduk di lobi. Seorang wanita cantik dengan penampilan modis kekinian. Ossa ingat jika nama wanita itu adalah Ayunda. Zoan sempat menerangkan siapa Ayunda padanya.
"Mas Zaki,,,!! Sorry, aku lambat menjengukmu. Mas Zoan tidak memberiku kesempatan cuti panjang,,," keluh wanita cantik itu mengadu.
"Iya, Yun. Aku paham. Zoan pun sibuk sekali," sambut Arzaki saat mereka berdua berdekatan.
Arzaki dan Ayunda telah saling jabat tangan sangat erat. Mata cantik yang jelas sedang berkaca-kaca itu dengan cepat disapu perlahan dengan tisu selembar. Wajah Ayunda nampak sedih.
Namun buru-buru tersenyum demi menjaga hati Arzaki agar tidak terseret kesedihan kembali. Bahkan juga tidak mengatakan bela sungkawanya dengan sengaja.
Ayunda menoleh dan memandang Ossa, kemudian tersenyum dengan ramah. Mengulurkan tangannya dengan cepat.
"Hai Oqtissa,,, terimakasih kamu telah bantuin jaga kakak sepupuku yang hebat ini, yaaa,," ucap Ayunda saat mereka sedang erat berjabat tangan dengan hangat.
__ADS_1
"Iya mbak,,, saya hanyalah bekerja pada pak Arzaki.." ucap Ossa sambil meralat dan tersenyum. Ayunda juga tersenyum dan mengangguk.
"Bagaimana kabar Zoan, Yun?" tanya Arzaki menyela.
"Dia baru pulang dari umroh, mas." Ayunda menjawab sambil mengeluarkan ponsel yang sempat bernyanyi sesaat. Sebuah pesan sedang masuk untuknya.
"Umroh,,?? Zoan pergi umroh, Yun,,??" tanya Arzaki terheran. Ayunda tersenyum dan mengangguk.
Ossa pun juga nampak menahan kejutnya. Tidak menyangka jika lelaki penyengat itu justru telah menepi ke medan Saudi.
"Iya, mas. Kamu kayak nggak paham adikmu itu gimana? Meski dulu pun kayak gitu, shalatnya nggak suka bolong lho, mas,," terang Ayunda sambil tertawa dengan lebar.
"Soal itu, aku pahamlah, Yun. Tapi pergi umroh, dengan kelakuan yang masih seperti itu, sangat kusayangkan. Dia tidak bilang. Andai bilang, tentu saja kularang, kuminta menundanya. Harus tobat dulu, meninggalkan maksiatnya," ucap Arzaki dangan wajah tegang seriusnya.
"Eits,, mas Zaki juga nggak tahu ya, kalo mas Zoan udah jomblo sekarang. No darling, mas. Zero,,!!" ucap Ayunda bersemangat menjelaskan.
Arzaki terkedu bungkam tak menyangka. Rasanya tak percaya pada kebenaran yang dibawa Ayunda, adik sepupunya. Jika benar, sejak kapan Zoan berubah?
"Kamu bicara benarkah, Yun? Sejak kapan? Sepertinya tidak mungkin. Itu sangat susah bagi Zoan untuk sembuh dengan cepat," tanya Arzaki terheran-heran. Antara senang gembira dan rasa tidak percaya.
"Pak, bagaimana jika saya menamani mbak Murni sambil membuat teh untuk mbak Ayunda?" tanya Ossa pada Arzaki.
Arzaki terdiam sejenak. Kemudian mengangguk.
"Ayunda kita pindah ke teras rumah saja. Sepertinya pengunjung sudah mulai berdatangan," ucap Arzaki sambil berdiri.
Arzaki melihat Nola sangat sibuk mendata para pengunjung yang masuk dan keluar. Wanita penjaga lobi yang berubah sangat pendiam itu bahkan tidak sempat menoleh dan menyapa.
Ossa dan Ayunda berjalan bersama mengikuti Arzaki di belakang. Mereka berpisah kemudian di teras. Ossa terus berjalan menuju ke dapur. Ayunda bersama Arzaki berpindah duduk di kursi teras rumah.
"Apa yang ingin kamu sampaikan padaku, Yun?" tanya Arzaki saat Ayunda sudah duduk nyaman di kursi.
"Mas, kapan kamu melepaskan Oqtissa? Kudengar kamu menikahi hanya sebab perlu perawatan?" tanya Ayunda tanpa basa-basi dan segan. Arzaki terheran, tapi paham jika Ayunda mengerti dari Zoan.
__ADS_1
"Memang kenapa, Yun?" tanya Arzaki pada Ayunda yang terkesan mendesaknya.
"Kurasa gadis pesisir itulah penyebab mas Zoan jadi tobat," ucap Ayunda menelaah.
"Maksudmu, Zoan menyukai Oqtissa?" tanya Arzaki.
"Iya, mas," sahut Ayunda mengangguk.
"Bukankah sudah biasa jika Zoan menyukai perempuan, dan berlanjut ke ranjang, dan setelahnya akan habis urusan?" tanya Arzaki dengan dahi berkerut.
"Enggak mas, ini lain. Dulu gadis itu dibawanya ke Semarang tanpa alasan. Tiba-tiba semua wanitanya diputus, dia jomblo hingga sekarang. Gadis itulah yang menemaninya meeting-meeting dulu itu. Nggak pernah lagi bawa wanita lain, selalu aku yang dibawa sekarang."
"Oqtissa pun pernah disusulin di kampungnya. Bahkan yang terbaru ini, Zoan minum hingga mabuk. Saat mabuk, hanya sebut nama Ossa,, Ossa,, Ossa dan Ossa saja yang diingat. Dan tiba-tiba, dia daftar umroh tuh," ucap Ayunda tersenyum. Merasa konyol dengan kelakuan Zoan, kakak sepupunya yang lajang.
"Jika memang benar, ini sangat ajaib, Yun,," ucap Arzaki lirih. Nampak haru dan takjub dengan kabar baik yang dibawa Ayunda. Meski ada sesal kenapa dirinya tidak peka dan kesal sebab Zoan sama sekali tidak bercerita.
"Betul, mas. Ini kesempatan menolongnya. Dia pernah bilang tidak mau menikah. Siapa tahu,,," ucap Ayunda menggantung. Menatap Arzaki agak segan.
"Aku paham, Yun." Arzaki menatap jauh di wajah Ayunda.
"Aku pikir, Zoan hanya main-main. Kupikir, Zoan hanya ingin memakai Ossa seperti pada kekasihnya yang lain," ucap Arzaki mengeluh. Ucapannya lirih seperti hanya bergumam.
"Maksud kamu, mas?" tanya Ayunda yang kini nampak terheran.
Arzaki mengeluarkan ponsel dari saku kemeja. Dibukanya sejenak dan diulurkan pada Ayunda.
"Coba perhatikan, Yun. Ini adalah cuplikan singkat dan cepat dari cctv mikro di ruang utama dalam rumah." Arzaki menerangkan saat Ayunda mulai memperhatikan rekaman video CCTV di ponselnya. CCTV mikro yang hampir tidak nampak jika dilihat sekilas saja. Arzaki menimbang tidak mengapa jika memperlihatkan rekaman itu hanya kepada Ayunda. Keluarga yang dimiliki dan telah memberikan pedulinya.
"Aduh, mas Zaki. ini bahkan malam banget.. Lama banget mereka di kamar. Ngapain,,?" ujar Ayunda. Wanita itu tersenyum tak habis pikir.
"Sepertinya, mereka berdua sudah saling menyukai, mas. Jika tidak, untuk apa Zoan menahan Oqtissa lama-lama di kamarnya. Dan Ossa pasti tidak mau lagi ke kamarnya jika tak suka. Tapi ini, Oqtissa justru tak jera.." ucap Ayunda menyimpulkan. Merasa kian yakin jika Zoan benar-benar ada rasa spesial pada Oqtissa.
"Kurasa memang begitu, Yun,," sahut Arzaki mengangguk. Berharap apa yang sedang mereka sangkakan adalah kebenaran.
__ADS_1
Arzaki merasa tidak ingin jika Ossa hanya akan dipermainkan. Gadis baik itu telah dianggapnya keluarga, adik bahkan juga seperti anaknya. Ini mungkin adalah saat terbaik melepaskan Ossa pada lelaki yang tepat. Merelakan gadis itu kepada Zoan, adik lelakinya sendiri.
🕸🕸