
Sehari sebelum penginapan benar-benar dibuka..
Setelah mengobrol cukup lama dengan pak Ridwan, nama dari security baru yang ternyata pandai agama itu, Zoan masuk ke dalam rumah dan sempat melewati depan lobi. Dilihatnya Ossa tengah mengelap di sana. Zoan segera masuk ke dalam lobi.
"Ossa,," sapa Zoan datar dan lirih. Gadis yang dipanggil menoleh cepat ke arahnya.
"Boss Zoan,,?!" seru Ossa menyapa kembali. Merasa terkejut jika Zoan datang menyapa subuh ini. Lelaki dengan baju koko dan bersarung yang selalu sejuk dipandang saat pagi, biasanya hanya acuh melewatinya. Ossa segera paham apa maksud si boss menegurnya pagi ini.
"Ossa, bagaimana jika kamarku yang kamu bersihkan dulu di awal pagi?" tanya Zoan. Ini cukup mengejutkan bagi Ossa. Tapi merasa itu bukanlah masalah. Ossa mengangguk.
"Iya, boss. Sebentar lagi saya datang," sahut Ossa bersetuju. Zoan samar mengangguk dan berbalik. Berjalan lagi menuju pintu rumah.
🕸
Sedikit berdebar di dada. Dengan menggenggam paperbag berisi bra mahal milik Diana, Ossa berjalan cepat menuju kamar-kamar induk yang berderat. Iseng tidak membawa bag itu, hanya diletak di sofa dan ditinggalnya. Lanjut melangkah menuju kamar Zoan. Meski menyangka jika Zoan mungkin di ruang kerja, ruang di sebelah kamar tidurnya, Ossa mengetuk pintu dengan pelan.
Ceklerk!
Zoan tidak berada di kamar kerja, namun sedang membuka pintu kamar tidurnya sendiri. Memandang Ossa sejenak dan mundur. Lebih membuka lebar pintu di kamarnya.
Ossa mendadak jadi ragu. Zoan tidak lagi berkoko, tapi hanya mengenakan kaos dalam warna putih tapi masih memakai sarung bergarisnya. Merasa menyesal,, mungkin dirinya terlalu cepat datang ke kamar Zoan. Tapi sudah terlanjur.
__ADS_1
"Masuklah,," tegur Zoan pada kemanguan Ossa di pintu. Lelaki itu melangkah mundar lagi dan berbalik. Ternyata Zoan tidak juga menanyakan bra milik Diana.
Ossa melangkah maju dan masuk ke dalam kamar dengan perasaan yang was-was. Membiarkan pintu menutup sendiri di belakangnya.
Tidak lagi membuang waktu sia-sia. Ossa segera memulai pekerjaannya. Mengelapi apa saja yang berposisi jauh dari Zoan. Lelaki itu mungkin sedang bertukar baju di balik pintu almari besarnya yang terbuka. Namun, Zoan tidak nampak. Ossa melirik tersenyum.
Tidak ada percakapan apapun di antara boss dan pekerjanya. Ossa menghanyutkan diri dengan terus bergerak dan mengemas. Tidak mempedulikan Zoan yang duduk di sofa memangku Iphone jumbonya. Entah apa saja yang dilakukan oleh pemilik kamar. Ossa tidak lagi berani mencuri pandang, setelah tolehan terakhirnya ditangkap basah oleh mata Zoan yang nampak berkilat padanya.
Hingga semuanya beres, Zoan masih juga duduk di sofa menyandar. Meletak kepala di sandaran sofa dan menggenggam ponsel pintar di pangkuan.
"Semua sudah beres, boss Zoan. Saya permisi." Ossa berpamitan cepat dan berjalan ke pintu. Tidak terdengar suara kecil pun dari Zoan. Lelaki itu juga tidak pergi ke kamar kerjanya di sebelah.
Ossa telah keluar dengan menenteng baju kotor milik Zoan dalam keranjang yang sudah dibawanya. Tidak ingin lagi terlihat konyol seperti kemarin itu. Sedang pekerja laundry dan kebersihan belum juga didatangkan. Mak Murni kata, kalau tidak nanti malam ya besok pagi.
Ossa mengetuk pintu kamar beberapa kali dengan pelan.
Ceklerk,,!
Zoan nampak memegangi daun pintu yang dibukanya sedikit.
"Ada apa? Ada yang tertinggal?" tanya Zoan. Nampak heran pada Ossa yang kembali ke kamarnya. Ossa mengulur paper bag pada Zoan.
__ADS_1
"Ini, boss. Saya tak sengaja juga mencucinya. Jika ada kerusakan, saya tidak sengaja melakukannya. Itu hanya proses mencuci. Dan pagi ini anda sudah berjanji pada teman wanitamu semalam, untuk mengantarnya pagi-pagi," jelas Ossa dengan cepat berbicara. Zoan nampak terkejut dan tertegun dengan berkerut merut di dahinya.
" Kamu betul sekali. Aku lupa. Terimakasih, kamu sudah mengingatkan aku, Ossa,," ucap Zoan. Segera diterimanya paper bag dari tangan Ossa. Namun, pandangannya tidak juga beralih dari menatap dalam gadis itu. Pagi ini Ossa sudah berpakaian jauh lebih sopan dan tertutup dari pagi kemarin.
"Sama-sama, boss Zoan. Saya permisi," pamit Ossa dan berbalik.
"Ossa,," panggil Zoan dengan lirih. Ossa berhenti dan membalik pelan badannya. Khawatir jika telinganya salah mendengar.
"Boss Zoan memanggil saya,,?" tanya Ossa memastikan. Tidak ingin dikira kepedean.
"Iya, hanya ingin memberitahumu. Semalam, aku ingin menanyakan barang Diana ini padamu. Tapi kalian sangat asyik mengobrol bertiga di kamar. Apa membicarakanku itu sangat menyenangkan?" tanya Zoan bernada cukup tajam. Namun wajah tampannya itu terlihat datar saja.
Dan,, tentu saja Ossa terkejut. Serasa jantungan atau juga dikuliti. Sangat ingat apa yang semalam telah dighibahkan bertiga, antara Nola, Murni, juga dirinya tentang sedikit kelakuan boss Zoan. Ossa menunduk dalam-dalam.
"Maaf,,, boss Zoan... Kami tidak bermaksud seperti itu... Kami tidak sengaja,,,obrolan itu terjadi begitu saja,,," jelas Ossa dengan kaku dan sedikit kesusahan. Mengangkat wajah dan memandang Zoan perlahan. Siap menerima ledakan amarah lelaki itu.
"Ossa, apa menurut kalian aku adalah lelaki yang kotor?" tanya Zoan dari pintu kamarnya. Matanya berkilat tajam memandang wajah Ossa.
Yang ditanya tentu saja terkejut. Tidak menyangka jika Zoan akan bertanya seperti itu tentang dirinya sendiri pada Ossa. Rasa bingung melanda Ossa sesaat. Gentar dengan cara Zoan memandangnya.
"Emmm,, apa anda berniat untuk meninggalkan para kekasihmu, boss?" tanya Ossa bingung sendiri. Namun memberanikan diri tersenyum segan dan kaku. Tiba-tiba merasa menyesal dengan jawabannya yang lancang barusan.
__ADS_1
"Ossa,,, pergilah. Lakukan pekerjaan kamu," putus Zoan dengan lirih. Lelaki itu kembali mundur dan menutup pintu kamarnya dengan pelan.
Kaki Ossa seperti sedang menancap di lantai. Merasa resah dan bersalah, namun tidak jelas dengan apa kesalahnnya. Yakin jika apa pun yang dirinya katakan, atau yang telah mereka obrolkan semalam, adalah benar dan bukan mengada-ada. Apa boss Zoan marah..??