
Pak Karman tidak sekalipun berkata gertak sambal. Terbukti dari kedatangannya di ruang tamu saat Ossa sampai di rumah bersama Zoan.
Ibu Endah nampak sangat tegang saat Ossa dan Zoan bergabung duduk bersamanya. Berhadapan dengan pak Karman dan Gandy yang duduk bersebelahan. Pandangan pria tua itu menyelidik sinis pada Zoan dan Ossa tanpa putus.
"Kenapa ibumu tidak tahu jika malam ini kalian harus pergi?" tanya pak Karman tanpa basa basi pada Ossa.
"Untuk apa kami harus pergi dari rumah kami sendiri, pak? Aneh sekali. Kami akan melunasi hutang kami," ucap Ossa dengan beraninya.
"Kamu tidak paham dengan ucapanku kemarin?" ucap pak Karman menekan.
"Tentu saja paham, pak. Tapi aku kan tidak mau setuju. Itu hanya keputusan sepihak bapak. Kami akan melunasi hutang kami." Ossa menegaskan.
Ketegangan Ossa dan pak Karman dalam perdebatan terus saja berlanjut. Ibu Endah terlihat mengelap mata dengan punggung tangannya. Zoan hanya terus menyimak debat tak berujung itu sementara. Dan tidak sengaja saling bertemu pandang dengan Gandy sesekali.
"Baiklah. Kamu sekeluarga tidak akan pergi dari rumah ini. Tapi besok pagi, kamu akan kubawa pindah ke rumahku. Kamu akan menikah dengan anakku, Gandy. Semalaman nanti, anak buahku akan menjagamu di rumah ini," terang pak Karman memutuskan.
Bu Endah pun kian menangis.
"Ossa, kalo kamu tidak ingin menikah. Kita pindah saja. Biarlah sertifikat itu kita relakan saja, Ossa," ucap bu Endah di sela tangisannya. Ossa nampak memandang sang ibu dengan mata yang emosi pada pak Karman.
"Ehem,,!!" tiba-tiba Zoan berdehem. Semua memandang Zoan. Wajah tampannya itu terlihat kian pucat.
"Permisi, pak. Saya sedikit buru-buru. Jadi to the point saja, saya akan berusaha membantu Ossa dan keluarganya,"
"Siapa kamu?!" tanya pak Karman menyela. Rautnya sangat nampak tidak suka.
" Kenalkan, saya adalah bossnya Ossa, Zoan. Pemilik hotel di Semarang, tempat Ossa bekerja padaku." Zoan menerangkan dengan cepat.
"Kenapa kamu ikut campur?!" hardik pak Karman kian tidak suka.
"Saya hanya ingin membantu Ossa, pekerjaku," sahut Zoan dengan santai.
"Begini. Saya sudah mengerti sebab hutang piutang keluarga Ossa pada anda. Dan anda telah berusaha berbuat curang pada kelurganya,"
"Saya ingatkan, anak anda ternyata memiliki kebiasaan buruk yang memalukan. Melakukan perbuatan asusila di tempat umum dan tidak di tempat yang patut."
"Pelanggan saya di hotel, beberapa adalah para pejabat pemerintah di bidang pariwisata. Bagaimana jika beliau-beliau itu melihat rekaman dari satu oknumnya saat berbuat asusila dalam mobil di tepi pantai? Bahkan asusila terjadi di siang hari saat bertugas. Dan itu memang sudah dua tahun lalu, tapi saya memiliki rekaman videonya. Bagaimana?" terang Zoan tajam dan tenang.
Pak Karman dan Gandy nampak terkejut dan marah dengan wajah yabg memerah.
"Kamu,,?! Apa yang akan kamu lakukan??" tanya Gandy dengan mimik emosinya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin bertanya. Kenapa hutang dalam tempo tiga tahun, tiba-tiba sudah jatuh tempo dalam satu tahun?" tanya Zoan.
"Dan satu lagi,, kenyamanan kalian bisa saja lenyap dan melayang dalam semalam. Kalian membuat surat pinjaman tanpa menyertai besar bunga pinjaman yang akurat. Dan tiba-tiba kalian memberikan total bunga pinjaman yang fantastis. Kalian tahu, memberi persentase bunga di atas dua puluh lima persen tanpa kejelasan dan alasan yang tepat bisa berurusan dengan polisi? Kalian orang pintar, sebenarnya sangat tahu bukan. Tapi kalian hanya ingin mempermainkan keluarga Ossa,,," jelas Zoan dengan panjang dan tenang. Memberi intimadasi sekali lagi kepada pak Karman dan Gandy.
Pak Karman dan Gandy saling berpandangan. Mereka sama-sama bernafas panjang tersendat.
"Apa maumu,,??" desis pak Karman kemudian. Memandang tajam pada Zoan dengan tatap muak tidak suka.
"Tidak banyak. Hitunglah dengan benar, berapa sisa hutang keluarga ayahnya Ossa? Aku akan membayarnya. Jangan salah hitung, aku sangat teliti pada angka dan penghitungan. Jangan lupa, sertakan berapa bunga yang kamu tetapkan. Itu akan memudahkanku dalam meneliti dan menghitungnya," tegas Zoan dengan penuh percaya diri.
"Apa kau juga ingin menikahi Ossa?! Bangsat!!" tiba-tiba Gandy mengumpat dengan keras. Namun hanya bengis memandang Zoan tanpa bergerak sedikitpun.
Zoan abai, lelaki itu menyandar kursi dan meletak kepalanya di sana.
"Kutunggu hingga besok pagi. Atau kalian bisa menghitungnya sekarang? Aku ingin mendapat sertifikat-sertifikat itu lebih cepat," tanya Zoan dengan masih menyandar di kursi.
"Besok pagi saja. Ini bukan lagi perkara penting!" seru pak Karman sambil berdiri. Menatap Gandy yang juga ikut berdiri.
Zoan hanya mengikuti kepergian dua orang lelaki ke arah pintu dengan ekor matanya. Bu Endah meraup wajah dengan penuh syukur tak terkata. Berharap akan berakhir dengan cepat dan aman besok pagi. Ossa pun begitu, bersyukur tiada henti dengan rasa haru tak menentu.
Zoan nampak terus menyandar dengan memejamkan matanya.
"Ossa, apa ada penginapan di sini?" tanya Zoan dalam sandaran.
Ossa dan bu Endah saling berpandangan. Merasa jika menawari Zoan menginap, lelaki itu akan tidak nyaman. Dan juga harus mendapat izin dari pak RT. Ossa pun mengangguk pada sang ibu.
"Boss Zoan, ayo kuantar ke penginapan terdekat," sahut Ossa sambil berdiri. Pergi ke kamar dan keluar kemudian. Ossa membawa jaket dan ponselnya.
Zoan mengikuti Ossa keluar rumah. Lalu mengajak Ossa untuk menuju mobil dan membangunkan sang sopir. Mereka meluncur menuju deret cottage di pantai Jahe Karang yang hanya lima menit saja dari rumah.
Pawang pantai yang berjaga malam ini, Ossa tidak kenal-mengenal. Tapi justru mempermudah bagi Ossa mendapatkan kunci cottage untuk Zoan. Dan mereka berdua telah berada di depan pintu penginapan.
"Boss Zoan. Sekali lagi terimakasih. Aku pulang dulu, ya," pamit Ossa. Zoan telah terbiasa mengurus dirinya di manapun berada.
Zoan hanya diam tak bersuara. Menatap Ossa dengan pandangan sayu dan redup.
"Boss Zoan. Saya pamit dulu. Terimakasih. Assalamu'alaikum," pamit Ossa terakhir kalinya. Ossa pun melangkah berbalik.
"Ossa. Panggil driver yang tadi untuk mengantarmu!" seru Zoan dari belakang dengan suara parau dan dalam.
Suara parau Zoan yang tak biasa itu membuat Ossa berbalik dengan cepat.
__ADS_1
"Boss Zoan, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ossa nampak cemas.
"Pulanglah, Ossa." Ucap Zoan sambil menyandar badan di pintu.
"E,, iya.. Tapi..." Ossa merasa ragu untuk meninggalkan Zoan begitu saja.
"Pulanglah, Ossa. Ayahmu sedang sakit," ucap Zoan mengulang arahannya pada Ossa.
"Eh,,iya, boss Zoan," sahut Ossa. Kembali berbalik dengan ragu. Berjalan pelan menuju mobil sedan merah menyala di parkiran. Driver kata akan selalu standby di dalamnya.
🕸
Dalam perjalanan singkat dari penginapan menuju rumahnya. Ossa mengobrol sebentar dengan driver.
Lelaki kurus berkulit sawo matang itu sempat bercerita, jika perjalanan bersama Zoan, tidak secepat saat mengantar Ossa tempo hari. Sang penumpang seringkali minta istirahat. Bukan untuk tidur ataupun makan, tapi hanya minum dan duduk berselonjor. Driver menduga jika Zoan sedang merasa tidak enak badan.
Tentu saja Ossa terheran. Zoan tidak suka sering berhenti di perjalanan jika dirasa tidak perlu. Ini bahkan sebagai penumpang dan membawa driver. Bisa jadi yang dibilang driver itu betul, Zoan sedang sakit.
Ossa merasa iba dan sangat merasa bersalah. Sesaat ingin kembali dan memastikannya sejenak. Tapi bagaimana, Zoan menyuruhnya pulang dan tidak berharap ditemani.
Ossa sampai di rumahnya yang lengang. Sang ayah sedang menyandar berselonjor sambil menonton televisi. Ossa menghampiri dan berbincang sejenak.
Pak Alip masih nampak terengah ketika harus berbicara. Suaranya lirih dan bicaranya sangat pelan, Ossa merasa sangat sedih. Namun berusaha bersemangat dan cerah saat menerangkan jika masalah hutang sebentar lagi akan beres. Bossnya di tempat kerja tiba-tiba datang dan membantu.
Ternyata pak Alip sudah mengerti. Sang ibu sudah mengabarkan hal itu padanya. Ossa pun meminta sang ayah untuk terus berdoa agar segala urusan cepat selesai dengan mudah. Pak Alip pun mengangguk dengan lega dan penuh rasa syukur.
🕸
Ossa terbangun dari tidur gelisah saat menjelang dini hari. Dering panggilan di ponsel yang nyaring itu mengusiknya. Dan nama boss Zoan lah yang tertulis di layar pemanggilnya
"Assalamu'alaikum, halo," sapa Ossa dengan cepat dan cemas. Terdengar sahut jawaban lirih dari seberang.
"Ossa, apa kamu punya obat pereda nyeri?" tanya Zoan dengan suara serak di seberang.
"Ada. Milik ayahku. Boss Zoan sakit?" tanya Ossa khawatir.
"Pening sedikit. Ossa, sopirku sedang menuju ke rumahmu. Berikan obat itu pada sopirku. Sebentar saja sampai. Terimakasih, Oss."
Panggilan itu telah diputus. Ossa meloncat bangun dengan perasaan yang cemas. Berjalan buru-buru menuju kamar sang ayah. Mengambil beberapa butir obat pereda nyeri dan antibiotik. Segera ditutup rapat kembali pintu kamar ayahnya yang sedang tidur lelap.
🕸🕸🕸🕸🕸🕸
__ADS_1