
Ossa telah berjongkok di samping kaki Zoan dan berhadapan. Lelaki itu segera mendongak mengangkat wajah saat terasa jika Ossa telah kembali dari membeli minuman.
Wajahnya tidak sepucat saat lelah tadi. Mamun, matanya sangat merah dan menggenang basah. Tidak ada air mata yang mengalir dari kedua matanya.
"Ossa,," sebut Zoan memandang Ossa sambil mengulurkan tangan dan memegangi pundak Ossa.
"Boss Zoan, ada apa? Anda menangis? Kenapa sepedanya ambruk?" tanya Ossa bertubi. Zoan tidak pernah satu kali pun nampak kusut dan kalut seperti itu sebelumnya.
"Ossa, aku akan mengirim kamu ke rumah penginapan di Kepulauan Seribu malam ini. Kamu naik pesawat saja ke bandara Soekarno Hatta. Dari Karawang, kamu cari taksi resmi untuk mengantar hingga ke penginapan. Kamu berani?" Zoan menatap Ossa dengan mata yang semakin berair.
"Saya terbang sendiri? Boss Zoan tetap di sini?" tanya Ossa dengan gugup. Merasa bahwa harapannya untuk mendapat sedikit hati Zoan gagal total akhirnya. Tapi kenapa,,, Zoan masih juga merenung wajahnya sangat dalam.
"Aku juga akan terbang dari bandara Ahmad Yani, Semarang, sama denganmu. Tapi tujuan kita tidak sama. Kamu ke Soekarno-Hatta, aku ke Bandar Seri Begawan di Brunei Darussalam," Jawab Zoan lirih. Bahkan bibirnya sedikit terbuka dengan mulut yang seperti tak bergerak.
"Kenapa, boss Zoan? Ada apa denganmu? Kenapa sampai menangis begitu? Ke Brunei,, menyusul pak Arzaki?" tanya Ossa terdengar was-was. Perasaannya mendadak sangat tidak enak. Zoan sedang mengelap genangan air di matanya dengan lengan kemeja
"Kakak lelakiku kecelakaan di kota Bandar Seri Begawan. Di perjalanan menuju ke Bandara," terang Zoan. Segera menundukkan wajahnya kembali. Ossa terperangah, seperti tidak percaya mendengarnya.
"Bennnarkaah,,,?? Bagaimana keadaan pak Arzaki dan keluarga,,??" tanya Ossa memastikan dengan nada hati-hati. Berharap agar Zoan sudi menjelaskan lebih detail.
"Ossa, kakak ipar dan dua keponakanku menjadi korban di tempat kejadian. Mas Zaki dan salah satu anaknya sedang kritis. Aku akan menyusul ke Brunei malam ini juga, Ossa."
Zoan menjelaskan sambil tangannya kembali memegang pundak Ossa. Sadang gadis didepannya nampak ternganga. Merasa sedang bermimpi saja rasanya.
Seperti baru kemarin berpisah dengan keluarga Arzaki. Baru kemarin membantu memandikan dan memakaikan baju anak-anak menggemaskan itu. Baru kemarin menemani masak nyonya Arzaki yang cantik di dapur penginapan. Rasanya baru kemarin mereka saling melambai saat keluarga Arzaki meninggalkan penginapan dengan taksi.
Ossa pun duduk lunglai seperti hilang tenaga jiwa raga. Meski keluarga pak Arzaki sekadar boss di penginapan, tapi rasanya mereka laksana satu keluarga.
Ossa tetap merasa tak percaya memikirnya. Lebih sedih juga membayangkan betapa hancur hati pak Arzaki dengan musibah yang tiba-tiba memukul keluarganya.
__ADS_1
Zoan,, kasihan juga lelaki itu. Terpontang-panting membanting tenaga dan kepala demi kesuksesan bersama. Namun apa kini yang juga sedang menimpanya. Bagaimanapun, Zoan juga yang pasti akan ikut menanggung derita dan musibah pak Arzaki. Mengingat bagaimana sayang dan peduli lelaki itu pada pak Arzaki dan keluarganya.
Ossa merasa sangat sedih. Tak bisa ditahan lagi untuk tidak meneteskan air mata. Meski Zoan bisa dikatakan tidak menangis. Tapi sangat jelas jika hati dan kepala Zoan sedang sama-sama menjeritnya.
"Ayo kita pulang sekarang. Tapi, apa kamu lapar, Ossa?" tanya Zoan setelah tegak berdiri kembali. Ossa memandang sesaat. Rasanya sangat tidak ingin makan. Tapi ingat jika Zoan pun belum makan dan telah mengeluarkan banyak tenaga untuk bersepeda, Ossa menganggukkan kepalanya.
"Iya, saya lapar sekali," jawab Ossa. Zoan pun menganggukkan kepalanya.
"Kita sempatkan dulu untuk makan," sahut Zoan menyambut. Lalu berjalan bersama Ossa menuju rumah makan yang juga di kawasan Taman Srigunting..
"Boss Zoan, sepedanya bagaimana?" tanya Ossa. Sepeda yang tumbang itu ditinggal di taman. Ossa yang merasa dirinya pun tak berdaya mengayuh,,, apalagi Zoan.
"Aku dah tak sanggup menuntun. Nanti kuganti uang saja." ucap Zoan sambil menjejalkan makanan. Ossa pun mengangguk memahami. Lalu ikut juga menyorong sendok ke dalam mulut kakunya.
Makanan itu sangat lambat habisnya. Mereka berdua berusaha menamatkan isi piring dalam bisu. Makanan yang semuanya terasa hambar, terus saja dijejalkan. Zoan pun merasa jika kegiatan makannya petang itu hanyalah keharusan. Sadar jika dirinya memerlukan pengisi daya di raganya.
🕸🕸
Ossa melirik Zoan yang terus membuang jauh pandangan. Merasa berat membiarkan lelaki yang terguncang itu menuju medan perang sendirian.
"Boss Zoan," panggil Ossa ragu.
"Ada apa?" tanya Zoan tanpa mengubah segala posisi dan pandangan.
"Apa boss Zoan perlu teman? Saya bersedia menemanimu ke Bandar Brunei," terang Ossa penuh harap.
Tak disangka, Zoan bergerak cepat dan meluruskan duduknya. Menoleh pada Ossa dan lekat memandang.
"Aku sangat suka ucapanmu, Ossa. Kamu menawarkan diri untuk ikut. Jujur, aku ingin membawa kamu. Akuu,,, aku sangat ingin membawamu sebagai harem, Ossa," Zoan kembali menyandar doyong punggungnya. Seperti tengah menghempas beban di dadanya.
__ADS_1
"Lalu, kenapa saya tak diajak?" tanya Ossa lagi dengan rasa yang berdebar seketika. Zoan menoleh dengan tatap sayu padanya.
"Kamu berjaga saja di penginapan. Sementara kamu tidak punya tugas apapun. Bantulah jika ada yang nampak kerepotan. Ingatkan pada manager baru di penginapan tentang free pijat itu, Ossa. Aku sudah mengirim email tentang kesepakatan dengan pak Hari tadi padanya."
Zoan berkata dengan berat. Seperti sangat kesusahan berbicara. Rasanya sangat tidak bersemangat.
"Iya, boss Zoan," sahut Ossa dengan menyembunyikan rasa kecewanya. Rasanya tidak ingin saling jauh dengan Zoan. Selalu mengharap dibawa ke manapun. Ingin di sampingnya kapanpun. Tapi apalah daya, Zoan akan mengirimnya kembali ke rumah penginapan.
🕸
Bandara Ahmad Yani tetap saja nampak menyemut meski malam. Bahkan antrian untuk membeli tiket secara langsung pun terlihat sangat panjang. Hampir di semua loket tiket, sambung-menyambung calon penumpang yang antri membeli tiket dan mendaftar. Ossa pun baru saja teruji melaluinya meski dengan rasa tidak sabar.
"Boss Zoan, ini,,, tiket dan kartumu," Ossa mengulur buku tiket pesawat dan sebuah kartu kredit milik Zoan yang tadi dipakainya. Zoan meminta Ossa untuk membeli tiket seorang diri, sedang dirinya duduk menyandar namun mengikuti antrian dengan matanya.
"Pukul berapa penerbanganmu?" tanya Zoan. Sambil membuka buku tiket miliknya.
"Sebentar lagi. Ada lagi nanti pukul sembilan malam. Tapi aku tidak mau kelamaan menunggu sendirian. Boss Zoan terbang setengah jam setelahku," jelas Ossa dengan suara yang terdengar sedih.
"Kamu akan check in?" tanya Zoan menutup kembali buku tiket di tangannya. Ossa mengangguk.
"Iya, aku harus mendaftar ulang sekarang. Boss Zoan, kamu hati-hati, ya,," pamit Ossa sambil melangkah mundur memandang Zoan.
Zoan tidak merespon. Hanya diam memandang gelisah padanya.
"Assalamu'alaikum,," salam Ossa dengan rasa yang berat. Sedih meninggalkan Zoan sendiri.
"Wa'alaikumsalam,," sahut Zoan lirih saat Ossa sudah berbalik. Gadis itu melangkah buru-buru sangat cepat demi menyemangati dirinya sendiri.
Ossa telah mengesahkan tiketnya di bagian petugas check in. Barang yang dibawa Ossa tidak banyak. Tidak ada bagasi yang diluncurkannya di sana. Hanya tas pundak serta bag besar yang bisa dibawanya ke kabin.
__ADS_1
Ossa pergi menaiki eskalator menuju lantai dua di bandara. Pesawat yang mengangkutnya hampir datang dan Ossa sedang memburu nomor gate tunggu yang tertera di tiketnya. Gemuruh debar sebab berburu waktu, melupakan sejenak sedihnya pada Zoan yang ditinggalkan.
🕸🕸🕸🕸🕸🕸