
Ruang bagian dalam di samping ruang televisi yang memang agak terlindung, adalah letak kamar-kamar keluarga yang berdampingan dan berhadapan. Dengan ruang luas yang terdapat sofa di tengahnya. Bisa juga sebagai ruang keluarga kedua setelah ruang televisi.
Dan sedang berdiri di salah satu kamarnyalah Ossa sekarang. Kamar yang ditempati oleh boss pengganti alias boss Zoan. Orang yang sedang menginginkan Ossa untuk masuk ke dalam kamar pribadinya bertujuan mengajak berbincang berdua. Memang sempat bimbang, tapi Ossa telah kukuh menolaknya.
"Paketan itu milikku sendiri, aku juga telah membayar dengan uangku sendiri. Bukan anda yang membelikan. Jadi, tolong berikan saja padaku. Dan,,, jika bos Zoan ingin berbicara denganku, di luar kamar saja," tegas Ossa. Memberanikan diri menolak keinginan boss baru playboy itu.
Zoan menaikkan alis sambil memandang Ossa, ada tatap kesal menahan kecewa dengan keras kepala pekerjanya. Dan tentu saja tidak mungkin dipaksanya.
"Kamu tidak ingin berbicara empat mata denganku?" tanya Zoan sekali lagi. Ossa menggeleng dengan cepat. Tanpa sedikit pun ragu di matanya.
"Oke. Kamu dan dua teman kamu, datanglah sehabis isya ke sini. Sekarang kamu pergilah," ucap Zoan mengalah. Menyuruh Ossa berlalu dengan memajukan dagu seperti biasanya.
Ossa merasa lega tapi juga mendadak merasa tidak enak.
"Boss Zoan, boleh saya menerima paket belanja onlineku?" Ossa bertanya kembali. Bagaimana pun, sangat penasaran dengan hasil real belanja onlinenya di bukabapak.
"Ambillah," sambut Zoan.
Melirikkan mata ke dalam kamarnya. Memberi isyarat agar pemilik paket mengambil sendiri ke sana. Ossa menghela nafas menyabarkan dirinya.
"Akan kuambil nanti saja, pak. Akan kuberitahu mbak Nola dan mbak Murni tentang panggilan anda selepas Isya ke sini. Permisi.."
Ossa pamit undir diri. Menyerah dengan ketakutannya sendiri pada boss pengganti. Merasa tidak percaya dengan lelaki yang sama sekali belum dipahami pribadinya.
🕸
Pesan dari boss pengganti telah disampaikan kepada kedua rekan geng pembantu. Ossa sedang merebah sejenak dan merasa sangat lelah. Angin semilir dengan suasana indah di pantai Jodoh, sungguh membuai dan melenakan. Jika saja lupa mengambil banyak objek foto di sana, hanya rasa lelah sajalah yang tinggal.
Dan di antara keasyikannya mengulas hasil jepretan ponselnya di pulau Bidadari, gadis yang baru mandi tanpa riasan itu tertidur.
🕸
Setelah sempat ragu untuk memenuhi pesan boss Zoan, kini mereka telah duduk di sofa ruang keluarga utama dengan saling berhadapan. Nola, Ossa dan Murni duduk bertiga di sofa yang nampak jelas jika mereka sedang sangat berhimpitan. Zoan duduk sendiri di seberang meja. Memandang dengan picingan mata yang tajam.
"Kenapa kalian tidak datang selepas isya? Apa kalian tidak merasa segan telah mengganggu istirahatku?" tanya Zoan tanpa basa-basi. Tapi mata itu lebih sering menyorot pada Ossa sekarang.
"Kami tertidur, boss. Setelah mendapat pesan dari Ossa, kami pikir bisa untuk rebahan sebentar saja. Ternyata semua keblabasan. Sebenarnya kami tidak ingin mengganggu. Hanya lebih takut jika kami tidak datang, boss akan marah," terang Murni dengan gamblang.
"Kuberi liburan sehari, apa kalian justru kelelahan?" tanya Zoan mengangkat sebelah alisnya. Dia memahami hal itu.
Nola, Murni dan Ossa terdiam berpandangan.
"Jujur saja rasanya lelah, pak boss. Ya memang seperti ini jika liburan. Senang, gembira, dan me time. Tapi,, pasti lelah setelahnya. Bahkan, kadang justru sakit yang dibawa pulang. Dan apapun, kami berterimakasih pada anda untuk liburann gratis ini, pak boss," Ossa menyahutnya dengan senang.
"Heem..." Zoan justru berdehem.
__ADS_1
"Jika kalian lelah, duduk saja yang santai. Cara kalian duduk itu seperti murid sekolah dasar yang tidak pernah naik kelas," ucap Zoan dengan kritiknya yang pedas.
Ketiga geng pembantu saling pandang. Dengan Ossa yang duduk di tengah segera memisahkan diri di sofa yang kosong. Ingin boss Zoan segera memulai saja berbicara. Mengatakan tujuannya memanggil.
"Ada hal yang ingin kusampaikan pada kalian. Sebenarnya tidak penting. Tapi setelah kupikir, kalian perlu tahu juga hal ini," Zoan memulai berbicara. Memandang lekat satu persatu pekerjanya yang nampak sudah serius menyimak wajahnya.
"Apa kalian masih ingat, setahun lalu terjadi pengurangan pekerja cukup banyak di rumah penginapan ini?" tanya Zoan seksama. Ketiga geng pembantu mengangguk bersamaan.
"Ingat, boss," jawab mereka serempak.
"Dan tinggal kalian empat orang bersama seorang penjaga pos bukan?" tanya Zoan dengan detail. Mereka kembali mengangguk dengan diam.
"Dan sekarang tinggal kalian saja?" tanya Zoan kembali. Mereka bertiga pun mengangguk.
"Sebenarnya, rumah penginapan ini sedang devisit sangat parah. Bahkan, hampir diambil alih oleh bank nasional saat itu. Kakak lelakiku, boss kalian, Arzaki, sedang tidak memiliki apa-apa dengan hutang yang begitu banyak kepada bank. Kalian tahu?" jelas Zoan yang berakhir tanya pada mereka.
"Kami tidak pernah tahu tentang hal itu, boss," sahut Murni terkejut dan seperti tidak percaya.
"Kalian pikir, rumah penginapan ini ditutup sebab apa?" tanya Zoan dengan tajam. Mereka bertiga saling pandang.
"Covid merajalela, boss," sahut Murni dengan yakin.
"Itu alasan yang kebetulan, Marni," pungkas Zoan.
"Kalian pasti sangat paham, boss kalian itu sangat baik sekali. Tapi, sebenarnya kakakku itu sedang menggantung lehernya sendiri." Zoan berhenti bicara sejenak. Terus memandang wajah-wajah pekerjanya yang nampak tercengang.
"Rumah penginapan yang terus devisit dari tahun ke tahun, berusaha diperbaiki dengan modal pinjaman dari bank. Namun, kakakku tidak berhasil membawa penginapan menjadi lebih baik. Bahkan kian terpuruk dengan bertambahnya pinjaman di bank yang tidak mampu lagi dibayarnya. Dan akhirnya, rumah penginapan ini hampir saja menjadi aset bank nasional kala itu."
"Kalian tahu,, siapa yang membebaskan seluruh pinjaman bank, boss kalian? Siapa yang selalu mengalirkan dana untuk membayar gaji kalian setahun belakangan ini?" Zoan bertanya tetap dengan tanpa ekspresi. Hanya menatap ketiga pekerjanya itu bergantian.
"Betapa baiknya boss kalian. Bahkan saat terdesak pun, penginapan terus saja dibukanya. Karena apa? Karena kasihan dengan semua pekerja yang akan kehilangan pekerjaan dan pendapatan. Hingga Covid itu, kakakku memiliki alasan kuat untuk menutup penginapan dan menghentikan banyak pekerjanya."
"Apa kalian tidak berfikir, uang dari mana yang boss kalian dapat untuk mempertahankan kalian. Juga keluarga mas Arzaki dengan istri dan ketiga anaknya.. Sedang penginapan ini tutup total. Dari mana? Ossa,,Nola,, Marni,,??" tanya Zoan dengan memandang ketiga geng pembantu bergantian. Mereka juga saling menoleh berpandangan.
"Marni, berapa gaji kamu?" tanya Zoan tiba-tiba pada Marni. Yang ditanya nampak gelagapan.
"Enam juta, boss," sahut Murni dengan lirih.
"Nola,,?" Zoan bertanya pada Nola.
"Lima juta lebih setengah juta, boss," sahut Nola sangat yakin. Zoan menghela nafasnya dengan kencang.
"Kamu, Ossa?" tanya Zoan dengan menatap lekat pada Ossa.
"Lima juta pass, boss," jawab Ossa. Membalas pandangan lekat Zoan padanya.
__ADS_1
"Kenapa gaji kamu paling sedikit?" tanya Zoan kembali pada Ossa.
"Sebab, saya adalah pekerja paling baru di sini, boss," jawab Ossa dengan rasa lapang dada.
"Lalu, bonus terakhir yang boss kalian bagi sebelum pergi kemarin itu, berapa?" tanya Zoan. Masih hanya memandang lekat pada Ossa.
"Sama semua, boss. Tiga setengah juta," jawab Ossa dengan lunglai. Mulai menduga, apalagi yang akan dikatakan boss Zoan pada mereka. Pasti semua uang itu ternyata adalah darinya.
"Yah, aku tahu semuanya. Kuharap kalian juga semakin ingat betapa baiknya boss kalian, pak Arzaki itu."
"Sebenarnya, aku tidak suka pamer, mengungkit atau membahas yang sudah berlalu. Tapi ada masalah yang kalian harus tahu."
"Sebenarnya, boss kalian itu tidak akan pernah kembali lagi ke sini. Kecuali, penginapan ini berjalan maju kembali."
Nola, Ossa dan Murni seketika tercengang tak percaya. Tapi kemudian diam dan terus menyimak lagi mendengarkan.
"Sebetulnya, penginapan ini sudah menjadi milikku. Kakakku sudah angkat tangan dan menyerah. Mas Arzaki menyerahkannya padaku. Tapi, aku bukan adik yang serakah untuk tergesa mengambil celah dan peluang."
"Aku ingin mas Arzaki dan keluarga, kembali ke sini secepatnya. Bagaimana pun, hanya dialah yang aku miliki. Kalian tahu kan, jika orang tua kami telah tiada?" tanya Zoan dengan serak. Mungkin hati lelaki tampan itu sedang oleng.
Ketiga geng pembaantu mengangguk iba bersamaan.
"Aku harap, kalian bertiga tulus membantuku. Aku bisa saja mengeluarkan uang lebih banyak untuk menambah beberapa pekerja, agar kalian tidak terlalu lelah. Tapi, itu bukan langkah yang tepat. Aku berjanji pada kalian, jika penginapan ini telah ramai sedikit saja, akan kutambahkan lagi pekerja yang cukup, bukan hanya satu."
"Jadi, kuharap keikhlasan kalian membantu dengan sungguh-sungguh. Tolong tahan dulu keluhan kalian. Aku tahu, kalian banyak melakukan pekerjaan akhir-akhir ini. Tapi jika terlalu banyak pengeluaran di sini, aku hawatir penginapanku yang di Semarang akan terdampak devisit yang sama lambat laun. Jika semuanya bangkrut, tidak ada lagi yang bisa kuharapkan."
"Jika penginapan ini sudah stabil, akan kuminta boss kalian untuk pulang. Kalian bisa bekerja kembali padanya," terang Zoan dengan wajah yang serius.
"Apa kalian paham? Marni, Ossa, Nola?" tanya Zoan agak pelan.
"Iya,, kami sudah paham. Kami berterimakasih sekaligus juga meminta maaf. Kami berjanji, akan berusaha sungguh-sungguh untuk menghidupkan kembali penginapan ini bersama anda. Agar anda tidak merasa sia-sia telah membayar kami selama ini, boss Zoan." Murni berkata tegas mewakili geng pembantu. Zoan memandangnya dengan lega. Kemudian mengangguk.
"Terimakasih atas pengertian dan kesanggupan kamu, Marni. Ossa dan Nola,, apa kalian juga seperti Marni?" tanya Zoan. Memandang wajah mereka berdua bergantian.
"Tentu saja kami sama jawaban dengan mbak Murni, boss. Kami bersedia," sahut Nola menjawab tanya Zoan.
Zoan menyandarkan punggung dengan lega. Memandang Ossa yang sempat mengangguk dan tersenyum membenarkan ucapan Nola barusan.
"Nola, Murni. Kalian kembalilah."
"Ossa, jika kamu ingin mengambil paketmu, tunggulah di sini. Aku akan ke ruang kerjaku sebentar," ujar Zoan. Lelaki itu berdiri dan melangkah pergi. Menuju sebuah pintu yang tertutup rapat, dan itu pasti ruang kerjanya.
"Ossa,," tegur Murni yang bersiap akan pergi dengan Nola.
"Aku akan mengambil paket, mak. Kalian duluan saja. Paketku ada sama dia. Atau, kalian temani sebentar ya,," pinta Ossa pada kedua seniornya.
__ADS_1
"Eh,, boss minta kami kembali, Ossa. Aku segan," sahut Murni keberatan. Nola pun mengangguk.
"Ya sudah, duluan saja," putus Ossa tersenyum. Meyakinkan pada Murni dan Nola untuk duluan ke kamar belakang. Merasa yakin jika boss Zoan adalah orang baik dan lelaki yang tulus mengayomi.