
Para polisi yang tengah berkumpul di dalam dan di teras lobi, berjumlah kurang lebih tujuh orang. Satu orang dari kesatuan itu baru selesai berbicara dengan resepsionis, Nola, tentang data di penginapan pagi ini.
Kebetulan belum ada satu orang pengunjung pun, yang datang atau pun meninggalkan penginapan. Dan itu justru memudahkan anggota kesatuan untuk melakukan tugas sweeping di penginapan pagi itu.
Namun, mereka belum bergerak menyisir sebelum bertemu dengan petinggi penginapan. Sang asisten penginapan, satu-satunya pegawai yang tidak mengambil fasilitas tempat tinggal, masih lama datangnya. Kurang lebih pukul delapan pagi, lelaki yang sudah berkeluarga itu akan datang.
Asisten multiskill yang merangkap di posisi kosong lainnya itu bernama Rama. Pria yang berdedikasi bagus dan terbukti handal mengelola penginapan menjadi lebih baik.
Zoan pun sangat percaya pada Rama. Meski belum pernah memiliki pengalaman di bidang perhotelan sebelumnya, tapi Zoan yakin untuk memilih Rama pada saat interview waktu itu. Dalam pandangan Zoan, Rama yang sebelumnya tinggal di Singapura dan menikah muda itu adalah lelaki yang bisa diandalkan.
Nola nampak keluar dari dalam lobi, menyambut Ossa dan Arzaki yang berjalan mendekat dengan setengah berlari.
"Pak, ada polisi yang akan merazia penginapan," ucap Nola dengan aura yang gugup. Memandang Arzaki dan Ossa bergantian.
"Ya sudah, persilakan saja. Kalian menerima tamu cukup teliti kan?" tanya Arzaki dengan tenang.
"Iya. Kami selalu memeriksa identitas dan dokumen setiap pengunjung. Tapi apa yang mereka bawa, di luar pemantauan kami, pak," jawab Nola dengan gelisah.
"Itu wajar, Nola. Mudah-mudahan tidak ada apapun di penginapan yang melanggar aturan. Jika ada, itu sudah resiko," sahut Arzaki dengan respon tenangnya.
"Tapi kalo para polisi nanti menemukan hal berat, bagaimana, pak?" tanya Nola masih dengan rasa yang galau.
"Ayo kita ke sana," sahut Arzaki. Tidak lagi menanggapi kecemasan Nola.
Arzaki kembali berjalan pelan menuju teras lobi. Menghampiri seorang polisi yang berdiri di teras dan memandang Arzaki sambil tersenyum.
"Selamat siang. Anda pemilik penginapan?" tanya polisi itu dengan tegas berwibawa.
"Betul," sahut Arzaki cepat. Bisa jadi polisi itu telah melihat-lihat majalah penginapan.
Memang ada foto Arzaki sebagai pemilik penginapan di halaman awal depan. Juga dengan beberapa ulasan sebagai keterangan. Meski itu majalah lama dan belum lagi diupdate, penampilan Arzaki dengan foto di lembar depan majalah penginapan tidak jauh berbeda. Orang akan mudah mengenalinya.
"Kami adalah polisi dari luar wilayah kepulauan seribu yang mengadakan tukar sidak. Sasaran kami hanya penginapan yang ilegal atau tidak terdaftar dalam data izin usaha dan tidak memiliki NPWP," terang polisi itu menegaskan. Arzaki nampak terkejut sebentar di balik sikap tenangnya.
"Apa SIUP dan NPWP kami setahun lalu sudah tidak sah lagi?" tanya Arzaki pada polisi itu.
"Seharusnya perlu mendaftar ulangnya sebelum penginapan beroperasi kembali. Apa anda terlupa?" tanya polisi itu dengan wajah menyayangkan.
"Iya, saya lupa tentang ini," ucap Arzaki mengakui kelalaian pihak penginapannya.
"Baiklah. Izinkan kami melakukan pemeriksaan pada seluruh kamar dan penyewa di penginapan anda pagi ini," pamit polisi dengan tegas wibawanya.
"Silakan, itu memang tugas anda-anda semua," sahut Arzaki dengan datar. Lelaki itu tidak tersenyum sedikitpun.
Polisi yang berbicara pada Arzaki itu adalah kepala regu sidak di penginapan. Sedang mengumpulkan semua anggota. Briefing singkat, dan kemudian nampak saling memencar.
__ADS_1
Dua orang anggota nampak berjalan ke halaman penginapan yang luas dan panjang menuju pos jaga. Mereka menunggu di depan pintu gerbang. Tidak ingin jika ada target yang yang kemudian melarikan diri. Segala kemungkinan bisa terjadi di setiap sidak dalam razia mereka.
"Ossa, antar aku kembali ke dalam," ucap Arzaki pada gadis yang nampak tegang dan resah.
"Nola, jika ada apa-apa, bilang padaku lewat Oqtissa saja." Arzaki berbicara sambil memandang Nola sekilas. Nola bahkan terlihat jauh lebih tegang. Mungkin merasa etos kerjanya sebagai penerima tamu sedang dipertaruhkan.
Arzaki berbalik meninggalkan teras lobi. Ossa membuntutinya ke teras rumah dan masuk menuju ke arah kamarnya di ruang televisi. Ossa mengikuti dengan hati berdebar. Berdoa penuh harap agar polisi tidak menjumpai kesalahan apapun di rumah penginapan.
"Jika ada apa-apa, bapak panggil saya saja, yaa..." Ossa berkata saat Arzaki akan masuk ke dalam kamar.
"Perasaanku sangat tidak enak, Ossa. Salahku, tidak mengingatkan adikku agar mendaftar ulang izin usaha," ucap Arzaki mengandung keluh dan sesal.
"Jika punya surat izin usaha yang berlaku, tidak akan dirazia, pak?" tanya Ossa dengan ragu. Masih jelas dalam ingatan, selama bekerja di penginapan, tidak sekali pun polisi datang merazia.
"Sepertinya seperti itu. Jika pun terpaksa dirazia, mereka akan memberi warning terlebih dahulu," jelas Arzaki.
"Tapi, sudah terjadi. Biarlah.." Arzaki membalik badan dan membuka pintu kamar. Lelaki itu menggeser dirinya perlahan melewati pintu kayu kamarnya.
Ossa pergi ke kamar di belakang dan mandi sebentar. Setelah mememani pak Arzaki jalan pagi agak jauh, rasanya jadi lengket dan berkeringat. Meski hanya pelan berjalan, tapi rasa tegang itu membuat tubuhnya berkeringat.
🕸
Dua perempuan sesekali berbincang dengan lirih di ruang makan. Sambil menata menu sarapan pagi di meja. Mereka adalah Murni dan Ossa. Menyiapkan menu makan untuk boss mereka, pak Arzaki pagi ini.
"Ossa,,!!"
"Mbak,,! Bagaimana?!" sambut Ossa yang juga berjalan maju menyongsong kedatangan Nola.
"Ossa, sampaikan pada pak boss. Ditunggu di lobi secepatnya. Sepertinya sidak mereka mendapati target,," ucap Nolaa sangat cepat. Ibu hamil yang nampak sudah membuncit itu nampak sedikit terengah.
"Iya, mbak. Akan segera aku sampaikan pada pak boss," sambut Ossa dengan tanggap.
"Cepat ya, Os. Aku kembali ke sana dulu,,!" seru Nola dan berbalik dengan cepat.
Ossa pun segera menuju pintu kamar Arzaki. Meninggalkan Murni sendirian di meja makan dengan wajah termangunya.
🕸
Arzaki yang juga habis mandi itu tidak nampak terkejut saat Ossa mengetuk pintu dan menyampaikan pesan dari Nola. Dengan tenang, Arzaki menyisir rambut hitam tebalnya di depan Ossa, sisir rambut telah dipegang saat membukakan pintu kamar.
Kemudian, Arzaki melangkah keluar sambil mengancingkan baju kemejanya dan terus berjalan pelan-pelan.
"Ada temuan mencengangkan di salah satu kamar penginapan anda, saudara Arzaki," sambut polisi itu pada boss penginapan yang baru sampai di lobi.
Arzaki nampak bungkam dengan pandangan menunggu lanjutan bicara polisi itu.
__ADS_1
"Kami mendapat tiga kasus sekaligus di rumah penginapan anda," ucap polisi itu melanjutkan.
"Apa saja?" tanya Arzaki dengan tenang.
"Pertama, rumah penginapan ini tidak memiliki uzin usaha yang tervalid,"
"Kedua, kami mendapati dua orang pria dan wanita tanpa ikatan apapun, stay di kamar yang sama. Ini menandakan sistem seleksi di resepsionis anda sangat lemah. Sedang peraturan tertulis penginapan ini sudah cukup baik.."
"Yang ketiga, dan ini adalah kasus cukup berat pada razia kami di kepulauan Seribu. Kalian mungkin tidak menyangka, kami menemukan bungkusan sabu sebanyak enam ratus gram, lebih dari setengah kilo, di salah satu kamar atas."
Penjelasan polisi itu demikian mengejutkan. Arzaki bahkan menarik nafasnya kuat-kuat dan terkejut. Arzaki kemudian menolehkan wajahnya pada Nola.
"Mana catatan anda pada penemuan kasus di penginapanku?" tanya Arzaki pada kepala polisi itu. Dan polisi segera menyerahkan selembar notes pada Arzaki.
Arzaki nampak serius membaca notes yang dibuat polisi itu. Beberapa menit kemudian, ditolehnya Nola yang sedang pucat pasi memandang.
"Nola, cek dua kamar itu. Siapa saja penghuninya." Arzaki berkata sambil mengulurkan notes pada Nola. Yang diterima oleh Nola dan segera membawanya ke depan komputer. Nola memeriksa.
"Pak," tegur pegawai lelaki, Iwan pada Arzaki.
"Ada apa?"
"Pria dan wanita yang kena Razia, lelakinya adalah penyewa kamar tempat kejadian. Sedang perempuannya adalah penyewa kamar di lantai bawah. Mereka join bersama setelah menyewa kamar berlainan. Jadi, dalam hal ini, bukanlah salah resepsionis," terang Iwan dengan detail dan yakin.
Iwan adalah salah satu pegawai penginapan yang mendampingi polisi menyidak dari pihak penginapan.
"Yang dikatakan mas Iwan tadi, memang benar pak. Mereka menyewa kamar sendiri, namun saling berkunjung setelah berada aman dalam penginapan." Nola menerangkan pada Arzaki dengan ekspresi yang gugup. Nola nampak sangat cemas.
"Dan kamar tempat adanya sabu enam ratus gram itu, sedang tidak ada yang menempati dua hari belakangan. Tapi kami selalu mengemasnya setiap pagi." Nola menerangkan dengan lancar meski tetap terdengar kesan gugup.
"Jadi, terakhir dibersihkan adalah pagi kemarin dan akan dibersihkan lagi pagi ini?" tanya Arzaki menyelidik. Nola mengangguk.
"Iwan, pukul berapa pegawai pengemas kamar itu datang?" tanya Arzaki pada Iwan.
"Hari ini Natasya libur, pak," jawab Iwan dengan bingung.
"Ehem,,!!" ketua polisi itu berdehem. Memandang pada Arzaki.
"Pak Arzaki. Kasus sabu di penginapan anda cukup berat. Kami perlu membawa anda ke markas untuk sementara. Banyak yang ingin kami tanyakan." Polisi itu berkata pada Arzaki dengan tegasnya.
"Sebagai apa kalian membawaku?" tanya Arzaki dengan nada yang tenggelam.
"Sementara sebagai saksi atau juga sebagai korban. Namun dalam perkembangan kasus ini nanti, bisa jadi saudara Arzaki berstatus menjadi tersangka atau pelaku dalam kasus penadah, perantara atau juga pengedar. Tergantung di penyidikan awal kami. Jadi mohon kerja sama yang kooperatif dari anda, saudara Arzaki," ujar ketua sidak dengan agak keras dan tegas.
Ossa dan Nola saling berpandangan sangat terkejut. Sadar betapa berat kasus sabu ini. Bahkan bisa jadi sebagai terdakwa dan tertuduh, Arzaki akan mendapat hukuman seumur hidup di penjara. Juga, rumah penginapan ini terancam akan dihentikan sementara operasinya.
__ADS_1
Ini sangat menyedihkan. Sedang status Arzaki adalah seorang pasien, lelaki itu masih sebagai pesakitan...
🕸🕸🕸🕸🕸🕸🕸🕸