Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
34. Menyusul


__ADS_3

Perjalanan jalur darat dari kota Semarang pusat menuju kota Rembang, biasanya cukup memakan waktu normal selama kurang lebih tiga jam saja. Namun, tidak berlaku bagi Zoan pada perjalanannya kali ini. Lelaki itu perlu waktu empat jam lebih untuk menempuhnya.


Meskipun Zoan membawa seorang driver bersamanya, bahkan driver itu adalah yang mengantar Ossa pulang kampung tempo hari, waktu perjalanan Zoan relatif lebih panjang.


Zoan acap kali meminta pada driver untuk berhenti istirahat. Singgah di beberapa kafe lesehan untuk berselonjor sambil memesan minuman jahe, madu dan lemon hangat yang disukanya. Zoan beberapa kali merasa gemetar dan dingin tiba-tiba di perjalanan. Obat yang diresep sang dokter, lupa tak dibawa. Dan tempat akhir perhentian adalah di sebuah masjid saat ashar.


🕸


Perjalanan sehabis dzuhur itu berakhir tepat pukul lima sore hari. Di depan sebuah rumah sederhana, namun lumayan besar itulah kini kang taksi mengantarkan Zoan ke tujuan dengan selamat.


Zoan telah berdiri di pintu dan bersikap layaknya seorang tamu pada umumnya. Mengetuk pintu beberapa kali sambil melemparkan salam sesekali.


Seorang wanita yang Zoan duga adalah ibunda Ossa, sedang berdiri di depan pintu yang baru saja terbuka. Wanita itu sambil menjawab salam yang Zoan salam sapakan padanya.


"Ngapunten, bu. Apa betul ini rumah Ossa?" tanya Zoan dengan sopan. Ibu Endah mengangguk dengan wajah penuh tanda tanya.


"Mas ini siapa ya? Aku ini ibunya Ossa," sambut ibu Endah.


"Maaf, bu. Nama saya Zoan, dari kota Semarang. Ingin menemui Ossa. Apa Ossa di rumah, bu?" tanya Zoan. Berusaha berbicara sesopan mungkin pada wanita hampir setengah baya di depannya.


"Zoan,,???" Ibu Endah nampak tertegun serasa tak percaya. Sangat ingat pada cerita Ossa tentang siapa saja nama bossnya di Jakarta dan Semarang.


"Nggih, bu. Nama saya Zoan." Lelaki tampan itu mengangguk dan tersenyum meyakinkan. Ibu Endah kian terkejut wajahnya.


"Masnya ini boss Ossa yang di hotel Semarang?!" tanya bu Endah dengan jujur dan nampak terkejut.


"Nggih, bu. Saat Ossa masih bekerja di penginapan," sahut Zoan membenarkan.


Ibu Endah mengangguk. Segera mengajak Zoan masuk ke dalam rumah. Mengatakan jika Ossa sedang ada acara di Masjid. Dan Zoan pun mengangguk menanggapi.

__ADS_1


"Bu, apakah Ossa sudah menikah?" tanya Zoan di sela obrolan.


Bu Endah terdiam. Keraguan terbaca dari matanya untuk menjawab.


"Ossa sampai hari ini belum menikah, mas Zoan," jawab bu Endah kemudian.


"Apa Ossa akan menikah, bu?" tanya Zoan dengan nada antusias.


Ibu Endah kembali menahan nafasnya. Kali ini kebingungan semakin nyata terlihat di wajahnya.


"Untuk ini, ibu tidak bisa menjawab. Maaf ya, mas Zoan. Sebaiknya menunggu Ossa datang saja. Sehabis maghrib selesai acara di masjid, Ossa pasti akan segera pulang." Bu Endah menolak halus untuk menjawab pertanyaan Zoan. Sebab bu Endah pun sedang merasa serba salah dan resah.


"Baiklah, bu.. Bagaimana jika saya juga pergi ke Masjid sebentar? Sebab sebentar lagi datang maghrib. Sekalian saya ikut berjamaah, siapa tahu masih bisa mendapat sepenggal ceramah Rajab di sana, bu," ucap Zoan berpamitan. Lelaki gagah itu berdiri.


"Eh, tunggu.. Mas Zoan, belum tahu tempat masjidnya kan? Biar diantar adiknya Ossa ya.." Bu Endah sambil bergeser cepat menuju ruang tengah.


Kemudian kembali dengan dua anak kecil perempuan berbaju muslim dan berkerudung senada sama persis. Sangat cantik, gendut dan menggemaskan. Mereka memandang Zoan lekat tanpa kedip.


Zoan tertegun memandang dua gadis kecil cantik dengan mata sangat bening. Wajah serupa tiada satu cela dan gores satu pun. Mengingat jika Ossa mungkin seperti mereka juga saat kecil. Wajah tanpa dosa dan tentu saja sangat polos. Zoan tersenyum.


"Saya permisi dulu, bu. Mereka saya bawa," ucap Zoan berpamitan,bu Endah pun mengangguk tersenyum.


Zoan menyusul dua kembar yang justru telah mulai berjalan memimpin. Hanya terus memperhatikan mereka berjalan dengan diam. Namun, Zoan masih sempat menanyakan nama mereka berdua masing-masing. Divanah dan Davaniah menjawab lantang sambil terus berjalan dengan menoleh sedikit menoleh sedikit ke belakang. Mereka sangat antusias dan bersemangat menyusul sang kakak yang sedang abai pada mereka sementara.


🕸


Acara peringatan hari Isra Mi'raj yang disertai dengan ceramah dan tausiah itu sangatlah meriah. Jamaah berduyun datang ke dalam, serta ke serambi masjid dengan sangat mengalir dan menumpah. Begitu juga dengan Ossa dan Mita. Mereka telah duduk nyaman di posisi paling aman. Di baris depan dan di samping pintu serambi masjid dengan Ossa yang menyandar di dinding. Mita duduk khidmat di sebelahnya.


Acara dengan inti peringatan peristiwa malam Isra, yaitu malam di mana sang nabi melakukan perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa. Dan malam Mi'raj, yaitu peristiwa terbangnya nabi menuju Sidratul Muntaha, saat nabi mendapat perintah shalat lima waktu dariNya. Akhirnya berakhir..

__ADS_1


Sebagian jamaah, ada yang langsung pulang dengan membawa nasi berkah yang sudah dibawa doa bersama. Dan ada ramai juga yang tetap tinggal untuk shalat maghrib berjamaah.


Ossa memandang Mita yang tengah mengemas nasi di sampingnya.


"Mit, bagaimana ini? Tiba-tiba rasanya malu banget mau pinjam dari masjid. Ini kan urusan pribadi, masuk mau pinjam milik umum?" keluh Ossa nampak ragu. Mita terdiam memandang sejenak, lalu menggeleng.


"Nggak papa, Ossa. Kita kan bagian dari orang umum itu, he,,he... Siapa tahu ada rezeki. Semangat, kutemani selalu. Lagian pak Rahmat sudah ada waktu untuk kita sehabis maghrib. Jangan lewatkan kesempatan emas ini, Ossa," ucap Mita mengobarkan semangat sang karib. Ossa pun tersenyum mengangguk.


Masjid yang beberapa menit lalu penuh sesak dan hingar bingar, kini terasa sedikit lengang. Yang pasti akan ramai kembali saat benar-benar datang waktu maghrib.


Ossa sangat terkejut saat mukena yang dipakai terasa ditarik-tarik kecil dari belakang. Ternyata si kembarlah pelakunya. Duo cilik itu sedang menempati baris tepat di belakangnya.


"Heih, kalian datang sama siapa,,?!" bisik Ossa dengan seru yang lirih.


Divanah dan Davaniah saling pandang, mungkin mereka sedang bingung menerangkan.


"Sama om-om, mbak," jawab Davanah nampak ragu. Ossa dan Mita saling pandang.


"Om-om siapa, Na?" tanya Ossa penasaran. Dipandanginya wajah Vana dan Vani, nama panggilan mereka, dengan saksama.


"Om-omnya, guanteng. Cakep, mbak,," ucap Vani menambahkan keterangan.


Ossa terpaksa menahan rasa penasaran. Adzan maghrib yang sekian menit lalu telah berkumandang, kini sedang ditutup dengan bacaan Iqomah yang lantang. Para jamaah pun segera berdiri untuk berjamaah shalat maghrib.


🕸


Perasaan Zoan menegang tiba-tiba tanpa sebab yang pasti. Membuat lupa untuk buang air kecil semenjak tiba di rumah Ossa dan juga di masjid. Bahkan ketika mengambil wudhu sekalipun. Terlebih jamaah cukup banyak mengantri di belakangnya untuk berwudhu di pancuran.


Dan saat doa bersama telah selesai dengan diaminkan serentak, Zoan pun segera meluncur demi melampiaskan hasrat buang air kecilnya di toilet.

__ADS_1


Saat kembali dari toilet, masjid telah kembali lengang. Hanya beberapa jamaah saja yang nampak tinggal dan beberapa mengobrol.


Zoan terkejut. Dua orang perempuan berkerudung, yang satu orang sangat dikenalinya adalah Ossa, sedang bergandeng tangan melewati sambil menunduk. Mengikuti seorang lelaki yang Zoan ingat adalah sang pembaca Iqomah. Mereka menuju sebuah ruangan yang bertuliskan 'ruang takmir masjid'. Zoan berjalan di belakang agak jauh mengikuti.


__ADS_2