Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
67. Saling Rindu?


__ADS_3

Mungkin Zoan sedang mengawasi saat Ossa berjalan mendekat untuk masuk ke dalam mobil sedan merah. Seperti yang disampaikan sopir sewa tadi kepada gadis itu.


Terbukti dari pintu yang tiba-tiba terbuka sedikit saat Ossa akan menggapainya. Zoanlah pasti yang membuka pintu itu dari dalam.


Ossa menarik pintu lagi agar lebih lebar terbuka. Rasanya seperti terpaku saat menoleh, Zoan tengah memandang tajam ke arahnya. Seperti biasa, wajah tampan itu lebih suka tanpa senyum.


"Boss Zoan,,,??!" sapa Ossa dengan degub kencang di dadanya.


"Masuk dan duduklah denganku, Ossa..!" sambut Zoan sambil menggeser duduk menepi dengan pelan.


Ossa mengangguk dan nampak ragu untuk menaikkan kakinya, namun masuk juga kemudian.


Zoan pun tersenyum, rasanya sudah begitu lama tidak melihat pipi gadis muda itu memerah. Menuruti hati, sangat ingin menarik dan memeluk erat saja rasanya. Mungkin bagi boss tampan di penginapan, Ossa memang benar-benar harem satu-satunya yang masih ingin dimiliki.


Bukan lagi harem palsu, pura-pura dan sebab membutuhkan ditemani saat meeting. Tapi Zoan memang mulai menginginkan Ossa sebagai harem sesungguhnya dari hati dan hayati.


Namun yang Zoan tidak habis pikir, meski rasanya sangat ingin, tapi nafsu untuk menyentuh dan mencumbu seperti yang biasa dia lakukan pada para mantan kekasih, selalu bisa diredam dan dikendalikan jika dengan Oqtissa.


Dan bagusnya, Zoan tidak lagi mengingat dan menginginkan untuk meniduri para mantan kekasihnya kembali seperti dulu sedikit pun. Hanya jika mengingat dan merenungkan sosok Ossa lah dirinya bernafsu. Zoan tidak ingin munafik tentang hal itu.


Ossa telah duduk jauh di sebelah. Nampak kaku dan tegang dengan wajah sedikit menunduk.


"Apa kabar, Ossa? Kalian dari mana?" tegur Zoan. Berharap Ossa mengangkat wajah dan menunjukkan padanya.


"Alhamdulillah, saya baik. Kami dari apotik, menebus obat pak Arzaki. Boss Zoan, kamu sendiri, apa kabarmu?" jawab Ossa sekaligus bertanya. Seperti yang Zoan ingin, Wajah dan mata indah itu tengah menghadap padanya.


"Ya, seperti inilah, Ossa. Lihat sajalah aku," sahut Zoan tanpa berpaling pandangan pada Ossa. Gadis itu mengamati Zoan agak lama. Zoan kian cerah dan bersih. Tapi,, masih juga nampak kurus.


"Boss Zoan, kamu kurus," ucap Ossa dengan lirih. Nada sedih terdengar jelas dari suaranya.


"Bantu aku kembali gemuk, ya Os. Kamu bisa?" tanya Zoan penuh maksud. Ossa nampak bingung tidak paham.


"Bagaimana bisa, bertemu saja tidak pernah," sambut Ossa menumpah perasaan hatinya.


Zoan berkerut dahi sesaat. Mencerna kata Ossa dengan bermacam makna dan maksud yang mungkin.

__ADS_1


"Ossa, kamu suka bertemu denganku? Apa kamu rindu padaku?" tanya Zoan tiba-tiba sambil tersenyum.


Sudah diduganya, Ossa menoleh padanya terkejut. Tapi wajah merona itu kemudian berpaling. Ossa nampak tidak ingin menjawab.


"Boss Zoan, bagaimana kabar penyelidikan?" tanya Ossa kemudian, memandang Zoan sekilas. Ingin mengalihkan pembahasan lain dengan Zoan.


"Lancar, Ossa. Hanya menunggu kabar satu orang saksi sekaligus terduga tersangka saja," sahut Zoan tanpa beban. Berharap Ossa tidak membahasnya, rasanya sangat lelah. Zoan hanya ingin merasa terhibur jika sedang bersama Ossa yang sudah lama tak dilihat. Bukan membahas masalah lain yang tidak pada waktunya. Rasanya malas sekali.


"Anda tidak menanyakan kabar pak Arzaki?" tanya Ossa kembali. Zoan menggeleng dan terus memandangnya.


"Aku sudah memantau keadaan mas Arzaki. Rama bilang sudah stabil. Apa kakakku sudah bisa berjalan dengan cepat, Ossa?" tanya Zoan perlahan.


Ossa menoleh. Mengamati Zoan sesaat. Wajah itu apa adanya, Zoan tidak pernah menipu. Maknanya, Zoan tidak tahu keadaan Arzaki sebenarnya. Ossa kebingungan sesaat.


"Sebaiknya boss Zoan melihat langsung keadaan tuan bagaimana. Saya takut mengatakan kesimpulan saya sendiri."


Ossa pun menjawab dengan makna yang samar. Merasa begitu kasihan dengan Zoan yang ternyata memang masih juga tidak tahu.


"Baiklah, Ossa. Aku ingin membahas yang lain saja," tukas Zoan sambil mengusap rambut pendeknya yang macho.


"Aku mengurusi masalah penginapan yang rumit itu, Ossa," jelas Zoan dengan lembut dan sabar. Ossa memandang Zoan dan menggeleng.


"Tidak, anda bohong. Mas Rama mengatakan jika anda sudah pergi dari kepolisian sejak dua hari anda dibawa polisi. Boss Zoan ke mana? Kenapa tidak kembali ke penginapan sebentar saja?? Hik,,hik,,,hik,," luah Ossa dengan tangisan sedih yang tak bisa lagi ditahannya. Menyesali Zoan yang tidak kunjung kembali dan berakibat dirinya dinikahi Arzaki.


Zoan terkejut dengan reaksi Ossa yang diluar dugaan. Bahkan hingga menangis sebab dirinya tidak kembali atau menemui barang sebentar.


Kenapa?? Apakah gadis itu merasa takut untuk berjauhan dengan dirinya lebih lama,,? Apakah Ossa selalu mengharap datangnya? Ossa ingin selalu bertemu dengannya? Ingin terus berdekatan? Zoan tersenyum tipis merasa lega. Sepertinya, harapan untuk kian merapati Ossa, telah terbuka lebar-lebar untuknya.


Zoan menggeser badan dengan pelan ke samping. Lebih mendekat lagi ke posisinya semula. Menyempitkan rentang antara dirinya dengan gadis yang menangis di sebelah ujung sana. Rasanya tidak sabar untuk menyentuh dan merengkuh.


Tok..! Tok...! Tok...!


Zoan terdiam di kursi dan seperti diam melekat. Niat menggeser pelan diurungkan. Sopir yang disewa, Idris, nampak berdiri di luar dengan wajah suntuknya.


"Ada apa, mas?" tanya Zoan pada sang driver. Pintu mobil telah dibuka oleh Ossa dengan sangat cepat. Risau jika Ada kabar penting yang akan disampaikan oleh Idris pada mereka berdua.

__ADS_1


"Mas, mobil yang dibawa Aldi, entah apa lagi yang tak betul, gagal jalan terus. Kami sudah sedaya upaya melakulan perbaikan. Tapi belum ketemu juga penyakitnya..!" Sopir Idris berseru dari luar pintu.


"Aku akan coba melihatnya, mas!" sambut Zoan mengangguk. Idris juga mengangguk, serta berpamit pergi kemudian.


Ossa dan Zoan saling pandang dengan tatapan dalam sesaat.


"Coba kulihat mesin mobil sebentar," pamit Zoan pada Ossa.


Lelaki tampan itu bergeser pelan melewati Ossa dengan berpegangan daun pintu sangat kuat. Gerakannya lamban, dan sama sekali tidak gesit. Wajah Zoan sangat tegang dan nampak menahan sakit yang sangat.


"Boss Zoan, kamu kenapa? Kamu sakit?!" tanya Ossa dengan sangat panik. Zoan yang terbiasa cepat dan gesit, kali ini sangat perlahan bergerak. Ossa begitu khawatir dan was-was.


"Tidak apa-apa. Aku habis terkilir saja, Ossa," terang Zoan sambil menurunkan kakinya.


Ossa juga ikut keluar dan berjalan di belakang punggung Zoan. Lelaki itu berjalan lebih pelan dari biasanya. Menghampiri sistem mesin dan membungkuk sedikit dengan Aldi.


Zoan nampak terdiam sejenak. Mungkin sedang berdoa sambil menyusun strategi. Dan Zoan telah sibuk dengan kegiatan menghubungkan sistem mesin mobil dengan sistem meshin yang diyakininya.


"Coba kamu nyalakan, Aldi!!" seru Zoan sambil berdiri sangat pelan. Meluruskan punggung dengan hati-hati dan pelan. Yang terkesan sudah sangat panas dan pegal sekali. Padahal membungkuknya tidak terlalu lama.


Ossa terus memperhatikan. Merasa resah jika ternyata Zoan sedang menderita penyakit berbahaya diam-diam. Tapi... Ah, lelaki itu tidak ingin mengatakan hal yang benar sedikit pun padanya.


"Alhamdulillah...!! Sip, mas...!! Pinter tenan, ganteng tenan! Ora goroh njenengan, mass!!" teriak Aldi dari dalam mobil di balik kemudinya. Lelaki itu nampak lega dan cengengsan sambil memainkan deru mesin.


Zoan tidak menyahut, merapatkan kembali kap mobil dan berjalan pelan menjauh. Mendekati Ossa yang terpaku di tempatnya. Gadis polos itu nampak memandang Zoan dengan takjub.


"Ossa, ayo,,!" ajak Zoan pada Ossa. Ingin agar gadis itu pulang bersamanya.


Namun, Ossa menggeleng kuat menolak. Zoan pun tidak memaksa dan paham. Tidak masalah jika gadis itu tidak memilih pulang dengannya.


"Baiklah, Ossa. Cepat masuklah ke dalam mobil! Tolong jika sudah sampai di penginapan, kamu segera berkemas di kamarku,,,!" bisik Zoan berseru lirih dan mendekat di telinganya.


"Iya, boss Zoan,," jawab Ossa mengangguk. Menyanggupi dengan cepat begitu saja.


Zoan tersenyum, lalu berjalan menuju sedan merah dan meninggalkan Ossa yang termangu memandang punggungnya. Sambil mencermati pesan Zoan barusan tadi kepadanya.

__ADS_1


🕸🕸🕸🕸


__ADS_2