
Tubuh elok nan molek tanpa segaris saja goresan, terbaring begitu menggoda dengan tidak berbaju meski hanya sehelai pun. Abai pada tubuh terbukanya dengan raut wajah cantik yang kecewa.
"Kak Zoan,,," sebut Vonni dengan lirih berekspresi menggoda. Zoan memandang sekilas.
"Vonni, maafkan aku. Sebaiknya kita jangan melakukan seperti ini lagi." Zoan berkata tegas sambil mengenakan pakaian dalamnya.
"Kenapa, kak. Kita sudah melakukannya beberapa kali sejak dulu. Aman, kan... Aku tidak hamil dan tidak berpenyakit. Aku juga tidak pernah melakukannya selain denganmu sekarang. Hanya pernah dengan pacarku, tapi itu saat dulu. Aku sangat merindukanmu, kak. Kamu sangat susah kuhubungi," keluh Vonni dengan suara yang sendu.
Mencoba memeluk punggung Zoan yang belum berbaju, namun Zoan bergeser menghindar.
"Sorry Vonni. Aku tak bisa," kata Zoan kukuh menolak.
"Kenapa, kak,,?" tanya Vonni terdengar agak kesal.
" Von, sejak akhir-akhir ini aku sering memimpikan almarhum orang tuaku. Mereka seolah marah padaku. Seakan aku tidak pernah mengirim doa pada mereka. Aku merasa apapun kebaikan yang sudah kulakukan menjadi sia-sia sebab kelakuanku yang seperti ini," ucap Zoan dengan lirih. Celana panjang sudah dipakainya. Kini sedang memakai kaos dalam yang kemudian kemejanya.
"Sekali saja, kak. Janji,,, please,," rayu Vonni dengan tubuhnya yang menakjubkan.
"Aku tidak bisa, Vonni. Kamu lihat sendiri, punyaku tidak bereaksi sempurna. Aku akan gagal, Vonni," jelas Zoan dengan yakin dan tegas.
"Ini kan masih mulai, kak. Akan kubantu dengan cara yang lain. Biasanya kamu banyak variasi, kan,,?" Vonni terus mengiba.
"Aku tidak bisa, Vonni. Bayangkan jika papa dan mamamu sudah tiada, kamu sedang melakukan dosa, mereka tiba-tiba ada di pelupuk mata. Aku tidak bisa melakukan dosa besar ini lagi, Vonni." Zoan menjelaskan sambil mengantongi dompet, ponsel dan kunci mobil. Vonni duduk cepat tanpa berusaha menutupi dirinya.
"Kak, mau ke mana?!" tegur Vonni terheran.
"Aku ingin istirahat dengan nyaman, Von ," sahut Zoan dengan tidak lagi menoleh pada Vonni. Zoan melangkah cepat menggapai pintu kamar.
"Kak,,! Istirahat saja di sini! Janji, aku tidak akan mengganggumu! Kak,,!!" seru Vonni dengan kencang. Tapi Zoan sudah menutup pintu kamar. Vonni merasa tak berguna mengejar, sedang dirinya belum memakai baju selembar pun.
__ADS_1
🕸
Meski merasa amat heran dengan apa yang terjadi pada si boss, tapi Ossa bergegas mengikuti tanpa banyak berbicara. Berbenah diri dengan cepat saat Zoan mendatangi kamarnya dan mengajak melanjutkan perjalanan.
Dua puluh menit yang lalu,,,
Setelah bosan bermain ponsel, Ossa menyempatkan mandi sebentar sebelum merebahkan diri barang satu jam. Namun niatnya untuk merebah digagalkan. Pintu di kamarnya sedang diketuk banyak kali oleh seseorang dari luar.
Reizoan Azril lah yang ternyata sebagai oknum pengetuk pintu di kamarnya.
"Ossa, kamu sedang apa?" tanya Zoan dengan berdiri di pintu. Memandang Ossa yang nampak habis mandi. Tercium bau sabun yang wangi darinya.
"Saya,,,boss Zoan kata, boleh istirahat dua jam. Ini belum satu jam,,," jawab Ossa nampak bingung.
"Kamu istirahat di mobil saja, Oss. Kamu bisa tidur di sana. Berkemaslah, ayo kita teruskan perjalanan ini sekarang. Aku ingin cepat sampai di Semarang," ucap Zoan. Dengan santai masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Zoan duduk dibangku yang hanya sebiji saja di kamar.
"Iya, Oss. Cepatlah. Aku hanya menumpang duduk sebentar." Zoan mengerti pada tatapan pemilik kamar yang resah. Dan berusaha menenangkannya.
Ossa tak bertanya apapun lagi. Tidak menyisir rambut atau juga berbedak. Hanya menyambar ponsel, tas, jaket dan juga sepatunya.
Zoan telah berdiri dan bersiap di pintu. Dengan tangan memegang knop yang siaga membukanya.
"Boss Zoan,, tunggu dulu,,!" seru Ossa mencegah. Zoan urung memutar knop itu.
"Ada apa, Ossa? Barangmu ada yang tertinggal?" tanya Zoan terheran. Ossa nampak bingung untuk membuka mulutnya.
"Apa, Ossa,,?!" Zoan mengulang agak keras pertanyaannya.
"Anu,,,, itu, boss. Sebaiknya bersihkan dulu leher dan wajahmu. Ada noda merah-merahnya," jelas Ossa akhirnya.
__ADS_1
Menunjuk wajah Zoan dengan tatapan mata yang segan. Merasa risau jika lelaki itu jadi tersinggung. Dan Zoan pun nampak terkejut sebentar.
"Iya, Ossa. Aku mengerti. Tunggu sebentar,," pesan Zoan sambil cepat berlalu. Reaksinya biasa saja..
Zoan menyambar handuk yang tergeletak di ranjang dan di bawanya ke wastafel. Tidak peduli jika handuk hotel yang lembut dan wangi sabun itu adalah bekas dipakai Ossa.
Ossa hanya termangu-mangu mengikuti gerak Zoan dengan mata beningnya.
Zoan merenung wajahnya di kaca wastafel. Mengelapi leher dan rahang basahnya dengan handuk. Menghapus noda lipstik yang sempat dijejakkan Vonni dengan merata di sana. Zoan meninggalkan wastafel sambil mengelap rambut dan muka yang juga dibasuhnya banyak kali.
"Ayo, Ossa. Apa sudah nampak bersih?" tanya Zoan tanpa segan dan malu sedikit pun. Menunjuk lehernya yang telah bersih dan tanpa merah lagi pada Ossa.
"Eh,, iya. Sudah tidak ada lagi, boss," Ossa menjawab gugup namun sedikit tersenyum. Si boss tampan yang biasa datar itu terkesan sedang kekanakan dan manja.
"Ayo, Oss, kita keluar,,!" sahut Zoan yang melewati Ossa dan membuka pintu kamar. Kemudian keluar dan berjalan meninggalkan Ossa yang bergegas mengikuti.
Gadis itu telah berjalan tepat di belakang. Mengamati lelaki gagah yang berjalan memasuki lift untuk meluncur turun ke lobi.
Meski terkejut, Ossa membiarkannya. Zoan tidak meninggalkan handuk hotel itu di kamar. Tapi terus dibawa dengan sesekali masih diusapkan di rambutnya yang basah. Sedang Ossa yakin jika larangan membawa handuk hotel pulang, bukan hanya di penginapan Kepulauan Seribu saja. Tapi juga di hotel milik Vonni ini. Ossa tahu jika Zoan lebih paham dan mungkin akan mengganti ruginya di lobi.
🕸
Dua puluh menit kemudian...
Hotel kecil itu telah ditinggalkan dengan cepat sebab Zoan tiba-tiba merasa tidak nyaman. Kini meluncur laju kembali bersama mobil sedan merah menyala kesayangan. Membelah jalur pantura Cirebon dengan arah lurus ke timur di lajur menuju perbatasan di kabupaten Tegal, Jawa Tengah.
Tidak ada percakapan antara Ossa dan Zoan yang terdengar sepatah kata pun. Pengemudi tampan itu nampak fokus dengan kendali dan kecepatan di mobilnya. Matanya jarang berkedip dengan pandangan lurus menajam ke depan di jalanan.
Ossa pun demikian. Menatap jalanan di depan dengan mata yang sesekali terseret ke samping sebab mendapati objek pandang di jalanan yang baginya menarik. Seperti itu berkali-kali hingga rasa kantuk datang menyerang di mata. Dan gadis itu tertidur dengan santainya, lupa pada lelaki pengemudi yang padahal memang tidak tidur semalaman.
__ADS_1