Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
21. On The Way Semarang


__ADS_3

Setelah meninggalkan rumah penginapan dengan melewati hutan alam yang cukup lebat, mereka menembusinya hingga ke Jakarta Utara. Kemudian menyambung membelah wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta lainnya, menuju ke zona jalan tol pantura di Jakarta Selatan. Dan kemudian mobil sedan merah menyala itu benar-benar meluncur meninggalkan wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.


Zoan melarikan mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Membelah jalan raya di rute pantai utara, menuju jalur arah cirebon dan konsisten di lajur kiri pilihannya. Boss penginapan menyandarkan tegak punggungnya dengan pandangan lurus ke depan dan nampak berkedip tenang sesekali. Tidak ada gelagat mengantuk atau lelah di wajah tampannya.


"Ossa, kamu lapar?" tanya Zoan tanpa menoleh. Perjalanan yang hampir dua jam lamanya itu terasa di puncak kejenuhan.


"Tidak, boss. Tapi saya haus," jujur Ossa agak segan. Zoan pun mengangguk.


Tak lama, Zoan membelok ke sebuah rest area yang ramai dan berlatar cukup luas. Menghentikan mobilnya tepat di sebelah rumah makan.


"Ossa, kamu pesankan makanan dan minuman. Samakan saja dengan kesukaanmu. Aku ke mushola sebentar. Nanti kita gantian,,,!!" seru Zoan sambil berdiri di pintu seberang. Mereka telah sama-sama berdiri di luar.


Ossa hanya sempat mengangguk. Zoan telah berbalik sambil menutup pintu mobil dan pergi bergegas menuju bangunan kecil bertuliskan mushola rest area.


🕸


Meski rumah makan di rest area itu terbilang luas dan besar, tapi tidak susah untuk mencari di mana Ossa duduk di antara meja, bangku, dan para pengunjung lainnya. Ossa dengan rambut panjang, lebat, diikat tinggi dan berkulit terang itu nampak mencolok di antara para pengunjung yang lain. Meski Zoan hanya melihat dari arah belakangnya sekali pun.


"Apa yang kamu pesan, Oss?" tanya Zoan sambil menarik kursinya. Ossa yang duduk menyandar dan menunduk bermain ponsel nampak terkejut.


"Bakso, boss," jawab Ossa sambil mendongak. Zoan duduk tepat di seberang depannya.


"Hanya bakso? Minumnya,,,?" tanya Zoan dengan meletak ponselnya di meja.


"Carrot jus," sahut Ossa ragu. Ada rasa was-was jika Joan tidak memyukainya.


"Apa itu,,?" ulang Zoan sengaja. Suka melihat wajah Ossa yang nampak takut-takut menyahut.


"Jus wortel, boss. Apa tidak suka,??" tanya Ossa ragu. Lelaki tampan itu hanya mengangguk.


"Ossa, kamu pergi ke mushola selepas makan saja," tegas Zoan.


"Iya, boss Zoan," sahut Ossa mengangguk.


Dua mangkuk bakso tanpa lontong dan jus wortel tanpa susu dalam gelas kecil yang dipesan Ossa telah datang. Zoan memandang sekilas dan nampak tidak puas. Sebab, lelaki itu membuat tambah pesanan pada pelayan. Capcay bertabur telur puyuh dua mangkuk serta dua lonjor lontong, telah Zoan tambahkan di tagihan.


"Ingat ini, Ossa. Jika kamu singgah lagi di sini, jangan hanya pesan satu menu. Kamu tidak akan kenyang. Lihatlah, kamu paham?" ucap Zoan sambil menunjuk mangkuk bakso di meja, dan juga memandang wajah Ossa yang menyimak.

__ADS_1


Ossa mengangguk dan tersenyum. Peralatan makan di rumah makan semuanya serba mini. Gelas kecil, mangkuk kecil, dan sendok pun ikut kecil. Bakso yang bisa dimuat, hanyalah empat butir kecil saja di dalamnya.


"Iya, boss Zoan. Saya tak tahu jika peralatan di sini semuanya serba mini," sahut Ossa tersenyum. Merasa salut dan lucu dengan tak tik rumah makan demi melancarkan menu jualannya.


"Itulah yang unik di sini. Bisa mengambil beberapa menu tanpa risau tidak akan habis dan mubadzir. Hampir semua menu yang mereka jual, rasanya sangat enak," terang Zoan dengan ekspresi yang serius.


"Bagaimana menurutmu? Apa komentarmu?" tanya Zoan pada Ossa. Bingung sesaat terbaca di wajah cerah gadis itu.


"Komentarku,, menurutku,,?"


"Apa boss Zoan ingin menerapkan ini di rumah penginapan? Maksudku, ingin membuka kafe itu dengan trik jual seperti ini?" tanya Ossa menebak. Matanya menyimak memandang pada Zoan.


Zoan nampak tertegun dengan mata tanpa kedip memandang Osa lekat-lekat. Tak disangka, tawanya meledak kemudian.


"Ha,,,ha,,,ha,,,ha,,,,, Ossaaaa,," tawa Zoan berakhir dengan mengeluhkan nama gadis yang sedang terkejut sebab tawanya.


"Sudahlah, Ossa. Makanlah,,!" putus Zoan pada tawanya sendiri. Wajah yang baru saja cerah tertawa telah mendadak datar dan fokus kembali. Semua pesanan telah lengkap tersaji di meja.


Ossa pun tak berani lagi bersuara. Apa maksud Zoan tak bisa lagi ditebaknya.


Perjalanan telah kembali bersambung melaju di jalanan aspal yang hitam dan mulus. Jalanan yang selalu dipantau dan dijaga bersama hingga tidak pernah terlihat satu lubang kecil pun mengganggu.


"Boss Zoan, anda mengantuk?" tanya Ossa ragu-ragu. Zoan nampak menguap tak terkendali banyak kali. Bahkan matanya hingga berkaca-kaca tanpa niat diusapnya.


"Benar, Oss. Aku tiba-tiba sangat mengantuk. Hampir semalaman tidak tidur. Ikut berjaga malam dengan Galang dan Iwan," terang Zoan dengan detail.


Mungkin ingin menghempas rasa kantuk dengan berbicara pada Ossa. Galang dan Iwan adalah pekerja lelaki baru di rumah penginapan. Untuk sementara, mereka mendapat tugas khusus jaga malam.


"Apa boss Zoan tidak ingin istirahat lagi?" tanya Ossa terdengar khawatir. Zoan menolehnya sesaat.


"Kamu takut jika aku hilang kendali? Aku pun juga khawatir... Sebentar lagi kita akan singgah sebentar di Cirebon. Istirahat sambil menemui kawan lama ayahku. Sudah lama aku tidak singgah," ucap Zoan menerangkan. Dengan banyak berbicara, rasa kantuknya seperti telah mulai menghilang.


Perjalanan yang menghabiskan waktu hampir empat jam itu berakhir sejenak. Zoan membawa Ossa memasuki sebuah hotel kecil di kawasan Cirebon pantura. Dan lelaki itu sedang berbicara dengan seorang resepsionis laki-laki dan seorang lagi perempuan. Meski Zoan sempat menelepon pemilik hotel kecil itu sebelum masuk ke lobi.


Seorang wanita cantik bertubuh tinggi dengan body gitarnya, masuk ke lobi dengan mata yang menyapu dan mencari. Nampak senang dan tersenyum saat menemukan Zoan yang sedang duduk di sofa.


"Kak,,,!!" seru wanita cantik itu. Berjalan cepat mendekat. Mengulur tangan pada Zoan yang telah berdiri menyambut. Mereka bersalaman sangat erat.

__ADS_1


"Lama tidak bertemu,," ucap wanita itu. Dengan pandang penuh puja pada Zoan.


"Iya, Von. Aku sangat sibuk bulan-bulan ini." Zoan membiarkan tangannya yang terus di pegang erat oleh tangan halus wanita itu.


"Siapa gadis itu, kak?" tanyanya sambil memandang Ossa pada Zoan.


"Pegawai penginapan," jawab Zoan dengan cepat. Wanita itu tersenyum pada Ossa. Dan dibalas senyum manis juga oleh Ossa.


"Jadi, saat ini tidak ada yang marah jika kita berpelukan?" tanya wanita itu. Seraya mendekatkan diri pada Zoan dengan cepat. Zoan telah dipeluk wanita itu dengan erat. Zoan tertegun, namun dengan pelan juga membalas memeluk longgar punggung wanita cantik itu.


"Vonni, benar papa kamu di Singapura? Aku sudah lama tidak bertemu," ucap Zoan. Mereka masih saling memeluk.


"Iya, kak. Papa di Singapura. Aku pun juga baru dari sana, baru tiba di sini pagi tadi," jawab wanita cantik, dengan nama Vonni itu.


"Sebenarnya aku dari Jakarta menuju Semarang. Ingin istirahat sejenak sambil bincang dengan papamu," kata Zoan di samping telinga Vonni.


"Meski tidak ada papa, kamu bisa istirahat dengan bebas. Ada kamar yang selalu spesial untuk kita. Ayolah,," ucap Vonni dengan senyum penuh arti. Dan membisik sesuatu di telinga Zoan. Sebelum melonggarkan pelukan eratnya dari badan lelaki gagah itu. Mereka telah agak saling menjauh.


Zoan menoleh Ossa yang sedang berpaling muka ke arah lain. Mungkin merasa enggan dengan pandangan yang cukup mengganjal matanya.


"Sebentar, Vonni," ucap Zoan. Lelaki itu mendekati resepsionis kembali.


Berbicara pada mereka, lalu menunggu diam sejenak. Dan menerima sebuah kartu dari resepsionis lelaki.


"Tolong kalian antar gadis itu di kamar ini. Antar hingga benar-benar di kamarnya," tegas Zoan pada mereka berdua. Dan disambut anggukan oleh keduanya.


Zoan bergegas menghampiri Ossa di sofa.


"Ossa, kamu bisa istirahat dua jam. Ini kunci kamar kamu. Mas itu akan mengantarmu. Jangan ke mana-mana sebelum kuambil kamu di kamarmu." Zoan memberi pesan tegasnya pada Ossa. Dibalas anggukan paham oleh gadis itu.


"Iya, boss Zoan," jawab Ossa sambil melirik pada Vonni yang juga tengah memandang. Ossa sangat paham dengan apa yang akan mereka berdua lakukan. Merasa sadar diri dan harus segera menepi.


Zoan memandang Ossa yang meninggalkan lobi mengikuti resepsionis laki-laki itu dengan perasaan yang gamang. Ada rasa tidak nyaman di benaknya. Yakin jika Ossa telah menebak-nebak pada apa yang akan di lakukannya bersama Vonni kemudian.


"Ayolah, kak. Pegawai kamu itu akan aman di hotel ini. Atau diam-diam, gadis cantik itu juga kekasihmu?" tanya Vonni sambil lalu. Tangannya telah menyambar tangan Zoan dan menariknya berjalan. Lelaki itu hanya diam membungkam.


Zoan menghela nafas mengikuti Vonni keluar dari lobi. Sudah mengerti jika Vonni tidak akan membawanya ke kamar di hotel. Tapi membawa Zoan ke kamar pribadi Vonni, di rumah besarnya yang berada tepat di samping hotel.

__ADS_1


__ADS_2