
Kamar mandi juga sangat bersih dan wangi. Ada beberapa helai baju yang ditumpuk di pojok kamar mandi. Maknanya Zoan sempat masuk ke dalam kamarnya. Ossa segera mengambil dan membawanya keluar dari kamar mandi.
Ossa tiba-tiba merasa sedih. Ingat saat Zoan baru datang dulu, dengan kejadian sama persis dengan ini. Baju kotor yang ditumpuk di pojok kamar mandi. Bedanya ini hanya sedikit sekali. Keadaannya masih sama. Sama-sama sedang dalam kondisi menyedihkan.
Dulu saat lelaki itu baru datang, rumah penginapan ini dalam keadaan memprihatinkan. Sekarang pun, adanya baju kotor di pojok kamar mandi itu, pertanda bahwa keadaan masih menyedihkan. Bahkan dalam suasana duka, sebab kematian tiga anggota keluarganya, pemilik penginapan. Ossa menyimpulkan jika Zoan adalah lelaki yang sebenarnya sangat berperasaan.
"Ossa...!"
Seru suara lelaki yang adalah Zoan, terdengar bersama sosoknya yang datang ke kamar. Ossa berusaha meredam rasa kaget. Namun dadanya masih berdetak cukup kencang.
"Boss Zoan, kamu belum pergi?" tanya Ossa dengan suara pelan dan lembut. Masih terbawa perasaan pada ibanya pada Zoan. Juga ada selip rasa suka saat hanya berdua dengan Zoan. Entah, Ossa seperti sangat percaya dan tidak merasa was-was yang terlalu pada lelaki itu.
"Aku tahu kamu sudah berada di kamarku,," ucap Zoan dengan lirih dan terdengar membingungkan. Mereka telah berdiri berhadapan sangat dekat. Namun mereka tidak bisa saling memandang dengan jelas. Lampu di kamar Zoan masih dalam keadaan remang-remang.
"Maksudmu apa, boss Zoan? Apa ada yang ingin dipesankan lagi padaku?" tanya Ossa hati-hati. Rasa di dadanya kembali berdebar dengan kencang. Zoan sedikit membungkuk dan memajukan wajah lebih dekat padanya.
"Aku sedang ingin menemui haremku di kamarku sendiri. Apa harus dengan memberimu alasan kenapa?" tanya Zoan tiba-tiba di akhir jawabannya.
"Haremmu,,, maksudmu aku??" tanya Ossa. Terkejut dengan ucapan Zoan yang tidak sesopan biasanya.
"Iya. Kamu sudah bersedia jadi haremku saat itu, Ossa." Zoan mengingatkan Ossa akan kesepakatan waktu itu.
__ADS_1
"Tapi kan hanya saat menemani teman-temanmu di meeting?" tanya Ossa yang mengandung protes lemahnya.
"Aku akan meeting sebentar lagi di kota. Anggap saja kamu sedang bersamaku, Ossa," tutur Zoan dengan masih di posisi agak membungkuk.
"Lalu,?" tanya Ossa yang memang merasa bingung dengan maksud Zoan.
"Lakukan tugasmu sekarang,," tegas Zoan yang kian membingungkan. Wajah Ossa nampak cerah dengan mata bening di keremangan lampu tidur.
"Tugasku? Maksudmu apa, boss?" tanya Ossa dengan masih nampak bingung.
"Jadilah seorang harem yang manis, Ossa," ucap Zoan dengan lirih. Suaranya mulai terdengar serak. Zoan mengambil baju kotornya dari pegangan tangan Ossa. Lalu dicampakkan di lantai samping sofa. Mereka sambil terus saling berpandangan.
"Ya anggap saja kamu sedang menjadi harem palsu di pertemuanku."
Zoan berkata seraya memegang bahu Ossa tiba-tiba. Lalu ditarik perlahan mendekat ke dada bidangnya. Ossa terdiam dan hanya menuruti dengan mimik tegang dan kaku.
Meski Ossa sadar jika hubungan mereka bukanlah apa-apa, karena Zoan menganggap jika dirinya bukanlah siapa-siapa. Dan mungkin seperti ini jugalah cara Zoan memiliki para kekasihnya, tanpa ada apapun janji dan ikatan.
Tapi Ossa mengabaikan dan menikmati rasa nyaman. Ada rasa bahagia saat Zoan memeluk erat pinggang dan punggungnya, lelaki itu juga meletak wajah di rambut tebalnya yang sebahu dan harum.
Ossa pun meletak hidung dan wajah di dada Joan, dengan tangan melingkar erat di punggung lebarnya yang hangat. Badan Zoan selalu terasa hangat baginya.
__ADS_1
"Terimakasih, Ossa. Selama aku tidak di penginapan, jaga dirrimu. Juga jangan lupa dengan kakakku. Aku titipkan mas Zaki sama kamu, Ossa." Zoan berbicara sambil terus memeluk Ossa dengan erat.
"Jangan khawatir, boss Zoan. Pak Arzaki adalah boss kami juga sedari dulu. Kami akan membantunya bersama-sama," jawab Ossa dengan sedikit mendongak.
Tok,,! Tok,,! Tok,,! Tok,,! Tok,,! Tok,,!
Reflek Ossa mendorong Zoan darinya. Menoleh ke pintu dan merasa resah tiba-tiba. Yakin jika itu adalah Murniati.
"Akan kubuka, anda tidak masalah?" tanya Ossa dengan pias saat mereka saling pandang.
Zoan hanya mengangguk dengan wajah mengeras. Pandangan matanya nampak kesal dan kecewa..
"Ossa,, kamu lama sekali! Itu, pak Arzaki mencarimu. Dia hanya mau dituntun kamu ke meja makan. Mau kubawa makanan ke kamar pun tidak mau," terang Murni dengan keras. Murni tidak tahu jika Zoan sedang berada di kamarnya.
"Iya, mbak." Ossa menjawap agak gugup. Tapi Murni seperti tidak memahami gelagat Ossa.
"Yo wes, ayo cepat. Ini nanti saja disambung. Pak boss Zoan lagi ke kota, nanti saja dikemas lagi," ucap Murni sambil berbalik arah.
Ossa sempat termangu memandang Murniati. Juru masak di penginapan itu sedang berjalan cepat menuju ke dapur kembali. Mungkin sudah tiba jam sibuknya dari kamar-kamar di rumah penginapan.
🕸🕸🕸🕸🕸🕸
__ADS_1