Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
60. Di Mana


__ADS_3

Ketua sidak segera memeriksa lembar demi lembar surat-surat keterangan berisi rentet peristiwa dan musibah yang menimpa Arzaki beserta keluarga. Bahkan sempat berucap salam bela sungkawa juga kepada Arzaki.


Polisi itu meminta dengan setengah memaksa pada Arzaki untuk turun dari mobil patroli. Lalu mempersilakan pada Zoan untuk duduk di bangku yang semula diduduki oleh Arzaki.


"Zoan, aku ingin menunjukkan berkas-berkasku pada polisi, sebab ingin pemeriksaan dan kesaksian ini dipercepat. Bukan agar kamu yang menggantikan aku,,,!" seru Arzaki. Saat salah satu polisi berhasil menurunkannya.


Zoan hanya diam dengan wajah yang mengeras. Memandang Arzaki dan Ossa bergantian. Kemudian menutup pintu dan menaikkan rapat kaca mobil.


Polisi yang sudah standby di posisi masing-masing, segera meluncur dan berlalu. Mobil merah menyala telah dibawa menepi oleh Aldi, sopir Zoan yang direlakan untuk standby di penginapannya Arzaki.


"Pak, lebih baik pergi ke dalam saja. Pak Zoan dan mobil polisi sudah tidak nampak lagi," ucap Ossa memandang Arzaki. Lelaki itu nampak merenung jauh ke luar pagar penginapan.


"Ossa, krimkan nomor Rama pada Zoan. Jika ada apa-apa, biarkan mereka mencari Rama saja," ucap Arzaki dengan tegang. Pemilik rumah penginapan itu sepertinya merasa sangat kesal namun juga tidak bersemangat.


"Iya, pak. Nanti saya akan meminta nomor pak Rama untuk kukirimkan pada pak Zoan." Ossa menjawab sambil mengangguk.


"Aku akan istirahat Ossa, segeralah temui Rama. Kasihan adikku,,," keluh Arzaki dengan suara yang hampir tenggelam.


Arzaki telah sampai di depan kamar di ruang televisi. Memandang Ossa dengan maksud agar segera pergi saja menemui Rama di ruang kantor penginapan. Terletak di sebelah ruang lobi dan tidak terlalu luas.


"Iya, pak. Permisi." Ossa segera berbalik pergi setelah pamitnya pada Zoan disambut dengan anggukan.


🕸


Ossa sedang berjalan di belakang lelaki yang baru juga ditemuinya. Menuju kamar Arzaki di rumah induk. Rama berkata ingin menemui dan berbincang. Ossa pun mengantar Rama untuk menemui Arzaki di kamarnya.


Rama telah beberapa kali mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Tapi tidak ada sahutan apapun dari dalam kamar. Rama seperti putus asa dan akan pergi.


"Tunggu, pak Rama. Biar saya coba ketukkan," ucap Ossa pada Rama. Mencegah sang asisten untuk pergi berlalu. Rama pun tidak jadi melangkah pergi.


Ossa mengetuk pintu beberapa kali dan juga mengirim salam.


"Pak, pak Arzaki,,! Pak Rama ingin bertemu,,! Apa boleh masuk sekarang,,??!" Ossa berseru di pintu.


Ossa dan Rama berpandangan di depan pintu. Penasaran dan berdebar menunggu.


"Kalian berdua masuk saja,,!!" sahut Arzaki dari balik pintu. Tentu saja sangatlah melegakan. Selain sudah mendapat respon sambutan. Juga lega dengan keadaan Arzaki yang sedang baik-baik saja di dalam.


Rama memandang heran pada Ossa. Gadis muda itu hanya tersenyum dan mengedikkan bahunya. Lalu membuka pintu kamar Arzaki dan mengisyaratkan pada Rama untuk cepat masuk.

__ADS_1


Rama menghampiri Arzaki yang duduk di sofa. Arzaki nampak menunggu dengan pandangan bertanya.


"Maaf, jika saya datang mengganggu. Ada yang harus segera saya sampaikan pada anda, pak Arzaki."


Rama berkata sambil meletak dirinya di sofa. Pak Arzaki telah menyilakan pada Rama untuk duduk.


Begitu juga dengan Ossa. Gadis itu nampak saat lelaki itu menunjuk sofa padanya dengan dagu. Ossa segera duduk tepat di samping Arzaki.


"Pak, saya hanya ingin menyerahkan ini. Buku rekening saldo laba penginapan pada anda," jelas Rama. Mengeluarkan sebuah buku kecil dan menyodorkannya pada Arzaki.


"Rekening?" tanya Arzaki terheran.


Diambilnya buku kecil itu dari tangan Rama dan diperiksanya. Buku atas nama penginapan Azril dengan ahli waris yang tertulis sekali. Nama Arzaki sendiri, nama Istri dan anak-anak ketutunan Arzaki Azril.


Tanpa sadar, Arzaki mencengkeram erat buku kecil itu dengan tangannya yang lebar. Wajah Arzaki mengeras nampak sedih. Namun lelaki itu segera menundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Pak, anda ingin diambilkan minum?" tanya Ossa dengan lembut. Sangat takut jika terjadi apa-apa pada Arzaki. Lelaki itu tidak merespon beberapa saat. Dan kemudian menggelengkan kepalanya pada Ossa.


"Rama, kamu membuatkan ini untukku?" tanya Arzaki. Memegang buku kecil itu dan nampak kabut di matanya.


"Bukan, pak. Itu mas Zoan yang memproses. Mas Zoan menitipkan pada saya bulan lalu. Mas Zoan berpesan agar saya menyerahkan pada anda jika sudah kembali ke penginapan."


Rama menjelaskan dengan pelan pada Arzaki. Lelaki itu duduk tegak tanpa bersandar ke sofa. Menumpangkan telapak tangan di atas kedua paha panjangnya. Rama sangat jangkung. Lebih tinggi dari Zoan dan Arzaki


"Tidak, pak. Saya sudah lega telah menyerahkannya pada anda." Rama menjelaskan pada Arzaki yang nampak lelah itu.


"Baiklah. Kamu kembalilah bekerja. Aku ingin istirahat," ucap Arzaki pada Rama. Lelaki itu juga memandang pada Ossa.


Rama berpamitan pada Arzaki untuk undur diri dan kembali bekerja. Begitu juga dengan Ossa, ikut berpamitan kemudian.


"Ossa,,!" panggil Arzaki. Ossa tidak jadi melewati pintu kamar.


"Iya, pak?" sahut Ossa, menunggu Arzaki untuk berbicara.


"Aku lapar," sahut Arzaki dengan datar.


Ossa sangat terkejut. Ini bahkan sudah hampir waktu dzuhur. Sangat ingat sekarang, Arzaki dan Ossa sendiri juga belum makan sesuap nasi pun sejak pagi.


"Saya ambilkan cepat-cepat. Pak Arzaki tunggu di sini saja," sahut Ossa buru-buru. Gadis itu segera meluncur menuju meja makan. Mungkin Murni sudah mendengar kabar razia pagi ini. Pasti Murni pun sedang sedih. Biasanya, juru masak itu cukup bising menyuruh Ossa dan Arzaki untuk segera pergi makan.

__ADS_1


"Ossa, ambillah piringmu. Temani aku makan," ucap Arzaki pada Ossa yang akan kembali keluar, makanan telah diantarnya ke dalam kamar Arzaki.


"Di dalam sini, pak?" tanya Ossa terkejut. Lelaki itu mengangguk sambil mengambil nasi dan lauk ke dalam piring yang dipegangnya. Wajah tegangnya tidak memandang Ossa sebentar pun.


"Baik, pak. Tunggu sebentar," sambut Ossa. Berbalik badan dan berjalan tergesa menuju pintu. Berniat mengambil piring dan sendok. Untuk dibawanya masuk kembali ke dalam kamar Arzaki.


🕸🕸


Arzaki telah meminum obat belasan menit berlalu, yang entah untuk obat dosis pagi atau dosis untuk siang. Yang jelas, lelaki itu merasa lelah batin yang sangat. Rasanya sangat mengantuk sekali. Arzaki merebahkan dirinya perlahan.


Rasa mengantuk yang hebat, melupakan sejenak pilu haru di dadanya. Luka dalam menganga akan kehilangan istri dan kedua anak, sedikit terlipur dengan masih adanya sang adik lelaki yang sangat tulus padanya. Bahkan rela mengorbankan apa saja untuk membantu serta menjaga Arzaki dan keluarga.


Arzaki terasa pilu dan haru. Zoan telah menyerahkan segala laba di penginapan bulat-bulat untuk keluarganya. Sang adik tidak butuh menghitung ganti pada berapa pun biaya yang sudah keluar untuk urusan penginapan. Bahkan, Zoan juga mengorbakan diri demi Arzaki, sang adiklah yang maju untuk membela penginapan saat ini.


🕸🕸🕸🕸


Pagi-pagi sekali di rumah penginapan Arzaki..


Murni sedang menata makanan di meja ruang makan. Memandang Ossa yang terlihat cerah dan cantik. Gadis itu nampaknya baru mandi.


"Ossa, dari tadi aku nggak lihat tuan kita keluar dari kamar. Biasanya kan keluar juga saat subuh. Ini sampai sudah mau siang, nggak ada kelebatnya," keluh Murni. Suaranya saat bicara terdengar resah dan galau. Khawatir jika terjadi apa-apa pada Arzaki.


"Yang benar, mak???" sahut Ossa terheran. Sebab, Arzaki memang selalu berjamaah subuh di mushola. Murni nampak mengangguk pada Ossa.


"Coba kamu bangunkan dulu di kamarnya, Os." Murni menunjuk arah kamar Arzaki dengan gerak matanya.


"Iya, aku juga sangat khawatir. Tidak biasanya lambat bangun," timpal Ossa sambil memandang kamar Arzaki.


Setelah meletak panci berisi sayur panas di meja dengan tepat, Ossa bergerak menuju kamar Arzaki.


Ossa mengetuk pintu dan menyelingi dengan sapa salam beberapa kali. Namun Tidak kunjung ada sahut balas salamnya dari Arzaki.


Ternyata pintu kamar tidak terkunci. Setelah bimbang sesaat, Ossa masuk ke dalamnya. Perasaannya sangat cemas, Arzaki tidak ada di kamar. Pembaringan itu nampak kosong dengan selimut berserakan.


Ossa berjalan memburu kamar mandi. Tapi kosong juga di dalamnya. Segera ditinggalkannya kamar Arzaki.


Ke mana lelaki itu,, selama ini jika Arzaki meninggalkan kamar, Ossa selalu diminta menemani. Kecuali saat Arzaki mengikuti shalat berjamaah di mushola.


Halaman luas hingga ke gerbang, tidak juga dilihatnya Arzaki. Di lobi, di teras juga di mushola. Tak ditemukannya bayang Arzaki. Pegawai yang jaga malam, juga pengunjung penginapa, nampak heran dengan Ossa yang terlihat panik bolak balik.

__ADS_1


Ossa bertanya akan Arzaki pada rekan pegawai, jawab mereka tidak tahu. Ke mana Arzaki,,, Ossa merasa cemas sekali.


🕸🕸🕸🕸🕸🕸


__ADS_2