Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
51. Menjaga


__ADS_3

Zoan memandang gadis bangun tidur di samping seberang dengan pandangan tanpa daya. Wajah bangun tidurnya, berubah cepat jadi tegang dan terkejut saat Zoan menggoyang sedikit lengan bahunya. Dan hal itu adalah penampakan yang cukup menghibur bagi Zoan.


Ossa membuka mata, tepat saat pesawat terasa berguncang pada upayanya melanding di daratan dengan selamat. Gesekan antara roda pesawat dan aspal acuan di bandara itu menimbulkan getar dan guncang yang hebat. Rasa tegang dan takut kembali menyapa para penumpang di dalamnya.


πŸ•Έ


Zoan baru keluar dari ruang pusat informasi di kedatangan pesawat. Ossa berjalan membuntuti dengan setia tanpa berani berbicara. Suasana hati terasa beku saat sadar kembali dengan musibah yang menghampiri keluarga boss di penginapan. Kehilangan orang-orang tercinta yang telah pergi selamanya memang sungguh sangat memilukan.


Seorang petugas lelaki di bandara nampak menghadang di depan dan menyapa sopan pada Zoan. Memastikan jika Zoan sedang menunggu keluarga yang akan tiba bersama tim dokter dari negara Brunei Darussalam. Zoan membenarkan yang kemudian lelaki itu membawa mereka menuju sebuah ruangan.


Ruang khusus kedatangan bagi penumpang yang berkasus dan darurat, terasa lengang, dingin, serta mencekam. Petugas tadi, baru memberi tahu pada Zoan jika pesawat dari bandara Bandar Seri Begawan Airport, sebentar lagi akan tiba. Membawa pasien dengan status kritis stabil, alias tidak sadar bersama tim dokter yang mengawal.


Zoan nampak tegang dan tak berminat menanggapi. Hanya diam dengan pandangan jauh menembusi pintu gate yang belum dibuka dan masih menutup sangat rapat. Ossa berinsiatif berdiri saja tanpa ingin duduk. Standby di samping Zoan dan agak ke belakang.


Agak lama kemudian, pintu keluar gate sedang dibuka petugas. Zoan seketika berdiri dan maju ke depan mendekati pintu gate. Menyangka jika Arzaki akan segera datang dan melewati pintunya.


Bunyi roda berderap, pertanda ranjang pasien sedang menuju ke pintu. Yang tak lama kemudian, nampak seperti yang sudah dibayangkan. Ranjang pasien didorong masuk ke ruang gate dengan pria yang terbaring lemah di atasnya. Dialah Arzaki, nampak memejam mata rapat tidak sadar.


Beberapa alat nampak terhubung dengannya. Yang sebagian diletak di ranjang bersamanya dan ada juga yang dipegangi tim dokter. Ranjang pasien itu didorong dengan pelan. Setelah sempat melihat Arzaki sekilas, Zoan nampak sedang bersalaman dengan tim dokter yang mengucap bela sungkawa padanya. Lalu berjalan lagi mengikuti ranjang Aezaki bersama tim dokter.


πŸ•Έ

__ADS_1


Arzaki telah mendapat perawatan intensif dalam ruang ICU di sebuah Rumah Sakit Umum Daerah Cengkareng. Yang kebetulan letak ruang perawatannya berdekatan dengan paviliun pribadi yang baru saja Zoan sewa.


Lelaki itu juga meletak koper kecil serta bag paper milik Ossa di sana. Sebab Arzaki masih dalam kondisi tak siuman, setelah mengurusi berbagai dokumen serta administrasi perawatan, Zoan sempat istirahat sejenak di dalamnya. Bergantian dengan Ossa yang dimintanya standby mengganti untuk menjaga Arzaki di depan ruang rawat di ICU.


Pada kecelakaan yang merenggut istri dan kedua anaknya, keluarga Arzaki dalam perjalanan menuju bandara Bandar Seri Begawan Airport dengan sebuah taksi yang disewa. Kecelakaan itu terjadi sebab driver taksi yang sedang lalai dan mengantuk.


Arzaki duduk di depan memangku si bungsu. Sedang sang istri dan kedua anak lelaki nomor satu dan nomor dua, duduk sendiri di belakang. Dan ternyata justru posisi yang mampu mengantar mereka kepada maut.


Beruntung bagi Arzaki dan putra bungsu yang duduk di depan. Arzaki selamat dari maut meski dengan luka yang serius. Ginjalnya disinyalir rusak akibat guncangan sangat keras. Serta tumit kaki kiri yang hancur akibat terjepit di jok mobil. Juga usus di perut yang saling berbelit parah dan memerlulan tindakan operasi.


Yang paling mencengangkan, sang sopir justru selamat dari maut. Hanya mendapat cidera kecil di lutut, di dahi, dan di tangannya. Yang dipastikan akan pulih dalam waktu sangat singkat.


πŸ•Έ


"Boss Zoan, ada kabar apa?" tanya Ossa. Berharap ada kemajuan akan kondisi pak Arzaki.


Zoan menoleh, memandang dengan sorot mata yang gembira. Lalu menganggukkan kepala pada Ossa. Lelaki itu nampak lebih cerah dan bersemangat.


"Kabar sangat bagus, Ossa. Mas Zaki baru saja sadar. Dan dia menangis melihatku. Aku lega sekali, tidak ada cidera apapun di syaraf kepalanya." Zoan terdiam sejenak.


"Hanya aku merasa sulit. Bagaimana jujur padanya tentang kakak ipar dan dua putranya. Bagiku, ini cukup berat," keluh Zoan tersendat. Mata lelaki itu jelas sedang berkaca-kaca. Merasa kesedihan yang sangat, baik sedih bagi Arzaki atau pun untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Apa pak Arzaki sudah menanyakan tentang kondisi anak-anak dan nyonya, boss Zoan?" tanya Ossa dengan pelan. Zoan sedang mengusap wajah dan nampak sangat bingung. Memandang Ossa mendongak.


"Belum, Ossa. Mas Zaki belum bisa berbicara. Mungkin sebab menahan rasa sakit yang sangat, atau mas Zaki tidak menginginkan berbicara," terang Zoan dengan raut sedihnya.


"Memang tidak mungkin untuk menyimpan fakta tanpa diketahui pak Arzaki. Seperti itu kurang adil. Lebih baik anda tutupi sementara, sekaligus menunggu moment baling tepat untuk berbicara, boss Zoan," usul Ossa. Merasa lega dengan dengan anggukan Zoan kemudian.


"Ossa, aku akan shalat dzuhur. Kamu gantikan aku dulu," ucap Zoan sambil berdiri. Lelaki itu menuju ke kamar di paviliun.


"Boss Zoan, jika ingin istirahat setelahnya, tidak apa-apa. Saya akan berjaga," ucap Ossa sebelum Zoan lenyap ke dalam kamar.


Zoan yang sudah berbalik lagi itu mengangguk. "Aku akan istirahat lima belas menit saja. Jika ada apa-apa, beritahu aku, Oss!" seru Zoan berpesan. Dan kembali berbalik untuk benar-benar hilang ke dalam kamar.


Ossa tidak lagi menjawab. Juga berbalik dan berjalan cepat meninggalkan paviliun. Menuju ke ruang ICU untuk memantau keadaan pak Arzaki di sana.


Khawatir jika ada apa-apa tanpa ada satu keluarga pun yang menjaga. Meski dirinya orang lain, Ossa sangat tidak ingin jika tiba-tiba pak Arzaki harus gagal bertahan. Bagaimanapun, pria berusia tiga puluh tujuh tahun itu sangatlah baik semasa bersama dan sehatnya. Tidak pernah menegur keras atau memberi hukuman, jika orang-orang di penginapan membuat kesalahan. Pak Arzaki sama baiknya dengan Zoan.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ•ΈπŸ•Έ


Vote Senin panggang di sini, ya....


Jangan digosongin,,,😘

__ADS_1


__ADS_2