Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
54. Pulang ke Rumah Penginapan


__ADS_3

Dokter memberitahu pada Zoan bahwa pagi ini Arzaki bisa dibawa pulang. Sebab, sistem pencernaan Arzaki sudah dalam kondisi prima dan stabil. Test segala jenis makanan dari menu rumah sakit, selalu diterima dengan baik oleh perutnya. Begitu juga dengan sistem pembuangan air di tubuhnya, posisi ginjal stabil di tempat dan tidak pernah lagi bergeser.


Zoan sedang mengurusi segala dokumen dan membereskan semua tanggungan di bagian administrasi. Ossa pun telah mengemas semua barang miliknya ke paper bag jumbo dan diletak di kursi tamu paviliun. Begitu juga dengan koper kecil milik Zoan yang juga telah diletakkan di sana.


Satu-satunya tempat yang belum dikemas adalah kamar Arzaki. Ossa merasa segan untuk masuk jika tidak ada Zoan di dalamnya. Kecuali Arzaki atau juga Zoan yang memanggil dan menyuruh.


Kini Ossa duduk di sofa sambil bermain ponsel untuk melipur gundah gulana. Menunggu Zoan selesai dengan urusan obat jalan dan pembiayaan. Tidak sabar untuk segera meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah penginapan. Sebentar lagi, Ossa akan bertemu dengan para geng pembantu di penginapan.


"Ossa,,!" seru Arzaki terdengar dari kamarnya.


"Iya, pak Arzaki!" jawab Ossa cepat sambil berdiri. Menyimpan ponsel di saku celana dan bergegas menuju kamar Arzaki.


Arzaki tengah duduk menurunkan kaki, dan mengayunkan di ranjang. Arzaki masih belum mampu untuk berjalan sendiri.


"Pak, ada apa?" tanya Ossa di depan pintu. Perlahan berjalan mendekat.


"Apa Zoan belum kembali?" tanyanya dengan menoleh pada Ossa. Gadis yang ditanya menggeleng.


"Antar ke kamar mandi ya, Ossa. Rasanya tidak tahan," ucap Arzaki pada Ossa.


"Iya, pak," jawab Ossa sigap. Segera mendekat dan berdiri siaga di tepi ranjang. Meski Zoan sudah membelikannya besi penyangga jalan, tapi Arzaki tidak suka menggunakannya.


Arzaki memegang pundak Ossa dan mulai menurunkan kaki dari ranjang perlahan. Berjalan tertatih dengan pundak Ossa yang kecil itu sebagai tumpuan.


Setelah siaga berdiri tepat di atas closed, Ossa akan pergi keluar menunggu di depan pintu. Arzaki akan berseru memanggil jika hajat sudah habis dituang ke dalam closed kamar mandi. Dan itu adalah kerja sama yang sudah biasa dilakukan oleh Ossa dan Arzaki, jika Zoan sedang mengurusi keperluan lain di luar paviliun.


"Ossa,,!" seru Arzaki dari dalam terdengar.


"Iya, pak,,!" sahut Ossa berseru.


Ossa yang siaga segera membuka pintu toilet. Tapi Arzaki belum bercelana, hanya menurunkan kemeja barunya sebatas pangkal paha. Ossa segera paham, celana Arzaki melorot jatuh ke bawah di lantai.


"Sorry, Oss. Aku tidak bisa mengambilnya sendiri." Arzaki nampak enggan sebenarnya. Tapi ingat jika Zoan belum juga terdengar datangnya.

__ADS_1


"Iya, pak. Tidak apa-apa, saya paham," sambut Ossa. Meski rasanya enggan juga.


Ossa segera mendekat dan menarikkan ke atas, dan Arzaki pun segera menyambutnya. Ossa kembali berbalik dan segera keluar ke pintu.


Menunggu hingga Arzaki selesai dengan urusan celana selututnya. Celana itu tidak basah, lantai kamar mandi masih terjaga tetap kering dan bersih. Arzaki hanya menggunakan closed duduk itu. Dan petugas kebersihan memang rutin mensterilkan segala sudut paviliun saat pagi dan sore.


"Ossaa,,!" seru Arzaki kembali memanggil.


"Iya, pak," sahut Ossa. Berbalik dan akan membuka pintu kamar mandi kembali.


"Ossa,?!" seru suara lain dari arah belakangnya. Ternyata Zoan sudah kembali dan selesai dengan urusannya.


"Pak Zaki di dalam,," jawab Ossa menunjuk ke pintu kamar mandi.


"Kamu tunggu di depan saja, Ossa. Biar aku yang meneruskan," ucap Zoan sambil berjalan cepat membuka puntu kamar mandi dan masuk ke dalamnya.


Ossa tidak pergi keluar, tapi singgah di ranjang Arzaki dan mengemaskannya dengan cepat. Tidak ada apapun di sana, Arzaki tidak membawa barang pribadi satu pun saat tiba di bandara. Kecuali dokumen pribadi dan dokumen perjalanan. Yang tentu semua telah diuruskan oleh tim dokter yang mengawalnya di pesawat.


🕸


Zoan telah membawa Arzaki ke dalam mobil sewa yang akan mengantar menuju rumah penginapan. Mobil besar dan nampak nyaman itu akan membawa mereka ke zona Kepulauan Seribu. Tidak hanya Ossa dan Zoan yang merasa lega dan bersuka cita, tapi Arzaki pun sedang bernafas lapang saat mobil telah benar-benar bertolak meninggalkan Rumah Sakit Umum Daerah Cengkareng.


Tidak ada percakapan satu kata pun di sepanjang perjalanan meninggalkan Cengkareng. Mereka bertiga memilih bungkam dengan lamun di kepala masing-masing untuk sementara waktu.


Lengang dalam mobil justru terpecah oleh sang sopir yang mengajak Oqtissa berbicara dengan sering. Ossa duduk di depan bersama sopir itu. Sopir setengah baya dengan perawakan jangkung itu bahkan jadi tahu jika Ossa adalah pekerja dua lelaki tampan yang sedang dibawanya.


Suara Oqtissa yang berbicara seru bersama sang sopir, menjadi hiburan tersendiri bagi Zoan dan Arzaki. Sebab, Zoan melarang saat sopir itu akan memutarkan musik di mobil dengan USBnya.


Perjalanan yang tidak menghabiskan waktu satu jam itu akhirnya tiba di rumah penginapan. Zoan meminta pada sopir untuk menunggu sebentar di pos jaga. Kemudian turun sendiri meninggalkan Ossa dan Arzaki yang masih duduk di dalam mobil.


Bukan tanpa alasan, rupanya dari jauh, Zoan melihat beberapa pegawai hotel nampak berdiri di teras lobi. Mereka mendengar kabar dari Murni, bahwa boss penginapan yang sedang mendapat musibah, akan pulang dan tiba hari ini. Murni pun mendapat kabar dari Ossa.


Zoan telah menemui mereka dan meminta agar kembali ke tempat masing-masing untuk bekerja. Tidak ingin membuat Arzaki justru merasa sedih dengan sambutan dari para pegawainya. Zoan akan langsung membawa Arzaki menuju kamar baru yang sudah disiapkan oleh Murni dan Nola. Bukan kamar lama yang dulu ditempati Arzaki bersama almarhum sang istri.

__ADS_1


Sopir yang sudah disuit oleh Zoan dari jauh di teras lobi, nampak membawa mobil bergerak maju mendekati penginapan. Zoan bergeser meninggalkan lobi dan berjalan mendekati teras rumah. Arzaki akan ditempatkan di kamar tamu dekat ruang televisi dan ruang makan. Bukan di kamar ruang dalam yang justru terasa kian lengang.


Arzaki hanya menurut dengan apapun yang disiapkan oleh adiknya. Menyadari jika Zoan pun sedang menanggung segala tanggung jawab dan beban. Tidak ingin menambah rasa sakit di kepala Zoan jika dirinya masih memiliki keegoisan.


"Mbak, sudah,,, jangan nangis terus. Nanti kalo pak Arzaki dengar, dia bisa tambah sedih," bujuk Ossa pada Nola. Ossa menepuk-nepuk bahunya. Nola tengah menyandar di dinding dapur. Wanita hamil itu terus sesenggukan menangis tanpa henti. Merasa iba yang sangat pada keluarga pak Arzaki.


"Ossa, aku sangat sedih. Ingat pada nyonya, dia pernah menebak jika aku ini sedang hamil. Tapi aku tidak jujur. Aku punya dosa dengannya. Hu,,,,hu,,,hu,," ucap Nola dengan tangisnya yang justru kian heboh. Menutupi wajah basahnya dengan kedua telapak tangan.


"Hish, Nola! Hentikan suara tangismu itu! Aku pun juga menangis. Tapi tidak sampai bersuara. Lihat, mataku sangat sembab kan?!" tegur Murni dengan seru yang mendesis sangat dekat di telinga Nola. Murni yang terlihat asyik hilir mudik di dapur dan memasak itu ternyata sudah sangat sembab kedua matanya.


Nola mengangguk-angguk, berusaha meredam suara tangis pilunya. Memahami maksud Ossa dan Murni yang terus menegur. Kamar tamu yang ditempati Arzaki, berdekatan dengan ruang makan yang menyambung dengan dapur. Sangat mungkin jika tangisannya akan di dengar oleh Arzaki.


"Ossa, bantu aku menyiapkan makan siang untuk para boss, ya. Eh, kamu lelah tidak?" tanya Murni pada Ossa yang nampak termangu memandangnya. Gadis itu segera mengangguk.


"Iya, mak. Aku nggak lelah sama sekali. Tapi aku ke kamar dulu sebentar. Ngletak tas sama lihat sebentar kamarku. Temu kangen dulu sama kandang,," bisik Ossa sambil tersenyum sedikit.


Murni mengangguk dengan pandangan sayangnya. Bagaimana pun, Mita, keponakannya sekaligus sohib Ossa di kampung, sempat menelepon dan berkeluh kesah. Mengabarkan tentang akibat hutang menggunung ayah Ossa pada keluarga Gandy saat itu. Murni pun tak menyangka jika Zoan sudi menyusul dan membantu. Murni pun merasa ikut lega yang sangat kala itu.


"Murni, Ossa ke mana,,?" tanya Zoan. Lelaki itu tiba-tiba muncul di dapur dan mengejutkannya.


"Meletak tas di kamarnya sama Nola, boss," jawab Murni di sela rasa terkejutnya. Zoan duduk di bangku dapur memperhatikan perapian dalam tungku. Murni lebih suka menggunakan tungku arang di kala senggang tugasnya. Namun juga menggunakan kompor gas dan listrik pada waktu bersamaan di saat yang genting.


"Dimana tukang laundry sekaligus rekan memasakmu, bu Nikmah, Marni?" tanya Zoan heran. Seluruh pegawai sudah dijumpainya, kecuali petugas laundry tua itu, bi Nikmah.


Murni memandang Zoan bimbang. Sedang ada sesuatu yang segan dikatakannya.


"Bik Nikmah sedang berbelanja, boss. Katanya ingin membeli rempah ratus rahasianya. Ingin mengobati luka retak di kaki tuan Arzaki. Dia bilang sangat manjur. Apa anda keberatan, boss?" tanya Murni dengan segan. Resah jika Zoan ternyata menolak niat baik wanita tua itu.


"Benarkah Murni? Baik sekali bu Nikmah,,, Orang tua itu mengingatkan pada ibuku. Saat aku jatuh dari sepeda sebab ceroboh, Ibuku membuat ramuan yang entah berbahan dari apa. Tapi aku merasa jika kakiku sangat cepat sembuhnya."


Zoan berkata pada Murni dengan pandangan menerawang. Wajahnya kembali pucat dengan mata yang senantiasa nampak cekung. Zoan memang terlihat jadi kurus dalam pandangan Murniati. Wajah tampannya terganggu oleh rasa lelah dan sakit raganya.


🕸🕸🕸🕸

__ADS_1


__ADS_2