Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
14. Dibawa ke Kota


__ADS_3

Dzuhur Ossa baru saja terlaksana. Kini merebah nikmat serasa lega untuk bersantai istirahat. Memainkan ponsel berharap cepat karam dalam tidur yang lapang.


Baju milik boss Zoan, baru selesai dibentang dan dianginkan di lantai dua ruang laundry tiga puluh menit yang lalu.


🕸


Tidur selama satu jam saja, dan terasa sangat lapar saat bangun. Seketika ingat jika Zoan, mungkin saja sedang lapar dan ingin disiapkan makan siang. Tapi bisa jadi tidak, mengingat lelaki itu telah menyuruh semua geng pembantu untuk berplesir ke kota berbelanja.


Tapi,, siapa tahu.. Atau jika tidak pun, perutnya sendiri juga sedang lapar.


Ossa mendatangi dapur dan menghampiri ruang makan bersamaan dengan Zoan yang juga tergesa berjalan ke ruang makan. Nampak terkejut saat melihat Ossa juga muncul di pintu yang berlawanan arah dengannya.


"Ossa,,?!" tegur Zoan pada gadis yang telah mengejutkannya beberapa kali hari ini. Ossa telah berbaju kemeja tosca panjang dan celana jins hitam sepanjang mata kaki. Terlihat cerah dan belia.


"Eh,, boss Zoan?? Apa anda lapar? Saya sangat lapar,,," sapa Ossa dengan segan. Tapi rasa lapar telah menutup rasa malunya.


"Makan saja," sahut Zoan sambil mendahului duduk di kursi. Tidak ada piring atau sendok di depannya.


"Kusiapkan dulu, pasti semuanya sudah dingin,,," ucap Ossa bimbang. Tidak paham bagaimana Murni biasa menyiapkan makan siang untuk si boss. Masak lagi,,,, dihangatkan,,, atau menyiapkan makanan yang ada begitu saja? Duh, repotnya,, padahal dirinya sedang sangat lapar yang sangat.


"Ossa!" seru Zoan. Ossa memandang cepat pada si boss.


"Aku sedang buru-buru. Buka saja apa yang ada,,!" seru Zoan tiba-tiba. Seperti paham dengan kebingungan yang sedang Ossa sembunyikan.


"Eh, iya, boss,,!" jawab Ossa bersemangat.


Segera diambilkan sendok dan piring untuk Zoan dengan cepat. Dan disambar dengan kilat juga oleh Zoan. Ossa membuka semua tudung saji di meja.


"Makan saja denganku, Ossa. Habis ini ikutlah aku ke kota. Kamu tidak usah berdandan lagi. Seperti itu saja. Aku buru-buru," ucap Zoan tiba-tiba. Tidak menoleh pada Ossa, sedang sibuk mengambil makanan dingin di meja.


"Apa, boss Zoan? Saya ikut anda ke kota?" tanya Ossa terkejut, merasa mungkin saja salah dengar. Zoan seringkali berbicara lirih padanya.


"Kamu tidak dengar? Temani aku ke kota," ulang Zoan masih tanpa menoleh pada Ossa. Gadis itu telah duduk jauh di sebelah ujung meja makan.

__ADS_1


"Eh,,, Iya. Eh,,,tapi bagaimana jika mbak Nola dan mak Murni mencari saya, boss?" tanya Ossa nampak ragu. Zoan menolehnya kali ini.


"Orang yang membayar kamu itu siapa, Ossa?" tanya Zoan dengan tajam. Ossa merasa sadar dan malu sendiri.


"Eh, iya. Baiklah, saya ikut, boss," ucap Ossa buru-buru bersetuju. Risau jika Zoan akan mengeluarkan taring yang lebih tajam lagi.


Paham jika Zoan sangat tepat waktu orangnya. Segera mengambil makanan dan dengan cepat disuap. Zoan melirik Ossa yang sedang makan dengan buru-buru itu sekilas.


"Tunggu aku di teras. Sepuluh menit lagi. Jika ingin, kamu bisa berdandan sebentar," ucap Zoan sambil berdiri. Memundurkan kursi dan melangkah pergi meninggalkan Ossa sendiri. Namun gadis itu pun hampir selesai dengan makanan di piringnya.


🕸


Taksi yang dipanggil datang oleh Zoan, telah meluncur membawa boss dan maidnya menuju kota besar di Jakarta. Zoan nampak sibuk melayari isi ponsel dengan sesekali mengetik di sana.


"Ossa, berapa orang yang sudah mendaftar sebagai pengunjung? Apa kamu mendapatkan calon pengunjung?" tanya Zoan. Mereka telah hampir sampai di pusat kota besar Jakarta.


"Sudah, tidak banyak boss. Masih Tujuh orang saja. Itu pun sebab mereka adalah pelanggan lama di penginapan," terang Ossa bersemangat.


"Tujuh,,?! Itu sudah banyak Ossa... Ingatlah, kita ini sudah satu tahun karam, dan sekarang merintis lagi dari awal. Mendapat tujuh pengunjung sebelum penginapan dibuka, itu sangatlah bagus, Ossa,,!"


Ossa yang sebenarnya paham dengan keberhasilan mendapat calon pengunjung melalui link dan medsos pribadi, hanya mengangguk-angguk tersenyum. Merasa suka denggan reaksi Zoan yang nampak memandang salut padanya.


🕸


Zoan membawa Ossa ke beberapa titik kunjung di sebuah gedung pencakar langit di kota Jakarta bagian Utara. Wilayah yang terdekat dengan kepulauan Seribu. Dan paling mudah dijangkau dari rumah penginapan.


Beberapa kantor telah dikunjungi, dengan orang-orang berjas dasi lah yang Zoan temui. Ossa sama sekali tidak paham dengan urusan Zoan yang terdengar penting dibahas. Selain Ossa memilih duduk jauh, tapi perbincangan mereka menggunakan percakapan asing yang sepertinya bahasa Perancis dan Swiss.


Ossa hanya mengira, Zoan sedang mengurusi masalah penginapannya di Semarang. Bukan rumah penginapan di kepulauan Seribu. Beberapa kali, sebutan kota Semarang terucap dari bibir mereka dengan samar.


Agenda kunjung mengunjung telah tamat saat maghrib. Zoan membawa Ossa kembali ke lantai dasar gedung dan mengajaknya ke Mushola. Mereka membayar tanggungan enam kali sujudnya di sana. Dan keluar dari gedung meninggalkan kenangan abadi yang menenangkan di dalamnya.


Zoan memanggil taksi bukan untuk mengantar mereka berdua pulang. Tapi menuju sebuah rumah makan elite yang sepertinya sudah begitu sering dikunjungi oleh Zoan. Beberapa pelayan nampak menyapa nama Zoan dengan ramah dan sopan.

__ADS_1


"Kamu ingin makan apa, Ossa? Kamu sudah lapar lagi bukan?" tanya Zoan dengan hangat pada Ossa. Mereka duduk di meja yang agak memojok di dalam.


"Iya, saya lapar, ingin makan. Pesankan saja yang sama dengan milikmu, boss,," sambut Ossa, tidak ingin membuang waktu dengan kebingungannya dalam memilih menu. Zoan nampak paham dan diam.


Seorang lelaki berseragam mendekati meja mereka. Zoan segera menyambut, membuat pesanan makan dan minum untuk dua orang dengan cepat. Pelayan lelaki itu berlalu dengan membawa pesanan Zoan menuju loket dapur restoran.


"Hai, Beb,,,! Kamu di sini?!" seorang wanita tiba-tiba datang entah dari mana. Dengan percaya diri merangkul Zoan dari belakang dengan mesra. Bahkan mencium pipi Zoan dengan lembut sekilas, semua dilakukan sangat cepat oleh wanita itu. Zoan melepas rangkulan dengan pelan dan menoleh.


"Diana,,," respon Zoan sedikit terkejut.


"Dari mana, kamu?" tanya Zoan. Menarik kursi agar wanita bernama Diana itu duduk, dan tidak merangkulinya di belakang.


"Dari rumah papaku. Dan menuruti kata hati untuk ke sini. Eh, ketemu kamu, kita pasti jodoh, beb,," ucap Diana sangat lancar. Memandang Ossa menyelidik dan tersenyum sedikit. Ossa membalas dengan senyum manisnya.


"Kami sudah memesan makanan. Apa kamu juga ingin makan?" tanya Zoan. Memandang Diana menunggu jawaban. Diana menggeleng.


"Aku baru saja dinner di rumah papa. Beb, aku ingin bertanya padamu,," sahut Diana. Suaranya terdengar dipelankan.


"Apa yang akan kamu tanyakan?" sambut Zoan memandang Diana.


"Beb, braku pasti tertinggal di kamar kamu, kemarin.. Aku belum bosan, ada lapisan emas di rendanya. Aku belum bosan, akan kuambil.. Nanti aku ke penginapan bareng kamu ya, beb,,," terang Diana dengan bujuk yang manja.


"Tidak, Diana. Jangan datang ke penginapanku untuk saat ini. Kami sangat sibuk,," larang Zoan tegas. Memandang Ossa dengan ekspresi yang gusar. Ossa menunduk dengan cemas. Sesuatu sedang menggangu kepalanya.


"Aku tidak ingin kehilangan bra baruku itu, beb.. Ayolah... Janji, aku langsung pulang. Tidak menginap di sana," rayu Diana pada Zoan. Lelaki itu langsung menggeleng dengan tegas.


"Ambillah lain kali saja. Salah kamu sendiri, Diana. Sudah kubilang, tidak usah dilepas,," ucap Zoan nampak jengah. Diana terdiam tidak lagi membujuk. Jika sudah begitu, Zoan tidak akan luluh bagaimana pun hebat dirayunya.


"Permisi." Pelayan lelaki tadi telah datang. Meletak menu pesanan Zoan di meja mereka. Pelayan membungkuk sopan sebelum berlalu pergi.


"Ossa, cepatlah makan. Aku tidak ingin terlalu malam di jalan. Kita melewati sedikit panjang perhutani," tegur Zoan pada Ossa. Gadis polos itu nampak termangu-mangu memandang Diana yang bising.


Ossa mengangguk. Segera mengambil menu miliknya yang sama persis dengan Zoan. Mereka makan dengan lahap dan cepat. Mengabaikan Diana yang memandang heran pada Ossa. Merasa tidak mungkin jika Ossa adalah kekasih Zoan yang baru. Diana tidak pernah melihat Ossa sekali pun sebelumnya.

__ADS_1


🕸🕸🕸


__ADS_2