Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
80. Tidak Dijemput?


__ADS_3

Arzaki menatap kosong dengan rasa hampa di dadanya. Gadis penglipur lara hati itu telah tidak nampak lagi punggungnya. Berbaur dengan para calon penumpang pesawat yang tergesa untuk masuk ke dalam ruang tunggu.


Ossa benar-benar telah naik tangga dan hilang dari pandangan. Arzaki pun melangkah mendekati antrian check in di maskapai penerbangan yang akan mengantarnya ke bandara internasional di kota Bandar Seri Begawan.


Rasa sedih menyayat, kembali singgah dalam jiwa. Jika bulan-bulan lalu pergi ke negara sang istri dengan anak-anak disertai istri tercinta, kini Arzaki pergi sendirian. Bukan sebab mereka sedang menunggu dan berhalangan tidak ikut. Tapi kenyataan jika mereka sudah tidak ada lagi di dunia, membuat jiwa raganya terasa hampa dan tersayat.


Arzaki menggeser langkah di antrian dengan seretan kakinya yang lunglai..


πŸ•Έ


Pesawat yang membawa Oqtissa menuju kota Semarang di Bandara International Ahmad Yani, mengudara tinggi dan tenang. Membawa para penumpang terbang mengudara dengan rasa debar dan pasrah.


Begitu pun dengan Ossa, rasa debar was-was yang sempat ada saat pesawat lepas landas, mulai bertenang dan justru tergeser dengan rasa sedih yang datang kembali. Mengingat Arzaki yang kini juga menaiki pesawat ke negara Brunei Darussalam sendirian.


Perasaan yang disangka akan baik-baik saja setelah berpisah, nyatanya cukup menyisakan sesak di dadanya. Bukan sebab Ossa telah berubah rasa pada pria itu, tapi sebab rasa simpati pada sesama dan rasa iba yang lekat untuknya.


Pria malang yang sempat mengisi hari-hari Oqtissa, meski nama adik lelakinya, Zoan yang ada di hati, cukup menyisakan kenangan dalam di ingatan. Ossa harap, Arzaki akan mendapat kehidupan yang lebih bahagia lagi di masa depan atau di kehidupan mendatang dariNya.


Tanpa sengaja, Ossa menangisi nasib Arzaki. Boss baiknya yang sedang dicoba olehNya dengan musibah bertubi dan tidak tanggung-tanggung beratnya.


Pesawat yang terbang menuju kota Semarang itu akan menghabiskan waktu kurang lebih satu jam saja. Meski perjalanan dengan pesawat terdengar sangat singkat, tapi rasanya teramat membosankan. Tidak ada pemandangan apapun sebagai hiburan untuk para penumpang di kabin.


Hanya pramugari jelita yang berjalan hilir mudik bolak balik dan meninggalkan harum wangi semerbak di belakang punggung, adalah satu-satunya hiburan bagi para penumpang yang sedang merasa cemas dan tegang.


Begitu juga dengan Oqtissa, meski sama-sama perempuan, kedua mata terasa jadi adem memandangnya. Pramugari jelita yang melenggok itu ibarat penghangat dalam kabin yang serasa di gunung salju dinginnya.


Perasaan sedih dan cemas yang telah reda, kembali terganti dengan debar gundah di dada. Merasa mimpi jika sebentar lagi akan bertemu dengan lelaki yang sesekali menghias mimpi indah dalam tidur resahnya.


Benarkah Zoan akan menjemput? Lalu apa yang akan dikatakan jika mereka sudah saling bertemu? Apa yang akan disampaikan jika mereka berdua sudah saling berjumpa? Apa yang akan dilakukan jika mereka juga sudah saling dekat berhadapan?


Pekerjaan apa yang akan Zoan berikan untuknya? Kenapa Zoan tidak memberi kabar sepatah katapun? Apa demikian susah berkabar lewat sebuah pesan saja?


Apa Zoan akan terus menjadikannya harem hingga nanti atau entah sampai kapan. Lalu demi apa Ossa mau datang pada lelaki itu dan bertemu jika hanya untuk mencipta dosa kembali..

__ADS_1


Lalu tobat bagaimana yang sudah diamalkan Zoan sebagaimana kabar yang dibawa Ayunda waktu itu. Sedang Zoan masih juga berusaha menyentuh dan mengusiknya meski lelaki itu telah sendiri. Apa setelah pergi ke tanah suci kelakuan Zoan akan benar-benar total berubah? Oqtissa terus saja bertanya-tanya..


Tiba-tiba merasa jika dirinya ibarat keledai dungu yang dilempar bolak balik oleh Arzaki dan Reizoan. Dua lelaki sedarah yang dengan mudah telah meremote kontrol hidupnya.


Tapi,, tidak, saat itu Arzaki memang urgent memerlukan dirinya. Hingga boss baik itu terpaksa menikahi.


Sedang Zoan,, lelaki penyengat itu ternyata terlewat baik. Bahkan, Ossa pun sedang menyimpan gunung hutang padanya. Meski Zoan bilang tidak meminta, tentu saja akan menjadi beban bagi Ossa seumur hidup bahkan hingga mati, selama dirinya belum mampu melunasi.


Dan yang paling memberatkan, sebenarnya Ossa sangat ingin bertemu. Rasa puja rela dalam hati pada Zoan sedang sangat menggebu. Memilih untuk tidak peduli sebagai apa lagi Zoan akan menganggapnya. Ossa merasa kian galau, gundah dan resah.


πŸ•Έ


Perjalanan satu jam dan lebih sedikit saja itu berakhir. Pesawat telah melandas di aspal acuan bandara Ahmad Yani Semarang dengan selamat dan sempurna.


Seluruh penumpang menuruni tangga pesawat dan menuju ke ruang kedatangan di bandara dengan arahan seorang petugas dari maskapai penerbangan.


Ossa berjalan menuju eskalator bagasi untuk mengambil koper kecilnya yang berat. Keinginan untuk membawa koper ke dalam kabin, ditolak oleh pawang timbang saat check in sebab berat.


Gadis rupawan itu menyeret koper menuju pintu keluar dengan hati berdebar. Berpikir jika Zoan mungkin sedang menungguinya diam-diam atau juga dalam pencarian.


Tapi lelaki itu tidak nampak. Bahkan di sepanjang teras kedatangan, Zoan tidak tertangkap oleh sapuan matanya. Di mana Zoan menjemput..


Dengan rasa bingung dan resah, Ossa duduk di salah satu deret bangku yang berdekatan dengan pintu keluar. Berharap Zoan akan segera datang dan melihatnya dengan mudah.


Ponsel miliknya tidak ada satupun jejak panggilan atau pesan kabar dari Zoan. Ossa telah mencoba membuat panggilan, tapi tak terhubung. Berulang kali dicoba pun, tetap nihil hasilnya. Ponsel Zoan tidak aktif.


Sedang di mana sebenarnya lelaki itu? Apa begitu sibuk hingga membuat sebuah pesan berkabar pun tidak sempat?


Ossa merasa galau luar biasa. Bingung dengan apa yang harus dilakukan jika Zoan tidak datang menjemput. Haruskah didatangi sendiri boss pengganti itu di tempat penginapan Azril miliknya?


Apakah pak Arzaki berkata tidak benar? Tapi tidak mungkin jika seorang Arzaki berkata bohong padanya. Itu tega sekali. Arzaki bukan orang yang seperti itu.


πŸ•Έ

__ADS_1


Hampir dua jam Ossa bersabar menunggu. Hingga adzan dzuhur telah lama berkumandang, Zoan masih juga tidak nampak.


Perut rata dan kencangnya tiba-tiba terasa perih dan melilit. Ternyata sedang kelaparan yang sangat.


Sudah tidak sanggup lagi menunggu, lapar tak bisa lagi diabaikan. Ossa berjalan cepat menuju kafe kecil di ujung teras bandara. Duduk di bangku yang mejanya menghadap di pintu ketibaan. Berharap sambil melihat Zoan jika lelaki itu nampak datang.


Memilih menu nasi putih, ayam goreng dan sambal mentah pedas, serta minuman cola yang ringan. Mengabaikan menu lain sebab menu pilihannyalah yang paling cepat dan mudah tersajikan.


Terbukti hanya dalam lima menit kemudian, menu ringan pilihan telah tersedia lengkap di meja. Ossa segera mencuci tangan di wastafel dan mulai menikmati pesanannya.


Sambal mentah itu sangat lezat meski terasa luar biasa pedasnya. Pedas alami yang menggigit, berbahan cabe murni tanpa ditambah campuran lada atau apapun.


Ossa begitu sibuk dengan makan pedasnya yang laju. Kecepatan makannya berkurang saat terasa ingus bening mulai meleleh dari dua lubang hidungnya yang cantik.


"Oqtissa,,?"


"Hhuq,,, hhuuqq..!"


Ossa cegukan tiba-tiba. Entah sebab kaget akan suara lelaki menegur dengan penampakan orangnya, atau sebab sedang kepedasan yang sangat. Yang jelas, Ossa harus meneguk cola ringannya segera.


πŸ•ΈπŸ•Έ


πŸ•ΈπŸ•Έ


Panggang Vote Senin/ Selasamu di sini ya...


***Hiburlah aku dengan Votemu.. Setidaknya ada 29 reader baikku di sini. Jika dari kakak2 reader terkumpul 20 vote saja, mungkin aku akan mendapat notif dari Ntoon jika karya ini sedang masuk ranking vote. Tidak muluk-muluk, hanya 20 vote saja...


Mengharap agar Ntoon ingat denganku..


Ah, ya nasib.. 😘***πŸ˜„


Terimakasih..

__ADS_1


__ADS_2