
Bermain di pantai pagi itu harus berakhir bagi Ossa dan Zoan. Bu Endah telah menelepon Ossa untuk segera kembali, sebab pak Karman dan Gandy sudah datang dan menunggu di rumah.
Divanah dan Davaniah keberatan untuk ikut pulang. Sehingga Mita kembali berserah diri untuk menjaga dan menemami mereka berdua di pantai dengan senang hati. Ossa berjanji setelah urusan itu selesai, akan segera kembali ke pantai untuk melanjutkan bermain.
Zoan bergeges menuju latar parkir bersama Ossa dengan sang driver yang standby di mobil. Meluncur meninggalkan area pantai menuju rumah dengan waktu kurang lebih lima hingga sepuluh menitan saja.
Pak Karman nampak tidak sabar dengan berjalan hilir mudik di teras. Sedang Gandy duduk di kursi kayu berukir sambil meraup wajah tampannya sesekali. Mereka sedang tegang dan tidak sabar menunggu dua orang yang kata tuan rumah sedang pergi ke pantai.
"Kalian lama sekali!!" tegur pak Karman sambil berkacak pinggang. Ossa nampak keluar bersama Zoan dari mobil merah menyala hampir bersamaan.
"Maaf, pak. Aku menemani adik kembarku bermain di pantai." Ossa menjelaskan sambil berjalan mendekat. Merasa tidak terlalu bersalah, sebab mereka hanya menunggu lima menit lebih sedikit saja.
Zoan yang berjalan di belakang Ossa hanya menatap datar pada pak Karman dan Gandy. Lalu duduk di salah satu bangku kosong di teras. Ossa telah masuk ke dalam rumah menemui ibunya.
"Bagaimana? Apa kalian sudah selesai menghitungnya?" tanya Zoan dengan cepat. Menatap pak Karman dan Gandy bergantian.
Gandy mencampak di meja sebuah file map warna merah. Menatap pada Zoan tanpa berbicara.
"Lihatlah,,!" Seruan ini adalah dari pak Karman.
Zoan segera mengulur tangan mengambil map di meja. Lelaki itu tidak ingin menggunakan banyak waktu untuk berurusan lebih lama dengan pak Karman dan Gandy.
Entah terbuat dari apa isi dalam kepala Reizoan Azril. Lelaki itu tengah serius menghitung angka-angka dan persentase dengan angka ratusan juta tanpa menggunakan kakulator. Zoan terus menghitung dan sesekali menulis dengan pensil yang sengaja dibawa dalam saku kemeja.
Namun diraih juga ponsel miliknya di meja. Zoan nampak menggunakan dengan wajah serius dan fokus. Rupanya untuk sekadar meneliti ulang hasil penghitungan.
"Tunjukkan padaku kedua sertifikatnya," kata Zoan kemudian. Bersuara dan bernada tegas pada mereka berdua.
Gandy melempar sebuah map sekali lagi ke meja. Zoan terus mengacuhkan sikap Gandy yang tidak sopan padanya. Bagi Zoan, hal paling penting adalah urusannya selesai lebih cepat.
"Ossa,,!!" seru Zoan agak keras. Kebetulan yang punya nama juga sedang keluar sambil membawa baki berisi teh dan kopi bersama sang ibu.
"Iya,,!" sahut Ossa berseru. Diletaknya tiga cangkir teh dan satu cangkir kopi di meja. Entah nantinya pak Karman atau Gandy sudi meminum atau tidak.
__ADS_1
"Bu, coba dilihat dulu. Sertifikatnya benar atau tidak,," kata Zoan sambil menyodorkan dua buah sertifikat kepada ibunya Ossa.
Bu Endah bersama Ossa nampak memeriksa kedua sertifikat itu dengan seksama. Bu Endah nampak yakin jika itu benar dan asli.
"Iya, benar mas Zoan. Ini sertifikat kami," kata bu Endah tersenyum nampak lega. Diletaknya lagi sertifikat-sertifikat yang dipegangnya ke meja.
Zoan pun mengangguk menyetujui. Memandang pada pak Karman yang terus saja berdiri.
"Apa di nomor rekening ini akun untuk menstransfer pembayaran hutang?" tanya Zoan tanpa memandang pak Karman.
"Ya,,,!" sahut pak Karman. Zoan memandang ke arah Ossa.
"Ossa, rekamlah pelunasan ini. Aku tidak ingin mereka menipu daya lagi," ucap Zoan. Ossa pun paham dan segera mengeluarkan ponsel untuk bersiaga. Gandy dan pak Karman mendengus kesal. Memandang geram pada Zoan dan Ossa. Namun mereka hanya berusaha acuh saat Ossa telah mengaktifkan rekamannya.
Zoan kembali nampak fokus dengan layar ponsel dan nomor rekening bank yang disertakan pak Karman di halaman bawah lembaran piutang. Kemudian menulis beberapa deret angka di sana dan juga di ponsel. Zoan meng-enter-nya dan berhasil. Kemudian diparafnya lembaran hutang piutang itu dengan cepat.
Zoan yang menatap pada pak Karman segera mendapat tanggapan. Pak Karman cepat mendekat dan menyambar pena lalu bertanda tangan juga di sana. Ossa juga ikut mendekat agar rekaman lebih jelas. Dan kemudian selesai.
"Cukup, Ossa," arah Zoan. Ossa pun memutus durasi rekaman videonya.
"Tidak perlu. Ayo Gandy,,!" ucap pak Karman pada anaknya. Gandy berdiri namun tidak mengikuti pak Karman.
"Ayah duluan saja. Nanti aku menyusul!" kata Gandy pada pak Karman. Kemudian berjalan mendekati Ossa yang berdiri diam bersama ibunya.
"Ossa, bu,, sebelumnya saya juga minta maaf. Ossa, bisa kita bicara sebentar?" tanya Gandy pada Ossa. Kali ini pandangannya berubah hangat dan sopan.
"Aku sedang sibuk dan tidak ingin berbicara sama sekali denganmu!" sentak Ossa sangat jengah pada Gandy. Lelaki itu tidak kenal pantang menyerah.
"Sebentar saja, Ossa!" seru Gandy seraya menyambar tangan Ossa. Menggenggam kuat hingga Ossa terdiam. Tidak lagi bergerak untuk berusaha melepaskan diri. Gandy terus memegang lengannya.
"Lepaskan Ossa, saudara Gandy..." Zoan telah berdiri dekat di antara mereka.
"Kuharap kamu tidak ikut campur kali ini,," kata Gandy sinis pada Zoan.
__ADS_1
"Aku akan selalu ikut campur dan mengawasi pegawaiku. Tolong lepaskan," ucap Zoan dengan datar.
Saat Gandy berbicara dengan Zoan, Ossa menghentak kuat tangannya. Yakin jika Gandy tidak lagi fokus padanya. Zoan meliriknya sekilas.
"Kukatakan padamu, saudara Gandy. Jangan pernah lagi mengusik keluarganya Ossa. Bukti asusilamu ada di tanganku." Zoan berkata dengan nada yang datar. Namun, cukup membuat Gandy seketika mengerti dan segera sadar diri.
"Baiklah, Ossa. Sekali lagi maafkan, aku. Sampai kapan pun, kuharap kamulah jodohku. Meski kamu menikah dengan orang atau aku juga sudah menikah dengan orang,,!!"seru Gandy seperti sedang menyumpah.
"Saudara Gandy! Jangan melampaui batas! Tahu dirilah sedikit!!" hardik Zoan dengan suara yang rendah.
Gandy tidak mempedulikan ucapan Zoan. Lelaki tegap dengan seragam dinasnya itu berjalan pergi meninggalkan teras rumah. Tidak menoleh lagi dan masuk ke dalam mobilnya. Pak Karman telah lenyap dari tadi dengan mobil yang dibawanya sendiri.
Ossa memandang Zoan yang juga baru menolehnya. Merasa segan, pandangan lelaki itu sangat tajam padanya. Ossa tidak paham apa salahnya.
"Mas Zoan, terimakasih lho nggih. Monggo, tehnya diminum dulu." Bu Endah mencairkan kekakuan mereka dengan teguran ramahnya pada Zoan. Lelaki itu bergerak dan duduk lagi di bangkunya semula.
"Nggih, bu. Terimakasih," sambut Zoan. Mengambil cangkir yang berisi kopi hitam dan diteguknya dengan pelan. Masih terasa agak panas.
"Mas Zoan, nanti hutangnya kami angsur ya. Entah tiap panen,, atau tiap bulan,,?" tanya bu Endah dengan lembut. Ingin kejelasan tentang hutangnya yang baru.
"Soal hutang, nanti akan kubicarakan dengan Ossa saja, bu. Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Ibu dan bapak tenang saja. Yang jelas, saya bukan lintah darat, bu," jelas Zoan dengan sopan.
"Begitu,,? Terimakasih sekali ya, mas Zoan." Bu Endah menyambutnya gembira.
"Bu, habis ini, saya akan membawa Ossa untuk berangkat kerja lagi ke Semarang. Apa tidak apa-apa jika Ossa meninggalkan ayahnya lagi?" tanya Zoan pada bu Endah.
Bu Endah saling pandang dengan anak gadisnya. Ada ekspresi berharap di wajah polos itu.
"Tidak apa-apa jika Ossa bersedia. Lagipula ayahnya Ossa sudah dalam kondisi yang baik. Dokter sudah membolehkan makan apa saja. Kecuali pedas dan masam. Boleh saja, mas Zoan," terang bu Endah sangatlah melegakan.
"Terimakasih, Ossa tentu bersedia, bu. Dan sebelum berangkat, saya ingin menemui ayah Ossa ya, bu,," sambut Zoan tegas perlahan.
"Oh, iya. Temuilah, mas Zoan," sambut bu Endah dengan ramah.
__ADS_1
Ossa dan Zoan saling menoleh dan memandang hampir bersamaan tak sengaja . Mereka nampak sama-sama sedang menghempas nafas lega dari dalam dada mereka begitu saja.
🕸🕸🕸🕸🕸🕸