
Satu minggu kemudian di rumah penginapan..
Subuh pagi itu, Ossa sengaja lambat-lambat mendatangi kamar Zoan. Supaya bisa bertemu dengan pemilik kamar yang selalu mengobrol di mushola selepas subuh. Apalagi bukan hanya pak satpam saja yang mengunjungi mushola saat subuh sekarang. Tapi juga para pengunjung dan juga para pekerja di penginapan.
Rupanya, tiga dari lima pekerja rekrutan baru untuk rumah penginapan yang dipilih Zoan adalah lelaki. Satu lelaki sebagai asisten, entah merangkap sebagai apa saja. Dan dua lelaki sebagi pekerja penginapan bersama dua orang pekerja perempuan.
Bahkan, terkadang obrol tawa para lelaki di teras mushola sampai terdengar hingga lobi. Zoan sengaja membiarkan sebentar kelakuan para pekerjanya yang nampak gembira saat bersama. Sedikit mengabaikan ketenangan penginapan yang harus senantiasa terjaga.
Yakin jika mood booster para pekerja terpenuhi, mereka akan melakukan tugas pekerjaan dengan sangat maksimal dan rela. Bukan dengan terpaksa yang diam-diam mengumpat serapah kepada boss dan pimpinan. Jika sudah seperti itu, tentu pengunjung akan dilayani sangat baik dan memuaskan. Membuat pengunjung merasa lebih betah di penginapan dan diharapkan datang lagi lain kali.
Ossa telah di depan pintu kamar Zoan dan mengetuknya berulang. Tidak ada sahut sambutan apalagi dibukakan. Ossa segera membukanya sendiri. Memang begitulah biasanya, tapi tentu saja kala si boss masih belum kembai dari mushola.
Pemilik kamar yang ingin ditemui tidak nampak di dalam. Ossa mendekati kamar mandi. Yakin jika Zoan sudah kembali ke kamar. Sebab, mushola sudah tidak terdengar lagi riuhnya.
Ceklerk,,!
Jantung Ossa terasa jumpalitan tiba-tiba. Sangat terkejut dengan pintu yang membuka. Niat memastikan bahwa Zoan sedang di dalam, keduluan dengan terbukanya pintu kamar mandi dan memunculkan lelaki itu di sana.
Zoan pun juga nampak sama terkejutnya dengan ekspresi di wajah Ossa. Mereka sama-sama tertegun.
"Eh, maaf boss. Saya ingin mengemas kamarmu," ucap Ossa dengan menunduk. Lalu berbalik ke jantung kamar dan meraih sapu serta kain lapnya.
Merasa salah tingkah dan malu sendiri. Zoan hanya berbalut handuk putih kecil di pinggul. Zoan sangat kekar dan seksi. Bagi Ossa, itu sungguh meresahkan sekali.
"Ossa, kenapa kamu terlambat mengemas kamarku?" tanya Zoan.
Ossa enggan menoleh, lelaki itu telah berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Iya, saya memang sengaja. Ingin berbicara denganmu, boss Zoan," ucap ossa dengan terus menunduk.
"Berbicara apa?" tanya Zoan masih di tempat yang sama.
"Apa aku jadi ikut anda ke Semarang?" tanya Ossa masih dengan posisi yang sama. Menunduk sambil memegangi sapu dan kain lap.
"Apa kamu keberatan?" Zoan balik bertanya.
"Apa boleh saya tidak usah ikut? Maaf, boss." Ossa kian menunduk. Zoan telah bergeser tempat menjadi di depannya.
Zoan terheran. Dahinya berkernyit. Wajah tampannya terlihat kian matang dan menawan.
"Kenapa tidak jadi ikut?" tanya Zoan bernada mendesak.
"Anuuu,,," jawab Ossa tersendat.
"Apa itu anu Ossa. Cepat bilang saja," desak Zoan terdengar tidak sabar.
"Bukankah kalian bilang hanya demam biasa? Dan Nola sudah dewasa. Kenapa khawatir sekali?" tanya Zoan terheran.
"Anuu,,," Ossa kembali kebingungan menjawab.
"Sakit apa? Jawab yang jujur, separah apa sakit Nola sampai kamu tidak jadi pergi denganku?" Zoan kian mendesak kesal dan tidak sabar.
"Sebenarnya,,,, mbak Nola sedang hamil, boss." Ossa mengangkat wajah sebentar dan menunduk kembali. Hanya memastikan seberapa kaget Zoan mendengarnya. Tapi Zoan tidak begitu kaget mendengarnya.
"Boss Zoan, tidak terkejut? Tidak marah?" tanya Ossa. Kini mendongak lagi, menyelidik wajah Zoan. Hanya ada mimik tenang dan datar di sana.
__ADS_1
"Saat kalian sedang mengghibahku, bukankah Murni sudah bilang bahwa Nola sedang hamidun? Hanya aku tidak berfikir jika hamidunnya saat ini. Kupikir dulu, dengan suaminya," jelas Zoan dengan menatap wajah Ossa yang pias lekat-lekat. Ossa buru-buru menunduk dalam kembali. Risau jika matanya akan berlari turun dengan sendirinya.
"Akan kupanggilkan dokter penginapan untuk datang. Kenapa kalian tidak terus terang dari awal?" tegur Zoan menyayangkan.
"Kami takut anda tidak bisa menerima seorang pekerja yang sedang hamil, apalagi diluar nikah," jelas Ossa dengan menunduk.
"Apa kalian pikir aku sejahat itu? Kamu tidak bertanya, kenapa aku membawa petugas laundry yang setua itu?" tanya Zoan dengan berdecak kesal di bibirnya.
"Maafkan kami, boss Zoan. Jadi, anda tidak keberatan tetap menampung mbak Nola bekerja?" tanya Ossa mendongak.
"Selain mengatakan tidak jadi ikut ke Semarang, kamu ingin mengatakan apa lagi?" tanya Zoan dengan cepat. Mengabaikan tanya Ossa barusan.
"Apa boss Zoan masih berniat untuk mencari resepsionis satu orang lagi? Bagaimana kalo mbak Nola saja yang bersama saya sebagai penerima pengunjung? Biar kerjanya tidak usah naik turun penginapan. Itu akan membuatnya lelah. Maafkan kelancanganku ini, boss,," jelas Ossa menunduk.
"Kamu ini bicara dengan siapa, Ossa? Denganku atau dengan sapumu?" tanya Zoan tiba-tiba. Ossa tidak menjawab. Tetap saja menunduk.
"Ossa,,!" tegur Zoan berseru membisik.
"Anuu,, saya tidak enak. Segan,, anda tidak memakai baju,," jelas Ossa dengan cepat. Zoan mengacak rambut lurusnya yang tebal.
"Lelaki sudah biasa seperti ini.. Apa kamu takut jika aku akan mengopen kamu sampai gosong kayak Nola??" tanya Zoan agak keras. Ossa mendongak sebentar, lalu menunduk dalam kembali.
"Tenang, Ossa. Aku hanya mengopen wanita yang sudah dewasa dan yang sudah berpengalaman. Jangan khawatir padaku," bisik Zoan dengan sangat jelasnya.
Ucapan Zoan yang arrogant membuat Ossa serasa tak berpijak di lantai. Ossa bukan merasa tenang, tapi justru merasa kesal pada lelaki itu. Baginya, ucapan Zoan justru terkesan menyepelekan dirinya.
Tidak ada lagi Zoan yang berdiri di depannya. Hanya ada suara almari yang dibuka. Ossa mendongak perlahan. Zoan sedang memakai bajunya sekarang. Ossa bergegas lanjut mengelap dan menyapu. Tidak berani lagi memandang Zoan ke arah almari. Hingga beberapa saat pun berlalu..
__ADS_1
"Ossa, jika kamu ingin Nola jadi resepsionis, kamu bersiap-siapkah untuk ikut denganku ke Semarang..!!" seru Zoan mengagetkan. Tapi lelaki itu telah lenyap dengan menutup rapat pintu di kamarnya. Mungkin akan ke ruang kerjanya di sebelah. Ossa dan yang lain pun tidak pernah diminta untuk mengemas rapikan di sana.
🕸🕸🕸🕸