Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
64. Bincang


__ADS_3

Potongan kemeja adalah model baju yang lebih mudah dipasangkan di badan bagian atas Arzaki. Lelaki itu telah bersih dengan selimut sebatas perut yang menutup rapi di kakinya. Arzaki nampak memandang Ossa yang tengah mengemas peralatan mandi usap seka yang baru dipakainya.


"Ossa, apa adikku tidak juga menghubungimu?" tanya Arzaki dengan pelan.


Menyimak wajah Ossa yang nampak bulir keringat di leher, dahi dan ubunnya. Itu adalah penampakan yang biasa Arzaki dapati. Ossa selalu seperti itu setiap mengurusi dirinya. Bukan Arzaki tak paham atau juga kasihan. Tapi hanya Ossa yang dipercayainya di rumah penginapan selain Nola dan Murni.


Tidak mungkin juga menunjuk Murni, bagaimana dengan kerepotannya sebagai juru masak di penginapan. Rekan barunya itu sudah tua, kasihan jika kerepotan sendirian di dapur.


Nola,,, wanita itu sedang hamil. Zoan telah mengatakan padanya tentang Nola. Yang juga tidak jelas siapa yang menghamili. Arzaki paling tidak tega melihat wanita hamil kerepotan.


Hanya Ossa yang tepat. Lagipula Zoan juga nampak percaya pada Ossa. Itu membuat Arzaki merasa kian aman dengan Ossa. Bukan sebab itu saja, ternyata Ossa adalah benar-benar gadis yang baik dan polos. Tapi rasanya iba juga melihat gadis itu nampak gugup dan berkeringat dingin setiap kali menyentuhnya untuk pembersihan.


Arzaki merasa bersalah. Sebab itu juga, rasanya ingin segera pulih dan mandiri. Setelahnya, akan dilepaskan Ossa dengan imbalan pantas yang sudah dipikirkan dalam kepalanya.


"Ossa,,?" tegur Arzaki. Ossa tidak segera menjawab tanyanya. Tapi gadis itu nampak menunduk dan melamun. Sambil memeras-meras handuk kecil di tangan.


"Eh, iya pak." Ossa mengangkat wajah. Memandang Arzaki yang seperti tidak sabar menatapnya.


"Apa Zoan tidak pernah menghubungi ponselmu?" tanya Arzaki sekali lagi.

__ADS_1


"Tidak, pak. Pak Zoan tidak pernah menghubungi ponsel saya," terang Ossa sambil menggeleng.


"Apa sudah sepuluh hari dia tidak datang?" tanya Arzaki. Kini memandang langit-langit di kamarnya.


"Sudah lebih, pak. Hampir dua minggu." jawab Ossa memandang Arzaki yang kembali menolehnya.


"Maaf, pak. Apa pak Zoan tahu,,, emmh,, anu,, emmhh,,," ucap Ossa nampak bingung sendiri. Arzaki sedikit tersenyum, paham apa maksud bicara Ossa yang susah.


"Tidak, Ossa. Zoan tidak tahu jika aku menikahimu sementara. Aku melarang orang-orang untuk mengabari. Biarlah dia fokus dengan urusan di kepolisian. Aku tak ingin dia khawatir padaku. Kasihan adikku,," ucap Arzaki dengan pelan. Wajahnya kembali menengadah ke langit-langit di atasnya.


Ossa menghembuskan nafas panjangnya. Namun tidak yakin dengan apa yang dirasa. Entah sedih, atau justru merasa sangat lega. Tidak juga berani menebak, bagaimana reaksi Zoan jika Arzaki telah menikahinya.


"Ossa, kamu kenapa,,??" tegur Arzaki tiba-tiba dan cukup mengagetkan. Ossa begitu lama menunduk dan hanya memegangi handuk itu tanpa gerakan apapun.


"Eh, anu pak.. Saya hanya memikirkan reaksi pak Zoan jika akhirnya tahu," jawap Ossa setengah gugup gelagapan. Arzaki berkerut memandang reaksi Ossa.


"Kenapa? Kamu malu? Atau kamu takut? Tidak usah khawatir, Zoan selalu mendukung apapun rencana dan keputusanku. Dia itu sangat pintar, tapi masih selalu menghargaiku,," sahut Arzaki pelan dan seperti mengeluh.


"Lagipula kamu sangat berjasa meringankan bebanku, Ossa. Mungkin juga beban Zoan sendiri. Kemarin itu, aku hampir meminta Rama untuk mencari Zoan agar datang merawatku. Tapi ide menikahimu tiba-tiba muncul menggantikan," ucap Arzaki pelan dan panjang. Ossa menyimak hingga tak sadar menahan nafas tegangnya.

__ADS_1


"Ossa, apa kamu merasa sakit hati? Maafkan aku,," ucap Arzaki menyambung kemudian.


Ossa yang tak menyangka ditanya sebegitu oleh Arzaki, nampak tegang dan gugup. Meski belum menjawabnya, Arzaki paham dengan apa yang Ossa rasakan.


"Iya, pak. Awalnya saya terkejut, takut, dan,, memang sakit hati. Tapi kemudian tidak lagi. Sebab, saya ingat jika anda sangat baik. Dan juga,,, untuk membalas kebaikan pak Zoan pada saya," jelas Ossa dengan jujur.


"Membalas,,??" tanya Arzaki terheran.


"Iya, pak. Saya punya hutang sangat banyak pada pak Zoan," sahut Ossa menjawab.


Arzaki langsung bertanya tentang sebab hutangnya pada Zoan itu. Dan Ossa juga bercerita segalanya tanpa dikurang dan ditambah sedikit pun.


Arzaki jadi ingat saat menelepon Zoan waktu itu. Sempat membahas pernikahan Oqtissa yang terdengar sangatlah mendadak. Arzaki tersenyum memandang Ossa.


"Kamu merasa berhutang budi dan diselamatkan adikku?" tanya Arzaki dengan menyimak lekat wajah cantik yang nampak pias menunduk, dan kemudian mengangguk.


"Baiklah, Ossa. Kamu boleh keluar. Jika nanti siang aku tertidur, dan saatnya makan siang serta minum obat, bangunkan." Arzaki berpesan pada Ossa sambil meraih ponselnya. Lelaki itu telah mengenakan kaca mata baca baru yang dibelikan oleh Rama di kota.


Ossa telah mendudukkan miring Arzaki dengan susah payah. Menyangga punggungnya dengan beberapa tumpuk bantal untuk kegiatan membacanya. Agar Arzaki merasa nyaman dan tidak terus saja berbaring. Ossa khawatir jika kepala Arzaki lama-lama berkebul dan berasap jika sepanjang waktu merebah. Merasa diri wajib untuk menjaga kebugaran dan kepulihan badan Arzaki.

__ADS_1


🕸🕸🕸


__ADS_2